Share

Naluri Sang Pendosa
Naluri Sang Pendosa
Author: Goresan Pena93

Bab 1

Naluri 1

"Dasar wanita penggoda! Enyah kau dari muka bumi ini!" 

Kedua tangan mencengkeram rambut panjang Lela. Suara hati bercampur dengan amarah yang membumbung dada, membuat Novi ingin mengakhiri nyawa wanita yang kini ada di hadapannya.

Suasana depan kontrakan mulai gaduh dengan kebisingan mereka berdua. Saling adu mulut dan serangan penuh kebencian.

"Kau yang tak pandai jaga suami! Kau sibuk dengan dirimu sendiri. Sehingga suamimu kesepian dan mencari pemuas batinnya!" 

Meskipun penampilan sudah sangat menyedihkan, rambut acak-acakan dan sebagian lengan bajunya robek karena tarikan tangan lawannya, serta wajah penuh cakaran dari wanita kaya bernama Novi, Lela tetap menjawab setiap tuduhan. 

Para tetangga hanya menyaksikan dengan setengah malas. Bukan sekali dua kali Lela dihadapkan dengan perihal seperti itu. Mereka semua sudah lelah menasihati. Tak sedikit yang mencibir dengan hinaan di hadapannya langsung.

"Dasar, tak tahu diri kau, ya!" 

Kembali Lela mendapatkan pukulan pada wajah dan tubuhnya. Novi, wanita setengah baya yang usianya jauh di atas sang suami itu geram lalu memanggil ajudannya untuk membakar Lela sekalian.

"Bakar, wanita ini!" Kedua mata melotot, bibirnya merona bagai delima dengan napas naik turun. "Aku tidak akan lagi membiarkan kau hidup tenang. Aku akan buat wajahmu cacat!" Suara gemerutuk gigi yang berbenturan, Novi melayangkan tendangan dari kakinya yang menjejak high heels.

Dua lelaki berbadan kekar dengan kaus ketat yang melapisi badan, mereka langsung memegang kedua tangan Lela sesuai perintah sang majikan. Tak ada yang berani melerai pertikaian mereka. Para tetangga hanya mengintip dari balik jendela dan pintu rumah mereka. Yang awalnya berani keluar untuk menyaksikan, kini mereka tutup telinga dan masuk ke dalam rumah.

Novi menerima sebuah wadah berisi bensin, ia hampir saja menabur cairan  keras itu ke tubuh lawannya jika tidak segera dicegah oleh Pak RT dan beberapa warga lainnya. 

"Hei, sudah-sudah! Ada apa ini? Hentikan!" 

Mereka memisahkan wanita penuh kemarahan itu dengan Lela. Sedikitpun Lela tak gentar dan terus mengulas seringai mengejek. 

"Usir dia kampung ini, Pak! Dia ini pelakor dan mungkin bibit-bibitnya masih ada di dalam sana juga! Suami saya sudah diporotin habis-habisan sama dia!" Bentakan yang keluar dari mulut wanita bertubuh semok itu mampu membuat para lelaki di sana menyumpal telinga. 

"Kami sudah paham masalahnya, Bu. Tolong, jangan main hakim sendiri dan jangan buat kegaduhan. Sehingga membuat warga di sini terganggu." Pak RT, selalu penengah diantara mereka membuat keputusan. "Kami akan selesaikan urusan ini dengan Bu Lela."

"Awas, ya, kamu!" Novi kembali memberikan peringatan. Wanita itu segera pergi dengan para bodyguard yang siap dengan segala perintah. 

Jantung yang semula berdebar, sekarang sudah mulai bisa diatur. Dua warga yang memegangi lengan Lela pun melepaskannya. Sekarang, dia-lah pusat perhatian semua mata. 

"Sekarang sudah tenang, kami harap Bu Lela ...." Baru setengah jalan Pak RT berbicara, Lela menyerobot masuk ke dalam rumahnya dengan kasar menutup pintu. Benda berbahan kayu itu terlempar begitu keras.

"Maaf, Pak, apa sebaiknya kita usir secara paksa saja? Bagaimanapun juga, kampung kita bakal kena bala' kalau ada penduduk sini yang melakukan perbuatan maksiat," tegas salah seorang warga yang tadi ikut melerai.

"Benar, Pak RT. Kampung kita bakal kena azab. Kita harus usir dia dan anaknya dari kontrakan Pak RT," tambah warga lain.

Beberapa dari mereka yang mulai keluar dari rumah pun menanggapi hal yang sama. Mereka semua setuju dengan usul itu. Namun, nampaknya Pak RT masih terlihat berat. Ia menimbang beberapa resiko dan keselamatan Lela dan putrinya. 

"Sebentar saudara-saudara! Kalau kita usir dia, itu sama saja menelantarkan mereka yang memang notabenenya seorang wanita. Setidaknya kita cari solusi dan pekerjaan yang baik buat Bu Lela agar tidak melakukan tindak asusila lagi." 

Sebagian mereka bersorak tak setuju tetapi sebagian yang lain berpikir menggunakan hati nurani mereka. 

"Halah, Pak, mana mungkin wanita pezina itu bakal tobat? Orang dia semakin hari semakin menikmati saja kelakuannya."

"Sudah-sudah, kita pikirkan nanti saat pertemuan dua hari lagi. Suarakan usul kalian di rumah saya. Kumpulkan warga dan kita akan ambil keputusan yang terbaik." 

Setelah semua disuruh bubar, mereka masih tak puas atas jawaban pria setengah abad itu. Saling berbisik dan memberikan tanggapan seenak mereka.

Tak lama kemudian mereka telah lenyap dari depan pintu kontrakan Lela. Pemandangan tersebut masih terintip dari balik tirai lusuh yang menjadi penghalang antara luar dan dalam ruangan sempit itu.

Lela menghela napas kasar. Ia mencebik dan mengumpat setiap tindakan para tetangganya yang dinilai terlalu ikut campur dalam urusan kehidupannya. 

"Assalamualaikum?" 

Ketukan dari pintu membuat wanita 35 tahun itu menoleh. Ia segera menarik kancing pintu. Terlihat putrinya yang manis baru saja pulang sekolah.

"Kenapa baru pulang? Biasanya siangan, ini udah mau jam empat, Berl!" Seperti biasa, Lela akan melontarkan kata-kata menyakitkan, tetapi gadis manis dengan lesung pipi itu tak pernah lagi memasukkan ucapan Ibunya ke dalam hati.

"Berlian ada mata pelajaran tambahan, Bu. Sebentar lagi ujian dan kelulusan." Gadis berseragam putih abu-abu itu meletakkan tasnya di atas kasur usang yang memang dipakai untuk berdua setiap kali malam tiba. 

Lela hanya menghela napas panjang. Ia menuang air untuk putrinya meski perasaan kesal masih menyelimuti. "Nih, minum dulu!"

Gadis itupun segera meneguknya hingga tandas. Mereka duduk di lantai dengan saling berhadapan. Berlian sempat menduga-duga apa yang kini tengah mengganggu pikiran Ibunya.Lain dengan Lela tampak menatap kosong sambil menyandar dinding.

"Bu," panggil Berlian. 

Sekilas Lela hanya melirik. Ia malas jika anak gadisnya itu banyak bertanya. 

Maju mundur Berlian ingin bicara. Mau tak mau, ia harus mengatakannya pada Intinya. "Berlian belum bayar SPP. Sudah ditagih sama Bu guru."

Lela semakin kesal. Kepala rasanya seperti mau meledak jika beban hidupnya semakin bertambah. Sementara tekanan dari berbagai pihak selalu mengejarnya. 

"Bilang sama Ibu guru kau itu, Ibu bakal bayar nanti."

"Kapan, Bu? Ini sudah nunggak dua bulan. Berlian malu dengan teman-teman." Gadis itu menunduk. Meredam rasa sakit saat mengingat ejekan teman-temannya.

"Apaan, sih? Enggak usah pakai acara tangis-tangisan segala! Ibu enggak suka wanita lemah. Kau harus kuat seperti Ibu. Kalau ada yang membuat sakit hatimu, lawan saja dia!"

Berlian mendongak. Gadis polos itu mengusap wajahnya dengan ujung jilbab. 

"Heh, gue kasih tau, ya!" Tangan wanita berambut ikal itu mencengkeram lengan anak gadisnya, "Elu, kalau mau jadi kuat jangan baperan! Jadi orang jangan peduli sama cacian mereka. Mereka itu cuman iri sama kamu!" 

Berlian yang masih terduduk di lantai mencoba mencerna ucapan wanita itu. Selama belasan tahun hidup dalam asuhan wanita yang kesehariannya bekerja sebagai penyanyi di sebuah club' malam itu membuat Berlian selalu merindukan kasih sayang.

Kehidupan keras yang ia alami, tak membuat sifatnya menjadi buruk. Ia terjaga dengan kepolosan dan pergaulan yang diam-diam selalu dalam pengawasan Lela. Meski setiap hari kerap makan hati, Berlian tak begitu peduli.

*

"Gimana? Bisa, enggak? Malam ini kau akan banjir orderan," bisik sang pemilik club malam saat Lela menerima panggilan dari seberang sana.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status