Share

Chapter 05 | Kecemburuan Naresh

Clara memilih berbelanja beberapa bahan masakan dan juga makanan ringan untuk menjamu Mama mertuanya, wanita cantik itu pergi dengan berjalan kaki. Clara menuju supermarket seberang rumahnya seorang diri, tidak mungkin juga ia akan meminta bantuan suaminya

Saat ini, ia tengah memilih beberapa sayur dan juga daging, dirinya sudah berangan-angan akan memasak banyak menu. Pasti Mama mertuanya akan sangat senang. Entah karena terlalu asyik memilih sayur atau bagaimana, sehingga ia tidak sengaja menyenggol seseorang di sampingnya.

"Maaf, maaf ... Saya nggak lihat," ucapnya refleks.

"Clara, kamu belanja di sini juga?"

Clara sontak menegakkan kepalanya saat mendengar suara bariton yang sangat di kenalinya itu. Netranya tak ayal melebar saat melihat Kenzie berdiri di depannya.

"Eh, Ken. Maaf aku nggak sengaja nyenggol tadi."

"Iya, nggak papa. Kamu sama siapa?"

"Aku sendirian, Mama Anne mau datang ke rumah dan nanti aku mau masak besar. Kamu kesana saja kalau nggak sibuk."

"Sebenernya aku pengen banget, tapi aku harus buru-buru pulang. Ini tadi di suruh adik aku beliin bahan-bahan buat bikin salad."

Clara tertawa kecil, "kamu penyayang banget, ya, sama adik kamu. Pasti dia seneng banget punya Kakak baik kayak kamu, Ken."

"Ah, dia doang yang seneng. Sukanya nyuruh-nyuruh aku beliin ini itu."

Clara semakin tergelak, dalam pandangan Kenzie melihat Clara tertawa adalah sebuah anugrah. Laki-laki tampan itu memang mengagumi wanita yang sudah menjadi istri sepupunya ini. Sayang sekali Naresh malah menyia-nyiakannya.

"Kamu kenapa nggak sama Naresh, Cla?" Kenzie kembali bertanya sembari meneruskan kegiatannya memilih sayuran.

"Mas Naresh lagi bersih-bersih kamar buat Mama Anne."

"Oh, gitu," jawabnya singkat.

***

Menit berlalu...

Kenzie dan Clara sudah selesai dengan belanjaannya, keduanya berjalan bersama menuju kasir. Saat tiba waktunya membayar, laki-laki itu meminta kasir untuk memasukkan tagihan Clara ke kartunya.

Awalnya Clara menolak karena ia merasa tidak enak hati. Namun karena Kenzie yang terus memaksanya, akhirnya ia menerima. Berulang kali wanita itu mengucapkan terima kasih, ia sungguh merasa tidak enak hati.

"Ayo sekalian aku antar pulang, Cla."

"Nggak usah, Ken. Tinggal nyebrang gitu aja, kok."

"Kali ini aku maksa lagi, Cla, dan kamu harus mau."

Clara menghela nafas lirih, "ya sudah. Aku jadi banyak berhutang sama kamu jadinya."

"Ngomong apa, sih? Santai aja nggak usah kayak gitu, kita sudah berteman lama 'kan?"

Clara lantas mengangguk. Jujur saja ia memang menyukai sifat baik Kenzie, laki-laki itu tidak pernah membedakan saat berteman. Bahkan dengan dirinya yang berekonomi pas-pasan.

Dengan telaten Naresh membantunya menaikkan barang belanjaan ke dalam bagasi mobil, selanjutnya ia lantas duduk di samping Kenzie. Mobil itu mulai bergerak pelan, dan tidak butuh waktu lama akhirnya mereka tiba di kediaman Naresh.

Clara bergegas turun dan mengambil barang belanjaannya, begitu pula dengan Kenzie yang sigap membantu. Tanpa keduanya sadari, sedari tadi Naresh mengawasi mereka dari balik kaca jendela. Pandangannya tidak suka dengan rahangnya yang mengetat sempurna seolah menahan emosi.

"Dari mana kalian?!" tanya Naresh saat kedua orang itu baru saja memasuki rumah.

"Mas, aku tadi belanja di supermarket depan dan nggak sengaja ketemu sama Kenzie. Dia bantuin aku bawa barang belanjaan."

"Nggak sengaja apa memang janjian, Cla?!"

"Nggak sengaja, Mas. Aku saja nggak tahu ada Kenzie di sana."

"Masuk! Aku nggak suka kamu dekat dengan laki-laki lain."

"Naresh, aku sama Clara..."

"DIAM!" sentaknya, "aku nggak bicara sama kamu, Kenzie!"

"Mas, jangan marah-marah kayak gitu."

"Aku bilang masuk, Clara! Kamu harus dengar apa kata suami!"

Clara masih tidak bergeming, ia masih mematung di sana menatap Naresh yang nampak kesetanan.

"MASUK SIALAN!" sentaknya sekali lagi yang sontak membuat Clara terhenyak kaget.

Wanita itu masuk ke dalam rumah dengan bulir air mata yang luruh di pipinya. Siapapun pasti akan sakit hati melihatnya, bayangkan saja ia di bentak di hadapan orang lain oleh suaminya sendiri.

"Naresh..."

Bugh!

Sebuah bogeman mentah mendarat sempurna di perut Kenzie, Naresh tidak peduli bahwa Kenzie adalah sepupunya.

Bugh!

Lagi, Naresh meninju wajah tampan itu hingga membuat hidung mancungnya berdarah. Laki-laki itu lalu mencengkeram erat pipi Kenzie dan menatapnya sengit.

"Sekali lagi aku lihat kamu dekat sama Clara, aku akan jadi malaikat mautmu!"

Kenzie tidak menjawab, ia menatap Naresh dengan mata memerah menahan rasa nyeri di perut dan wajahnya.

"Jangan memandangku seperti itu atau aku akan mencongkel matamu! Kau paham?! Jangan berani-beraninya dekati Istriku, Ken!"

"KAU PAHAM, SIALAN!" sentaknya sekali lagi dan langsung mendorong tubuh Kenzie sampai terjerembab ke tanah.

Brakkk!

Naresh menutup pintu dengan kasar, nafasnya terengah-engah. Laki-laki mendudukkan dirinya di ruang tamu. Entah apa yang dia rasakan, kenapa hatinya seperti tidak rela melihat Clara dengan laki-laki lain? Dan apa tadi? Ia menyebut Clara sebagai istri?

Oh, tidak! Ini pasti karena efek kelelahan setelah membereskan barang-barangnya. Dirinya tidak mungkin cemburu. Yeah, dirinya membenci Clara dan ini adalah karena ia tidak mau melihat Clara bahagia dengan laki-laki lain.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status