Share

BAB 8

“Wah, serius. Daniel bukan tandingan Marc Halley dalam basket!”

Kaylee tersenyum menanggapi ucapan Mary- teman barunya dari klub jurnalis. Semenjak ia masuk di dalam klub itu, semua orang bersikap canggung padanya. Dan hanya Mary satu-satunya orang yang masih tampak ceria di dekatnya. Meski Mary lebih tua setahun darinya, ia merasa kini dirinya cukup dekat dan nyaman berteman dengan Mary.

“Tapi kau masih saja menyukainya kan?” Kaylee terkikik pelan ketika mendapati wajah Mary yang memerah karena ucapannya.

Saat istirahat berlangsung, gadis itu sering mengajaknya duduk di sekitaran lapangan basket untuk mencari angin segar. Tapi ia tahu bukan itu alasan Mary mengajaknya kemari, gadis itu ingin melihat Daniel yang sedang bertanding di sana.

“Jangan membuat rumor tidak benar Kaylee, aku tidak ingin dituduh sebagai penulis pesan menyebalkan tentang Adriana Spencher di Secret minggu lalu.” Mary menatapnya sambil mengacungkan tangannya memperingatkan.

Kaylee hanya tersnyum tipis melihat aksi lucu gadis itu, “Aku tahu kok.” Katanya.

Sudah lewat seminggu sejak pemberitaan yang melibatkan Adriana dan Daniel di Secret, namun topik itu masih saja hangat dibicarakan. Bahkan orang-orang tampak tak berminat melirik pesan-pesan yang muncul awal pekan ini. Semua orang sibuk membicarakan berita minggu lalu.

“Ah, Marc mencetak poin lagi!” Kaylee tampak bersemangat melihat lelaki itu kembali mencetak poin dengan teknik lay-up yang berhasil mengecoh Daniel.

Mary menatap gadis di sebelahnya yang tampak gembira itu. Ia tidak yakin, tapi sepertinya pesona Marc Halley mulai bekerja pada gadis polos itu. Tiba-tiba senyum cerah di wajah gadis itu meredup, ia menatap lurus ke arah lapangan.

Di sana ia bisa melihat Marc yang kini tengah bicara serius dengan seorang gadis yang notabene memiliki gelar sebagai calon tunangan lelaki itu.

“Kau yang mengirimkan ini?” Alexandra mengangkat kalung pemberian lelaki itu. ia baru saja mendapatkannya lewat maid pagi ini.

Lelaki itu tampak tak menanggapi ucapannya, sibuk membersihkan keringat yang membasahi tengkuknya. “Halley, jawab aku!” Alexa menghentakkan kakinya tidak sabar.

Marc tambah menghela napasnya lelah, “Benar, aku menitipkan pada maid mu kemarin.”

Alexandra memutar matanya malas, ia tidak suka menerima pemberian barang mewah seperti ini. Intinya dirinya tidak ingin terjebak di situasi rumit hanya karena barang mewah yang diberikan oleh Halley secara cuma-cuma. Belum sempat ia melontarkan protes, lelaki itu menyambar kalung yang berada dalam genggamannya.

“Tidak ada ucapan terima kasih?”

Gadis itu mendelik sebal, “Tidak, karena aku tidak memintamu memberikan itu. Aku tidak bisa menerimanya.” Setelah mengatakan hal itu, Alexa berbalik meninggalkan lelaki itu seperti biasa. Marc kembali memandang punggung gadis itu untuk yang kesekian kalinya, tapi kali ini dirinya tidak akan membiarkan gadis itu pergi.

Alexandra terkesiap ketika Marc menahan lengannya. Dengan gerakan kilat ia memasangkan kalung itu pada lehernya yang terbuka.

“Marc!”

Looks good, terlihat sangat cocok denganmu.” Lelaki itu merapikan rambutnya sebelum memandangi liontin berlian yang mengkilat di bawah terpaan sinar matahari.

Kini lelaki itu memandang lurus ke arah dirinya, “Gunakan ini, setidaknya dengan ini ayahmu tidak akan curiga lagi dengan hubungan kita.”

Netra Alexandra menajam ketika Marc menyebutkan tentang ayahnya, jangan-jangan selama ini pria itu sudah melaporkan setiap gerak geriknya pada ayahnya!

“Kau mengancamku rupanya?”

Marc menggeleng, menarik liontin berbentuk rasi bintang yang menggantung di kerah seragamnya. “Tidak, aku hanya memastikan dirimu tetap mengingat posisimu. Nona Alexandra Halley.” katanya.

Alexandra menghela napas marah, ia tak menyangka kini lelaki itu mulai menunjukan taringnya. Salah jika selama ini ia berpikir Marc adalah lelaki yang sama sekali tidak mempermasalahkan apa yang terjadi dengan hubungan mereka, ia berpikir Marc sama lelahnya dengan dirinya yang tidak menginginkan hubungan konyol ini. Tapi tidak, lelaki itu sepertinya memiliki permainannya sendiri dan ia tidak boleh terjebak!

Marc hanya memandang lelah gadis itu yang buru-buru meninggalkannya di sini seorang diri. Jujur saja, sebenarnya ia tak punya niat mengancam Alexandra. Tapi fakta bahwa gadis itu berbohong setelah acara makan malam dengannya itu membuatnya kesal.

‘Kenapa Alexandra tidak berkata jujur padanya jika malam itu ia pergi bersama Raphael?’

Satu hal yang benar-benar ia tidak mengerti dari hubungan ini, ia merasa tak dihargai ketika gadis itu berbohong pada dirinya.

Amarahnya benar-benar memuncak ketika ia tahu malam itu Alexandra tak berada di rumahnya, disana ia bertemu ayah gadis itu yang juga tidak mengetahui dimana keberadaan Alexa. Kepala keluarga De Travis itu sempat menanyakan hubungannya dengan Alexandra, namun ia berhasil berkelit dengan baik. Tapi rasa kesal memuakkan itu terus mengganggunya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk melakukan ini. Agar bisa memastikan gadis itu terus berada di sisinya.

“Kaylee, ayo kita pergi.” Mary menyadarkan gadis yang tengah menatap kosong ke arah lapangan.

Gadis itu masih bergeming untuk sesaat, “Mereka dekat?” tanyanya.

“Apa?”

Kaylee manatap ke arah Mary dengan serius, “Apakah mereka dekat? Alexandra De Travis dan Marc Halley.”

Mary menjawab dengan ragu, “Yah, setahuku mereka cukup dekat karena keluarga mereka saling mengenal.” Ia tidak ingin membertahukan hubungan yang sudah menjadi rahasia umum antara Marc dan Alexandra serta rumor pertunangan keduanya tahun depan. Dirinya hanya merasa tidak tega, melihat Kaylee yang tampaknya menaruh hati pada putra bungsu keluarga Halley. Kaylee sudah ia anggap seperti adiknya sendiri, dirinya tidak ingin melukai hati gadis itu.

Kaylee tampak tersenyum lega, “Kupikir mereka punya hubungan khusus, ayo kembali ke kelas.” Gadis itu berdiri dengan senyuman ramah yang selalu terpatri di wajah manisnya.

“Ah, oke.” Mary mengikuti Kaylee dari belakang, dirinya tidak ingin Kaylee merasakan sakit hati seperti yang ia alami. Sudahlah, ia hanya bisa berdoa dan berharap gadis itu selalu baik-baik saja.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status