Share

2. Keluarga Hartawan

Pagi itu, Utari tersadar. Dia membuka matanya perlahan dan duduk di pinggir kasur. Dia merasakan sakit di bagian kepalanya dan merasa pusing. Setelah beberapa waktu tubuhnya menyesuaikan diri. Dia mulai melihat sekeliling.

"Ini dimana? Ini rumah siapa? Bagaimana bisa aku berada disini? Bapak... Ibu...." panggil Utari lirih. "Penyamaranku?" ucap Utari sambil berlari kedepan cermin yang menempel di dinding.

Dilihatnya wajah dan tubuhnya yang masih hitam legam bagai orang keturunan Afrika.

"Riasanku masih sempurna. Syukurla..." cakap Utari sambil mengelus dadanya. "Aku tidak akan pernah melepaskan riasan ini, aku janji."

Ketika Utari sedang berbicara dengan dirinya sendiri didepan cermin, tiba-tiba suara pintu terbuka. Utari sempat kaget dan tak sengaja menjatuhkan sebuah pajangan di meja rias itu.

"Prak"

"Maaf..." resah Utari.

Namun sepertinya lelaki itu tidak menghiraukan vas bunga yang terjatuh itu.

"Siapa namamu?" tanya lelaki yang bersandar di dinding pintu.

Suaranya berat dan lugas, tatapan matanya tajam dan sangat berkarisma. Tubuhnya tinggi kekar dan berambut ikal hitam, ditambah hidungnya yang mancung dan sedikit jambang tipis di sepanjang pipinya bisa membuat setiap wanita langsung terpikat seketika.

"Utari..." jawabnya dengan suara yang ragu.

"Aku membawamu kemari, karena Ibuku merasa kasihan terhadapmu. Ibuku melihat sepertinya kau dalam keadaan yang sangat tidak baik. Jadi aku membawamu kemari. Tapi jangan sangka kau akan hidup sebagai seorang putri disini. Kau hanya akan menjadi seorang pembantu. Apa ucapanku jelas?." tanya tuan Damar Hartawan dingin.

Utari belum menjawab pertanyannya.

Saat itu, Utari memang tidak mempunyai tujuan, rencana, atau apapun. Yang terlintas dipikirannya hanya pergi menjauh dari orang-orang penagih hutang itu. Namun, suatu hari nanti Utari berniat untuk membayar hutang itu dengan jeri payahnya bekerja dirumah ini.

"Baik...aku tidak keberatan tuan.." jawab Utari lemah.

"Beristirahatlah. Setelah kau merasa baik, kau harus langsung melaksanakan tugasmu !." ucap tuan Damar tegas.

"Iya, ba-baik.." jawab Utari terbata.

*****

Beberapa hari kemudian, Utari merasa dirinya telah lebih baik. Pagi itu Utari keluar kamar dan melihat-lihat rumah lelaki itu.

"Besar sekaali, seperti istana..." gumam Utari sambil melihat plafon dengan ukiran khas yang indah. "Ini benar-benar seperti istana.." gumam Utari lagi.

"Kau sudah merasa baikan ?" tanya seorang Ibu tua kepadanya ramah yang tiba-tiba sudah berada di belakang Utari.

Utari terkejut dan menunduk.

"Maaf... Iya aku sudah lebih baik Nyonya.." jawab Utari tertunduk.

"Syukurlah kalau begitu, namaku Dyah Hartawan, Ibu dari Damar Hartawan, mungkin kau sudah bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Siapa namamu ?" tanya Bu Dyah.

"Nama saya Utari Nyonya." jawab Utari lembut.

"Kau bisa memasak ?" tanya Ibu Dyah lagi.

"Tentu saja bisa Nyonya, dirumahku dulu aku sering membantu ibuku memasak didapur.." jawab Utari polos.

"Mmm polos sekali.." ucap Bu Dyah sambil memegang dagu Utari dan sedikit terkekeh. "Baik, kau bisa bekerja pagi ini ya, pergilah ke dapur, semua bumbu dan keperluan masak ada disana."

"Baik Nyonya.." jawab Utari.

Utari lalu menelusuri ruangan dan mencari dapur, tak lama kemudian Utari menemukannya. Dapur itu sangat besar sekali, semua bumbu, sayuran, daging, semua lengkap. Di rumah Utari, menemukan daging itu hanya satu tahun sekali, hanya saat di perayaan hari besar saja. Sehari-hari, Utari hanya makan dengan tahu, tempe, ikan asin, sambal dan sayur hijau. Kadang, jika ayahnya mempunyai rejeki lebih. Mereka memasak nasi kebuli dan nasi padang.

"Dapurnya besar dan lengkap.." gumam Utari.

Dia berjalan mengelilingi persediaan makanan yang ada didapur itu. Lalu dengan cekatan dia memasak dengan bahan-bahan yang ada. Pagi itu Utari memasak nasi kebuli kambing dengan acar dan sambal yang di ajarkan oleh Ibunya. Wanginya sangat khas dan menggugah selera.

Wangi masakan itu menyeruak ke seluruh ruangan dapur, ditambah lagi sepoi angin yang tengah menari-nari disana. Membuat wangi masakan Utari sampai ke hidung tuan Damar.

"Mmmmm wanginya sedap..." ucap seorang pemuda yang menghampiri Utari dengan gaya sportifnya itu. "Eh, kau gadis kemarin ya? Kenapa kau didapur? Udah sembuh?" Edo bertanya tanpa menghiraukan jawaban Utari dan mengambil satu buah apel merah dan dia gigit.

"Itu belum dicuci.." ucap Utari sambil menunjuk apel yang dia makan.

"Benarkah ?" tanya Edo sambil memperhatikan apel di tangannya. "Biarlah, dari kulkas kan ?" tanya Edo lagi.

"Tapi.." ucapan Utari belum selesai, Edo sudah mulai berbicara lagi.

"Mmmm wangi masakanmu enak.." ucap Edo itu sambil mencoba mengambil secuil nasi yang sedang Utari masak.

"Jangan.." larang Utari sambil berusaha menepiskan tangan Edo.

"Kenapa ? Wah pelit sekali." ucap pemuda itu.

"Nanti, setelah aku siapkan di meja." ucap Utari pelan dan ragu.

"Hhhmmmm, kau sama seperti Kak Damar, banyak aturan." ucap Edo sambil terkekeh.

Utari hanya bisa terdiam, dia tidak berani untuk menjawab lagi karena takut salah berbicara.

"Alaaah, gak usah formal kalau sama aku. Aku bukan Kak Damar yang galak itu. Kenalin ! Namaku Edo Hartawan, orang yang paling ramah, paling tampan dan paling baik hati di rumah ini." ucapnya sambil menyodorkan tangan kanannya.

Utari sedikit menahan tawa ketika mendengar ucapan Edo.

"Waaaah mengejek..." ucap Edo.

"Tidak, tuan..." jawab Utari resah.

"Haha..tidak usah takut ! Aku hanya bercanda..." ucap Edo. Lalu Edo langsung menarik tangan Utari untuk bersalaman.

"Naah gitu dong..." ucap Edo. "Ayo cepat hidangkan, aku sudah lapar." ucap Edo sambil berlalu.

"Baik..." jawab Utari sambil bersiap.

Kemudian Utari menyiapkan sarapan itu di atas meja makan dengan rapih. Selesai menyiapkan sarapan, Utari lalu memanggil ibu Dyah yang sedang berada di kamarnya.

"Nyonya...sarapan sudah siap..." ucap Utari pelan.

"Baiklah, aku akan kebawah." jawab ibu Dyah lembut. " O ya Utari, panggilkan Damar juga ya.." perintah ibu Dyah lagi.

Mendengar hal itu, membuat seluruh badan Utari bergetar karena takut. Namun Utari tidak bisa menolak permintaan majikannya itu. Utari dengan perlahan menuju ruang kerja Damar.

 Tok...tok..tok...

Utari mengetuk pintu dengan ragu. Namun setelah beberapa kali Utari mengetuk pintu, belum ada jawaban yang diterima Utari dari dalam.

Utari mencoba memanggil tuan Damar.

"Tuan..." ucap Utari pelan.

Namun, belum juga ada jawaban yang diterima oleh Utari.

Ketika Utari hendak memanggilnya lagi, pintu itu terbuka.

Utari sangat terkejut dan mundur beberapa langkah ke belakang.

Damar tidak berkata ataupun bertanya kepada Utari, Damar hanya menatap Utari dengan tajam.

"Tuan, sarapannya sudah siap.." ucap Utari sambil menunduk dan gugup.

"Oke." jawab Damar singkat dan menutup kembali pintu ruang kerjanya.

Utari bingung dengan sikap Damar yang dingin.

["Baiklah."] gumam Utari dalam hati sambil kembali turun ke bawah.

Lalu mereka makan dengan khidmat tanpa bersuara dan tanpa terdengar dentingan sendok dan garpu yang mengenai piring sedikitpun.

Selesai makan, Damar berkomentar.

"Sarapan kali ini lezat." ucapnya.

"Terimakasih tuan.." jawab Utari senang."aku selalu membuat ini bersama Ibuku dan Ibuku bilang, masakanku juga enak." tutur Utari.

"Apa aku memintamu untuk menjelaskan semua itu ?" tanya Damar.

"Tidak tuan..." jawab Utari ketakutan.

"Sudahlah Damar, jangan terlalu keras." ucap Ibu Dyah terkekeh.

"Iya, abang jangan terlalu galak. Nanti susah dapet jodoh loh..." ejek adiknya Edo.

"Diam kau !" ucap Damar kesal dan melemparkan serbet ke depan muka Edo.

"Aku akan memeriksa perkebunan dan yang lainnya Bu." ucap Damar sambil berpamitan.

"Baik, berhati-hatilah." jawab Ibu Dyah dengan penuh kasih sayang.

"Aku juga akan pergi ke kampus Bu.." sahut Edo.

"Iya...hati-hati..." jawab Ibu Dyah sambil mengusap rambut Edo.

Sikap Damar dan Edo sangat terlihat jelas perbedaannya.

Damar adalah sosok keras, bertanggung jawab dan disiplin. Dia lebih suka berkebun, melakukan pekerjaan berat, melakukan perdagangan hasil bumi antar pulau sampai antar negara. Dia adalah pengusaha sukses, dia banyak mempekerjakan orang-orang tidak mampu dan memberi fasilitas rumah sederhana pada mereka yang tak mempunyai rumah. Dia sangat di agungkan oleh para buruh. Dia bagaikan sang dewa bagi para petani dan buruh itu.

Berbeda dengan Edo, dia pemuda yang periang dan cepat berteman dengan siapa saja.

Beberapa hari ini, Utari memperhatikan dengan seksama kegiatan dan orang-orang yang ada di rumah keluarga Hartawan itu.

Utari mempelajari sifat Ibu Dyah, tuan Damar dan tuan Edo. Semakin hari, Utari semakin mengenal dan paham akan mereka. Terutama tuan Damar.

Entah apa yang ada di hati Utari. Tetapi, Utari sangat mengagumi tuannya itu.

Sore itu, Utari melihat tuan Damar yang sedang bersantai di ruang kerjanya. Utari sangat ingin sekali menyapanya.

"Tuan..." sapa Utari perlahan.

"Hhhmm." jawab Damar yang sedang asyik membaca koran.

"Apa Tuan mau dibuatkan teh ?" tanya Utari lagi.

"Boleh.." jawab Damar yang masih serius dengan korannya.

"Baik..." jawab Utari senang karena tawarannya ditanggapi.

Utari lalu membuatkan teh itu dengan sepenuh hati. Lalu Utari memberikannya dengan penuh cinta.

"Ini tuan..." ucap Utari sambil meletakkan secangkir teh di meja Damar.

Utari memperhatikan Damar dengan penuh kasih sayang.

"Apa ?" tanya Damar ketika dia menyadari kalau Utari masih menatapnya.

"Tidak tuan..." jawab Utari tertunduk.

"Kenapa kau masih disini ?" tanya Damar lagi.

"Maaf tuan...." ucap Utari sambil berjalan menuju pintu keluar, meskipun dalam hatinya masih ingin bersama Damar.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status