Share

Bab 06

Stacey Waldermar POV

Suara dentuman music, alcohol dan asap rokok bercampur menjadi satu—ini sudah gelas keempatku dan aku bukanlah peminum, aku cepat mabuk dan aku sudah merasa bahwa aku tipsy saat ini. Aku duduk di depan bar dan banyaknya orang yang berjoget di belakangku mengikuti alunan music dengan segelas alcohol di tangan mereka. Aku tidak ingin berpesta, benar, aku hanya ingin duduk, menikmati minumanku dan melupakan kepenatan dalam hidupku, aku butuh beristirahat maka dari itu aku datang untuk minum.

“Jadi pengawal seksi-mu tidak ikut?” Emma berteriak di telingaku saat music menggema dengan keras.

Keningku berkerut, aku menggeleng. “Aku kabur, bagaimana kau tahu?”

“Alessandra.”

Aku memutar bola mataku, bukan Alessandra namanya jika tak selalu membahas pengawalku. Apa yang Alessandra kagumi dari sosok pria berkepala tiga itu? Bukankah itu hal gila? Hal apa yang menyenangkan dari pria irit bicara itu? Mungkin lebih sedikit menyenangkan jika Richard yang mengawal Alessandra daripada diriku. Malam ini harusnya aku melupakan tentang kemarin malam dan juga pagi tadi tapi Alessandra membuatku mengingat tentang pria itu lagi.

“Ada banyak orang yang belum menyadari tentang pengawalmu, percayalah, kupikir itu kekasih barumu sebelum Alessandra bercerita padaku. Emily, pengawalmu terkenal, ada beberapa judul pagi ini muncul di internet. Dia sangat tampan, matanya abu-abu, dia tinggi dengan tubuh berotot dan dia lebih cocok menjadi kekasihmu daripada pengawalmu,” kata Emma berteriak.

Aku mendengus. “Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi, pengawalku akan pergi setelah 2 bulan bekerja atau kurang dari itu, percayalah, dia tidak biasa mengawal selebritas, aku adalah klien pertamanya dalam kategori selebritas,” kataku.

Emma hanya tertawa. “Lihat saja nanti, Emily. Kau akan jatuh cinta padanya, dia menarik dan tampan!”

“Omong-omong, sejak kapan kau sampai?”

“Sore tadi, Alessandra menelponku katanya kau disini, jadi aku langsung datang dari kantor suamiku. Tenang saja, wanita itu sedang dalam perjalanan ke sini. Bagaimana dengan James?”

“Dia sedang marah karena aku pergi tanpa meminta izin dulu padanya.”

“Dan pengawalmu?”

Aku memutar bola mataku dengan malas. “Aku harus mengendap-endap seperti maling untuk datang kesini, Emma!”

Aku menyesap minumanku sementara Emma mendekatkan wajahnya ke telingaku. “Dia akan menunggumu di depan pintu seperti biasa,” katanya sambil tertawa.

“Itu sudah menjadi kebiasaannya, tapi tenang saja, dia tidak akan tahu aku disini sekarang.”

Aku mengangkat gelasku. “Aku ingin dua gelas seperti biasa,” pintaku pada bartender itu.

“Jadi apakah ini permintaan ayahmu lagi?”

Aku mengangguk. “Ya, tapi aku tak bisa menolaknya, dia keras kepala. Aku lelah harus berdebat dengan pria tua itu tapi aku senang.”

“How many dollars did your father pay for it?”

“Thousands of dollars a week,” teriakku. “He's a professional, sweetheart.”

Aku tidak dalam kondisi baik, aku selalu seperti itu dan sekarang pengawal baruku adalah beban tambahanku, beban pikiranku yang baru—entah apa yang ada di kepala Bakeer hingga seperti ini, menyewa pengawal, membayar mahal dan mengeluarkan uang besar setiap bulannya hanya untuk membayar Richard adalah sesuatu yang membuatku terkejut saat melihat bayaran yang diberikan Bakeer saat aku tak sengaja melihat pesan James dan ayahku sekitar ribuan dollar untuk satu minggu hanya untuk mengikutiku sepanjang hari dan membuatku merasa tersiksa.

“Itu bayaran yang tinggi, kudengar dia pernah mengawal presiden, benar begitu?” Aku mengangguk samar. “He's a secret service agent omg…” gumam Emma.

Aku mengambil kembali gelas yang sudah diisi dengan minuman baru dan kembali menegaknya hingga aku dikejutkan dengan seseorang memeluk pinggangku dan mencium pipiku dari belakang saat aku belum menuntaskan minuman yang berada di mulut hingga tersedak.

“Oh, God!” Aku menoleh dengan cepat, itu Alessandra. “Apa kau sudah gila, Ale?” timpalku.

Wanita itu melepaskan pelukan itu dan menghujamku dengan kecupan-kecupan ringan di kedua pipiku. “Emma, apa kau sudah melihat wajah pengawal barunya Emily secara langsung?” tanya Alessandra antusias.

Emma mengangguk. “Aku belum melihat secara langsung, ada apa memangnya? Jangan membuatku seperti wanita yang tak setia dengan suamiku, Ale. Aku sudah menikah! Aku akan memasuki 2 tahun pernikahanku dengannya beberapa bulan lagi, kau gila!” kata Emma dengan senyuman jahatnya.

“Jadi benar tentang pengawal itu?”

Aku, Alessandra dan Emma menoleh bersamaan. Senyum di bibirku memudar, Jared datang secara tiba-tiba—sudah tiga tahun berlalu aku tak lagi bertemu dengannya walaupun kita berada di lingkungan yang sama dan saat ini dia muncul seperti tidak pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Dia datang menghampiriku—menghampiri kami maksudku tapi aku tahu bahwa dia melirik ke arahku.

“Hai, bagaimana kabarmu?”

Aku masih duduk di tempatku dan aku agak mabuk. Alessandra dan Emma memeluk pria itu bergantian untuk saling nyapa-menyapa sementara aku hanya tetap di tempatku, aku tidak ingin turun hanya untuk menyapanya.

“Aku baik, Ale, Emma,” katanya.

Dan akhirnya aku turun dari kursiku, dan aku hampir terjatuh, kepalaku berputar dan Jared menangkapku, aku terpaksa melakukan ini dan dia memelukku, aku merasakan bibirnya mencium pipi kananku selama beberapa detik lalu menjauh dan kembali menatapku. “Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?”

Aku tersenyum. “Aku baik, bagaimana denganmu?”

“Sama seperti dulu, masih tetap memikirkanmu,” bisiknya.

“Jadi, siapa pengawal barumu itu, Emily?”

Aku masih bisa berdiri dengan tegak tapi kepalaku berputar, bagus, Stacey—yang kau pikirkan sekarang bagaimana kau bisa berjalan ke depan dan menunggu taksi untuk sampai mansion.

“Kau penasaran? Tenang saja, dia ada disini.”

Keningku berkerut. “Siapa?” tanyaku, aku curiga apa yang Alessandra bicarakan saat ini.

“Pengawalmu, dia datang,” tunjuk Alessandra dengan dagunya.

Mataku membulat, aku segera menoleh ke belakang begitupun Jared dan Emma. Sial, sial, sial. Dia baru saja masuk dan melangkah tegas ke arah kami—aku menangkap mata abu-abu itu dan mata abu-abu itu menusuk mataku begitu tajam.

Aku menarik pergelangan tangan Alessandra dan memelototinya. “Apa kau sudah gila, Ale? Bagaimana bisa kau mengajaknya kesini? Aku mengajakmu kesini karena aku ingin memiliki waktu dengan teman-temanku dan kau.” Aku menggeram pelan. “Ayolah, tidak untuk kali ini, Ale…” mohonku.

“Dia bertanya dan aku menjawab pesannya.”

Mulutku terbuka. “Kalian bertukar nomor ponsel?!” ketusku.

Alessandra tertawa. “Aku yang memintanya, bukan dia.”

“Aku ingin ke toilet.” Aku meraih tas juga ponselku dan ketika aku melangkah, aku rasa alcohol itu tidak cukup membuat kedua kakiku menopang berat tubuhku dan aku tidak cukup kuat untuk sampai ke toilet—tubuhku terhuyung dan aku membuat teman-temanku terkejut, aku terjatuh, ponsel dan isi tasku berhamburan.

Alessandra dan Emma berteriak terkejut. “Kau baik-baik saja?” Mereka berteriak dan berjongkok membantuku.

Aku mengangguk. “Ya, aku baik-baik saja,” kataku.

“Kau mabuk, Emily.”

“Aku tidak mabuk, Jared.”

“Kau mabuk,” kata dia.

Aku masih menggeleng dan mengambil barang-barangku yang tak tersentuh tanganku karena semuanya berputar. “Kau yakin kau baik-baik saja?”

Ketika aku ingin berdiri, dia juga menuntunku. “Jared, aku baik-baik saja,” kataku dengan suara memelan ketika sebuah tangan besar membantuku memasukkan semua barang-barangku saat aku tak bisa melakukannya.

“Ini aku, Nona Stacey.”

Itu bukan suara Jared dan Jared tidak tahu identitasku, itu Richard Bill. Seorang pria yang mengetahui identitasku begitu mudah yang selama ini aku tutupi berjongkok di hadapanku. Aku mengangkat kepalaku hingga aku bisa melihat mata abu-abu itu dengan jelas, aku menatap kosong mata itu, aku yakin wajahku memerah karena alcohol dan semuanya menjadi dua dan itu benar-benar Richard.

“Sudah cukup untuk malam ini, kau mabuk dan biarkan aku membawamu pulang,” bisiknya.

Richard menyentuh lenganku dan membawaku berdiri, kakiku sedikit goyah tapi Richard menahanku agar aku tidak terjatuh. “Biar aku yang mengantarmu pulang, Emily…” Jared bersuara, ada raut wajah yang khawatir.

Aku menggeleng. “Tidak, Jared, terimakasih atas tawaranmu.”

“Apa dia kekasihmu?”

Suara Jared membuat Richard terdiam—aku menggeleng dengan cepat. “Tidak, dia pengawalku,” koreksiku, dia tahu bahwa Richard pengawalku tapi dia tetap bertanya seolah memastikan bahwa aku bukan milik siapapun.

“Ahh… Jadi pria yang saat ini menjadi bahan pembicaraan orang-orang, pengawal tampan yang terkenal.” Jared mengangguk samar. “Baiklah, jika kau aman bersamanya.”

Richard menyentuh kedua bahuku dan melangkah, melewati kerumunan orang yang menabrak kami tetapi Richard dengan sigap langsung membawa tubuhku berada dekat dengan pria itu—untuk melindungiku yang sedikit tak seimbang karena pengaruh alkohol.

Aroma tubuh Richard sangat maskulin, sesekali aku melirik singkat pria itu sambil melangkah hingga keluar dari kelab malam.

Aku mendengus dan mendorong tubuhnya dengan keras hingga menjauh. “Aku bisa jalan sendiri, sialan! Menjauhlah dariku, aku tidak butuh dirimu, aku bisa jaga diriku sendiri!” teriakku kemudian masuk ke dalam mobil, duduk di kursi depan, samping Richard.

Aku bersandar dan memejamkan kedua mataku hingga aku merasakan sedikit goncangan yang menandakan bahwa pria itu sudah duduk di kursinya.

“Pakai sabuk pengamanmu, Nona Stacey.”

Aku menarik napas panjang, mataku terlalu berat untuk membuka dan tanganku terlalu berat untuk menarik sabuk pengaman—kepalaku terus berputar ketika aku membuka mata dan tubuhku menegang ketika aku ingin menarik sabuk pengaman, perlahan kedua mataku terbuka dan pandangan pertama yang aku lihat adalah Bill.

Dia menatapku, tangan kami bersentuhan saat kami ingin menarik sabuk pengamanku—jarak kami hanya lima belas senti membuatku bisa melihat abu-abu itu dengan jelas, wajahnya tenang tapi otot rahangnya mengeras, aku bisa merasakan napasnya menerpa wajahku dan jantungku berdebar kencang karena tatapannya.

“Kenapa kau datang?”

“Aku hanya ingin memperingatkanmu bahwa kemanapun kau pergi, aku harus ada di sampingmu, Nona Stacey. Aku tidak ingin hal ini terulang kembali, aku tidak ingin kau terluka dan membuat semua orang mengkhawatirkanmu.”

“Kau memang sialan, Richard.”

Richard mengangguk. “Ya, demi keselamatanmu.”

“Demi keselamatanku kau bilang?”

“Kau mendengarnya.”

Dia memasang sabuk pengamanku dan menarik diri menjauh dariku kemudian kembali menghadap depan. Richard hanya focus pada jalan, aku hanya bisa menatap wajah itu dari samping. Pria itu benar-benar tak mengizinkanku untuk pergi kemanapun sekalipun itu hanya ke kelab malam yang dimana tempat itu sering di datangi para model dan actor disana.

“Apa masalahmu?” gumamku, menatapnya.

“Aku tahu persis apa yang aku lakukan, aku bekerja untuk melindungimu.”

“Kau tidak melindungiku, kau membuatku merasa tidak nyaman dalam rumahku sendiri, Bill. Aku memiliki hari yang buruk, aku lelah dan aku membutuhkan sesuatu yang bisa menenangkan pikiranku lalu aku datang dengan Alessandra dan Emma di penghujung malamku lalu kau datang dan membuatku malu di hadapan sahabat dan mantanku sendiri, kau tidak bisa melakukan itu.”

“Hidupmu monoton, kau selalu datang ke tempat yang sama di hari yang sama.”

“Lalu dengan itu kau menganggap jika pembunuh yang ingin membunuhku sekarang sedang melihatku di atas gedung untuk menarik pelatuk mereka?”

Aku memejamkan kedua mataku, pikiranku saling bertabrakan dalam otakku, aku mencoba melawan amarahku, melawan mabuk dan semuanya bercampur menjadi satu membuat kepalaku pening. Tidak ada lagi pembicaraan, Richard tidak menanggapi perkataanku, dia hanya diam dan focus pada jalan untuk sampai mansionku.

Selama perjalanan kami hanya diam hingga akhirnya mobil melambat, aku membuka mata dan melihat bahwa kami telah sampai, pintu gerbang terbuka lebar, begitu mobil terparkir dan mesin mati, aku segera melepaskan sabuk pengaman dan keluar membanting pintu, langkah kakiku terhuyung-huyung, di samping itu aku tahu jika Richard juga melangkah masuk untuk mengejarku.

“Kita perlu bicara, Nona Stacey,” kata Richard.

Langkah kakiku terhenti di depan dapur, aku memutar ke belakang. “Kau benar-benar menyebalkan, kau membuatku tersiksa di rumahku sendiri, aku tidak ingin berbicara denganmu, kau merusak semua malamku, kau merusak semua apa yang aku lakukan dalam hidupku. Aku peringatkan padamu untuk jaga jarak denganku sepanjang 5 meter dan belajar untuk tidak berbicara denganku lalu tinggalkan aku sendiri karena aku tidak akan pernah menginginkanmu dalam hidupku walaupun kau mengorbankan nyawamu untukku!”

“Aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa kontrakku kurang dari satu tahun, Nona Stacey. Aku tidak lama bekerja untukmu.”

“Aku 23 tahun, Mr. Bill. Aku bukan anak kecil lagi, aku bebas melakukan apapun yang aku mau, aku bebas minum, aku bebas narkoba bahkan jika harus menghabiskan malam dengan pria 13 tahun lebih tua dariku sepertimu, itu legal untukku.” Rahangnya mengeras. “Berhentilah membuat hidupku tersiksa karena permintaan ayahku, aku tidak diinginkan ayahku.”

“Aku bekerja untuk melindungi orang-orang yang merasa tidak aman, sebagian besar kasus yang kupegang sama sepertimu, kau tidak bisa diam seperti ini, kau—”

Aku mendengus. “Hidupku bukan sebuah film, Bill. Kau sangat berlebihan, kau paranoid!”

“Aku bukan paranoid, aku melakukan ini sesuai dengan peraturan yang ada, aku bukan amatir tapi aku professional dan tentu kau bukan yang pertama di sini, jadi aku ingin kau memahami dan mengikuti aturan yang ada selama kau masih berada di bawah perlindunganku.”

“Kau terlalu banyak aturan.”

“Itu bukan aturan yang rumit.”

“Itu rumit untukku.”

Dia melangkah mendekatiku, rahangnya mengertak, tatapannya begitu tajam. “I'm here to protect you.”

Aku mendengus. “Protect me from who? Ghost?”

“Seseorang datang dan mengancammu lebih dari 4 bulan, dia menerormu dengan maksud untuk menjatuhkan karirmu, ancaman pembunuhan, ini bukan hanya sekedar surat ancaman yang mereka kirimkan setiap minggu, ini menyangkut nyawamu, James dan orang-orang di sekitarmu, mereka bisa terluka jika kau selalu menyepelekan hal ini, aku lebih tau tentang hal ini daripada dirimu, berapa kali mereka menyerangmu? Berapa kali mereka melukaimu? Berapa banyak surat dan terror yang mereka kirimkan untukmu? Dan berapa kali mereka melecehkanmu dengan tulisan sialan mereka tentangmu?”

“Aku memahami keadaan dan situasiku, aku baik-baik saja sampai detik ini—”

Richard menggeleng, dia mendengus dan menatapku kembali. “Kau tidak akan pernah menyadari situasi ini sebelum mereka benar-benar datang untukmu.”

・༓☾ ☆ ☽༓・

“Stacey, aku ingin kau bangun sekarang. Kita perlu bicara!”

Kenapa tidak ada seorangpun yang membiarkanku hidup dengan tenang di dunia ini? Aku baru merasakan tidur yang nyenyak semalam, tidak ada matahari yang masuk melewati gorden kamarku karena aku sengaja tidak membukanya, aku ingin tidur sepanjang hari tapi suara James membuatku kembali masuk ke dalam mimpi burukku.

“STACEY!”

Aku membuang napas kesal, aku berdecak dan membuka mataku. Aku diam sejenak dan melirik jam yang menunjukkan pukul sepuluh pagi, ini terlalu pagi untuk James berteriak sekeras itu dan untuk sesaat, aku menguap sebelum aku benar-benar duduk.

Keningku berkerut, sejak kapan James menyiapkan obat pereda nyeri untukku? Dia tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya—aku mengambil segelas air putih dan obat pereda nyeri yang berada di atas nakas kemudian menyingkap selimut lalu menurunkan kedua kakinya ke lantai dan melangkah menuju kamar mandiku—aku berkumur, menyikat gigi dan mencuci wajahku dengan sabun, pagi ini aku meninggalkan perawatan wajahku untuk James.

Aku melangkah keluar dari kamarku—aroma kopi menusuk indera penciumanku dan langkahku memelan saat menuruni anak tangga, aku terdiam sejenak, Richard sudah ada di sana, pria itu duduk di konter memakan sarapan paginya sementara James, pria itu menyiapkan pancake untukku. Kedua tanganku mengepal, aku menarik napas panjang lalu membuangnya perlahan, melihat raut wajah James pagi ini tidak sehat seperti biasanya—dia pasti marah tentang semalam, dia tahu Richard menjemputku dan membawaku pulang dalam keadaan mabuk.

Apa yang sudah pria itu katakan pada James hingga semarah itu?

Aku kembali melanjutkan langkahku dan menghampiri kedua pria itu dan duduk di samping Richard tetapi tetapi pria itu justru bergeser menjauh dariku, atacey mendengus. “Aku mandi semalam, tubuhku tidak bau.”

“Aku tidak mengerti apa yang ada dalam otakmu, Stacey. Sudah kukatakan berulang kali padamu untuk jangan pergi kemanapun sendirian. Bagaimana jika seseorang melukaimu nanti, apa kau sudah gila? Aku tidak peduli jika kau menganggapku paranoid atau apapun itu, kau diancam, mereka akan melukaimu, apa kau mengerti apa yang aku ucapkan?”

“Aku—”

“Aku tidak peduli, Stacey.”

“Richard menjemputku.”

“Aku akan sangat marah padamu jika kau pulang dalam keadaan mabuk, Stacey. Aku tidak ingin mendengar apapun yang membuatku marah padamu, semuanya akan kuserahkan pada Richard, kau harus mengikuti peraturannya, aku tidak peduli kau mau atau tidak, jika ini menyangkut keselamatanmu, aku akan tega padamu.”

Aku berdecak. “Ayolah James…”

“Tidak.”

Aku memusatkan pandanganku padanya. “Kau benar-benar pengacau, Bill.”

“Itu tugasku, Nona Stacey.”

“Lalu?”

Richard menegakkan tubuhnya lalu mendekat. “Be a good girl, or I will do more than that to make sure you understand that I am here to protect you,” bisiknya.

・༓☾ ☆ ☽༓・

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status