Share

Pengawal Setia Eve ternyata Billionare
Pengawal Setia Eve ternyata Billionare
Penulis: Say sheeva

Jebakan untuk Eve dan Arsenio

"Tubuhku rasanya aneh sekali, Arsenio. Tolong." Eve beringsut mendekat pada pengawal pribadinya itu yang masih berusaha untuk menahan kesadarannya.

"Maaf, Nyonya. Apa yang ingin Anda lakukan?" Arsenio mundur selangkah, meskipun ia juga merasa ada yang aneh dalam dirinya.

"Aku butuh kamu. Tolong, puaskan aku," Eve berbisik di telinga Arsenio. Kecupan lembutnya membuat Arsenio berjingkat, menciptakan gelenyir aneh di sekujur tubuhnya.

“Sadarlah, Nyonya.” tegur Arsenio yang masih berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan diri.

“Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, tolong aku.” Pinta Eve terus menempelkan tubuhnya pada Arsenio hingga diantara mereka sudah tidak ada jarak sama sekali, Eve mengalungkan kedua tangannya ke leher pengawalnya itu sembari mencumbu bibir Arsenio dengan buasnya.

Sekuat apapun Arsenio bertahan, nyatanya hal ini tidak bisa membuatnya sadar, sehingga, dirinya juga ikut dalam permainan yang dilakukan oleh Eve. Keduanya saling bercumbu dengan mesranya, bahkan dengan penuh nafsu, Arsenio sampai menjelajahi leher putih mulus majikannya dan tidak lupa meninggalkan bekas kemerahan di beberapa bagian, semakin mendapat sentuhan, keduanya semakin menginginkan hal yang lebih hingga akhirnya mereka sudah saling menanggalkan pakaian.

“Apa anda siap, Nyonya?” tanya Arsenio yang saat ini tengah berada di atas Eve dengan ekspresi wajah yang sudah tidak tertahankan.

“Jangan banyak bicara, Arsenio! Segera lakukan sekarang, semakin lama tertahan membuatku gi-la!” perintah Eve yang memeluk tubuh Arsenio dengan erat sehingga seluruh tubuh mereka saling menempel.

“Akan saya pastikan anda seperti terbang melayang di surga, Nyonya.” Ucap Arsenio kembali mencumbu bibir Eve dengan buasnya.

Sedangkan Eve, tangannya dengan jahil memainkan pu-ting Arsenio sehingga membuatnya merasa sangat kenikmatan hingga terus mengeluarkan suara desahan, “Aaahhhh…. Nyonya.”

Arsenio dengan perlahan menerobos kepemilikan majikannya yang membuat Eve mengerang kesakitan sembari terus memeluk Arsenio dengan sangat erat "Sa-kittttttttt......"

Kesakitan yang dirasakan Eve nyatanya tidak membuat mereka berhenti begitu saja, malh yang ada permainan semakin memanas hingga keringat keduanya sudah mengucur dengan deras, permainan yang awalnya perlahan, kini semakin dipercepat oleh Arsenio.

“Terus…. Ahhh…. Ternyata nikmat sekali.” Ucap Eve setengah sadar.

“Arsenio…… te-rus,” suara desahan Eve semakin memacu Arsenio untuk lebih cepat lagi.

Hingga akhirnya setengah jam kemudian, mereka sudah sama-sama berada di puncak “Aaaaaaaaaaahhhhhhh,” suara erangan panjang keduanya sebagai penanda jika permainan panas telah usai. Karena merasa lelah dan tenaga habis, akhirmya keduanya tertidur dalam satu selimut yang sama dengan posisi saling berpelukan.

Ansel yang sudah memperkirakan ini semua, bergegas masuk ke kamar hotel, betapa senangnya ketika ia memotret dua sejoli yang tengah tak sadarkan diri itu, “Ini akan menjadi senjata bagiku untuk menghancurkan keluargamu yang selalu mendongak ke atas!” ucap Ansel tersenyum bahagia lalu membagikan foto serta video ke salah satu rekan media yang di kenalnya.   

“Akan aku buat sebuah skandal, dimana nantinya nama baik keluarga besarmu yang selalu di jaga dengan sangat baik akan hancur seketika, bahkan hancur sehancur-hancurnya! Maafkan aku yang membuatmu menjadi korban, Eve, karena titik lemah kedua orang tuamu ada padamu,” batin Emir Ansel dengan senyum smirk.

Setelah itu, Ansel pergi meninggalkan mereka berdua yang masih belum sadarkan diri dengan menuliskan secarcik kertas rasa kecewa atas apa yang sudah terjadi antara Eve dengan Arsenio. Dengan begini, mereka akan merasa bersalah, Eve merasa bersalah karena sudah mengkhianati cintanya dengan Ansel, sedangkan Arsenio, merasa gagal menjaga majikannya, karena justru dirinya sendiri yang merusak.

****

Beberapa jam kemudian, ponsel Arsenio berdering tiada henti, dengan posisi kepala yang masih sangat pusing, Arsenio mengangkat panggilan tanpa melihat lebih dulu siapa yang menelpon, “Ha-halo,” ucap Arsenio dengan suara serak.

Ketika ingin berdiri, betapa terkejutnya, ketika melihat posisi dirinya sudah menanggalkan semua pakaian dengan posisi Eve di sampingnya tengah tertidur dengan pulas tanpa memakai pakaian sehelai pun. Ponsel yang masih terhubung dengan seseorang pun segera diputus oleh Arsenio, apalagi setelah tahu, jika yang menelpon adalah ayah dari Eve.

“Nyonya, bangun,” ucap Arsenio berusaha membangunkan Eve dengan mengguncang tubuhnya secara pelan.

“Ada apa sih?” tanya Eve dengan ekspresi kagetnya ketika menyadari jika diantara keduanya sama-sama sudah melakukan hal yang di luar batas.

Eve berteriak histeris, lantaran perbuatan yang dilakukannya sangatlah hina apalagi sudah melakukan dengan pengawal pribadinya sendiri, tak bisa menerima ini, Eve terus memukul tubuh Arsenio secara membabi buta.

Tidak ada perlawanan, Arsenio hanya diam saja sambil terus meminta maaf, “Kata maafmu tidak bisa mengembalikan semuanya, Arsenio!!!!!! Kamu yang ditugaskan untuk menjaga dan melindungi ku malah kamu sendiri yang merusaknya!!!!!” bentak Eve menangis histeris.

“Ma-maaf, Nyonya, ini semua di luar kendali saya,” jawab Arsenio merasa sangat bersalah lalu memakai pakaiannya.

Tangis Eve semakin kencang karena mendapati sebuah surat yang ternyata dari Ansel-mantan kekasih yang masih dicintainya.

“Untuk Eve, maaf jika aku hanya bisa meninggalkan sepucuk surat untukmu, jujur saja, ketika menulis ini, hatiku sangat hancur juga sakit, ketika mengetahui apa yang terjadi antara kamu dengan pengawal setiamu, aku meninggalkan kalian tidaklah lama, tapi mengapa ketika kembali, posisinya justru begini? Apa ini namanya pengawal yang ditugaskan menjaga anak majikannya? Atau jangan-jangan kalian memang ada hubungan di belakangku? Aku sudah tidak ingin penjelasan apapun lagi, karena bagiku, ini semua sudah cukup untuk menjelaskan semuanya, terima kasih sudah merusak rasa percayaku terhadapmu, kamu yang meminta hubungan kita diperjuangkan, tapi kamu lebih melukai ketimbang ucapan papah kamu waktu itu, maaf, Eve, mulai hari ini aku mundur, jangan cari aku lagi, minta pertanggung jawab pada pengawalmu, jaga nama baik keluargamu sesuai apa yang pernah kamu katakan waktu kita bersama dulu, martabat keluarga besarmu sangatlah penting,”

Eve pingsan setelah membaca surat dari mantan kekasihnya, dirinya tidak menginginkan ini semua terjadi, rasanya, ini semua terasa mimpi paling buruk di dalam hidupnya. Melihat majikannya pingsan, Arsenio bergegas menghampiri dengan wajah yang sangat panik, “Nyonya, bangun, sadarlah, Nyonya,” ucap Arsenio setelah menidurkan Eve di kasur.

Beberapa kali pipi putih kemerah-merahan dan halus milik Eve di tepuk pelan, tak kunjung membuatnya sadar.

Sembari menunggu Eve siuman, kini Arsenio memunguti pakaian majikannya yang berserakan di lantai, ketika diletakkan di tempat tidur, betapa kagetnya ketika melihat bercak da-rah di balik selimut.

“Da-darah siapa ini? Jangan-jangan Nyonya Eve masih….” gumam Arsenio lalu menyibak selimut untuk memastikan, dan benar saja, terdapat bercak da-rah yang sudah mengering di paha mu-lus Eve, itu artinya, Arsenio adalah orang pertama yang merenggut mahkota majikannya.

“Arrrggghhhhh…. Kenapa semua ini terjadi bertubi-tubi! Bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan semua ini di hadapan Tuan besar? Bagaimana nanti reaksi Nyonya Eve ketika tahu jika dirinya sudah tidak gadis lagi!” umpat Arsenio mengacak rambutnya secara kasar.

Pikirannya yang tengah pusing memikirkan masalah yang belumketemu jalan keluarnya, ada satu panggilan yang berdering terus tiada henti, sehingga dengan terpaksa membuatnya harus menjawab, “Halo, ada apa?” tanya Arsenio mengawali obrolannya.

“Gawat bos! Lihat berita sekarang juga,” jawab anak buahnya menunjukkan suatu kepanikan.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status