Share

Bab 2

"Kalau sekolah benar-benar digusur, gimana nasib anak-anak? Mereka tidak bisa belajar lagi," lirih Raina sedih.

Perempuan itu telah bergumul lama mengenai tempatnya mengajar agar tak digusur.

Raina bahkan sudah menjual semua aset berharga yang ia miliki dan mengambil seluruh tabungannya. Namun, tetap saja tidak cukup untuk menebus tanah tempat sekolah berdiri.

Mereka kalah bersaing dengan perusahaan besar di pelelangan.

Namun, siapa sangka pengosongannya akan secepat ini?

Padahal, Raina masih berusaha mencari cara supaya mereka tidak benar-benar diusir dari sana.

Raina mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, tempat ia berada saat ini, "Atau aku pindahkan mereka ke sini saja?"

Satu-satu hartanya yang masih tersisa, peninggalan orang tuanya, adalah sebuah rumah yang cukup besar dan nyaman.

Akan tetapi, rumah ini jelas masih terlalu sempit untuk menampung murid-muridnya yang kian bertambah banyak.

Lagipula, di situ tidak ada lapangan buat olahraga atau keperluan upacara.

Kurang efisien.

Tok tok tok!

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Raina. Sontak ia menoleh ke arah pintu utama dengan kebingungan.

Siapa yang datang malam-malam begini?

Tok tok tok!

"Ada orang di dalam?"

Pintu rumah Raina kembali diketuk. Kali ini, bahkan ada suara yang menyusul.

Hanya saja, Raina merasa tidak asing dengan suara itu….

Gegas, perempuan itu membuka pintu.

Namun alangkah terkejutnya dia saat menemukan ternyata pemilik suara tak asing itu adalah Bayu Edgardo!

Raina sontak menutup kembali pintu yang dibukanya.

Sayangnya, tenaganya kalah dengan Bayu yang segera menahannya.

Brak!

Pintu terbanting menghantam tembok dengan keras.

Setelah itu, Bayu dengan lancang melangkah memasuki rumah Raina tanpa disuruh.

"Bagus juga rumahmu," pujinya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia serius dengan pujiannya, ekspresi kagum memang menghiasi wajah.

Desain rumah Raina yang bernuansa klasik memang sangat memukau.

Terkesan begitu asri dan nyaman.

Namun, Raina sama sekali tak menggubris pujian Bayu.

Dia justru berkata, "Dari mana kamu tau aku tinggal di sini?"

Bayu menyunggingkan senyum. "Itu bukan hal yang terlalu sulit. Kau bukan anggota intelijen yang identitasnya sulit ditemukan, kan?"

Raina menatap geram pria itu yang kini telah duduk bagai raja di atas sofa rumahnya.

Kaki kanannya bahkan terangkat bersimpuh pada lutut.

"Aku datang ke sini untuk meminta pertanggung jawabanmu atas kejadian tadi pagi. Gara-gara kamu, media jadi ramai!"

Sembari berkata, Bayu menekan tombol merah pada remot untuk menyalakan layar di hadapannya.

Benar saja, kejadian di mini market menjadi trending topik saat ini.

Hal itu pula yang menjadi alasan Bayu berada di rumah Raina sekarang.

Sang manajer menuntutnya menyelesaikan perihal tersebut. Kalau tidak, karirnya akan hancur.

Raina terperangah menyaksikan scene penyatuan bibir mereka memenuhi layar televisi.

Pipinya bahkan sampai memerah.

"Dasar aktor gila! Seharusnya, aku yang memarahimu. Seenaknya saja merebut ciuman pertamaku!"

Raina tak tahan lagi.

Ia meraih sapu yang tersandar di dinding sampingnya dan menyerang Bayu cepat.

"Apa-apaan ini? Hentikan!" ucap Bayu, "Jangan sampai kamu melukaiku, cacing pita!"

Raina melotot. "Aku bukan hanya bisa melukaimu, tapi membunuhmu kalau tidak segera pergi dari sini!"

Bagai kesurupan, perempuan itu terus mengayunkan sapu di tangannya menyerang Bayu dengan membabi buta.

Bayu jelas kewalahan. Dia pun akhirnya mengalah. "Baiklah, baik! Aku akan pergi!"

"Cepat pergi!" teriak Raina.

"Dasar wanita gila!" ejek Bayu, lalu melangkah cepat menuju pintu keluar.

Tampaknya, pria itu takut bila Raina melanjutkan serangannya.

Hanya saja, Bayu teringat hal yang perlu disampaikan. Jadi, ia pun segera berbalik setelah tiba di ambang pintu.

"Kamu harus jadi pacar pura-puraku!” ucapnya, "aku akan memberikan apapun yang kamu mau!"

"Aku tidak mau!" jawab Raina cepat dan lantang.

"Kau mau membuat karirku hancur?"

"Memang apa urusannya denganku? Aku tidak peduli!"

"Kau …."

Bayu berhenti bicara. Ia mengerti jika bersikap keras, Raina akan semakin menolaknya.

Sejenak pria itu menurunkan nada bicara. "Maafkan aku. Aku harap kamu mau menolongku, anggap saja aku memohon padamu, jadilah pacarku selama beberapa waktu."

Sayangnya, perhitungan Bayu meleset. Raina tetap menolaknya.

"Aku tak mau. Pergilah dari sini sekarang juga!" bentaknya.

Raina bahkan telah mengangkat tinggi gagang sapunya, bersiap menyerang Bayu lagi.

Usaha Bayu yang bersikap lebih lembut tetap gagal total, tetapi dia masih punya satu lagi jurus pamungkas, seharusnya Raina sulit menolaknya kali ini.

"Kalau kamu mau jadi pacarku, sekolah kesayanganmu itu tidak akan digusur!"

Raina yang bersiap mengayunkan gagang sapu ke arah Bayu sontak menghentikan gerakan.

"Dari mana kamu tahu tentang penggusuran sekolah?" ucapnya penuh kecurigaan.

Bersambung ….

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status