Share

Editor Dingin Bikin Bucin
Editor Dingin Bikin Bucin
Penulis: Nikma

Bab 1: Pengkhianatan di Dunia Kata-kata

Isabella duduk di kursi tunggu penerbit besar di pusat kota London. Wajahnya penuh ketegangan saat menunggu giliran untuk bertemu dengan kepala editor. Setelah beberapa saat menunggu dalam kegelisahan, akhirnya tiba giliran Isabella bertemu dengan kepala editor.

Isabella memasuki ruangan itu dengan langkah berhati-hati. Viktor Schneider— kepala editor berkepala plontos dengan raut wajah yang tajam, sudah menunggu di belakang meja besarnya.

“Isabella Rossi, bukan?” tanya kepala editor tanpa menyapa lebih dulu, suaranya terdengar ketus.

“Ya, saya Isabella Rossi. Saya sangat senang bisa bertemu dengan Anda,” jawab Isabella, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.

Sorot mata kepala editor terlihat sangat tajam saat menatap Isabella. “Anda sangat berani, Rossi, mengajukan naskah ini pada kami.”

Isabella tersentak. “Maaf, apa yang salah dengan naskah saya?”

Kepala editor dengan tegas menatapnya, “Anda berani plagiat karya orang lain. Ini sama sekali tidak dapat diterima di dunia sastra.”

Isabella terdiam, tak percaya dengan tuduhan tersebut. “Plagiat? Saya tidak pernah melakukan itu. Saya menulis setiap kata dengan hati-hati.”

Kepala editor tersebut membuka lemari kecil yang ada di sudut ruangannya, kemudian meraih sebuah novel dari sana. Kepala editor lalu melemparkan novel itu tepat di depan Isabella.

“Novel ini sudah hampir terbit di penerbitan kami, dan ini bukan karya Anda. Ini adalah karya Elise Dubois.”

Isabella terdiam, tidak percaya. Elise Dubois, sahabatnya yang selalu menjadi first reader setia setiap novel yang ditulisnya, kini justru mengakui tulisan Isabella sebagai tulisannya. “Pak, ini kesalahan. Elise Dubois adalah teman saya, yang selama ini selalu jadi first reader saya.”

“Lantas?” tanya Viktor Schneider.

“Sudah pasti dia yang mencuri naskah saya!” tegas Isabella tidak terima.

“Tidak masuk akal— jika naskah itu memang ditulis oleh anda, harusnya anda yang lebih dulu mengajukan naskah pada penerbit kami,” Viktor Schneider tersenyum mencibir.

“Saya butuh waktu lebih lama untuk melakukan beberapa revisi, saya harus memastikan dulu jika novel yang saya tulis sudah sempurna,” Isabella berusaha memberi penjelasan.

“Saya lebih menghargai karya yang orisinil, ketimbang naskah yang sempurna,” tegas Victor.

“Tapi itu juga naskah saya sendiri, Pak. Saya bersumpah, saya tidak pernah melakukan plagiat,” Isabela berusaha membela diri.

“Sudahlah, jangan buang-buang waktu saya lagi. Masih banyak yang harus saya urus. Intinya, saya sangat tidak suka dengan tindakan plagiasi. Sebaiknya anda tidak melakukan hal itu lagi, daripada nama anda akan diblacklist di masa depan nanti.”

Isabella tersentak kaget, masih tak percaya dengan apa yang ia dengar. Isabella bahkan tak mampu berkata-kata, ia masih dikuasai oleh keterkejutannya. Saat itu Nathaniel Alexander— salah satu editor di penerbitan tersebut muncul di pintu ruang kepala editor. Dia mengetuk pintu beberapa kali, membuat Isabella dan Victor menoleh ke arahnya.

“Maaf, mengganggu. Tapi saya merasa harus menyampaikan beberapa hal pada anda, Pak,” ucap Nathaniel.

“Ya, apa yang ingin kau sampaikan, Alexander?” tanya Victor.

Nathaniel pun masuk ke dalam ruangan. Isabella mengenali sosok tampan namun bertubuh mungil— yang bahkan lebih pendek darinya itu. Nathaniel merupakan salah satu teman kuliahnya dulu, yang sering mengikuti komunitas sastra bersamanya.

“Saya tidak percaya jika Isabella Rossi melakukan plagiat, Pak. Saya kenal gaya penulisannya sejak dulu, dan dia tidak akan plagiat.”

Kepala editor mengerucutkan bibirnya. “Kau hanya editor junior di sini, Alexander. Kau tidak tahu apa-apa. Ini sudah jelas kasus plagiat.”

Isabella tak terima dengan tuduhan tersebut, akhirnya berbicara. “Panggil Elise Dubois ke sini. Saya ingin mendengar penjelasannya.”

Segera setelah permintaan itu dilontarkan, pintu kantor terbuka lagi, dan Elise Dubois memasuki dan sempat melihat ke arah Isabella. Espresinya terlihat agak kaget saat tatapannya bertemu dengan Isabella.

“Kebetulan sekali kau juga datang ke sini, Elise. Aku baru akan memanggilmu,” ucap Victor.

Isabella memandang Elise dengan mata yang penuh kekecewaan dan kemarahan.

“Mengapa kamu melakukan ini, Elise?” Isabella membuka suara, mencoba menahan emosinya.

Elise melirik Isabella, namun tidak berkata apa-apa.

“Sampaikan yang sebenarnya, Elise. Apakah ini benar karyamu?” ucap Isabella tegas.

Elise mengangguk dengan ragu. “Iya, ini karyaku.”

Isabella benar-benar tidak bisa mengendalikan amarahnya dan berteriak, “Bagaimana kamu bisa melakukan ini padaku? Pada sahabatmu sendiri?”

 “Justru aku yang ingin bertanya padamu— kenapa kau tega menuduhku plagiat? Aku sahabatmu sendiri. Kenapa kau begitu jahat padaku?” tanya Elise. Isabella tertawa sarkas, dia baru tahu jika sahabatnya itu sangat pandai memutar balikkan fakta.

“Selama ini kau berpura-pura baik di depanku, ternyata kau menyembunyikan niat busukmu?” Isabella menggeleng tak habis pikir. “Kau bukan hanya mencuri naskahku, tapi juga kepercayaan dan persahabatan kita.”

Elise terdiam sejenak mendengarkan makian Isabella, sebelum membalas ucapan tersebut. “Apa kau begitu putus asa karena naskahmu selalu ditolak penerbit, Isabella? Atau kau begitu iri karena justru aku yang lebih dulu berhasil menerbitkan buku?”

Isabella yang tak mampu menahan amarahnya akhirnya melayangkan tamparan di wajah Elise. PLAK! Tamparan tersebut seketika menciptakan keheningan di ruangan itu. Nathaniel dan Victor terperangah melihat itu.

Terlebih saat Elise segera membalas tamparan tersebut di wajah Isabella. Kedua orang yang dulunya menjalin persahabatan yang erat, kini justru terlibat perkelahian fisik yang cukup sengit. Isabella dan Elise saling melayangkan pukulan, jambakan dan tendangan yang membuat Nathaniel dan Victor panik. Nathaniel berusaha melerai, namun justru menjadi korban kebrutalan dua wanita tersebut.

Hingga akhirnya dengan susah payah, Nathaniel menempatkan dirinya di antara dua wanita yang masih terus baku hantam tersebut. “Sudahlah, kalian berdua! Ini tidak akan menyelesaikan masalah,” ujarnya dengan suara bergetar.

Sementara itu, Victor yang sebelumnya diam memperhatikan pertarungan tersebut, akhirnya bersuara. “Alexander, bawa Isabella pergi dari sini. Saya tidak ingin melihatnya lagi di kantor ini.”

Nathaniel dengan hati berat, mengarahkan Isabella keluar dari ruangan itu, menyisakan Elise yang tersenyum penuh kemenangan di baliknya.

Nathaniel terus menarik Isabella keluar dari ruangan Victor, berusaha meredakan kemarahannya yang semakin memuncak. Isabella masih penuh emosi, mencoba menarik tangannya kembali.

“Lepaskan aku, Nate! Aku bisa mengurus diriku sendiri,” ucap Isabella dengan suara yang bergetar oleh kemarahan.

Mereka berdua berhenti di koridor yang sepi, dan Isabella melepaskan tangannya dari cengkeraman Nathaniel. Wajahnya memerah, dan matanya menyala seperti bara api. “Aku tidak bisa percaya kau ikut-ikutan menyuruhku keluar dari ruangan kepala editor seperti ini. Aku merasa sangat dipermalukan.”

Nathaniel mencoba tetap tenang. “Ini bukan waktu yang tepat untuk membuat keributan di kantor. Itu hanya akan membuatmu semakin terlihat bersalah.”

“Apa kau tak lihat, Nate? Elise mencuri karyaku, dan aku seperti penjahat diusir dari kantor ini!” tegas Isabella.

Nathaniel menjelaskan dengan sabar, “Aku tahu kau tidak bersalah, tetapi membuat masalah di sini tidak akan membantumu menyelesaikan masalah. Kau harus mencari sesuatu untuk membuktikan kebenaranmu.”

Isabella memandang Nathaniel dengan tatapan tajam. Nathaniel berusaha membujuk Isabella. “Kau tidak bisa melawan mereka dengan emosi, Isabella. Kau perlu bukti yang kuat. Aku bisa membantumu.”

Isabella yang masih dikuasai oleh emosi menolak tawaran itu. “Tidak, aku bisa melakukannya sendiri. Aku tidak butuh bantuan dari orang sepertimu.”

Nathaniel merasa kesal dengan sikap Isabella. “Aku hanya ingin membantu, Isabella. Kita harus bekerja sama untuk menyelesaikan ini.”

Isabella meremehkan Nathaniel, “Apa yang bisa kau bantu? Pembelaanmu tadi saja tidak berguna. Pria pendek sepertimu memang tidak punya wibawa.”

Kata-kata Isabella menusuk hati Nathaniel. Meski ia sudah terbiasa dengan ejekan tentang posturnya, tapi komentar Isabella tetap membuatnya tersinggung. “Aku hanya ingin membantu, tapi jika kau merasa tidak perlu, baiklah.”

Nathaniel melangkah pergi, meninggalkan Isabella yang hanya terdiam di koridor yang sepi. Isabella menghela napas, kemudian tubuhnya merosot dan terduduk di lantai kantor yang dingin. Isabella termenung masih diliputi kegelisahan dan kemarahan, namun tiba-tiba hp-nya berdering.

Dia mengeluarkan ponselnya dari tas dan melihat nama “Ibu” muncul di layar. Isabella segera menjawab panggilan itu.

“Halo, Ibu,” sapa Isabella dengan suara gemetar.

Suara Emilia di seberang telepon terdengar khawatir. “Isabella, kita punya masalah. Pemilik rumah tempat kita tinggal datang dan mengatakan bahwa kita harus pindah hari ini juga.”

Isabella terdiam sejenak, tak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya. “Pindah hari ini? Kenapa? Bukankah sebelumnya pemilik rumah memberi kita waktu seminggu lagi untuk membayar uang sewa?”

Emilia menjelaskan dengan suara serak, “Pemilik rumah mengatakan jika dia mengalami masalah keuangan, dan memutuskan untuk menjual rumah ini. Dia meminta kita segera menyerahkan kunci dan meninggalkan rumah ini segera.”

Isabella merasa dunianya runtuh. Di saat dia sedang menghadapi krisis profesional, sekarang dia juga dihadapkan pada krisis pribadi. “Tapi ini tidak mungkin, Ibu. Kita tidak punya tujuan.”

Isabella merasa dirinya tenggelam dalam keputusasaan, mencerna berbagai masalah yang menimpanya. Dia merasa seperti kehidupannya hancur menjadi serpihan. Tidak ada tempat yang aman, baik di dunia sastra maupun dalam kehidupan pribadinya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status