Share

[Bab 7] Penyerangan Werewolf

"Jadi, kau pikir aku tidak mungkin menjadi penyihir kerajaan yang pandai karena menurutmu aku bodoh?"

Zevana bertanya, membalas perkataan Arres beberapa saat lalu. 

Sebenarnya bisa saja Zevana langsung membalas pada saat Arres mengatakan dirinya bodoh, tidak bisa apa-apa, dan ceroboh. Namun Zevana lebih memilih mencoba menenangkan diri, mengikuti Arres sampai mereka sudah memasuki hutan lebih dalam.

Kejengkelan Zevana akan berisiko membuatnya ingin meninju Arres. 

Kalau saja bukan karena Arres yang mengobatinya tadi, Zevana tidak akan segan melayangkan tinju. Masalahnya, selain karena Arres sudah mengobatinya tadi, tenaganya tidak sekuat itu untuk meninju. 

"Memang," jawab Arres yang berada dua langkah di depan Zevana. "Apa kau tidak sadar?" 

Zevana mendecak. Lantas tertawa miring bernada sinis. "Bisa-bisanya kau mengatakan aku seperti itu. Padahal aku yang menyelamatkanmu dari kejaran para pasukan sialan."

"Itu hanya keberuntungan. Kalau tidak beruntung, kita tidak akan selamat."

"Keberuntunganmu ada karena kecerdikanku," balas Zevana tak mau kalah. "Kau tau ada bola Agyss yang bisa digunakan untuk memantrai mereka.  Kenapa tidak dipakai?"

Saat itu, langkah Arres langsung berhenti. Untung saja Zevana refleks turut menghentikan langkah sebelum menabrak tubuh Arres kedua kali. 

"Tunggu. Aku baru ingat soal itu. Bagaimana bisa?" tanya Arres kemudian sebelum berbalik badan.  

Sementara Zevana memasang raut muka keheranan, Arres berjalan mendekatinya. Sambil menggenggam bola Agyss yang berpendar kuning, dipandangi Zevana dengan lamat-lamat. 

Selama sepersekian detik Arres tidak bersuara. Hal itu yang memancing kecurigaan Zevana sehingga ia memundurkan wajah, lalu kakinya mundur satu langkah. 

"Apa? Hei, apa tatapanmu tidak bisa biasa saja?" Zevana melontarkan pertanyaan dengan nada sinis.  

Arres mengerutkan kening. Bukannya mengatakan sesuatu, ia justru mempertajam pandangannya kepada Zevana. Semakin lama kedua matanya yang menyorot dingin itu memicing. 

"Kenapa kau bisa menggunakan mantra itu?" Suara Arres terdengar rendah, memancing bulu kuduk Zevana meremang. 

"A-apa … maksudmu?" Sungguh, Zevana sama sekali tidak mengerti. 

Arres memiringkan kepala. "Kau tidak mengerti atau hanya pura-pura tidak mengerti?"

Zevana menggelengkan kepala. "Aku tidak mengerti. Jangan bicara melantur," jawabnya sambil mengibaskan satu tangan. 

Wajah Arres sempat terhenyak sebab nyaris terkena kibasan tangan Zevana. Namun alih-alih mundur, Arres justru berjalan mundur dengan tatapan sama sekali tak mau berpaling.  

"Jawab, Zevana. Tidak mungkin kau bisa menggunakan mantra itu tanpa alasan," desak Arres. 

Helaan napas kasar Zevana terdengar. Raut mukanya sudah jengkel. Mau berapa kalipun Arres mengoceh tentang mantra yang digunakannya tadi, Zevana tetap tidak mengerti. 

Sungguh. Kalau diingat-ingat, Zevana hanya mengikuti apa yang terlintas di kepalanya. Ketika situasi tadi terasa begitu mendesak, bayangan di kepala Zevana sudah memutar ketakutan: mereka pasti akan tertangkap. 

Namun dari antah berantah, sebuah bisikan muncul dalam pikirannya. Emfanto Similura! 

Bukan hanya satu kali, melainkan nyaris empat kali. 

Tentu saja Zevana merasakan dorongan muak mendengar kalimat itu dibisikkan entah siapa. Tanpa pikir panjang, Zevana yang terjebak dalam situasi mendesak, tiba-tiba terpikirkan mengambil bola Agyss milik Arres. 

Lalu kalimat itu dituturkan begitu saja. 

Dan, boom. 

Yang terjadi sangat di luar dugaan. 

Zevana tidak menyangka efek dari kalimat yang dituturkan tadi bagaimana. Di pikirannya saat itu hanya ingin melarikan diri bersama Arres. Sejauh-jauhnya dari kejaran para pasukan sialan.  

Meskipun sebenarnya tanah yang berdebum mencuat keluar sudah cukup menghalangi jalan para pasukan mengejar mereka berdua. 

"Katakan, Zevana, kau harus mengatakan—"

"Aku tidak mengerti, Arres!" tandas Zevana langsung. Kesal sekali. 

Lalu hening. Arres seketika terdiam karena terkejut melihat kejengkelan Zevana. Langkahnya sudah tidak bergerak mundur. Begitu pula Zevana yang terkejut karena … untuk apa dirinya kesal? 

"Aku tidak tau mantra yang kau katakan itu. Yang aku tau, kita berdua harus lari dari para pasukan sialan," jawab Zevana akhirnya. Dia sudah menghentikan langkah. 

Arres belum menjawab. Agak keheranan kenapa juga Zevana terdengar seperti orang frustasi?

"Tidak mungkin kau tidak tau, tapi kau mengucapkan," balas Arres, membuat Zevana memutar bola mata jengah. 

"Aku tidak tau," Zevana menegaskan kalimatnya. "Kalimat itu muncul begitu saja dalam kepalaku. Aku hanya merasakan dorongan untuk mengambil Agyss-mu dan menuturkan kalimat itu." 

Penjelasan Zevana sama sekali tidak menghilangkan rasa penasaran Arres. Selama sepersekian detik, raut muka Arres masih bertanya-tanya. Entah kenapa rasanya mengganjal. 

"Apa itu aneh bagimu?" Zevana bertanya kepada Arres. 

Arres menganggukkan kepala. "Bola Agyss ini khusus untuk orang-orang penyembuh, atau tabib kerajaan. Kekuatannya berbeda dengan bola kekuatan Agyss yang dimiliki penyihir, manusia serigala, atau bahkan pengawal kerajaan. 

Tapi kau bisa menggunakan untuk mengeluarkan kekuatan tanah. Terlebih, mantra yang kau gunakan itu adalah mantra para penyihir."

Sekujur tubuh Zevana bergeming kaku. Dua mata miliknya terpaku pada pergerakan siluet sesuatu dari balik semak-semak tinggi. Ada sesuatu yang melintas sekelebat tepat ketika Arres menjelaskan tentang mantra. 

Bak embusan angin, ucapan Arres tadi lewat begitu saja. 

Seluruh fokus indra Zevana kini tertuju pada suara gesekan halus yang terdengar tidak jauh. Seperti ada seseorang mengawasi di antara kegelapan, diam-diam mengendap, lalu nantinya akan menyerang mereka. 

"Zevana?" Arres memanggil. 

Satu tangan Zevana teracung, memberikan isyarat agar Arres diam.  

Sayangnya, pemilik nama Arres tidak akan menuruti begitu saja. 

Arres menyadari kalau tatapan mata Zevana sedang tertuju pada sesuatu. Namun pekatnya hutan bagian dalam ini membuat Arres tidak bisa tahu apa yang sedang ditatap Zevana. 

"Kau lihat apa?" Suara Arres merendah, nyaris berbisik.

"Ssst. Kau dengar?" 

Arres diam. Zevana diam. Keduanya menajamkan telinga sembari Zevana memberikan isyarat agar Arres bergerak mundur perlahan.

Suara daun rerimbun semak-semak bergesek. Dalam situasi kegelapan pekat, Zevana perlu memastikan apakah daun semak-semak itu bergesek karena angin atau ... 

Srek! 

Seseorang melintas sekelebat menuju sisi kanan. 

Zevana dan Arres sama-sama menangkap sekelebatan itu. Insting awas mereka langsung menyala, terpancar jelas dari sorot kedua mata masing-masing. 

"Arres ..." Zevana berkata amat pelan.  

Arres tidak menjawab. Entah kenapa, pergerakan sekelebat tadi memancing rasa penasarannya. 

Detik berikutnya, suara gesekan kembali terdengar. Mulanya samar-samar sampai Zevana dan Arres perlu memejamkan mata sembari menajamkan indra pendengaran. 

Lalu suara samar-samar itu berangsur-angsur menjadi terdengar jelas. 

Zevana dan Arres memasang tatapan mata ke sisi kanan hutan. Cahaya bola Agyss hanya mampu memantul hingga jarak sepuluh meter saja. Meski begitu, mereka bisa menyaksikan tak ada siapa pun di antara semak-semak itu. 

Grrrr…. 

Indra pendengaran Zevana menangkap suara geraman. Tidak jauh, tidak dekat. Zevana tidak bergerak sama sekali, tetapi lirikan matanya bergerak ke arah kiri. 

Sementara Arres, yang berada di sisi kiri Zevana, menyadari lirikan mata itu. 

"Hitungan ketiga, berbalik badan dan pergi dari sini," ujar Arres sepelan mungkin.  

Zevana mengangguk.  

"Satu." 

Arres meraih pergelangan tangan Zevana. Bergerak mundur satu langkah secara sangat lamban, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara gesekan sepatu dan tanah atau ranting. Sembari mata keduanya mengawasi sekeliling.

"Dua." 

Grrr…. 

Geraman itu semakin lama semakin terdengar jelas. Bukan dari sisi kanan, melainkan…

"Satu. Sekarang, Zevana!" 

"GRRRUAGH!" 

Tepat saat Arres menyerukan itu, tiba-tiba seekor serigala mencuat keluar dari rerimbun semak-semak sisi kiri. Zevana memekik terkejut, hampir terkena terkam serigala berbulu abu-abu. Namun Arres sudah refleks mendorong punggungnya. 

"Arres!" Zevana melotot terkejut saat serigala itu berdiri gagah menghalangi Arres. 

Kini Zevana dan Arres terpisah serigala yang mendadak keluar hendak menerkam mereka. 

"Arres, kau tidak apa-apa?!" seru Zevana kepada Arres. 

"Pergi! Selamatkan dirimu, Zevana!" Arres mengatakan kepada Zevana. 

"Lantas kau bagaimana?!" 

Sebelum Arres menjawab, seekor serigala mencuat keluar dari rerimbun semak-semak. Hampir menerkam tubuh Zevana kalau saja Zevana tidak langsung mundur beberapa langkah dengan cepat. 

"LARI, ZEVANA!" 

Sekarang ada dua serigala berbulu lebat dan bertubuh gagah berada di tengah Zevana dan Arres. Keduanya terpisah cukup jauh sebab dua serigala itu mengincar masing-masing dari mereka. 

"Tebing Zelf!" 

Tidak ada yang dipikirkan Zevana selain menuruti perkataan Arres. 

Meskipun ragu-ragu, Zevana mundur beberapa langkah sebelum membalikkan badan. Saat itu Zevana sempat menolehkan wajah untuk memeriksa bagaimana keadaan Arres. 

"Ke sini serigala sialan!"  

Dua serigala itu sudah memalingkan fokus mereka kepada Arres. Kekhawatiran Zevana memuncak. Namun sesuatu yang mengganjal disaksikan sepasang matanya. 

Bola Agyss milik Arres perlahan berubah warna seiring Arres bersiap menghadapi dua serigala itu.  

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status