Share

Bab 5

Langkah Zean terhenti saat melihat seorang perempuan keluar dari ruangan tempat Zenon di rawat. Pasalnya, Zean bahkan belum memberitahu orang tua Zenon tentang keadaan anaknya. Lalu bagaimana perempuan bernama Katia tersebut bisa sampai ke sini. 

"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya. 

"Hanya berkunjung."

Katia sepintas menatap Amara yang berada di samping Zean. Sedangkan Amara yang merasa ditatap dengan penuh kebencian menundukkan kepala dan sedikit menyembunyikan badan. 

"Bagaimana kamu tahu Zenon berada di sini?"

"Dia menelponku barusan. Zenon mengkhawatirkanku karena pada waktu dia diculik aku dan dia sedang bersama."

"Oh ... kalau begitu kami masuk dulu."

Zean dan Amara melangkah melewati Katia. Ketika Zean memegang gagang pintu, perempuan tersebut menghentikannya. 

Katia masih tidak mengerti kenapa Zean menikahi Amara. Padahal dari segi manapun Katia jauh lebih baik ketimbang perempuan tersebut. 

"Katakan! Apa yang kurang dari diriku? Aku sudah lama dan berulang-ulang menyatakan cinta. Tapi kenapa aku terus-terusan ditolak?"

"Sederhana Katia, aku tidak cinta."

"Lalu bagaimana agar kamu mencintaiku? Katakan Zean! Aku akan melakukan apapun yang kamu mau. Tubuhku? Uang? Aku pasti lebih hebat dari wanita ini. Aku rela melakukan apapun asal kamu mau mencintaiku."

Andai sekarang tidak dalam suasana malam dan mereka tidak sedang berada di depan ruangan VIP yang minim pasien ataupun pengunjung. Pasti mereka sudah menjadi tontonan yang menarik banyak perhatian. 

Zean hanya diam dan berniat meninggalkan perempuan tersebut. Dia tidak ingin menggubris Katia yang menurutnya sudah gila.

"Aku mohon!" Katia menyingkirkan Amara dan langsung memeluk tangan Zean."Kamu mau harta? Semua milik keluargaku akan aku berikan padamu. Ya, kita menikah dan kita akan menjadi keluarga terbaik di kota ini!" 

"Katia, hal itu tidak akan bisa membuatku bahagia."

Zean nampak dingin saat mengatakan hal tersebut. Dia sudah terlalu lelah menggubris Katia dengan baik. Dengan kasar Zean menghempas tangan Katia. 

"Lalu ... wanita ini yang bisa buat kamu bahagia?!" teriak Katia histeris mendapat penolakkan berat dari laki-laki yang sangat dia cintai.

"Ini gila Zean. Dia tidak bisa memberikan apapun padamu. Bagaimana bisa dia membuatmu jatuh cinta. Sangat tidak logis, kamu menikahi wanita yang bahkan tampak seperti gelandangan di jalan."

"Maaf! Tolong cari orang lain dan jangan mencampuri urusan hidupku."

Zean membawa Amara masuk dan Katia membeku di depan pintu. Tidak ada yang sebanding dengan Zean, bagaimana bisa dia mencari orang yang tidak ada lagi dunia ini. Katia tidak bisa melepaskan laki-laki itu begitu saja. Dia tidak akan Terima Zean memilih Amara. Dia mengepalkan tangan dan bertekat akan membuat pernikahan mereka hancur. 

"Lihat saja! aku akan mendapatkanmu Zean."

***

Zenon terdiam saat pintu mulai kembali terbuka. Dia cukup terkejut melihat kedatangan sahabatnya tepat setelah Katia menjenguk. Menstabilkan wajahnya, Zenon menyapa Amara dan Zean bergantian. Dia menelisik dua orang tersebut apakah membawa sesuatu atau tidak. 

"Kalian datang ke sini dan gak bawa apa-apa?!" tanyanya tidak terima. 

"Tidak," jawab Zean. 

"Yah ... kalau itu Zean aku bisa memakluminya, manusia setengah batu. Tapi kamu, Ra? Kamu perempuan! Jenis manusia yang dinobatkan sebagai makhluk paling peka di muka bumi."

"Mara belum gajian," ucap Amara."Lagian Zenon kan kaya, masa minta buah tangan dari Amara."

"Menjenguk orang sakit harus membawa sesuatu, Ra. Kamu kan bisa minta uang ke suami kamu."

"Zean gak ngasih uang ke Amara."

"Hah! Suami macam apa kamu ini?!" Zenon menggelengkan kepala setelah menimpali sahabatnya."Jahat sekali!"

"Dia yang gak mau dikasih duit," jelas Zean. 

"Astaga! Kamu manusia bukan? Gak ada yang gak mau uang Amara!" ucap Zenon lebih histeris beralih menatap Amara."Kalau emang gak mau kasih ke aku aja."

"Mau, siapa bilang Mara gak mau?"

"Bilang dong kalau mau. Jangan diam-diam mau!" ucap Zenon terkekeh. 

"Nanti aku kasih," ucap Zean datar. 

Pecicilannya Zenon membuat Amara mudah berbicara dengannya. Mereka bahkan sudah seperti sahabat sejak lama. Padahal hanya di kafe mereka menjalani korelasi. Tapi Amara dan Zenon seakan sudah menembus batasan antara pelanggan dan pelayanan. 

"Emang Zenon kenapa sampai wajahnya kayak gitu?" tanya Amara. 

Zenon babak belur dihajar anak buah Mida Diananta. Dia bahkan tidak bisa melawan sedikitpun waktu itu. Wajar kalau Diananta adalah keluarga paling ditakuti di kota ini. Tidak ada yang bisa Zenon lakukan bahkan jika keluarganya mengetahui hal tersebut. Meskipun keluarganya termasuk ke dalam 23 keluarga terkaya dan ikut andil dalam yayasan SMA Gen. Mereka sama sekali tidak sebanding. 

"Biasa, anak remaja. Berkelahi sedikit," jawab Zenon sepenuhnya bohong. 

"Anak remaja apanya. Sudah tua gitu. Kata ibu waktu Amara masih kecil kita gak boleh berkelahi, Zenon."

"Iya."

Zean memasang wajah datar dan tidak berniat ikut pembicaraan mereka yang menurutnya luar biasa tidak penting. Dia juga tidak memiliki sedikitpun kecemasan atas sesuatu yang menimpa sahabatnya. Zenon yang merasakan hal tersebut menghembuskan napas. 

"Kamu gak niat nanya keadaanku?"

"Tidak."

"Sudah kuduga."

"Kalau sudah menduga tidak usah ditanyakan lagi."

Bagi Zean yang sudah merasa melihat sahabatnya itu bisa bertingkah seperti biasa. Pengungkapan kepedulian tidak diperlukan lagi melalui kata-kata. Dibanding hal semacam itu, dia lebih peduli tentang seperti apa kejadian Zenon diculik. Bagaimana bisa Zenon dan Katia bersama seusai acara pernikahan. Dan apa hubungan dari semua hal itu dengan keluarga Diananta. Walaupun Zenon yang kena imbas, sebenarnya ini masalah yang merotasi pernikahannya dengan Amara. 

Zenon baru saja sadar setelah satu hari koma. Tentu saja itu cukup membuat Zean lebih menyoroti posisinya, mengevaluasi keadaan, dan memindai data yang ada untuk menemukan pelaku sebenarnya. Semua tidak lain dan tidak bukan untuk meminimalisir bahaya di masa depan. 

Mengingat keadaaan Elkira yang memiliki perjanjian damai dengan keluarga Diananta di masa lalu. Cukup jelas bahwa Mida, putri tunggal dari pasangan Leonardo Diananta dan Alisia Aurora, bertindak sendiri atau dikendalikan orang lain. 

Kembali fokus, Zean sesekali menjawab pertanyaan Amara. Kedua orang yang aktif berbicara tersebut sedang berbicara tentang hantu atau sejenisnya. Sepertinya Zenon suka sekali menakut-nakuti perempuan yang muka sudah pucat tersebut. 

"Zean," panggil Amara. 

"Hmm ... kenapa?"

"Pulang yuk! Amara gak suka lama-lama di rumah sakit."

"Eh! Masa main pulang aja! Siapa yang menemaniku," ucap Zenon tidak terima. 

"Hantu! Zenon temenan aja sama hantu!" jawab Amara kesal karena Zenon menakut-nakutinnya. 

"Ra, aku serius. Gimana kalau hantunya muncul di bawah tempat tidurku ini?"

Amara bergidik ngeri. Dia langsung menjauh dari ranjang pasien. Dia takut kakinya ditarik atau disentil hantu. Zenon tertawa puas melihat reaksi Amara. 

"Zean, kita pulang ya!" bujuk Amara. 

"Eh! Aku cuman bercanda, Ra. Masa kalian tega ninggalin aku sendirian di sini."

"Bodo amat!" jawab Amara. "Habisnya Zenon jahat sama Amara."

"Zean?" kata Zenon memelas. 

"Aku juga akan pulang," jawab Zean setuju dengan permintaan istrinya. 

Zenon menatap kepergian sahabatnya itu dengan masam. Tidak dia sangka bercanda itu membuatnya harus sendirian. Zenon memeriksa kolong ranjang lalu menghembus napas lega. 

"Ah, padahal aku ingin memberitahukan sesuatu yang penting," gumam Zenon yang merasa ada yang janggal dengan penculikannya. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status