Share

Bab 21 : Sehabis Perkelahian

Tok, tok, tok! "Mba! Mba Yulita!" Jamal mengetuk rumah Irwan.

"Iya sebentar," jawab istri Irwan.

"Krek.... "Bang! Abang kenapa?" ucap Yulita saat melihat suaminya yang terkulai lemas.

Tak sengaja air matanya berjatuhan melihat kondisi suaminya itu.

"Aa.. aku tidak apa-apa!" jawab Irwan sambil tersenyum dan menahan sakitnya.

"Lebih baik kita bawa masuk dulu, Mba!" ucap Amat.

"Ayo, ayo masuk!" Yulita membuka lebar pintu rumahnya.

"Langsung bawa masuk ke kamar saja!" pinta Yulita sambil menyapu air matanya.

Mereka yang mendengar itu segera membawa Irwan ke kamarnya.

Di kamar itu Anak Irwan yang bernama Andi sedang tidur.

Kemudian, dia terbangun karena mendengar suara dari teman-teman ayahnya itu.

"Ayah!" ucap anaknya terkejut.

"Ayah kenapa?" Anaknya bertanya lagi sambil mengosok-gosok matanya.

"Ayah tidak apa-apa!" Irwan menenangkan anaknya.

"Ayah jangan bohong sama Andi!"

"Ayah tidak bohong sama Andi, ayah tidak apa-apa!" jawab Irwan sambil tersenyum.

Namun, Andi masih tidak percaya dengan perkataan ayahnya.

Karena dia melihat banyak luka lebam di wajah dan di beberapa bagian tubuh ayahnya. Dia menangis setelah memperhatikan kondisi ayahnya itu. Andi memang baru berusia lima tahun, tetapi dia sudah memiliki pemikiran dan perasaan yang jauh diatas usianya.

Air matanya berjatuhan melihat orang yang sangat dia cintai terluka.

Ibunya yang melihat itu segera menenangkannya dan mengajaknya untuk tidur kembali.

"Kita tidur lagi ya," ajak ibunya.

Dia hanya diam dan menatap tajam kearah ibunya.

"Ayo! Andi kan anak pintar, tidur yu sayang," Ibunya mengulurkan tangan kepadanya.

"Andi tidak mau tidur! Andi mau menemani ayah!" teriaknya sambil menangis.

"Andi harus tidur, nanti Andi ngantuk lo!" Ibunya kembali membujuknya.

"Tidaaak!...." Andi berteriak dengan kencang.

"Ya sudah biarkan saja," pinta Irwan kepada istrinya.

Istrinya hanya mengangguk setelah Irwan mengatakan itu.

Amat juga terlihat sedikit cemas melihat keadaan Irwan saat ini.

"Aku panggil dokter ya, Wan?" Amat menawarkan diri.

"Tidak usah, sebentar lagi juga baikkan!" Irwan menolak tawaran Amat dengan halus.

"Sayang, tolong ambilin obat Abang yang di lemari!" pinta Irwan kepada istrinya.

"Biar Andi saja!" sahut anaknya sambil berdiri dan berlari menuju lemari yang dimaksud ayahnya.

Kemudian, Anaknya segera menyerahkan obat itu kepadanya.

"Terima kasih ya, Sayang!" Irwan mengusap kepala anaknya itu.

"Sama-sama Ayah," jawab Anaknya sambil tersenyum.

Setelah itu, Irwan menyandarkan tubuhnya di tembok dan segera menenguk obatnya.

Kemudian, dia berbicara kepada teman-temannya.

"Kalian boleh pulang untuk beristirahat."

Namun, teman-temannya terlihat tidak ingin meninggalkannya.

"Kami akan tetap di sini, Bang! Kami takut kalau Abang kenapa-napa." Jamal berbicara mewakili teman-temannya.

Teman-temannya juga mengangguk sebagai tanda mereka memang setuju dengan pendapat Jamal.

"Tidak usah repot-repot, aku baik-baik saja!" jawab Irwan sambil tersenyum pada mereka.

"Tidak Bang! Kami akan tetap di sini menjaga, Abang!" sahut Broto dengan mantap.

"Iya, benar kata Bang Broto," ucap Radit ikut berbicara.

Mendengar itu, Irwan langsung menatap wajah teman-temannya itu dengan tatapan serius.

Huuh.... "Ya sudah terserah kalian saja!" ucap Irwan sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.

Kemudian, Irwan menatap Amat yang duduk agak di belakang.

"Bagaimana tadi?" tanya Irwan kepada Amat.

"Kalau Bang Amat tidak usah ditanya, semua lawan habis dibabatnya." Jamal menyahut sebelum Amat berbicara.

Amat hanya tersenyum mendengar pujian Jamal itu.

"Ya lumayan menguras tenaga," jawab Amat merendah.

"Iya, pertarungan tadi memang melelahkan!" sahut Irwan sambil menganggukkan kepalanya.

"Tapi Bang Amat tadi hebat sekali! Runi dan Laras tidak bisa berbuat apa-apa dihadapan Bang Amat," kata Adit dengan semangat.

"Benar! Mungkin jika kita yang melawannya pasti K.O!" Radit menambahkan pendapat Adit.

"Runi dan Laras yang K.O?" tanya Irwan sambil tertawa kecil.

"Ya kamilah Bang yang K.O," sahut Radit dan Adit serempat sambil tertawa.

Mendengar itu, Amat dan yang lain juga ikut tertawa.

"Tidak juga! Mungkin tadi mereka hanya kurang beruntung dibandingkan saya," Amat menanggapi perkataan Radit dan Adit tadi.

Irwan hanya tersenyum mendengar pengakuan Amat itu.

Dia sangat tahu seberapa kuat Amat sebenarnya, tetapi Amat selalu merendah jika dipuji.

"Kalian sendiri bagaimana tadi?" Irwan mengalihkan pembicaraan.

"Sangat melelahkan Bang, mereka menyerang kita kaya orang kerasukkan." Adit mengeleng-gelengkan kepalanya.

"Benar Bang! Untung ada Bang Amat yang menolong kami tadi." Radit membenarkan perkataan Adit.

"Makanya belajar beladiri itu jangan setengah-setengah!" Jamal menepuk pelan kepala mereka berdua.

"Iya Bang!" jawab mereka patuh.

Malam berlanjut dan terasa semakin dingin. Namun demikian, percakapan mereka terus berlangsung dengan hangatnya. Irwan mengalihkan pandangannya ke hadapan teman-teman berada dan dia merasa seperti ada yang kurang.

Kemudian, dia memberi kode kepada Jamal untuk membuat kopi.

Jamal mengerti dan langsung berdiri.

"Mau kemana, Bang?" tanya Radit.

"Kencing! Mau ikut?" Jamal balik bertanya.

"Tidak usah Bang, terima kasih."

"Oke!" balas Jamal singkat.

Setelah beberapa menit, Jamal kembali dengan membawa teko yang berisi kopi dan beberapa gelas ditangan kirinya.

"Nah ini kopinya," ucap Jamal sambil meletakkan teko itu dihadapan teman-temannya.

"Ngopi dulu!" ajak Irwan kepada teman-temannya.

"Iya Bang," sahut mereka.

Kemudian, Radit mulai menuangkan kopi ke gelas-gelas yang ada dihadapannya.

"Kurang satu nih gelasnya," ucap Radit sambil menghitung kembali gelas-gelas yang ada dihadapannya.

"Memang sengaja, Bang Irwan tidak ikut ngopi," jawab Jamal yang berada disampingnya.

"Yang benar Bang?" tanya Radit sedikit bingung.

"Bang Irwan kan baru minum obat, Rad.it!" Agung ikut berbicara.

"Oh.. iya ya!" Radit menepuk dahinya.

Kemudian, mereka bersama-sama menikmati kopinya dan terus berbincang hingga kantuk datang menghampiri mereka.

"Ngantuk, Dit?" tanya Irwan yang melihat Adit menguap.

"Iya Bang," jawab Adit singkat.

"Ya sudah tidur saja!" saran Irwan.

"Tidak apa-apa!" Irwan menambahkan sambil dengan senyumnya.

Kemudian, Adit merebahkan dirinya dan tertidur. Setelah Adit tertidur, satu persatu dari mereka juga ikut tertidur termasuk Irwan dan Amat.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status