Share

6. POV Rendy

Aku tak habis pikir dengan istriku, setelah aku di PHK sepertinya dia santai-santai saja. Seperti tak ada beban yang dirasakannya. Berbeda denganku, aku sangat stress dibuatnya. Ah sialnya, aku tak punya pegangan uang sedikitpun karena aku sudah memberikan sebagian besar gajiku pada Santi, wanita yang sangat kucintai. Dia sangat cantik, dia bisa memuaskanku seperti yang kuinginkan. Berbeda dengan Winda yang makin kesini penampilannya makin tak karuan. Kucel, wajahnya pun jadi kusam. Padahal dulu sebelum dia menikah denganku, wajahnya begitu ayu. Sampai-sampai aku harus bersaing dengan beberapa lelaki yang juga ingin meminangnya. Ah, menyesal juga aku sudah menikahi Winda.

Itu yang membuatku marah-marah terus pada Winda, dia tak bisa menjaga penampilannya. Ya, dia memang sibuk mengurus anak serta pekerjaan rumah tangga dan juga jualan onlinenya, sampai-sampai dia lupa kalau diapun wajib merawat dirinya sendiri. Aku jadi bosan melihatnya. Untung saja ada Santi. Santi wanita yang cantik, pekerja kantoran. Bodynya seksi, wajahnya selalu terpoles make-up. Penampilannya trendy tidak kuno seperti Winda yang selalu pakai daster ataupun gamis dan jilbabnya yang selalu menutupi kepala kalau sedang berada diluar rumah. Beda level memang. Santi benar-benar wanita idamanku.

Kesal aku dibuatnya, Winda akhir-akhir ini sering balik membentakku, dia makin berani menyanggah ucapanku. Pun ketika aku ingin meminjam uangnya, dia berdalih uangnya sudah dipakai untuk modal jualan. Hah, sehebat apa sih dia? Berani-beraninya dia tak meminjamiku uang. Aku bilang hanya pinjam, pasti nanti aku balikin. Tapi lihat, ketika ibuku datang dia memborong bahan makanan di warung. Aneh kan? Berarti dia memang punya uang, hanya saja dia pelit sama suaminya sendiri.

Aku sudah muak. Akhirnya tadi pagi kurayu lagi agar dia mau meminjamiku uang namun dia hanya memberiku 100ribu itupun dengan syarat yang cukup sulit. Kalian tahu apa syaratnya? Syaratnya kalau nanti aku diterima kerja dan dapat gaji, semua gaji dia yang pegang. Ya, itu sangat sulit, karena nanti aku gak bisa senang-senang bersama Santi. Tapi apa boleh buat, aku menerima syaratnya itu, urusannya nanti dipikir belakangan. Toh dia kan sangat lugu, aku punya banyak alasan untuk mengelabuhinya.

Aku berangkat dengan sukacita walau cuma bawa uang 100 ribu. Rencananya setelah melamar pekerjaan, aku ingin mampir ke tempat Santi. Baru beberapa hari gak bertemu dengannya rasanya kangen sekali. 

Aku membawa berkas-berkas yang aku siapkan semalam. Winda mana ngerti? Jadi aku sendiri yang menyiapkannya. Banyak Perusahaan yang aku singgahi, dari menitipkan beberapa berkas lamaran, ada juga yang langsung interview dengan pihak HRD. Namun sayangnya hari ini aku belum berhasil. Semua perusahaan yang kudatangi menolakku. Dengan berbagai macam alasan. Aku frustasi dibuatnya.

Kulajukan motorku ke kediaman Santi, dia belum pulang bekerja. Dengan sabar aku menunggunya selama 3 jam. Itu karena aku sangat ingin bertemu dengan pujaan hatiku.

Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, tapi tunggu-tunggu, dia diantar sama siapa? Mobil Avanza warna hitam. Santi turun dari mobil itu kemudian melambaikan tangannya. 

Senyuman manis merekah dari bibirnya yang merah merona ketika mendapatiku berada di terasnya.

"Mas, udah lama?" sapanya dengan nada lemah lembut.

"Ah iya, aku nungguin kamu sampe 3 jam lho," jawabku sejujurnya.

"Oh ya?" sahutnya sembari membuka pintu. "Ayo, masuk dulu."

Aku mengikutinya dan duduk di sofa.

"Tadi siapa yang antarin kamu?" tanyaku penasaran.

"Oh itu cuma rekan kerja, kebetulan tadi motor aku mogok, aku tinggal di bengkel."

"Oh..." jawabku agak cemburu.

Aku mengikutinya saat dia berlalu ke belakang. Dia melepaskan blazernya membuat lekukan tubuhnya terlihat begitu kentara. 

"Mau teh manis, mas?" tanyanya.

"Hmmm, boleh..."

Aku sudah tidak tahan lagi, kupeluk tubuhnya dari belakang. 

"Aku kangen kamu," bisikku. Dia yang sedang mengaduk-aduk teh segera berbalik dan tersenyum.

"Aku juga," jawabnya.

Jantungku berdegup sangat kencang, seperti seorang remaja dimabuk asmara.

"Kapan kamu akan halalin aku?" tanyanya yang membuatku terhenyak. Ini sudah ke sekian kali dia menanyakan hal yang sama. Bukan, bukan aku tak mau menikahinya, tapi syaratnya terlalu berat. Santi ingin menikah denganku tapi aku harus bercerai dengan Winda terlebih dahulu. Itu tidak mungkin, ibu dan bapak sangat menyayangi Winda, mereka pasti takkan setuju kalau aku bercerai dengannya. 

"Nanti ya sayang, aku belum dapat pekerjaan lagi," jawabku.

"Jadi kamu masih nganggur, mas?"

Aku mengangguk. Dia terlihat begitu kecewa. Santi melepaskan pelukanku. Dia terlihat menyibukkan diri dengan membuat minuman yang lain.

"Tadi aku udah lamar-lamar pekerjaan, tapi belum dapat."

Dia terdiam, sepertinya dia kecewa karena kali ini aku tidak memberikannya uang.

"Jadi jatah buat aku gak ada dong?" tanyanya yang membuatku meringis getir.

"Minggu kemarin 'kan udah aku kasih semua sama kamu, yang."

"Uangnya udah habis."

Aku cuma bisa melongo mendengar penuturannya. 

"Ya sudah, sana pulang saja. Aku bukan istrimu yang bisa menerima apapun keadaanmu."

Bak disambar petir ketika mendengar pernyataannya. Aku kecewa, jadi dia mendekatiku hanya untuk uang saja? Ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang?

"Tapi aku masih kangen sama kamu...." aku merajuk, seenggaknya aku ingin bersama lebih lama lagi.

"Mas boleh kesini lagi, tapi seperti biasa harus ada jatah untukku. Kalau gak ada, aku gak mau."

"Iya iya, aku akan berusaha. Ya sudah, aku pulang dulu..." pamitku. Dia hanya tersenyum kecut padaku.

Arrghh sial!! Bisa-bisanya dia mengusirku! Padahal selama ini aku selalu memberinya uang, justru lebih banyak kuberikan padanya daripada istriku sendiri.

Kulajukan motorku dengan perasaan emosi.  Dasar PHK sialan! Kau membuatku tak ada harganya dihadapan Santi maupun Winda! Sepanjang jalan aku menggerutu kesal.

Sesampainya di rumah, aku tercengang melihat pemandangan yang tak mengenakan. Istriku bercengkrama dengan laki-laki lain? 

"Oh jadi kayak gini kelakuanmu kalau aku gak ada di rumah?!"

Mereka menoleh, dan terkejut seperti dua sejoli yang kedapatan selingkuh. Aku menatap Winda dengan tatapan tajam. Hatiku terasa panas.

"Benar kan kalau kalian itu punya hubungan?" 

Aku benar-benar emosi, tanpa ba-bi-bu aku memukul lelaki itu hingga terhuyung.

"Mas hentikan!" teriak Winda. Dia justru membela laki-laki itu? Aku yang ingin melayangkan tinju pada laki-laki itu justru mengenai Winda sampai dia terjatuh.

"Mbak, mbak gak apa-apa?" laki-laki itu justru ingin membantu Winda berdiri. Sungguh drama yang mengagumkan.

Prok... Prok... Prok...

"Hebat ya kalian! Sama-sama saling bela! Sejauh mana hubungan kalian, hah?!" cercaku masih dengan nada emosi.

"Mas, jangan main kasar dong sama istri sendiri! Kamu tuh salah paham, kami gak ada hubungan apa-apa. Hanya murni pekerjaan," jelas laki-laki itu. Ya, tentu saja mereka akan menyangkal dengan apa yang telah dilakukannya.

Laki-laki itu juga mengancam akan melaporkanku karena sudah melakukan KDRT. Benarkan? pasti ada apa-apanya, laki-laki itu pasti suka dengan istriku?! Kenapa kau tega mengkhianati aku, Winda! Sial, aargghh...! 

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nur Hayati Nur Hayati
eng stress yo wong lanang edan
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status