Share

CHAPTER 5

"Hiks ... hiks ... jahat ... Rayn jahat."

Saat sedang menangis, tiba-tiba Alexa dikejutkan oleh sebuah tisu yang terjulur di hadapannya.

"Usap air mata lo."

Alexa mendongakkan kepalanya dan terkejut ketika melihat Mike ada di sini.

"Ka-kamu ngapain di sini?" tanya Alexa yang masih sesenggukan.

"Gue udah di sini dari tadi, bahkan sebelum lo dateng. Lo-nya aja yang ga sadar."

Tangan Mike terjulur meraih tangan Alexa dan memberikannya sebuah tisu.

"Makasih."

Alexa buru-buru mengelap air matanya, tidak ada yang boleh melihatnya menangis kecuali Mamanya. Bahkan, Rayn pun belum pernah melihat Alexa menangis, tapi Mike?! Kenapa harus ada cowok itu di sini?!

Sementara di tempatnya, Mike terkekeh ketika melihat wajah Alexa yang menurutnya lucu. Pipi dan bibirnya memerah, sedangkan matanya tampak sembab.

"Kenapa ketawa?" Tanya Alexa yang merasa bingung.

"Lo lucu kalo lagi nangis, tapi lo lebih lucu waktu lo lagi senyum," ujar Mike membuat kedua pipi Alexa tiba-tiba memanas.

"Apaan sih."

"By the way, kenapa lo nangis?"

Sontak saja pertanyaan Mike membuat Alexa menjadi sedih kembali. Mike yang menyadari perubahan raut wajah Alexa pun segera angkat bicara. Pancaran mata bulat gadis itu tampak muram.

"Lupain masalah lo, mending sekarang lo masuk kelas. Bentar lagi udah mau bel."

Tanpa sadar, Mike mengelus lembut puncak kepala gadis itu. Mata tajamnya terpaku oleh mata bulat bersinar milik Alexa.

Kenapa Alexa begitu manis?!

"Ekhem." Mike berdehem untuk mengurangi kecanggungan yang tiba-tiba saja timbul di antara mereka.

"Masuk kelas gih," tambahnya.

"Iya, a-aku ke kelas dulu."

Alexa pun beranjak menuju kelasnya meninggalkan Mike yang tengah memandangi punggungnya sambil tersenyum tipis.

"You got my attention, Alexa."

                             🍋💡🍋💡

Rayn merebahkan tubuhnya yang letih ke atas ranjang. Entah mengapa dia merasakan ada setumpuk beban berat di pundaknya. Masalahnya dengan Bastian sudah berhasil diatasi, lalu apa yang membuatnya menjadi sangat kepikiran saat ini?

Sontak saja nama Alexa langsung muncul di benaknya. Dia belum bertemu dengan gadisnya seharian ini, terakhir kali melihat gadis itu adalah waktu berangkat sekolah tadi.

Rayn tidak pernah menyadari jika Alexa berhasil membuatnya uring-uringan. Ingin rasanya dia mengirimi Alexa pesan hanya untuk sekedar bertanya tentang bagaimana kabar gadis itu, namun Rayn selalu mengedepankan rasa gengsinya.

Butuh beberapa waktu untuk menenangkan hatinya yang bergejolak sebelum akhirnya Rayn memutuskan untuk pergi menemui gadis itu.

"Gue harus ketemu sama Alexa," ujarnya kemudian beranjak pergi dan menyambar kunci motornya.

Rayn melajukan motornya menuju rumah Alexa. Dia sudah membulatkan tekadnya untuk coba meminta maaf kepada gadis itu. Dia sadar kalau apa yang dia lakukan sudah keterlaluan. Kali ini, dia harus mengesampingkan egonya terlebih dahulu.

Kamar gadis itu masih terlihat terang, itu artinya Alexa belum tertidur. Rayn pun turun dari motornya dan memutuskan untuk memanjat pagar rumah Alexa. Alih-alih masuk menggunakan pintu depan, Rayn justru lebih memilih untuk memanjat balkon kamar Alexa.

Rayn mengetuk pintu kaca balkon kamar Alexa. Butuh waktu beberapa saat sampai akhirnya balkon itu terbuka menampilkan gadis dengan setelan baju tidurnya.

"Rayn, kamu ngapain malem-malem ke sini?" tanya Alexa menyadarkan Rayn dari keterpakuannya.

"Emang gue ga boleh dateng ke rumah lo?" ketus Rayn berusaha menutupi debaran di hatinya.

"Bukannya gitu, tapi kan kamu bisa lewat pintu depan. Ga usah pake acara manjat segala. Entar kalo kamu jatoh kan bahaya," ujar Alexa dengan raut wajah menunjukkan kekhawatiran.

Rayn berusaha menahan senyum yang memaksa untuk terbit di bibirnya. Hatinya tiba-tiba menghangat saat mengetahui jika Alexa mengkhawatirkannya.

"Mending kita masuk yuk, di luar dingin."

Alexa pun menggandeng tangan Rayn memasuki kamarnya dan mendudukkan dirinya di sofa diikuti oleh cowok itu. Entah mengapa tiba-tiba ada rasa canggung yang menyeruak masuk di antara mereka.

"Nyokap lo di rumah?" Rayn berusaha memecahkan keheningan.

"Iya, tapi kayaknya Mama udah tidur," jawab Alexa berusaha menutupi kegugupannya.

Hatinya selalu berdebar kencang bila berdekatan dengan cowok ini.

"Tumben kamu malem-malem ke sini. Ada apa?" tanya Alexa.

Entah mengapa lidah Rayn tiba-tiba kelu ketika hendak menjawab pertanyaan Alexa.

Say sorry, Rayn. You just need to say sorry.

"G-gue cuman mau main."

Rayn merutuki dirinya sendiri, kenapa malah kata-kata seperti itu yang keluar dari bibirnya?! Kenapa rasanya sangat sulit, padahal hanya sekedar mengucapkan kata maaf?!

Alexa mengerutkan keningnya merasa bingung, biasanya jika Rayn merasa bosan pasti cowok itu lebih memilih untuk pergi ke markas.

"Biasanya juga kamu main sama temen-temen geng kamu, emang mereka pada ke mana?"

"Gue pengen aja ke sini, lo merasa terganggu? Gue bisa pergi kok," ketus Rayn membuat Alexa merasa bersalah.

"E-eh tunggu ... tunggu."

Alexa segera menarik tangan Rayn ketika cowok itu hendak beranjak dari duduknya.

"Kamu kenapa sih sensian banget, aku kan masih kangen," lirih Alexa yang masih bisa didengar oleh Rayn.

"Lo ngomong apa? Gue ga denger."

"Gak, bukan apa-apa," ujar Alexa dengan pipi merona.

Alexa berusaha memalingkan wajahnya agar Rayn tidak melihat semburat merah yang tiba-tiba muncul di pipinya.

"Gue juga kangen."

"Ha? ka-kamu kangen sama siapa?"

"Sama--- "

"Sama?" Alexa menunggu jawaban dari Rayn.

Kalian tau apa? Jawaban Rayn benar-benar berhasil membuat Alexa terkejut sekaligus kesal.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status