Share

7. Sang Investor

Happy reading....

Wajah bahagia terpancar jelas pada Elena. Apalagi saat dia melihat Hera tengah berjalan menghampirinya seraya menggendong Baby Juan. Wanita itu seakan sengaja bermesraan dengan Jayden. 

"Selamat pagi putra ayah," kata Jayden mengambil alih Juan dari gendongan Hera. Wanita itu tersenyum tipis hampir tak terlihat. Tak bisa dipungkiri Hera bahagia melihat Jayden bersama Juan. Kebersamaan mereka sejenak membuat Hera lupa akan konflik yang sedang dia hadapi. Hera mengambil tempat duduk untuk memulai sarapan.

Tidak ada yang membuka suara. Yang terdengar hanya canda dari Jayden yang sedang bermain dengan Juan. Baik Elena atau Hera, mereka hanya larut dalam pikiran masing-masing. Menyibukkan diri menyantap sarapan mereka.

"Aku akan pergi sekarang," ujar Jayden menyerahkan Juan pada Hera kembali. Dia mencium pipi sang anak gemas sambil berpamitan dengan nada bicara yang sangat lucu.

Jayden lalu beralih pada Elena. "Aku pergi ya," katanya memeluk Elena lalu mengecup kening wanita itu.

"Hati-hati di jalan," balas Elena melambai pada Jayden. Terlihat seperti merekalah yang berstatus suami istri.

Sungguh miris nasib Hera. Harus menyaksikan pemandangan menyakitkan di depan matanya. Bahkan Jayden sama sekali tidak menjatuhkan pandangannya pada Hera tadi. Seakan Hera hanya angin berlalu atau benda tak wujud di sana. Dia seperti orang lain.

Elena berbalik menatap Hera dengan senyum miringnya. Walau tak mengatakan sepatah katapun Hera bisa membaca dari tatapan mata itu.

Kali ini Elena kembali menang atas Hera.

***

"Selamat pagi, Pak Jayden!" sapa beberapa karyawan menyambut sang atasan.

Jayden hanya membalas dengan senyuman tipis sambil terus melanjutkan langkahnya menuju ruang meeting.

"Apakah dia sudah datang?" tanya Jayden pada sekretarisnya, Roy.

"Sudah, Pak. Dia juga---"

"Bagus sekali. Kau sudah menyiapkan apa yang aku minta 'kan sebagai hadiah untuknya?" potong Jayden tak membiarkan Roy melanjutkan ucapannya.

"Sudah, Pak!" jawab Roy.

Mereka pun dengan cepat menuju ruangan di mana sang klien sudah menunggu.

"Selamat pagi, Pak Haidar!" 

Ucapan Jayden sedikit memudar di akhir katanya saat melihat sosok yang sedang bersama pria yang dia sebut namanya tadi.

"Ayah?" lirih Jayden pelan dengan wajah bingung.

"Selamat pagi!" balas Haidar Pratama. Pria dengan kulit putih pucat bak vampir itu tersenyum tipis ke arah Jayden. Bahkan beberapa orang sampai bertanya kenapa seorang pria bisa memiliki kulit yang sangat putih bersih seperti itu.

Jayden kembali mengembangkan senyumannya lalu menjabat tangan Haidar. 

"Silakan duduk!" ujar Jayden ramah. Haidar mengangguk pelan lalu duduk di sana.

"Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk datang ke perusahaan kami, Pak Haidar," kata Jayden sebagai pembuka pembicaraan mereka.

"Tidak masalah," jawab Haidar lalu menatap pria paruh baya di sampingnya. "Itu karena Pak Andrew, jika bukan karena Beliau saya tidak mungkin tertarik untuk berbisnis dengan Anda, Pak Jayden," lanjutnya menatap kembali Jayden.

"Ah, begitu. Terima kasih, Ayah," kata Jayden pada mertuanya itu.

"Tidak masalah, Nak. Lagi pula Pak Haidar akan rugi jika tidak bekerja sama dengan kita."

Gelak tawa menghiasi ruangan itu. Jayden memang sudah lama mengincar Haidar Pratama untuk ikut serta menjadi investor dalam rencananya membangun sebuah apartemen mewah di tengah kota Alatha. Berhasil melobi pria itu sama dengan kau merekrut sepuluh orang investor.

Haidar termasuk orang yang sangat loyal jika sudah percaya dengan sebuah bisnis yang menurutnya akan menguntungkan. Dan Jayden menjadi salah satu orang yang beruntung bisa bekerja sama dengan pembisnis muda berumur 30 tahun itu. Pria yang notabennya lebih muda tiga tahun dari Jayden.

"Jadi Anda setuju untuk bergabung dengan kami?" tanya Jayden lagi untuk memastikan.

"Tentu saja, Pak Jayden. Saya tidak akan merubah keputusan yang saya ambil kecuali memang perlu," balas Haidar.

"Baiklah kalau begitu ...." Jayden meminta file kontrak pada Roy untuk ditandatangani Haidar. "Ini kontraknya. Silakan Anda baca dulu," kata Jayden menyerahkan file itu pada Haidar.

"Tidak perlu," kata Haidar membuat Jayden dan Roy saling menatap bingung. "Semuanya sudah dijelaskan oleh mertua Anda, Pak Jayden. Jadi saya tidak perlu lagi membaca file ini," lanjutnya sebagai penjelasan.

Haidar langsung membubuhkan tanda tangannya tanpa ragu diatas materai. 

"Nah, sudah selesai!" jawab Haidar menyerahkan kembali file itu pada Jayden.

"Terima kasih banyak, Pak Haidar. Saya harap ini tidak menjadi kerja sama kita yang terakhir," kata Jayden.

"Tentu, Pak. Selama Anda memiliki seseorang yang sangat berkompeten seperti Pak Andrew, saya yakin Anda tidak hanya akan mendapat investor besar namun juga investor tetap yang akan terus bersama Anda," balas Haidar membuat pria baruh baya di sampingnya tersipu malu.

"Anda terlalu memuji saya, Pak Haidar," kata Andrew dengan nada malu-malu.

"Kurasa itu tidak berlebihan," timpal Haidar membuat gelak tawa terdengar antara mereka. "Kalau begitu saya pamit," kata Haidar lagi bangkit dari tempat duduknya. Menjabat tangan Andrew lalu Jayden. Pria itu memajukan sedikit wajahnya.

"Anda sangat beruntung memiliki mertua seperti Pak Andrew. Sungguh saya sangat iri dengan Anda, Pak Jayden," bisik Haidar membuat senyum Jayden sedikit luntur. Namun saat mereka kembali bertatapan, pria itu tersenyum walau terkesan terpaksa.

"Biar ayah saja yang mengantar Pak Haidar," kata Andrew pada menantunya.

"Baik, Ayah," jawab Jayden mengangguk. Sepertinya itu memang lebih baik karena Haidar terlihat lebih akrab dengan sang mertua.

"Pak, bagaimana dengan hadiahnya?" tanya Roy. 

Jayden mendengus pelan. Saking senangnya karena mertuanya bisa melobi Haidar, membuat Jayden jadi lupa dengan hadiah yang akan ia berikan pada pria itu.

"Kita bisa memberikannya saat pesta nanti," kata Jayden.

"Baik, Pak!" jawab Roy.

***

Haidar meneguk wine dalam gelas tinggi itu hingga setengahnya. Mata hitam legam itu tak pernah lepas dari beberapa keping foto yang kini berada di atas mejanya.

Dia menatap satu per satu sosok dalam foto itu.

Pada keping pertama ada foto Pak Andrew yang sedang bersama Jayden di kantornya. Keping foto selanjutnya menampakkan sosok Anne, istri dari Andrew. Namun sosok pada lembar selanjutnya membuat Haidar termenung cukup lama.

Bahkan dia mengangkat foto itu untuk melihat lebih dekat. Haidar tersenyum tipis di sana. Tidak ada tahu apa yang sedang dipikirkan pria berbibir tipis itu.

Haidar mengusap lembut foto itu. "Hera Altezza, kau masih secantik saat pertama kali kita bertemu," gumamnya pelan.

To be continue....

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status