Share

Bab 8

Kelima belas murid pilihan itu ternyata memang tidak mengecewakan. Hanya dalam beberapa tahun saja, ilmu silat mereka mulai terlihat istimewa. Ini mungkin karena bakat mereka memang besar. Ditambah lagi dengan kenyataan, bahwa hampir seluruh kelimabelas murid itu sebelumnya memang sudah digembleng ilmu silat sebelum masuk ke Bu Tong-pay. Mereka sebagian besar berasal dari keturunan ahli silat atau keluarga terpandang.

Hal ini berbeda dengan Cio San, yang sama sekali berbeda latar belakangnya. Walaupun anak dari seorang ahli silat Go Bi-pay, ia tidak diajarkan silat secara mendalam oleh ibunya. Karena tubuhnya memang lemah sejak lahir. Memang ibunya pernah sedikit menunjukkan gerakan silat Go Bi-pay padanya. Tapi karena kondisi tubuhnya yang lemah, latihan silat itu tidak diteruskan. Jadi, bisa dibilang Cio San itu memang tidak bisa ilmu silat, walaupun ia paham sedikit-sedikit gerakan silat. Ayahnya pun juga bukan seorang ahli silat. Malah ayahnya adalah seorang sastrawan, yang mana golongan sastrawan seperti ini memang dikenal lemah-lembut tingkah-lakunya. Tidak menyukai kekerasan seperti adanya orang Kang Ouw (dunia persilatan).

Namun, walaupun tidak begitu berbakat dalam ilmu silat, Cio San sangat berbakat dalam ilmu surat (sastra). Pengetahuannya tentang huruf-huruf kuno sangat banyak. Ini mungkin karena sejak kecil ia memang sudah diajarkan ayahnya. Pengetahuan dan bakat inilah yang membuat ia kemudian diterima ke dalam rencana pencarian bakat Bu Tong-pay. Ditambah kenyataan bahwa dulu kakeknya adalah orang yang sangat dekat dengan Bu Tong-pay.

Setiap anggota 15 murid pilihan ini mempunyai guru pengawasnya sendiri-sendiri. Guru Pengawas adalah orang yang bertanggung jawab langsung atas masing-masing anggota ‘15 Naga Muda’. Guru Pengawas ini adalah orang yang dulu membawa mereka ke Bu Tong-pay. Seperti Tan Hoat yang menjadi guru pengawas bagi Cio San.

Guru Pengawas berkewajiban untuk mendidik langsung, mengajari, dan memperhatikan kemajuan murid yang dibawahinya. Jadi ada 15 Guru Pengawas, yang satu persatu bertugas mengawasi dan mendidik masing-masing 15 murid tersebut.

Selain Guru Pengawas, ada juga Guru Umum, yang hanya bertugas melatih mereka. Guru Umum tidak berkewajiban untuk bertanggung jawab sepenuhnya terhadap ‘15 Naga Muda’ seperti kewajiban Guru Pengawas.

Sekarang, beberapa tahun telah lewat. Kelimabelas murid pilihan Bu Tong-pay itu telah berusia belasan tahun. Yang paling tua diantara mereka berumur 18 tahun. Sedangkan yang paling muda adalah Cio San. Saat ini ia telah berumur 16 tahun.

Sebutan ‘15 Naga Muda’ Bu Tong-pay adalah istilah yang dipakai untuk kelimabelas murid istimewa ini. Murid-murid pilihan ini walaupun mendapat perlakuan istimewa dari seluruh Bu Tong, tidak serta-merta membuat hidup mereka enak. Mereka harus berlatih lebih giat, dengan waktu latihan yang jauh lebih lama dari murid biasa. Latihan mereka pun lebih berat.

Mereka juga harus tunduk kepada murid yang lebih tinggi golongannya dan yang lebih dahulu masuk sebelum mereka. Jadi walaupun istimewa, kelimabelas murid pilihan ini malah menjalani kehidupan yang lebih berat dalam Bu Tong-pay.

Terutama Cio San. Tubuhnya yang paling lemah diantara kelimabelas orang itu. Ilmu silatnya juga yang paling ketinggalan. Apalagi, sang guru pengawasnya, Tan Hoat, sering turun-naik Bu Tong-san karena tugas perguruan selama beberapa tahun ini, sehingga Cio San juga menjadi jauh tertinggal dari ‘Naga Muda’ lainnya.

Posisinya sebagai salah satu dari kelimabelas murid yang dianggap istimewa itu, malah menjadikannya sasaran empuk dari rasa iri murid-murid lain yang tidak termasuk dalam barisan ‘15 Naga Muda’ itu.

Seperti yang terjadi sekarang ini.

Cio San kebetulan lewat dihadapan sekumpulan murid yang sedang berlatih ilmu totok Bu Tong-pay.

“Nah Cio San, mumpung sekarang ada kamu. Kami sedang berlatih ilmu totok yang baru kemarin bisa kami kuasai dengan baik. Bagaimana kalau kita berlatih bersama?” tanya A Pao, salah seorang murid Bu Tong-pay yang bertubuh tinggi besar.

“Ah maaf, Suheng (Kakak Seperguruan). Saya capek sekali. Kebetulan, ini baru selesai latihan pernafasan tingkat 5, lain kali saja ya?” sambil bicara begitu, dia tersenyum.

“Heh? Anggota ‘15 Naga Muda’ baru sampai pada pernafasan tingkat 5? Kami saja yang murid ‘Biasa’ sudah sampai di tingkat 7. Kalian itu belajar apa saja sih?” A Pao berkata sambil tertawa, yang juga ditimpali gelak tawa teman-temannya.

“Ah, sebenarnya yang lain sudah sampai pada tingkat 11. Cuma saya memang kurang bakat, jadinya yah, harus mengulang-ngulang terus pelajarannya,” jawab Cio San sambil menggaruk-garuk kepalanya sendiri dan tertawa.

“Nah, karena kau itu suka mengulang-ngulang latihan, bagaimana jika sekalian kau mengulang juga latihan ilmu totok bersama kami?” kata A Pao.

“Aduh, Suheng, sungguh badan saya pegal-pegal semua. Saya takut malah tidak bisa latihan dengan baik,” jawab Cio San.

“Alah… sudahlah. Ayo latihan. Pasang kuda-kuda ya. Lihat jurus!” sambil berteriak, A Pao langsung melancarkan jurusnya tanpa menanti jawaban dari Cio San.

Gerakannya cepat. Tidak malu sebagai anak murid Bu Tong. Ia mengincar sebuah titik di daerah dada kiri Cio San. Diserang seperti itu, Cio San tidak kaget. Ia bersikap tenang dan menerima serangan itu dengan gerakan tangan kiri menyapu. Gerakan menyapu ini adalah bagian dari gerakan dasar Thay Kek Kun ciptaan mendiang Thio Sam Hong. Dilakukan dengan lembut dan mengalir.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status