Share

Takdir
Takdir
Penulis: Estehasin_

PROLOG

*HAPPY READING🦋

Laki laki dengan seragam keluar dari celana, celana robek di bagian dengkul, dan kalung salib yang melingkar di lehernya sedang berjalan melewati mushola. Laki laki itu adalah Maxime Garuda pentolan di sekolah yang terkenal di jakarta ini. Maxime menoleh kearah Mushola ada siswi berjilbab yang baru selesai melaksanakan sholat sunnah.

Entah kenapa hati Maxime berdebar. Maxime memegang dadanya. "Gue kenapa nih?" hanya dengan memandang wajah gadis itu jantung Maxime berdetak cepat. Maxime menoleh lagi, gadis itu sudah akan keluar dari mushola. Maxime merapihkan rambutnya, dirinya akan menghadang gadis itu. 

Gadis itu bingung saat sudah berada di depan Maxime. Saat gadis itu hendak ke kiri Maxime juga ikut. Akan kekanan Maxime juga mengikutinya. Mata gadis itu menatap kearah kalung salib berwarna silver yang dipakai Maxime. Lalu gadis itu menghela nafas panjang.

"Bisa minggir?" tanya Gadis itu pada laki laki aneh di hadapannya. Ia ingin segera pergi dari sini karena kedua sahabatnya pasti sudah menunggunya. Gadis itu menghela nafas.

"Kenalan sama lo. Gue Maxime!." Maxime dengan percaya dirinya mengulurkan tangannya. Gadis itu hanya melirik tangan itu sekilas.

"Saya gak mau kenalan sama kamu!" ucap gadis itu cuek. Maxime terkejut, baru kali ini mendapat perempuan yang seperti itu. Maxime melihat kearah name tag gadis itu ternyata namanya Naira Aqilla Giarani. Nama yang bagus Maxime membatin dalam hati.

"Banyak orang yang pingin kenalan sama gue kenapa lo nggak?" tanya Maxime yang terheran heran dengan Aqilla. Makhluk apa Aqilla ini.

"Saya bukan mereka!" Waw, keren. Perempuan seperti Aqilla ini sangat langka. Pentolan macam dirinya ditolak? Serius?

Maxime menatap wajah Aqilla intens. Mata yang indah, bulu mata yang lentik, bekas jerawat yang mulai memudar, dan alis yang tertata rapi.Entahlah, Maxime merasa harus mendapatkan gadis itu. Walaupun tahu perbedaan antara mereka terlihat jelas.

"Jangan tatap saya seperti itu!" Aqilla tak suka ditatap seperti itu. Itu berdosa baginya, apalagi manusia seperti Maxime. Aqulla tahu kok siapa Maxime. Aqilla bukan gadis nerd yang tak tahu apa apa. Yang Aqilla tahu Maxime adalah laki-laki brandalan pembuat onar SMA BIMA JAYA

"Bisa minggir nggak? Kamu halangi jalan saya." Aqilla mulai geram dengan tingkah Maxime yang tidak jelas 

"Nggak bisa. Minta nomor wa lo," lagi. Maxime pantang menyerah. Maxime menyodorkan ponsel miliknya yang berlogo apel kroak. Aqilla mengerenyit.

"Untuk apa?" tanya Aqilla. Untuk apa meminta nomer wanya?  Aqilla tak suka bila ada laki-laki yang hendak mendekati nya. Itu hal yang sangat pantang untuknya. Maxume tidak tahu sjaa bagaimana jika ayahnya tahu. Bisa habis Maxime. 

"Open Bo," jawab Maxime dengan seenaknya. Manusia. macam apa dihadapannya ini. Orang lain pasti akan senang beda lagi dengan gadis ini.

Aqilla melotot.  Kurang ajar sekali laki-laki di hadapannya ini. "Kamu kurang ajar ya? Minggir kamu," Maxime menahan tangan Aqilla saat akan pergi dari hadapannya. 

"Lepas!" Aqilla mendorong Maxime membuat Maxime hampir terjengkang. Aqilla lalu pergi dari sana dengan berlari. Maxime tiba-tiba terkekeh. Lucu, baginya Aqilla gadis yang lucu aapalagi melihat muka judesnya. 

Awalnya Maxime tidak percaya cinta pandangan pertama. Tapi hari ini Maxime pun merasakannya. Detak jantung yang menggila hanya karena menatap manik mata indah itu. Jika diingat lagi mungkin Maxime bisa gila.

"I like that," ucap Maxime. Ia akan mendapatkan hati gadis berjilbab yang ia temui di mushola sekolah.

-Bersambung.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status