Share

4 - Pertemuan Kedua

Hari demi hari pun berlalu. Hari ini adalah hari di mana Ele dan Alvia akan magang di perusahaan DAND Group sebagai sekretaris. Ele tengah bersiap di depan meja riasnya. Ia membenahi ikatan rambutnya yang melonggar dan memakai dasi di kerahnya dengan rapi. Tak lupa Ele juga memberikan polesan make-up ringan di wajahnya.

Ele turun dari kamarnya dan duduk di meja makan. Ia meminum segelas susu putih dan roti tawar dengan selai stawberry di dalamnya. Selesai makan ia langsung berangkat magang menggunakan mobilnya. Butuh waktu 15 menit untuk sampai di DAND Group.

Sesampainya di DAND Group, Ele menuju ke basement perusahaan untuk memberhentikan mobilnya. Sialnya, saat mobil Ele akan terparkir dengan sempurna, datang mobil lain yang tiba-tiba menyerobot tempat parkir mobil Ele. Ele pun keluar dari mobilnya dengan menutup pintu mobil dengan keras. Kemudian ia mengetuk kaca mobil yang membuatnya geram.

"Heh! Keluar nggak lo!" kesal Ele.

Pengemudi mobil tersebut pun keluar, keduanya terkejut.

"Wah, ada yang masuk kandang macan rupanya?" ucap Axel sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.

"LO!" teriak Ele.

"Iya, gue! Orang yang lo tinggalin setelah bantuin cewek yang nggak tau terima kasih," ucap Axel dengan sinisnya.

"Nggak salah? Bukannya gue yang bantuin lo? Lo kan kena pukul preman tersebut."

"Aih, baru ketemu dua kali aja lo udah nyebelin ya?"

"Bodo amat!" Ele pergi meninggalkan Axel dengan mobil yang masih menghalangi jalan.

"Bocah Sinting! Parkirin mobil lo yang bener!" teriak Axel.

Lagi dan lagi Ele sengaja pura-pura tidak mendengar teriakan dari Axel.

Axel keluar dari basement menuju ke ruangannya dengan wajah yang kesal. Ia membanting pintu ruangannya dengan keras hingga membuat Gavin terkejut.

"Kerasukan setan mana lagi ini anak?" gumam Gavin.

"Sial! Kenapa gue harus ketemu dia di kantor gue sih?" kesal Axel.

"Kenapa lo? Pagi-pagi udah kesel aja," tanya Gavin.

"Gue ketemu sama cewek yang waktu itu gue ceritain."

"Terus masalahnya dimana? Kan cuma ketemu?" tanya Gavin lagi.

"Masalahnya dia selalu buat gue kesel. Haishh! Udahlah." Axel pun meredam emosinya sendiri dengan meminum air putih yang berada di meja kerjanya.

"Gue mau kasih tau sesuatu sama lo. Dua sekretaris yang bakalan magang itu salah satunya bakalan gantiin gue. Gue akan ditugaskan untuk menggantikan manajer personalia yang mati mendadak kemarin. Gue harap lo bisa jaga emosi lo. Karena sekretaris itu cewek bukan cowok," jelas Gavin.

"Terserah lah. Yang penting dia nggak lelet dan kerjanya bagus. Gue mah oke-oke aja."

"Bentar, gue panggilin dulu orangnya."

Gavin keluar dari ruangan Axel untuk memanggil mahasiswa magang itu. Axel duduk di sofa sambil menunggu kehadiran Gavin dengan sekretaris barunya. Beberapa menit kemudian, pintu ruangan Axel terbuka. Suara sepatu pantofel terdengar di telinganya.

"Ini dia orangnya." Axel pun menoleh ke Gavin.  Ia terkejut bukan main saat mengetahui bahwa yang akan menjadi sekretaris magangnya adalah cewek yang sudah membuatnya kesal dua kali.

"Ele, silahkan perkenalkan dirimu. Laki-laki muda di depanmu ini adalah CEO dari DAND Group namanya Axel Dandion."

Bukan hanya Axel saja yang terkejut, Ele juga demikian. Namun, Ele tetap bersikap profesional. Ia pun memperkenalkan dirinya.

"Perkenalkan nama saya Eleanor Freedy, saya mahasiswa magang yang akan menjadi sekretaris bapak. Mohon bimbingannya," ucap Ele sopan.

"Oh, jadi sekretaris magangnya ini. Baguslah," ucap Axel dengan senyum menyeringai. Gavin yang melihat ekspresi Axel yang seperti itu merasa kasian dengan Ele. Karena sudah banyak korban dari kekejaman Axel bagi para mahasiswa yang magang di perusahaannya.

Dari tatapan dan senyuman Axel tersebut. Ele sudah tau dan pasti bahwa ada sinyal kebencian yang tersirat di dalamnya. Tentang bagaimana sikap Axel nanti Ele tidak peduli. Yang ia pedulikan hanya magang dan sertifikat dari perusahaan Axel.

"Bisa tinggalkan kami berdua?" pinta Axel.

Sebelum pergi meninggalkan Axel dan Ele, Gavin membisikan sesuatu di telinga Axel.

"Anak gadis orang, jangan lo apa-apain."

"Iya, banyak omong deh lo!"

Gavin pun benar-benar pergi meninggalkan Axel dan Ele berdua di ruangan. Axel terus menatap Ele dari ujung rambut hingga kaki. Ia masih tidak percaya bahwa orang yang membuatnya kesal akan menjadi bawahannya.

"Coba ulangi, perkenalkan dirimu."

"Eleanor Freedy, itu nama saya, Pak."

"Oke, ternyata takdir mempertemukan kita lagi. Itu artinya kamu harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Mengerti?"

"Mengerti pak."

"Tugas kamu sekarang adalah merekap semua dokumen yang ada di meja kerja saya. Tapi sebelum itu, tolong buatkan saya kopi. Takarannya dua sendok kopi dan satu sendok gula. Jangan kebanyakan air. Saya tidak suka yang teralu panas dan dingin."

"Baik pak."

Saat Ele hendak berjalan keluar dan sudah sampai di pintu, tiba-tiba Axel memanggil Ele kembali.

"Satu lagi, nggak pake lama."

"Baik pak."

Ele akhirnya benar-benar keluar dari ruangan yang berhawa panas itu. Ia pergi ke pantri perusahaan dan membuat kopi sesuai dengan apa yang diminta Axel. Sepuluh menit kemudian, Ele kembali ke ruangan Axel. Ia pun memberikan kopi yang telah dibuatnya.

"Sekarang silahkan kamu kerjakan dokumen itu," ucap Axel sambil menunjuk tumpukkan dokumen yang tingginya hampir 20 cm.

"Siang ini harus sudah selesai. Mengerti?" Ele mengangguk.

"Silakan keluar. Tempatmu ada di depan ruangan ini. Jangan sampai salah. Jika salah ulangi sampai rekapan itu benar. Walaupun harus sampai lembur. Harus kamu kerjakan hari ini juga."

"Baik Pak Axel."

Ele pun keluar dari ruangan Axel dengan membawa tumpukkan dokumen. Ia menggerutu tentang sifat dan karakter Axel dalam hatinya. Sementara Axel ia tersenyum bahagia bisa mengerjai Ele sesuai keinginannya. Ada kesenangan tersendiri ketika ia bisa membuat Ele tunduk padanya.

Waktu terus berputar sesuai alurnya. Ele telah menyelesaikan rekapakan dokumen yang diminta Axel satu jam lebih awal dari yang diminta Axel.

Tok ... tok ... tok ...

Ele mengetuk pintu ruangan Axel untuk menyerangkan rekapan yang telah diselesaikannya.

"Masuk," jawabAxel dari dalam ruangan.

"Ada apa? Apa kamu kesulitan mengerjakannya?" tanya Axel pada Ele.

"Tidak, saya kemari mau memberikan rekapan dokumen yang sudah saya selesaikan."

Axel terkejut. Bagaimana mungkin Ele bisa menyelesaikan pekerjaan yang terbilang rumit dengan jagka waktu yang sebentar? Bahkan Gavin yang terlatih saja hanya mampu sampai jam makan siang.

"Jangan becanda kamu. Mana saya cek dulu."

Axel mengecek satu persatu rekapan dokumen tersebut. Ia tidak menyangka ternyata Ele memiliki kemampuan yang luar biasa, Hasil rekapannya lebih rapi dan mudah dimengerti. Jika seperti ini, ia akan susah untuk menjahili Ele.

"Bagaimana? Sudah benar kan, Pak?"

"Bagus. Pekerjaan kamu selanjutnya adalah menulis hasil rapat yang akan diadakan setelah makan siang. Jangan sampai ada yang terlewat sedikitpun."

"Baik Pak."

"Kamu boleh keluar."

Ele pun keluar ruangan dengan wajah berseri. Ia sangat puas melihat wajah Axel yang terkejut.

"Jangan coba main-main sama gue," ucap Ele.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status