Share

Kebahagiaan

"Kata Mama ayah udah pergi duluan," jawab Dania sedikit tak yakin. Bintang mengangguk ragu, berusaha terlihat biasa saja, padahal cowok itu sudah gugup setengah mati.

"Gue pulang dulu," pamit Bintang sambil bangkit dari sofa. Dania mengangguk, "hati-hati," ucapnya.

"Jaga kesehatan." Bintang mengacak rambut Dania gemas, membuat pipi gadis itu bersemu merah. 

"Pastinya," jawab Dania.

Dania mengantar Bintang hingga ke depan rumahnya, sedari tadi senyum dibibirnya tak pernah luntur, sungguh Dania baru merasakan bahagia yang seperti ini.

"Gue pulang!"

"Hati-hati!" Dania melambaikan tangan antusias kepada Bintang, cowok itu mengangguk langsung melajukan motornya ke luar dari halaman rumah Dania. 

"Cie bahagia banget anak Mama." Dania menyengir saat tiba-tiba Vivi datang dan menggodanya. Karina tersenyum senang, dia lega saat melihat putrinya terlihat bahagia.

"Mama seneng kalau lihat kamu seneng," ungkap Vivi sambil mengelus rambut putrinya lembut. Dania tersenyum lebar, dia tak menyangka ibunya begitu membebaskannya dalam bergaul.

"Terima kasih, Ma," ucap Dania memeluk tubuh ibunya erat, dan dibalas tak kalah erat oleh Vivi.

"Mama yang berterima kasih karena kamu udah sekuat ini." Kedua mata Dania berkaca-kaca mendengar ucapan Vivi. Dania pikir sembuh itu adalah kewajibannya, karena dia juga tak mau meninggalkan Vivi sendirian.

"Dania bakal selalu temenin Mama," ucap Dania lirih. Dia ingin berdoa pada Tuhan, tolong kasih dia kesempatan satu kali lagi. Dia benar-benar tak ingin meninggalkan orang-orang tersayangnya.

                                ***

Maya menatap putranya sambil menggeleng kepala tak habis pikir sekaligus senang. Dia tak menyangka putranya itu dapat bertahan seharian di rumah, jika dulu jangan ditanya lagi. 

"Tumben anteng di rumah!" tanya Maya menggoda.

"Serba salah," balas Bintang kesal. Maya tertawa lalu menghampiri putra sulungnya yang sedang asik bermain game itu.

"Mama seneng kamu diem di rumah, dari pada ke luar pulang-pulang babak belur." Bintang mengangguk, "iya, Ma. Lagi pula aku udah tobat," ucapnya. Maya mencebik mengejek mendengar ucapan Bintang. 

"Enggak percayaan amat," cibir Bintang saat menyadari raut wajah ibunya. 

"Ih kok gitu sama Mama?" Bintang mengedikkan bahu tak peduli, membuat Maya yang merasa diabaikan pergi karena kesal. 

Masha yang menyaksikan itu menatap Bintang tak suka, lantas mendekati sang Kakak sambil bersedekap dada.

"Abang!" teriaknya. Bintang mendelik sebal melihat tingkah adiknya yang masih kecil itu.

"Apa?" tanya Bintang malas meladeni. Dia sudah tau kenapa adiknya itu marah-marah seperti ini.

"Kakak itu jahat!" tuduhnya sambil menunjuk wajah Bintang. Jangan lupakan wajah merahnya menahan marah.

Bintang meletakkan ponselnya, menatap adik kecilnya sambil ikut bersedekap dada juga. Masha menaikkan dagunya menantang sang kakak.

"Abang enggak boleh nakal sama Mama. Dia itu ibu kita!" Bintang mengangguk paham.

"Iyain," balasnya.

"Kalau Abang nakal, nanti Misha aduin sama pacar Abang." Bintang melotot kaget mendengar penuturan yang ke luar dari bibir adiknya.

"Heh tau dari mana pacar-pacaran?" tanya Bintang galak. Adiknya ini makin hari makin meresahkan.

"Entah," jawabnya sambil mengedikkan bahu. Bintang mendelik tajam. Sungguh dia tak tau Masha ini adiknya siapa.

"Sana, anak kecil sok tau," usir Bintang sambil mengibaskan tangannya seperti mengusir ayah. Masha menatap Bintang tak suka, tetapi bocah kecil itu langsung melangkah pergi dari sana.

Bintang menggeleng dramatis. Ini nih yang dia tak suka memiliki seorang adik yang sangat jauh umurnya dengan dia.

"Riweh," ucap Bintang kesal.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status