Share

Chapter 01

Kau tahu? Cinta itu memiliki musim. Ada kalanya ia bersinar dengan keindahan yang membuat kita tersenyum. Namun tak terkadang juga ia menyiram dengan kesedihan yang teramat sangat. Saat kau meniti jalan kecil yang bernama cinta, hanya ada dua tujuan akhir. Bahagia atau nestapa.

Aku yakin semua orang setuju ketika kukatakan cinta sepihak hanya mendatangkan kesedihan. Pilihan terbaik bagi yang menjalaninya adalah mundur sebelum semuanya terlambat. Kendati demikian, ada pula orang bodoh yang akan tetap bertahan meskipun tahu dia akan berakhir seperti apa. Seolah dibutakan harapan, tak lagi mampu berpikir dengan akal logika dan mengabaikan kenyataan. Di dunia ini, ada banyak sekali orang bodoh seperti itu. Aku tahu, aku tak bisa membenci orang seperti mereka. Karena aku adalah salah satunya.

Sudah lebih tiga tahun sejak aku memendam perasaan yang terus berkembang dalam hati. Perasaan itu … tidak pernah kulepaskan sekali pun. Hanya menyimpannya dengan rapi bagai koleksi barang kuno dan menunggu keberanian datang untuk meluapkannya. Hingga akhirnya harus meratap ketika perempuan pujaan hatinya menambatkan perasaanya pada pria lain.

Aku tertawa. Bukankah ini akhir yang pantas untuk pengecut dan pecundang handal sepertiku?

Sakit hati? Sudah tentu.

Cemburu? Pasti.

Menyesal? Jangan ditanya.

Menyerah?

Entahlah. Untuk hal terakhir aku benar-benar tidak tahu. Normalnya orang yang memiliki akal sehat pasti akan berhenti dan mencari wanita lain yang pantas untuk melabuhkan hati. Sayangnya, aku adalah orang gila yang berharap gadis pujaanku akan putus dengan kekasihnya suatu hari nanti. Lalu aku bisa mendekatinya lagi dan memberitahunya tentang perasaan yang selama ini kubingkai rapi.

Cinta ini sudah membara dalam sukma begitu lama, sampai aku tidak tahu bagaimana cara untuk memadamkannya sampai benar-benar hilang.

Kau lihat saja dia hari ini! Gadis yang kusukai  begitu lama berkilau dari pada orang lain. Ia mudah bergaul dengan orang lain, entah itu sesama murid, guru, tukang sapu, atau penjaga kantin. Senyumnya seolah memberi energi pada setiap orang di dekatnya. Tak ayal, hampir di sekolah ini tak ada yang tidak mengenalnya. Hal itulah yang membuatnya menjadi gadis paling populer di sekolah ini.

Sifatnya yang ramah dan rendah hati menjadi panutan banyak orang. Ia tak pernah membeda-bedakan atau menjadi pemilih dalam berkawan. Berkat sifatnya itu, banyak orang yang menyukainya. Lingkaran pertemanannya semakin luas setiap hari dengan dirinya sendiri sebagai pusatnya. Seakan-akan ia adalah protagonis dari dunia ini, sementara yang lain hanya pemain figuran. Benar-benar berbeda jauh dariku yang hanya karakter pendukung, yang mungkin namanya tak akan pernah disebutkan dalam cerita.

“Biar aku bantu, ya, Sena!” ujar gadis bersurai sebahu seraya mengambil setengah dari tumpukan buku paket yang kubawa dengan kedua tangan.

“Ya ampun! Ngga perlu padahal. Kan aku yang disuruh,” protesku yang tidak ingin merepotkannya.

Sebenarnya, pagi ini aku kebetulan bertemu guru Bahasa Indonesia yang akan menjadi mata pelajaran pertama hari ini. Beliau memintaku untuk membawakan buku-buku paket yang cukup untuk semua murid kelas dari perpustakaan. Untungnya buku ini tidak tebal. Jadi tidak terlalu berat bagiku untuk membawa buku-buku ini dengan kedua tanganku. Aku bisa membawanya tanpa kesulitan dari perpustakaan.

Itulah yang akan kulakukan jika saja gadis ini tak ikut campur.

“Nggak apa-apa, kok. Aku juga mau ke kelas. Justru tidak enak rasanya kalau tidak membantu, padahal kita searah. Kita kan teman.”

“Terserah kau saja kalau begitu.”

Senyum manisnya tersungging indah di wajahnya, mengalahkan sinar mentari pagi yang berseri dari ufuk timur. Rambutnya berjuntai mengikuti irama langkah yang ia buat. Sembari bersenandung, gadis itu berjalan di sampingku sembari membawa setumpuk buku dengan tangannya. Penampilannya rapi, seragam yang gadis itu kenakan sesuai dengan standar sekolah. Sebagai murid teladan, ia tak mau melanggar peraturan. Meskipun dia kelihatan begitu sederhana, daya tarik dari dalam dirinya berpendar kuat. Membuat perhatianku terus melekat padanya.

Cinta itu hal yang sangat simpel, ya? Berada sedekat ini dengannya saja sudah membuatku bahagia.

Aku paham betul ia membantuku hanya karena ingin berbuat baik, bukan karna maksud tertentu.  Gadis memang terkenal karena baik dan kerap menolong semua orang. Seharusnya aku membalasnya dengan terima kasih, bukan dengan perasaan. Namun apalah dayaku sebagai remaja yang sama sekali belum mengenal cinta. Hanya dengan perhatian sekecil itu saja sudah membuatku terlena dan salah paham mengartikannya.

Hatiku begitu mendambanya. Setiap aku melihat wajahnya, perasaan bahagia muncul tiba-tiba dan membuat pikiranku melayang jauh kemana-mana.

Misalnya saja ketika kami mengobrol barusan. Entah mengapa pikiranku membuat dunia sendiri di mana aku berandai telah menikah dengannya, lalu kami berjalan berdampingan menyusuri rak etalase di supermarket. Aku mendorong troli belanjaan, sementara ia memilah barang untuk kebutuhan sehari-hari di rumah. Gadis itu lalu menuju etalase kosmetik dan menginginkan sebuah lipstik yang sedang santer diiklankan. Ia memandangiku dengan mata memelas seperti anak kecil. Aku yang lemah dengan sikap lucunya pun tidak kuasa mengiyakan permintaannya.

Sumpah, menghalu itu menyenangkan! Meski tahu itu hanya imajinasi semata, aku tidak bisa berhenti untuk terus membuat dunia sendiri. Aku tudak tahu apa yang akan menantiku nanti, namun setidaknya biarkan aku bahagia walau hanya sekejap saat ini.

Mungkin karena aku terlalu hanyut dalam dunia buatanku, gadis itu menoleh setelah mendapatiku yang tersenyum kegirangan.

“Aku nggak tahu apa yang lucu. Tapi kalau kau tersenyum seperti itu, itu bagus!” ucap gadis itu sembari tertawa kecil.

Suaranya yang renyah masuk dan menggema ke telingaku, lalu turun ke hati dan membuat jantungku berdegup lebih cepat. Sepertinya, apa pun yang ia lakukan selalu membuat hatiku bereaksi. Seperti itulah dia, Ditha Ayu Kirana, gadis yang kusukai selama tiga tahun ini.

Setelah kupikir berulang kali, rasanya sangat mustahil menghilangkan perasaanku padanya yang sudah melekat erat di hati. Mungkin bisa, namun aku tidak sanggup.

Untuk kalian yang memahami perasaanku, tolong beri tahu aku cara terhebat untuk berhenti jatuh cinta!

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status