Share

Ini Sangat Menyenangkan

"Darah!" bisik batin Dede. "Jangan-jangan ...." bibirnya berhenti berkata, lalu ia bergegas menoleh. "Kamu?"

Dina hanya tersenyum menyeringai sambil mengangkat tongkat besi tinggi-tinggi yang dia ambil di dekat pintu masuk, dan ....

Buk.

Pukulan Dina bisa di tahan Dede dengan tasnya. "Apa-apaan ini? Dasar perempuan gila!" teriak Dede. Ia kemudian mendorong besi yang tertahan oleh Dina sekuat tenaga. Dede berlari, Dina mulai melangkah mengejar bocah laki-laki.

Anak perempuan itu sengaja menyeret besinya dan dibiarkan berbunyi hingga menimbulkan ketakutan tersendiri buat Dede. "Larilah, De. Lari dan bersembunyilah. Aku akan menemukanmu, dan bersiap-siap untuk mati, Dede!" kata Dina.

Dede terus berlari dan kemudian.

Gedebuk.

Kakinya tersandung sesuatu. "A-apa itu?" bisik Dede, dia jauh lebih pemberani dibandingkan Azhar. "Dan ini b-bau darah!" Rasa penasarannya pun membuat ia mendekati sesuatu yang membuatnya terjatuh. "A-A-AZHAR?" Dia bergegas menutup hidung dan mulutnya. Dirinya cukup syok kala Matanya melihat sendiri keadaan Azhar yang mengenaskan di depannya itu. "D-dia?" Bibirnya kelu.

"Ternyata kau sudah bertemu sama temanmu, si Azhar?" kata Dina. Dede semakin kaget. Keberadaan Dina kini membuat ia menjadi bergidik ngeri. Dina berjalan mendekati Dede.

"A-apa m-maumu? K-kenapa k-kau membunuh kami berdua?"

Bocah perempuan itu tersenyum.

"Seharusnya kau bertanya pada diri sendiri, Dede! Kenapa aku ingin membunuh kalian berdua? Bukan ... bukan hanya kalian berdua tapi kalian berlima," ujar Dina.

"A-apa? Dasar perempuan gila, psikopat!" Umpat Dede.

"Psikopat? Ngeh ... seharusnya kalianlah yang disebut seperti itu, tiap hari menggangguku. Memukuli dan merusak semua barang daganganku, aku diam. Tapi kalian semakin menjadi. Jadi, bukankah lebih baik membuat kalian diam agar aku hidup tenang?"

"TOLONG ... TOLONG AKU!!" teriak Dede sekeras mungkin. Sayangnya tidak ada yang mendengar, jarak bangunan itu sangat jaub dengan bangunan utama tempat Dede dan teman-temannya biasa main petak umpet dan lainnya.

"Ssst! Jangan berisik, nanti kita ketauan!" henti Dina. "Lebih baik kau di sini saja menemani temanmu yang bodoh itu!" Tangannya mengayun, lalu ....

Bruk

Pukulan Dina kembali meleset, besi itu mengenai lantai. Dede menghindar cepat, dia bergegas bangun dan mendorong Dina hingga terjatuh. Kemudian dia berlari menuju ke arah pintu, Dina mengejarnya. "Sialan! Kau akan mati, Dede!" pekik Dina marah.

Bocah laki-laki itu mencoba membuka pintu, namun itu tidak berhasil. Dina menguncinya. "BUKA! TOLONG BUKAIN PINTUNYA!" teriak Dede sekeras mungkin sambil menggedor, berharap ada yang mendengar. Ia terus memainkan engsel pintu.

"Aku datang, Dede!" Suara Dina sangat berbeda dari kesehariannya. Ia seperti orang yang berbeda.

"TOLONG ... TOLONG SELAMATKAN AKU!" Suara Dede terdengar ketakutan. Bibirnya bergetar. Matanya tak bisa fokus, sesekali nelihat ke arah belakang. Kemudian,

"Aaargh!" Dina sudah berada di belakangnya dan menarik rambut Dede hingga bocah laki-laki itu terjatuh. Bocah perempuan itu mempunyai tenaga yang sangat kuat, berbeda dari satu jam lalu ketika kelima bocah itu memukulinya, dia tampak seperti bocah perempuan biasa yang tak punya kekuatan untuk melawan.

"Tolong ... bebaskan aku! Jangan bunuh aku, Din!"

"Kau ingin bebas?"

Dede mengangguk cepat.

"Bebaslah di dalam mimpi!" katanya, kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

"TOLONG! TINO TOLONG AKU!" teriak Dede sekuat tenaga.

"Ssst! Sudah kukatakan jangan berisik bukan!"

Namun Dede tak peduli, dia tetap menjerit sekuat tenaga. Dan lalu,

Buk.

Buk.

Buk.

Tongkat besi menghantam wajah bocah usia 10 tahun itu berkali-kali, hingga terlihat mengerikan, hancur. Darah kembali membuat pakaian Dina menjadi merah.

Sekali lagi, membunuh serta menyakiti orang membuat Dina sangat senang melakukannya. Menjadi hal menarik yang penuh tantangan buatnya, apalagi saat dia menyaksikan wajah-wajah itu memelas dan merasakan kesakitan, semakin membuat gadis itu ketagihan. Gadis itu menyeret tubuh Dede dari depan pintu, lalu dia tumpukan bersama tubuh Azhar.

"Ayo kita habisi mereka!" gumamnya, bergegas bangun. Meninggalkan tongkat besi itu di samping mayat Dede dan Azhar. Dan dia mulai berburu korban selanjutnya.

Dia berjalan keluar, mengamati di mana saja tempat persembunyian Ryan dan Fadil, korban selanjutnya yang akan jadi mainan Dina. Ia pun tersenyum, bocah berambut keriting itu sedang bersembunyi di balik semak-semak yang tumbuh subur.

"Fadil, kau selanjutnya!" kata Dina mendekati bocah laki-laki bertubuh jangkung itu sedang berjongkok.

"Boleh ikut main gak?"

"Aaahk!" pekik Fadil. Ia bergegas menutup mulutnya, ia tidak mau ketauan Tino bahwa dia bersembunyi di semak-semak. "D-Dina? A-apa-apa K-kamu?" Dia tidak mengira akan ada Dina di tempat mereka bermain. "M-mau apa kamu?" Fadil memperhatikan pakaian Dina yang kotor dan bau amis itu. Sayangnya, noda darah Azhar dan Dede sudah tersamarkan kotoran dan oli.

"Mau main-main sama kalian?"

"Gak bisa! Kami gak menerima anggota lain. Apalagi kamu orang miskin dan perempuan, jadi pergi dari hadapanku. Kalau tidak, aku kan ketauan oleh Tino, bisa-bisa aku harus mentraktir dia makan di kantin selama seminggu!" Usir Fadil, dia tampak kesal diganggu oleh Dina.

"Kenapa tidak bersembunyi di tempat Azhar dan Dede saja. Pasti Tino kesulitan mencari kamu!" usul Dina bergaya imut agar Fadil tak curiga.

"Emang kamu tau di mana mereka sembunyi?"

Dina mengangguk cepat. "Kamu mau aku tunjukin tempatnya?"

Fadil tampak berpikir sejenak. Ia melihat ke arah Tino yang sedang mencari dia dan yang lainnya. Tampaknya Tino kesulitan mencari dia dan teman-temannya. Belum satupun di antara mereka ditemukan olehnya.

"Baiklah, ayo tunjukkan tempatnya padaku!" pinta Fadil. Dia berpikir akan menang dalam permainan ini, dan bebas mentraktir Tino selama seminggu.

"Ayo, ikuti aku." Senyum Dina seketika berubah, seperti Rubah yang licik. Matanya memincing, korban selanjutnya segera dia dapatkan.

****

Bersambung.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status