Share

CHAPTER 5

-HAPPY READING. 

Aqilla berlari ke arah toilet perempuan. Ia sebal menjadi pusat perhatian. Memangnya kenapa harus dilihatin sih? Ada yang aneh? Hanya karena Maxime? huh. 

Aqilla melepas kerudungnya sebentar lalu membasuh wajahnya menggunakan air. Siang ini begitu panas bagi Aqilla. Setelah membasuh wajahnya aqilla memakai jilbabnya lagi. Menatap cermin yang begitu bersih. 

"Gimana caranya biar orang gila itu jauh dari aku," gumamnya. 

Aqilla segera keluar daro toilet, entah kenapa hanya ada dirinya. Kenapa jadi menakutkan/ Please ini siang hari. 

Ceklek 

Tiba tiba pintu tertutup dengan sendirinya. Keringat dingin turun dar dahinya. Apa ada hantu? Tak lama Aqilla mendengar suara langkah seseorang. 

"Hai Aqilla," sapa seseorang dari arah bilik kamar mandi paling pojok. Aqilla melotot, bukan bukan hantu tapi orang yang sering melakukan pelecehan di sekolah ini. Orang ini kenapa ada di sini. 

"Pergi atau saya teriak Aron," ancam Aqilla sambil menunjuk orang itu. 

Aron Adinata laki-laki yang sering melakukan pelecehan di sekolah ini. Aron sudah dikeluarkan tapi kenapa bisa kembali lagi. 

Aron terkekeh. "Teriak aja sekenceng mungkin. Gak akan ada yang denger," 

Aqilla semakin ketakutan, siapapun itu Aqila mohon bantu Aqilla. Aqilla terus berzikir minta pertolongan pada Allah. Aron semakin maju membuat Aqilla was was.

Aron hampir menyentuh pipi Aqilla namu Aqilla langsung menepisnya. "Jual mahal juga ya lo," ucap Aron sambil tersenyum devil. 

Aqilla menggeleng. "Please lepasin saya," 

"Lepasin? Main dulu lah bentar." Aqilla menggeleng, 

"K-kenapa kamu di sini? Tolong pergi." Suara Aqilla bergetar. 

"Gak semudah itu cant-" 

BRAKKKK

Ada yang mendobrak pintu dari luar. Maxime, Dio, dan Ascrf ang muncul. Maxime tersenyum smirk. 

"Eh dongo lo ngapain?" tanya Maxime dengan santai tapi mata yang mengisyaratkan kemarahan. Berani beraninya nyenggol bidadarinya. Ea:v

"Apaansi lo? Ganggu waktu gue mau seneng seneng," jawab Aron. 

Maxime maju selangkah. "Mau ngapain?" 

"Gue mau nikmatin tubuh-" 

BUGGGG

Hidung Aron mengeluarkan darah setelah terkena tonjokan Maxime. "nEnak gak? Harusnya lo itu direhab. Udah gak bener kayaknya otak lo," disaat maxime sedang beergelut yang dilakukan Dio dan Ascraf adalah ngupil. 

Maxime menoleh. "Heh lo berdua ngapa sih?" geram Maxime melihat kelakuan kedua temannya. 

Keduanya menyengir lalu berdiri di samping Aron. "Ron dari pada lama lama mending ikut gue ke ruang BK," ucap Dio. 

"OGAHHH!!" 

Maxime langsung meninju Aron habis habisan. Dio langsung mencegah Maxime. 

"Mati ntar anak orang ngawur lu Max," peringat Dio. 

Aron menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Tadi ia masuk lewat p[intu belakang dan dibantu seseorang untuk menelusup kemari. 

Tak lama guru Bk datang. "Kamu sudah saya keluarkan kenapa bisa masuk ke sekolah ini?" 

"Urusan bapak?" Pak Udin geleng geleng kepala manusia ini memang tidak takut siapapun. 

"Kamu masuk lewat mana? Kamu minta tolong kan sama anak sini?" Aron diam tak menjawab membuat Pak Udin geram. 

"Geret dia keluar Pak!!" Pak udin meminta satpam sekolah segera membawa Aron. Anak kurang ajar seperti Aron harus segera dilenyapkan. 

"Awas lo." Aron menunjuk Maxime sebelum pergi dari sana. 

* * * 

"Makasih," ucap Aqilla sambil menunduk. Dirinya masih takut dengan masalah yang tadi. 

"Sama-sama, gak usah takut ada gue." Senyum tulus ter ukir di bibir Maxime yang tipis dan merah. 

Aqilla memegang botol air mineral yang masih tertutup rapat. Maxime langsung mengambil botol tersebut. "Diminum dulu," 

Maxime membuka botol itu lalu menyerahkan pada Aqilla. "Makasih." Maxime mengangguk. 

"Yakin lo gak papa?" 

"Iya," 

"Makanya Qil, kalo kemana mana itu jangan sendiri," nasehat Maxime takut hal ini terulang lagi. 

Aqilla mendengus. "kaya apaan aja," 

"Lah ntar kalo kaya tadi lagi gimana?" 

"Tinggal teriak," 

"Heleh tadi lo teriak aja kaga kedengeran," 

Aqilla baru ingat kenapa Maxime bisa tahu dirinya dikamar mandi. Baru Aqilla ingin bertanya maxime sudah berkata lebih dahulu. "Tadi gue ngikutin lo. Yakali bidadari gue jalan sendiri," ucap Maxime sambil mengedipkan matanya. 

"Berisik," 

"Yeilah kan kumat," 

"Keknya kita jodoh deh Qil." Botol yang Aqilla pegang, Aqilla lemparkan ke tong sampah karena sudah habis. 

"Tempat ibadah aja beda. Kamu Gereja, aku Masjid." ucap Aqilla spontan. 

Maxime langsung bersemangat. "Berarti kalo tempat ibadahnya sama lo mau sama gue?" 

"Gak." Jawaban Aqilla tak membuat maxime patah semangat ia haru terus berusaha hahay. 

"Kite coba lain kali," 

"Gak perlu," jawab Aqilla yang masih setia duduk di samping Maxime. 

Btw mereka sedang berada di taman sekolah yang sangat asri dan terawat. Sekolah yang diidam idamkan anak-anak lain.  Sekolah yang terletak di tengah tengah ibu koa jakarta. 

"Pulang mau gue anter?" tanya Maxime yang berniat baik. 

Aqilla menggeleng ia takut nanti ayahnya ada di rumah. "Enggak perlu nanti di jemput ayah," 

Maxime hanya mengangguk saja. Bukan karena takut bertemu ayah aqilla tapi takut nanti malah Aqilla yang terkena dampak. 

"Yaudah ayo kekelas gue anterin," Aqilla menatap Maxime yang begitu bai. Walaupun Maxime berandalan tapi Aqilla bisa melihat setengah kebaikan diri maxme. Baru setengah bukan sepenuhnya

Aqilla berjalan menuju kelasnya, melihat beberapa orang melirik kearahnya. Tiba-tiba ada yang merangkulnya dari belakang. 

"Gakpapa ada kita berdua." Suara itu adalah suara Diana. 

Cash mengacungkan ibu jarinya. "Kita bakal ada kok buat Qilla. Jangan trauma ya Qills," Aqilla merasa terharu memiliki dua sahabat seperti Diana dan Cash. 

"Mata lo kalo masih ngeliatin bae gue congkel ya," geram Diana melihat kelakuan manusia yang berada di sana. 

Cash menggaruk ramburnya. "Kalo abis dicongkel di kemanain?' tanya Cash dengan lugu. 

"Lo makan!!!!" Diana geram dengan satu temannya ini yang punya otak sangat polos. 

Aqilla terkekeh. "Makasih ya guyss," Aqilla memeluk kedua temannya. 

"Kaya apa aja Qil." semua lalu terbahak dan pasang mata melihat bagaimana bahagianya persahabatan mereka. 

-Bersambung

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status