Share

Bab 7 Bergabung

Anggota breakfast on the rooftop, begitu Ega menyebutnya, telah berkurang satu. Selepas hari terakhirnya, sore itu sebenarnya gue, Veve, Nana dan Victor menyempatkan diri kami untuk berkaraoke bersama di Family Karaoke dekat kantor. Ega mentraktir kami sekaligus makanan yang kami pesan. Namun di sana, tak banyak wejangan-wejangan Ega yang tersisa buat gue. Dia benar-benar meluapkan perayaan kebebasannya dengan menyanyi terus menerus. Rupanya dia memang sesenang itu. Hal yang pernah gue rasakan saat gue resign dari bank tempat gue bekerja sebelumnya.

Gue secara tak resmi menggantikan posisi Ega di hari-hari biasa saat breakfast. Gue secara langsung bergabung begitu saja dengan Veve, Nana dan Victor saat pagi hari di rooftop.Meskipun Victor tampak tak terlalu suka pada gue, dia tak keberatan jika gue bergabung setiap pagi dengan mereka meskipun hanya untuk minum teh. Veve dan Nana terkadang berbicara tentang permasalahannya namun tak terlalu detail. Mungkin mereka masih menerka-nerka, apakah gue bisa dipercaya atau tidak. 

Meskipun banyak mengeluh, Veve dan Nana telah berhasil bertahan dalam waktu setahun di perusahaan ini. Sedangkan gue, baru dua minggu. Yang mana, gue harus bisa bertahan selama setahun 3 bulan sesuai dengan kontrak kerja gue. Yaaa, di sini cukup aneh, masa probation gue harus penuhi selama 3 bulan sejak gue pertama bekerja. Setelah itu, jika gue lolos, gue akan di kontrak 1 tahun sambil melihat kinerja gue seperti apa. Tahun kedua, gue baru akan diangkat sebagai karyawan tetap. Saat penerimaan itu, gue akan bisa mendapatkan cuti 24 hari, 12 hari cuti pemerintah dan 12 hari cuti mengikuti peraturan perusahaan Singapura yang sedikit berbeda. Di sana, ada hari Diwali, bahkan hari kemerdekaan Singapura pun kami juga akan libur. Jika masih probition gue belum mendapat jatah cuti. Sedangkan saat kontrak pun gue hanya mendapatkan jatah yang 12 hari kerja sesuai pemerintah saja.

Namun banyaknya hari cuti tentu saja bukan berarti lo bisa tenang berlibur ke sana-sini. Laptop dan hp diharuskan stand by dan lo harus tetap membawa mereka di tengah hari libur. Hal yang tidak menyenangkan memang.

Di antara geng Veve, Nana dan Victor ini, ada yang agak terasa janggal bagi gue. Meski mereka tidak menolak kehadiran gue di setiap breakfast time, baik Victor, Veve dan Nana selalu menolak secara implisit jika gue ingin bergabung dengan mereka saat makan siang. Padahal justru gue sebenarnya tidak terlalu suka makan siang bersama Sania dan Rahma.

Breakfast gue bisa skip, tak harus ke rooftop. Namun mereka bertiga selalu tak mengajak gue pergi bersama-sama pada saat lunch time, jadi gue hanya bisa bertahan membeli makan di luar bersama Sania atau memesannya pada OB kantor kami. Hal yang tidak gue suka pada Sania adalah menurut gue dia selalu cari muka pada siapapun. Bahkan pada gue yang baru dikenalnya. Hal itu pun berlaku pada saat berpapasan dengan bos-bos di kantor gue. Dia selalu mengajak ngobrol dengan manis, berbasa-basi, menimpali hal yang tidak perlu, dan lain-lain yang jujur terlihat memuakkan buat gue yang nggak bisa berperilaku sama seperti dia.

Sedangkan Rahma, dia tipikal yang diam-diam menghanyutkan. Dia selalu tampak acuh pada siapapuntapi ternyata dia adalah orang yang berbahaya, dia selalu menguping pembicaraan orang-orang di mana saja saat ada di sekitarnya. Setelah itu, dia akan menjadikannya bahan gossip bersama Sania.

Masih belum lebih terasa tak menyenangkan, tim gue yang lain, baik Bu Angel atau Okan, selalu sibuk sendiri. Bu Angel sendiri sejak gue pertama datang selalu enggan makan siang bersama gue. Dia selalu pergi bersama Okan. Hal yang selalu menjadi pertanyaan buat gue juga selama ini. Sedekat apa hubungan mereka berdua. Karena keanehan itu kadang cukup membuat gue bertanya-tanya. Dalam itungan hari, gue bahkan bisa menilai tim gue tak lebih baik dari kantor gue yang lama.

***

Saat itu hari Selasa pagi dengan hujan yang cukup deras. Tak ada satupun dari geng breakfast  pergi ke rooftop. Gue pun akhirnya duduk santai di tempat duduk gue sambil ngobrol dengan sahabat-sahabat gue via WA group.

Inara: Guys, kangen hangout bareng. Weekend ini lega nggak?

Beno: Emang mau ke mana cuy? Udahlah, dah tua di rumah aja rebahan.

Rindu: Eh, iya jalan bareng yuk. @Beno lo nggak seru.

Inara: Ayolah ngopi-ngopi kek, makan steak kek, biar gue happy.

Gue: Ada masalah @Rindu?

Hafis: Alah palingan masalah dia sebatas naik BB sama bingung beli tas baru

Inara: Hahahaha, ayoooo dong!

Gue: Ya udah ayok. Steak yang enak tapinya.

Inara: Asyiiiik, daerah Cilandak ada tuh. Pake mobil siapa nih? Beno aja yang gede. Mobil Hafis mah mini banget, gue engap.

Hafis: Engap, tapi kan gaji lo 10 tahun juga nggak bisa kebeli!!!

Rindu: Iya bisa, miniaturnya doang tapi HAHAHAHAHA

Inara: Sialan, anak sultan mah bebas. Untung dua sahabat cowok gue anak sultan berkedok nyari pengalaman kerja semua. Jadi enaaaak bisa ngebosin jalan-jalan.

Hafis: Yeeee, bayar sendiri-sendiri dong steaknya. Transport mah gampang, gue juga dapet jatah uang bensin dari bokap, jadi santuyyyy…..

Rindu: Tauk nih, si Inong. Emang duit gaji lo udah habis? Beli make up baru lagi lo buat gegayaan vlog-vlog review make up?

Inara: Enak aja! Gue udah nggak shopping sebulan tahu! Udahhhh yuk jalan, weekend ini ya?

Gue: Sip, nanti gue ke rumah lo ya, Ndu!

Rindu: Iya, pada kumpul di rumah gue aja. Lebih enak berangkat langsung barengan, kan deket sama tol.

Baru hendak mengetik, Sania datang. Disusul Rahma di belakangnya. Saat itu jam telah menunjukkan pukul 9 lewat 25 menit.

“Ciyeee, ngetik senyum-senyum sendiri. Lagi WA sama cowok lo ya?” ledek Sania.

Gue menggeleng. “Emangnya kalau senyum-senyum karena lagi WA sama cowok, Ci?”

“Ya biasanya kan gitu. Emang bukan?” tanya Sania kepo.

“Bukan. Sama temen-temen,” sahut gue sambil membuka laptop dan mengecek email baru.

“Oh, temen-temen lo yang biasanya itu?” tanya Sania sambil mengelap payungnya yang basah.

“Iya,” sahut gue singkat.

Sania kemudian pergi menuju toilet, katanya mau mencuci kakinya yang kotor kena percikan air selama hujan di luar. Rahma seperti biasa cuek tak menyapa gue. Dia kembali duduk sambil menata kembali hijabnya yang agak berantakan.

Dari jauh, gue melihat Veve memanggil gue. Di mejanya duduk ada Nana dan Victor. Dengan semangat gue mendekati mereka. Meskipun gue rasa di kantor ini semuanya adalah tokoh antagonis dengan porsi mereka masing-masing, namun mereka bertiga jauh lebih baik dibanding tim gue sendiri. 

“Nih tadi si Nana beli gorengan banyak, bawa beberapa gih buat bumil sama Rahma,” kata Veve sambil mengambil kotak plastik dari dalam lokernya.

Gue meletakkan kotak plastik yang sudah diisi oleh Veve itu ke meja tim gue dan memberitahu Rahma bahwa itu adalah gorengan dari Nana untuk meja kami. Rahma mengucapkan terimakasih pada Nana dari tempat dia duduk. Gue langsung kembali lagi ke meja Nana, tak menggubris Rahma sama sekali.

“Waaaah, banyak uang lo Na?” ledek gue pada Nana yang sedang memakan tahu isi dengan lahap.

“Ngelarisin tetangga kompleks gue, baru buka gerobak gorengan depan rumahnya karena habis di PHK. Kasihan anak-anaknya masih kecil,” sahut Nana setelah menelan potongan tahu isinya yang terakhir.

“Oh gitu, kasihan ya. Emang kadang gue jadi bersyukur sih masih kerja, walaupun di tempat menyebalkan kaya ini. Kadaaang, tapi,” kata Victor.

“Hmmm, inget ya Vic, kalo lo udah mau resign, lo harus info ke kita-kita. Jangan main kabur aja tuh kaya anak divisi bawah. Yang pegang training center. Sekarang tinggal berdua doang mereka, kewalahan katanya,” timpal Veve.

“Yeee, emang kita rekan satu tim? Lagian dari dulu gue juga cuma sendirian di marcom, kalau ada event bikin rundown sendiri, nge-MC sendiri, bikin desain sendiri, semuanya sendiri,” sahut Victor.

“Ya bukannya gitu, maksud gue, kan kita deket, jadi kita duluan yang harus kasih info pertama. Jadi gue nggak tahu dari orang lain. Lagian kenapa sih lo nggak minta orang baru?” tandas Veve.

“Sebenernya udah. Udah dari awal tahun gue minta. Maksud gue, kaya nanti ke Jogja kan masa gue sama anak HRD yang pegang semua. Lo tahu sendiri, cuma si Soni yang enak diajak diskusi, yang lainnya ampun deh,” timpal Victor. “Tapi ya itu tadi, katanya belum ada orang yang qualify menurut mereka. Gue juga nggak paham, maunya kaya gimana si manajemen tuh. Kalo gue sendiri, mau fresh graduated juga nggak masalah yang penting mau kerja aja.”

“Betul, gue setuju sama lo,” kata seorang cewek yang tiba-tiba bergabung dengan meja kami.

Jujur selama ini gue belum pernah melihatnya. Dia mungkin seumuran gue, hanya saja dari apa yang dikenakannya hingga cara dia berbicara, dia mungkin sudah di level di atas gue. Tubuhnya lebih pendek dari gue namun memakai sepatu wedges berwarna nude yang membuatnya tampak lebih tinggi dibanding aslinya. Badannya jauh lebih berisi namun dia bisa menyiasatinya dengan dress yang senada dengan warna sepatunya.

“Hai Ci Hanna! Ya ampun training 3 minggu balik-balik makin cantik aja, kirain udah lupa jalan ke kantor,” ledek Victor.

“Hahahaha, gile lo pada ya, pagi-pagi udah ngegosip. Kalian nggak ada kerjaan atau pura-pura ada kerjaan gitu?” sahut cewek yang bernama Hanna ini sambil meletakkan tas merk Channelnya ke dalam locker miliknya.

“Eh, Ci, kenalin nih anak baru, namanya Matari,” kata Nana menunjuk gue. "Ri, ini Ci Hanna."

“Halo, Ci,” sapa gue.

Hanna menyalami gue tanpa minat. Sikapnya sedikit ketus sambil tersenyum yang dipaksakan.

“Tim siapa?” bisik Hanna pada Veve enggan bertanya langsung pada gue.

“Timnya si Nenek Lampir, Ci,” sahut Veve sambil nyengir.

“Ohhh,” sahut Hanna dan mengambil laptopnya kemudian duduk di sebelah Veve.

Gue pikir dia adalah AM lain di tim mereka, namun ternyata dia adalah bagian dari tim legal. Yang seharusnya duduk di lantai 2. Namun karena kedekatan mereka dan Hanna yang sering dibutuhkan oleh para AM di lantai 3 untuk konsultasi masalah pembuatan kontrak, akhirnya dia duduk di lantai 3 dengan kami semua.

Hanna tampak orang yang sangat berhati-hati dengan orang baru. Termasuk apa yang akan diucapkannya. Dia tak semudah itu percaya pada gue tampaknya.

***

Kehadiran Hanna, menambah formasi dan jam breakfast on the rooftop setiap pagi. Meskipun gue akhirnya sering breakfast on the rooftop dengan mereka, Hanna tak semata-mata langsung menceritakan hal-hal yang terjadi padanya ketika gue ada. Dia lebih banyak mendengar cerita-cerita ajaib Veve dan Nana tentang Pak Gandha ataupun permintaan tak masuk akal yang sering diterima oleh Victor sebagai marcom. Hanna tampak berhati-hati pada gue, gue pun secara otomatis tak banyak juga menceritakan kejadian yang terjadi pada gue ke mereka berempat. Berbeda saat ada Ega. Ega berhasil menjadi penengah kami semua. Kalau sekarang, gue kadang terlihat sebagai pendengar yang baik saja. Atau tim hore saat ada cerita lucu.

Saat istirahat pun, Hanna tampak luwes langsung pergi makan siang bersama Veve, Nana dan Victor, yang mana membuat gue sedikit iri, karena tak satupun dari mereka mau mengajak gue makan siang. Padahal gue lihat Hanna selalu membawa bekal dari rumah. Namun, dia tak pernah memakannya di dalam kantor, seperti Rahma. Dia tampak langsung mengajak teman-temannya pergi.

Kadang sikap mereka yang seperti itu, membuat gue merasa bingung harus bersikap seperti apa. Gue langsung curhat pada temen-temen gue via WA. 

Inara: No hurt feelinglah. Individualis aja. Lo juga masih belum yakin kan mereka bisa dipercaya atau nggak. There’s no real friend in office relationship.

Gue: Tapi gue males makan sama Sania dan Rahma.

Rindu: Ya udah anggap aja lagi makan siang sama kita. Kalau lagi free pasti kita bales kok.

Gue: Iya juga. Untung ada kalian. Btw, kalian sendiri gimana? Ada cerita apa?

Rindu: Biasalah nothing special, gue minggu depan harus ke Bangkok. Ada yang mau nitip apa gitu?

Inara: Nothing Special palalo. Itu apaaan baru juga beberapa bulan lalu ke Vietnam buat rekrut teknisi???

Rindu: Ya sini gantiin gue, kalau mau. Hehe.

Inara: Enggak mau ah, kerjaannya banyak dan ribet.

Gue: Lo mah udah diem aja kerja di bank. Udah garis takdir.

Inara: SIAL. Gue udah capek kerja di bank apalagi kalau akhir bulan. Yassalam dah.

Rindu: Nggak ada kerjaan yang enak. Enak tuh kalau rebahan tapi duit ngalir terus.

Inara: Ada kok. Rebahan duit ngalir. Mau?

Rindu: Nggak ada, bego.

Inara: Adaaaa….

Gue: Nggak usah kebanyakan ngayal deh lo. Udah kelarin tuh nganalis agunan kredit, daripada ngayal molo.

Rindu: Tauk nih…

Inara: Ada kok, itu loh open BO…

Hafis: Apa? Siapa open BO? Elo, Nar?

Inara: Mata lo! Ngomong OPEN BO aja nyambung cepet lo.

Tanpa sadar, gue tertawa membaca grup WA saat Inara dan Hafis masih berdebat soal OPEN BO.

“Duh seneng banget kayanya,” timpal Sania.

“Hahaha, enggak, Ci, temen-temen gue lagi pada sableng aja,” sahut gue sambil memakan makanan yang kami pesan pada OB kantor.

“Udah lama banget temenan ya?” tanya Sania.

“Lama sih, lumayan lah,” sahut gue.

“Nanti juga kalian akan mulai berkurang tuh intensitasnya saat udah berkeluarga,” kata Sania.

Gue cuma melempar senyum kecut. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Sania. Tapi seenggaknya, gue ingin menikmati masa-masa kami masih bersama seperti sekarang. Iya, gue tahu kok, semakin lo dewasa circle pertemanan lo akan menyempit. Nggak ada yang salah dengan itu.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status