Share

6. Pelakor Mulai Cemburu

"Udah pulang, Mas?"

Nilam yang sedang menunggu kepulangan Keenan di ruang tamu, berdiri dan menyambut kedatangan suaminya.

Keenan yang sedang membuka pintu, mengulurkan tangan yang disambut oleh Nilam, wanita itu mencium punggung tangan sang suami dengan hormat.

"Iya. Keperluannya nggak lama, kok. Kamu udah makan?" tanya Keenan, yang merasa senang disambut istrinya seperti ini.

Dulu saat masih benci dengan Nilam yang tak bisa memakai skincare, Keenan benci melihat wajah istrinya setiap kali dia pulang, tapi sekarang, Keenan selalu merasa senang karena ada orang yang selalu menyambut kepulangannya.

Keenan mungkin belum cinta dengan Nilam, tapi sedikit rasa suka, tentu.

"Udah, Mas. Aku pikir kamu bakalan lama jadi aku makan dulu, aku minta maaf."

Keenan menepuk lembut puncak kepala Nilam sambil menggeleng-geleng.

"Kenapa minta maaf, kamu nggak salah, Nilam. Aku kan udah bilang kalo kamu makan aja dulu, aku juga udah makan di rumah temen tadi."

"Iya, Mas. Ada yang kamu perlukan aku lakukan, Mas?"

Atas pertanyaan istrinya itu, Keenan yang kini ada di kamar, tersenyum nakal.

Dulu dia mengira bahwa Nilam hanya gadis desa biasa yang cupu dan tidak bisa menyenangkan suami, tapi Keenan salah.

Nilam adalah wanita yang selalu berusaha keras memenuhi kebutuhan Keenan dan melaksanakan kewajibannya sebagai istri.

Meski dulu Keenan bahkan sslalu kasar padanya, dan mengajak Nilam bercinta hanya ketika dia ingin berhubungan badan dengan Jihan, wanita yang telah menghuni hatinya sejak lama, Nilam masih berusaha keras menjadi istri yang baik untuknya.

Rumah selalu terlihat rapi dan setiap kali suaminya setiap pulang, dia akan berdandan cantik, menghias kamar dengan bunga sehingga membangkitkan gairah Keenan yang lelah bekerja di kantor.

Hal itu membuat Keenan merasa dirinya dihargai sebagai suami, dan membuatnya betah di rumah.

Kehidupan perjodohan yang dikira Keenan sebagai hal yang mengerikan, ternyata baik-baik saja.

"Kamu dandan cantik malam ini."

Keenan mengatakan hal itu dengan sorot menggoda, tangannya terulur untuk menarik sang istri ke dalam pelukan.

"Mas Keenan yang bilang aku harus selalu kelihatan cantik kalo ada mas," jawab Nilam, yang tersipu malu saat pantatnya duduk di atas paha Keenan yang kokoh.

"Betul, kamu benar-benar istri yang sangat patuh, dan aku suka itu, Nilam," jawab Keenan, mulai melayangkan ciuman di leher samping sang istri.

"M-Mas.... "

"Sssh.... "

Keenan membaringkan tubuh Nilam ke kasur, menarik turun celana dalam sang istri, lalu menundukkan kepalanya di antara kaki Nilam dan menjilat celah rahasia dengan lidahnya.

Tubuh Nilam gemetar seperti ikan yang dilempar keluar dari air, saat Keenan mengangkat giginya dan merangsang kuncup yang bengkak, bagian dalam paha Nilam menjadi panas seolah-olah api telah menyala, dan cairan mengalir keluar.

“Heung, berhenti ….”

Desahan basah Nilam dibalas Keenan dengan tawa.

"Berhenti katamu?"

"I-ya... "

Sebenarnya apa yang dimaksud Nilam adalah sebaliknya, hanya saja dia tidak bisa meludahkannya dengan benar, jadi Nilam memutar tubuhnya dan memohon, tetapi Keenan dengan licik terus menggoda sisi itu engan lidahnya.

"Apa kamu benar-benar ingin berhenti, Nilam?"

Keenan bertanya sekali lagi saat milik Nilam sudah basah kuyup karena godaan lidahnya, sementara Nilam yang terjebak dalam nikmat yang dikirim Keenan untuknya hanya membalas dengan desahan panjang dan menggoda.

Keenan masih menunggu sampai istrinya yang penurut itu mengeluarkan permohonan kotor secara langsung dari mulutnya.

Jari-jarinya perlahan menembus semak-semak, meluncur ke pintu masuk yang basah.

Lidahnya merangsang bagian paling sensitif sementara jarinya meraba dinding bagian dalam milik sangat istri, menyebabkan mata Nilam menjadi putih dan kepalanya kosong.

Getaran intens dari daging sensitif membuat Nilam merinding dan tubuhnya gelisah.

"Ay,o, Nilam. Katakan apa yang kamu inginkan sekarang?" tanya Keenan dengan mata berbinar.

"Aku... aku mau kamu, Mas. Masuklah ke dalam diriku sekarang juga."

Pada kata-kata yang telah ditunggu oleh Keenan, wajahnya, yang tertutup cairan cinta, akhirnya jatuh dari antara kedua kaki Nilam.

“Itu juga yang aku inginkan, Sayang. ”

Ujung bibirnya melengkung dengan senyum nakal. Dia berdiri dan duduk di antara kedua kaki Nilam, dan selanjutnya, hanya ada suara erangan penuh kenikmatan yang memenuhi kamar dan pergulatan penuh semangat di atas ranjang.

Nilam melayani Keenan dengan baik sehingga pria itu lagi-lagi merasa puas dan bugar setelah bercinta.

Setelah membuat istrinya kelelahan dan tertidur karena nafsunya yang luar biasa, Keenan merasa sangat puas.

Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan merokok sebentar sebelum tidur di samping Nilam.

Percintaan mereka kali ini memuaskan seperti biasa, tapi ada satu hal yang sedari tadi terus mengganggu pikiran Keenan.

" Aneh, kenapa aku terus teringat Jihan? Padahal aku sudah nerima Nilam di hatiku?"

Keenan bergumam dengan ekspresi tak mengerti, kenapa dia ingat Jihan lagi saat sedang bercinta dengan Nilam, hal yang sudah lama sekali tidak dia rasakan.

Pada saat itu, Keenan tidak tahu bahwa apa yang dia rasakan, adalah sebab dari guna-guna yang diberikan Jihan padanya.

Esoknya. Pada siang hari.

"Mas, kamu di mana? Aku sekarang di kantormu dan mengirim makan siang buat kamu karena pagi tadi kamu berangkat buru-buru, jadi aku khawatir kamu nggak makan. Kamu kemarin juga bilang kalo minta dikirim makan siang, kan?"

Nilam menelepon Keenan yang tak ada di ruangannya saat menjelang jam makan siang, hari ini Nilam pergi ke kantor Keenan untuk mengirim makan siang seperti yang diminta suaminya kemarin.

"Ah, itu...."

Keenan yang sedang duduk di depan Jihan di sebuah restoran tak jauh dari kantor, menggaruk pelan lehernya.

Rasa bersalah memenuhi pikiran Keenan karena telah pergi makan siang diam-diam dengan Jihan, dan melupakan janjinya lagi kepada Nilam.

Tadi Jihan menelepon dirinya dan mengatakan ingin bertemu karena ada hal darurat yang harus dia bicarakan dengan Keenan, dan Keenan pun seperti biasa tak bisa menolak permintaan sahabatnya itu.

Meski ternyata hal darurat itu hanyalah alasan Jihan untuk bisa makan siang dengan Keenan.

Keenan terbatuk satu kali dan menjawab dengan suara yang di tenang-tenangkan.

"Ehm, maaf, Nilam. Aku sedang makan siang dengan klien. Kamu taruh aja makanannya di meja, oke?"

Untuk menyingkirkan rasa bersalah, Keenan kembali berbicara.

"Aku minta maaf nggak bilang dulu sama kamu, tapi aku janji bakal makan bekal dari kamu sampai habis. Terima kasih, istriku."

"Iya, Mas. Aku pulang dulu kalau begitu."

Nilam yang tak curiga sedikit pun bahwa Keenan telah berbohong, menjawab dengan nada ringan, itu membuat Keenan semakin tak enak hati.

"Sayang."

"Hm? Ya-ya, Mas?"

Nilam sangat terkejut saat dipanggil sayang oleh Keenan secara tiba-tiba, itu karena Keenan selama ini tak pernah memanggilnya sayang kecuali ketiga mereka sedang bergulat di atas ranjang.

"Aku bener-bener minta maaf."

Keenan mengatakan hal itu dengan sangat serius, membuat Nilam tertawa.

"Nggak papa lah, Mas. Lagian kan kamu ada urusan pekerjaan, jadi nggak papa. Besok aku kasih bekal makan siang lagi yang lebih enak."

"Makasih, Nilam. Aku senang punya istri kayak kamu."

Keenan terus berbicara ramah dan mesra dengan istrinya di telepon, menjanjikan banyak hal manis para Nilam atas usahanya bersusah payah mengirim makan siang untuknya di kantor, tanpa menyadari ada satu pasang mata yang berkilat penuh amarah karena benci dengan kemesraan mereka.

Jihan.

"Kenapa... kenapa mas Keenan bisa tersenyum begitu lembut ke istrinya? Aku benci wanita itu, aku akan merebut mas Keenan darinya, yang boleh mendapat senyum seperti itu dari mas Keenan harusnya cuma aku!" geram Jihan, mengepalkan tangannya erat-erat untuk menahan emosi yang membara di dalam dadanya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status