Share

pegawai baru

"Apa yang terjadi?" tanya Arseno dengan membulatkan matanya.

Asistentnya bercerita jika perusahan di gugat karena di tuduh plagiat oleh perusahan pangan lainnya,

"Nama perusahannya apa?" tanya Arseno kembali yang ingin mengetahui siapakah gerangan yang ingin mengajaknya perang.

Asisten Arseno menceritakan bahwa yang menggugat perusahannya adalah foodgood.

perusahan pangan yang baru berdiri di negeri ini dan umurnya masih terbilang sangat muda. Perusahan itu didirikan oleh seorang penghianat yang merebut kekuasaan orang lain.

"Oh dia," ujarnya lirih di balik telepon.

Arseno mengangguk-nganggukan kepalanya dan menyuruh asistentnya untuk segera menemui dirinya di ruangannya.

"Siap pak." jawab sang asistent dengan sigap.

Arseno pun menutup panggilan teleponnya dan meletakkannya kembali di tempatnya .

Arseno menghembuskan nafas panjangnya dan dia tersenyum di sudut bibirnya, "Benar-benar gila orang itu." ucapnya sambil tersenyum tipis dan sinis.

Arseno masih tak percaya dengan yang di dengarnya, dia terus menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa. "Apa mau dia?" tanyanya pada dirinya sendiri.

Tak lama kemudian, sang asistent datang masuk ke dalam ruangannya.

"Silahkan duduk!" perintah Arseno dengan mempersilahkan.

Sang asistent pun duduk dan memulai membuka obrolan mengenai masalah perusahan yang di gugat oleh perusahan lain.

"Ini ada surat dari kepolisian, ini adalah surat pelaporan yang di layangkan ke kita." ujar sang asistent dengan memberikan sebuah selembar kertas kepada Arseno.

Arseno pun meraih secarik kertas yang di sodorkan oleh sang asisten. Dia membacanya dengan seksama. "Ehhhhmmm," desisnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Arseno menanyakan ke sang asistent langkah apa yang harus di ambil, dan Masalah itu selesai secepatnya.

Sang asistent pun tertawa. "Tenang saja pak itu masalah sepele, mereka tidak ada apa-apanya dengan kita." jawabnya dengan enteng.

Arseno mengerutkan dahinya dan matanya melirik ke atas. "Benar juga dengan apa yang kamu katakan." jawab Arseno.

Sang asistent bercerita juga jika perusahan tak perlu menyewa pengacara karena masalah ini hanya sepucuk kuku hitam bagi perusahan besar milik Arseno.

Setelah Arseno mendengar pendapat yang keluar mulut dari sang asistent dia merasa tenang dan tak perlu khawatir karena sang asistent menganggap masalah ini masalah enteng dan tak perlu untuk di pikirkan secara berlebihan.

Ke esokan harinya tepat pukul 7 pagi Arseno sedang duduk di kursi meja makan sambil menunggu makanan di hidangkan.

Dia duduk sambil melihat ponselnya dan melihat pergerakan nilai mata uang yang semakin lama semakin menurun.

Arseno merasa sedikit khawatir jika nilai mata uang terus menurun itu artinya dia harus membayar lebih untuk membeli bahan mentah di luar negeri.

Arseno secepatnya harus mengambil langkah yang cepat jika ingin perusahannya untung besar.

Saat dirinya tengah melihat ponsel dan bergelut dengan pemikirannya, mamanya mendekati dirinya dan duduk di sampingnya. "Arseno hari ini pertama kalinya Sintia kerja di kantor, mama berharap kamu bisa mengajarinya dengan baik." seru Bu Ratih.

mendengar apa yang di katakan mamanya, Arseno mengalihkan pandangnya dari ponselnya menuju mamanya yang tengah duduk di sampingnya. "Iya aku mengerti ma, tapi tolong ma jangan perlakukan dia berlebihan dia bukan siapa-siapa kita." jawab Arseno sambil mematikan layar ponselnya.

Bu Ratih pun memegang bahu Arseno dan mengelus-elus nya supaya lebih sabar, Bu Ratih bercerita jika dia harus balas Budi kepada Sintia wanita muda yang menyelamatkannya dari ajal.

Bu Ratih bercerita dengan nafas yang ngos-ngosan dengan baik turun seperti orang yang kelelahan.

"Tolong perlakukan dia dengan baik Arseno." lanjut Bu Ratih sambil mengatur nafas yang naik turun.

Arseno pun memeluk mamanya dan menenangkannya, Arseno tak ingin terjadi sesuatu kepadanya. "Sudah lah ma, yang penting mama istirahat dengan cukup dan jaga kesehatan mama." seru Arseno sambil memejamkan matanya.

Bu Ratih berpesan kepada Arseno untuk menjemput Sintia yang berada di paviliun dan menyuruh mereka sarapan pagi bersama.

"Tolong ajak dia sarapan ya kasihan dia, anggap saja dia seperti saudara perempuanmu." ujar Bu Ratih sambil beranjak dari duduknya.

Arseno hanya terdiam mendengar apa yang di katakan oleh mamanya itu.

Sebenarnya Arseno merasa sedikit bingung dengan tingkah mamanya, di satu sisi apa yang di katakan mamanya ada benarnya juga dia hidup hanya sebatang kara, namun di sisi lain Arseno takut jika dia mengambil keuntungan pribadinya tanpa sepengetahuannya.

Arseno pun mengiyakan dengan apa yang di katakan oleh mamanya karena dia tak ingin mamanya sedih jika dia menolaknya.

"Iya sudah ayo Arseno antar mama ke kamar, mama istirahat dulu ya." ujar Arseno sambil beranjak dari duduknya dan segera melangkahkan kaki untuk berjalan mengantar mamanya ke kamar.

setelah selesai mengantar mamanya di kamar Arseno pun segera keluar dari kamar itu dan menutup pintu kamar mamanya.

Dia pun segera pergi dari depan kamar itu dan segera menuju paviliun untuk mengajak Sintia untuk sarapan sesuai apa yang di inginkan oleh mamanya.

Arseno berjalan dari kamar mamanya menuju paviliun dengan berjalan santai, dia terus berpikir mengenai semua masalah yang terjadi di perusahannya, itulah sebabnya kenapa Arseno masih tak kunjung menikah sampai saat ini.

Baginya pekerjaan adalah prioritas utamanya dalam hidup, maka tak heran jika perusahan dalam 5 tahun terakhir berkembang pesat.

perusahan miliknya adalah perusahaan yang mengeluarkan produk yang paling laris di pasaran dengan harga yang sedikit miring, dan menjadikannya perusahan nomor satu di negeri ini.

Sampailah Arseno di depan paviliun yang bernuansa klasik dengan campuran gaya eropa, Arseno langsung melangkahkan kakinya.

Arseno mengetuk pintu paviliun itu yang di huni oleh Sintia.

Arseno berulang kali mengetuk pintu itu namun tak ada jawaban yang membuatnya merasa kesal dan jengkel, Arseno pun membalikan badannya untuk segera pergi dari tempat itu.

Saat dia sudah mulai beranjak melangkah pergi beberapa langkah, Sintia pun keluar dari paviliun itu dengan memakai sebuah rok berwarna merah dengan panjang selutut, dia juga memakai sebuah kemeja yang bergaris berwarna putih. itu adalah sebuah pakaian yang di berikan oleh ibu Ratih kepada dirinya, mungkin selera pakaian Bu Ratih itu seperti itu.

"Maaf pak, bapak sudah menunggu lama. ada apa bapak datang ke mari?" sahut Sintia yang berbicara sopan dengan kepala menunduk.

Mendengar suara sintia yang bertanya kepada dirinya, Arseno pun langsung membalikan badannya.

Arseno sangat terkejut melihat penampilan Sintia yang memakai rok pendek berwarna merah dan memakai sepatu hak tinggi dengan warna hitam.

Arseno melihat penampilan Sintia dari atas ke bawah dan kembali lagi ke atas, Arseno tercengang akan hal itu. "Kamu memakai seperti itu mau kemana?" tanya Arseno yang terheran-heran.

Sintia pun membuka matanya lebar-lebar mendengar pertanyaan itu. "Iya saya kerja lah pak." jawabnya sopan karena nyali sudah ciut.

Arseno pun tertawa mendengar jawaban Shella. "Kamu ini kerja, bukan fashion show. Ngapain kamu memakai baju seperti itu, itu terlalu berlebihan dan itu sedikit kurang pantas karena rok mu itu sedikit terbuka." ujar Arseno yang menyepelekan Sintia.

Arseno merasa jika wanita yang ada di depannya adalah wanita yang menurutnya kurang cakap bekerja, Arseno merasa jika wanita yang modelan seperti Sintia adalah wanita yang mengutamakan keindahan tubuhnya bukan otaknya supaya di terima kerja.

"Tapi ini adalah memberikan Oma Ratih, dia mengatakan untuk memakai pakaian ini saat kerja." sahut Sintia.

Arseno berpikir sekali lagi mengapa dirinya membuang waktu mengomentari penampilan Sintia yang merasa kurang enak di pandang, apalagi di pandang oleh kaum laki-laki di kantornya.

Pahamilah di kantor banyak kaum laki-laki hidung belang yang menjalin hubungan dengan berkedok rekan kerja.

"Ahhh sudah lah terserah mu, yang jelas aku akan memandang kerja keras mu bukan bentuk ke indahan tubuh mu." seru Arseno sambil membalikan badan kembali dan membelakangi Sintia.

Mendengar ucapan itu Sintia terkejut, "Keindahan tubuh ku, emang tubuhku indah?" tanyanya kepada diri sendiri sambil melihat penampilannya.

Sebenarnya Sintia merasa kurang nyaman memakai baju yang sedikit terbuka, namun bagaimana lagi jika dirinya menolak pasti Bu Ratih sedih.

"Eh ngapain kamu berdiri di situ, cepat makan ini sudah siang." teriak Arseno yang memanggil dirinya yang sedang melamun.

Sintia pun langsung menganggukan kepalanya, "Iya baik pak." jawabnya sambil menutup pintu rumah dengan terburu-buru.

Sintia pun berjalan di belakang Arseno mengikuti langkah Arseno, Sintia pun sedikit takut melihat wajah Arseno yang menurutnya sangat galak, apalagi melihat wajahnya ada bulu halus yang tumbuh di sekitar pipi dan dagunya membuatnya semakin takut.

Sintia berjalan di belakang Arseno sambil menatap dahu bidang yang lumayan kekar yang terus berjalan dengan langkah yang panjang dan cepat.

Sampailah di meja makan yang luas dan berjejer banyak kursi di sana yang saling berhadapan-hadapan.

Arseno meminta Sintia untuk segera duduk untuk sarapan dan segara bersiap untuk berangkat bekerja.

Sintia pun duduk dan melihat menu makanan yang tersaji di depannya, Sintia sangat takjub melihat sarapannya orang kaya. "banyak sekali makanya, padahal yang makan hanya dua orang." ujarnya lirih.

mendengar perkataan Sintia yang lirih itu Arseno pun tersenyum sinis, "Maklumlah dia kan orang gak punya, melihat makanan seperti ini saja matanya melotot." hina Arseno dalam hati.

mereka berdua pun makan bersama, Arseno melirik Sintia yang mengambil setiap makanan dengan sedikit-sedikit namun semua di ambil dan letakan di piringnya membuatnya terkejut.

"Kenapa kamu mengambil sedikit?" tanya Arseno yang merasa heran.

Sintia pun bercerita jika dirinya harus menjaga pola makannya supaya tidak gemuk, "Aku miskin saja mudah gemuk, apalagi kaya." jawabnya sambil tertawa.

"Oh ya nanti kamu di kantor aku beri tugas pertama, aku ingin melihat kemampuan otak dan strategi mu itu." seru Arseno sambil menyendokan makan ke mulutnya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status