Share

MBF-8

Waaahhh...

Aku berdecak kagum ketika pintu rumah Bisma terbuka. Rumah yang ku yakini harganya lebih dari 10M itu berisi perabot mewah dan guci-guci antik.

"Ayo masuk!" ajak Bisma membuyarkan lamunanku.

Aku mengikuti langkah Bisma kemudian duduk di sebuah sofa ruang tamu. Seorang pelayan datang meletakkan sebuah minuman di hadapanku.

"Silahkan diminum, Non." ujarnya.

Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Aku menoleh kesana-kemari. Tapi ternyata Bisma sudah menghilang.

"Dimana Bisma?" tanyaku pada seorang pelayan yang berdiri tak jauh dariku.

"Mungkin sedang mandi, Non. Apa Non Mawar juga mau mandi atau beristirahat? Kami sudah menyiapkan kamar untuk Anda." Balasnya.

Belum sempat aku kembali bertanya, seorang pelayan datang dan membisikkan sesuatu ke telinga  pelayan lainnya.

"Mari, Non kami akan mengantar Anda ke kamar. Anda bisa mandi dan berganti pakaian. Semua sudah kami siapkan." ujar pelayan itu.

Aku mengangguk kemudian mengikuti pelayan itu.

Aku memasuki sebuah kamar yang tak lebih besar dari kamarku, tapi jauh lebih mewah dari kamarku. Kemudian pandanganku beralih pada sebuah dress yang tergeletak di atas tempat tidur. Sebuah dress berwarna biru laut yang nampak simple, namun sangat elegant.

"Den Bisma sendiri yang memilihkan dress ini. Kami harap Anda menyukainya." ujar pelayan yang mengawalku.

Aku tersenyum dan mengangguk, sebagai tanda aku sangat menyukainya.

Tak lama kemudian pelayan itu menghilang. Meninggalkanku sendirian di kamar mewah ini untuk mandi dan berganti pakaian.

*

20 menit kemudian....

"Aaaa...."

Aku memekik kaget mendapati Bisma berdiri beberapa langkah di depanku saat aku keluar dari kamar mandi.

"Ssst..."ujar Bisma berjalan cepat ke arahku.

Aku memundurkan langkahku tapi sial, punggungku menabrak tembok.

"Ngapain kamu disini?" teriakku.

"Kamu brisik banget sih?" kesalnya. Loh...harusnya disini aku yang kesal.

"Pergi nggak!" usirku sembari mengibaskan tanganku.

Bisma terkekeh geli. Membuatku semakin geram. Dia kembali memajukan langkahnya dan berhenti tepat di depanku. Rasanya aku ingin menjebol tembok ini agar aku bisa menghindar darinya. Tapi mustahil.

Bisma memegang pundakku dan memutar tubuhku agar menghadapnya. Ia tersenyum melihatku dari atas sampai bawah, kemudian memutar tubuhku ke kanan dan ke kiri. Bahkan handuk yang ku gunakan untuk mengeringkan rambutpun hampir saja terjatuh karena ulah Bisma.

"K..kamu ngapain sih?" ucapku gugup.

Entahlah. Ku rasa ada yang aneh pada  hatiku saat Bisma memperlakukanku seperti ini. Terutama, senyumnya. Aku sangat menyukai senyum itu.

"Sudah ku duga," ujar Bisma.

Aku menyeritkan alisku.

"Gaun ini memang cocok untukmu." lanjutnya kemudian melepaskan tangannya dari pundakku.

"Hey.. bernapaslah!" suruh Bisma sembari terkekeh kecil.

Hh...aku menghela napas panjang. Rasanya sungguh melegakan.

"Ih...Bisma..." aku kembali mendengus kesal saat Bisma memencet hidungku kemudian melarikan diri begitu saja.

Aku berjalan pelan ke arah kaca besar yang ada di kamar itu. Aku melihat pantulan diriku di cermin. Melihat penampilanku mengenakan dress pilihan Bisma. Indah. Aku menyukainya. Semburat merah tampak menghiasi pipiku. Membuatku mengusapnya kasar berkali-kali untuk menghilangkannya.

*

Kini aku tengah duduk manis di dalam mobil Bisma. Aku mendengarkan alunan musik yang berasal dari headset yang terpasang di telingaku. Mataku terpejam, mulutku komat-kamit tak jelas menirukan suara penyanyi yang ku dengarkan.

Aku membuka mataku saat merasakan mobil Bisma berhenti. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, kemudian menatap Bisma dengan tatapan bingung.

"Bis, jangan bercanda deh, aku mau pergi sama keluargaku. Sekarang antarkan aku pulang!" kesalku.

Aku kesal karena Bisma malah membawaku ke sebuah restoran, bukan ke rumahku. Padahal aku sudah mengatakannya berkali-kali, jika malam ini aku akan pergi dengan kedua orang tuaku.

'Krrruuukkk...'

Memalukan. Perutku berbunyi nyaring yang memancing tawa Bisma. Hh..bisa-bisanya pria itu mentertawakanku saat aku sedang kesal begini.

"Cepat turun! Ngomelnya dilanjut habis makan! Aku kasian pada cacing di perutmu." ejek Bisma kemudian turun dari mobilnya.

Aku mengalah. Aku rasa aku sudah tak punya muka untuk berdebat dengannya. Aku turun dari mobil dan mengikuti langkah tunanganku itu masuk ke dalam restoran. Aku bingung, kenapa pria di sampingku ini senang sekali makan di restoran yang begitu mewah? Ini kali kedua dia mengajakku makan di tempat semewah ini.

Aku menghentikan langkahku sejenak, kemudian berlari dan menabrakan diriku pada sesosok wanita yang paling aku cintai. Ibu.

Bagaimana bisa Ibu ada disini?

"Kok Ibu bisa disini sih? Aku pikir Bisma akan menculikku." ujarku membuat Ibu terkekeh kemudian melepas pelukanku.

"Ini semua ide Bisma. Bisma yang menyiapkan semua ini untuk kamu, sayang." Ibu.

Aku melihat ke sekelilingku. Sebuah privat room di restoran mahal yang berisikan keluargaku dan keluarga Bisma. Aku melirik ke arah pria mengagumkan itu.

"Makasih!" ujarku sembari tersenyum.

Dia mengangguk kemudian menarik sebuah kursi dan mempersilahkanku duduk. Sementara ia sendiri mengambil posisi duduk di sampingku.

"Biasanya kita ngerayain cuma bertiga atau berempat saja, sekarang sudah ada Bisma dan orang tuanya yang sebentar lagi menjadi keluarga kita." ujar Ayah.

"Kami juga senang sebentar lagi akan berbesan dengan keluarga Kusuma, dan memiliki menantu secantik Mawar." balas Om Rio.

"Bisma, kamu harus jaga baik-baik tunangan kamu! Mama sama Papa nggak mau kehilangan dia sebagai calon menantu kami." sambung Tante Kamila.

Aku menatap ke arah Bisma. Melihat reaksi apa yang akan ia berikan. Aku tersenyum ketika melihat bisa mengangguk mantab dan berkata,

"Tentu saja, Ma. Aku tidak akan mengecewakan kalian."

Entahlah. Hatiku tiba-tiba terasa hangat. Kalimat yang Bisma ucapkan seakan meyakinkanku jika ia akan selalu disisiku selamanya.

Acara makan malam telah usai. Ku rasakan handphoneku bergetar. Akupun segera mengecek sebuah pesan yang masuk dan membacanya.

'Ikutlah denganku! Aku akan menunjukkan hadiahku.'

Aku tersenyum setelah membaca pesan singkat dari Bisma itu. Benar-benar singkat. Namun cukup untuk membuat hatiku berdetak lebih cepat.

Aku melirik ke arah Bisma. Tapi dia tampak biasa saja. Ia mengambil segelas air putih kemudian meminumnya. Sesaat setelah itu, suaranya mulai terdengar.

"Saya ingin meminta izin untuk membawa Mawar sebentar, apakah boleh?" tanya Bisma sembari menghadap ke arah Ayah.

"Silahkan saja! Tapi jangan pulang terlalu malam. Karena besok Mawar harus kuliah." balas Ayah sembari tersenyum ramah.

Bisma mengucapkan terima kasih kemudian menarikku untuk berdiri dan berjalan dengannya ke arah parkiran.

'Blam'

Aku menutup pintu mobil Bisma perlahan, kemudian mengalihkan pandanganku ke kanan, menatap Bisma.

"Kita mau kemana?" tanyaku.

"Memperlihatkan hadiahku." balas Bisma santai.

Setelah mengucapkan itu, Bisma segera menjalankan mobilnya. Aku hanya diam dan menunggu kemana ia akan membawaku.

Bisma memberhentikan mobilnya di sebuah restoran outdoor yang menurutku...romantis.

"Tapi kita baru saja selesai makan." bingungku.

"Memangnya restoran hanya bisa untuk makan saja? Ayo turun!" titahnya.

Aku keluar dari mobil dan mengikuti langkahnya.

Pandanganku menyapu ke segala penjuru. Sepi. Hanya ada beberapa pelayan yang bersiap menyambut tamu. Restoran seindah ini aku pikir tak mungkin jika tak memiliki pengunjung satupun. Tidak. Mereka punya. Aku dan Bisma. Tapi ku rasa itu tak cukup. Aku tau selera anak muda sekarang, mereka akan lebih memilih datang ke restoran bertema 'garden' seperti ini daripada restoran mewah dengan menu-menu mahal.

Aku terpenjat saat tiba-tiba Bisma menarik tanganku agar aku mempercepat langkahku.

"Bis.. kok sepi sih? Emang makanan disini nggak enak ya? Apa restorannya angker?" tanyaku sembari bergedik ngeri.

Ku lihat Bisma hanya terkekeh mendengar pertanyaanku.

Aku kembali terkejut saat Bisma menekan kedua bahuku untuk duduk di sebuah kursi yang letaknya tepat di tengah taman. Aku menatap ke sekelilingku.

"Wahh...."

Aku terpesona melihat tatanan indah dan lampu-lampu hias mengelilingi aku dan Bisma. Apakah ini hadiah dari Bisma?

"Tidak perlu sekagum itu. Ini hanya sesuatu yang sangat sederhana." ujar Bisma.

Aku mengalihkan pandanganku padanya.

"Seperti ini kamu bilang sederhana? Enggak Bis.. ini keren banget." balasku.

Bisma tersenyum kemudian memanggil seorang pelayan.

"Kamu mau makan lagi?" tawar Bisma.

Aku menggeleng.

Ku lihat Bisma membisikkan sesuatu pada pelayan itu. Namun aku tak peduli. Aku masih menikmati pemandangan di sekitarku.

"Apa pacarmu sebelumnya tidak pernah memberimu hadiah seperti ini?" tanya Bisma.

Aku kembali menatap pria itu. Pacar? Siapa yang dia maksud.

"Aku belum pernah pacaran. Ayah melarang keras hal itu." jawabku jujur.

Bisma kembali terkekeh. Membuatku merasa agak kesal.

"Jangan rusak moment ini, Bisma!" keluhku.

Bisma mengangguk mengerti. Tumben. Patuh sekali dia hari ini.

Seorang pelayan kembali datang sembari membawa kue besar yang diatasnya terdapat banyak lilin. Aku hampir saja memekik kegirangan kalau saja Bisma tidak menahanku.

"Happy birthday, My Fiance!" ucap Bisma setelah pelayan itu meletakkan kue itu di atas meja kami.

Terkesan sangat biasa. Tapi...aku merasakannya sebagai sesuatu yang berbeda.

Selama ini, aku tak pernah merayakan ulang tahunku selain dengan makan malam bersama keluargaku. Aku memang tidak terlalu menyukai pesta. Terutama pesta ulang tahun. Apa yang spesial dari sebuah pesta yang diadakan satu tahun sekali? Tapi...hadiah dari Bisma ini, kenapa aku sangat menyukainya? Aku merasa seperti sedang bermimpi indah. Aku menyukai segala sesuatu yang ia siapkan.

"Kenapa cuma diam? Nggak mau tiup lilinnya?" tanya Bisma membuyarkan lamunanku.

Aku masih terdiam menatap kue itu. Sesaat kemudian aku tersadar ketika Bisma menyentuh punggung tanganku.

"Make a wish dulu!" ujarnya.

Aku memejamkan mataku dan mengatupkan kedua tanganku.

'Aku harap, dia akan selalu ada dan mengubah hidupku seperti mimpi yang indah.'

Husss...

Api api di atas lilin itu sudah padam. Bisma nampak tersenyum, dan sekali lagi ia memberi ucapan selamat padaku.

"Oh...aku lupa hadiahnya!" ujar Bisma.

Aku menyerit bingung. Hadiah? Bukankah semua ini adalah hadiahnya?

Bisma memanggil salah seorang pelayan. Hatiku semakin bertanya-tanya saat melihat seorang pelayan datang membawa sebuah kotak berukuran sedang dan memberikannya pada Bisma.

"Masih ada lagi?" tanyaku seakan tak percaya.

Bisma tersenyum tipis menanggapiku.

"Tutup kedua matamu!" pintanya.

"Kenapa?"

"Menurut saja, Mawar!" Bisma.

Aku menutup mataku. Mematuhi perintah Bisma. Ku dengar suara kaki kursi bergesekan dengan lantai. Kemudian, terdengar suara langkah kaki berjalan ke arahku, lalu berhenti tepat dibelakangku. Aku bergedik ngeri, karena tak mendengar suara Bisma sedikitpun.

"Bis..."panggilku.

Bisma masih tak menyahutiku.

Aku merasakan sesuatu yang dingin di leherku. Aku menyeritkan alisku bingung, masih dengan mata tertutup.

"Sekarang buka matamu!" suruh Bisma.

Aku segera membuka mataku kemudian menolehkan kepalaku ke belakang. Terlihat Bisma tersenyum kemudian berjalan dan duduk kembali ke kursinya tadi. Lalu, tatapanku jatuh ke leherku. Disana sudah bertengger sebuah kalung berliontinkan bunga mawar yang sangat cantik. Aku menyentuh liontin itu dan mengusapnya hati-hati.

Tunggu!! Sebelumnya aku tak suka memakai kalung. Tapi kenapa sekarang aku begitu menyukainya?

"Jangan sampai hilang!" ujar Bisma membuatku mendongak menatapnya.

"Aku nggak tahu mesti ngomong apa sekarang." balasku.

Bisma terkekeh kemudian mencubit pipiku gemas. Aku seakan tak dapat merasakan sakit. Aku hanya tersenyum pada pria di hadapanku ini.

"Kuenya tidak kamu makan?" Bisma.

"Aku ingin. Tapi aku masih kenyang." Balasku.

"Yaudah. Ayo pulang! Sudah jam sembilan lebih." ajak Bisma.

"Tapi kuenya?" bingungku.

"Biarkan saja. Besok aku belikan kalo kamu mau," jawab Bisma seenaknya.

Jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 11.30. Hari ini adalah hari Sabtu, dan aku libur kuliah. Tapi...nyatanya libur kali ini aku masih di temani satu tumpukkan buku dan beberapa helai kertas di hadapanku. Tugas.

Membuatku mengabaikan ajakan Bisma untuk jalan dengannya. Bahkan aku hampir saja telat makan jika Ibu tidak mengantarkan sarapanku ke kamar.

'Cklek'

Aku enggan menolehkan kepalaku. Aku yakin, yang datang adalah Ibu, sama seperti dua jam yang lalu. Mataku masih fokus menatap beberapa kertas HVS di tanganku. Aku harus segera menganalisisnya dan menulisnya sebagai laporan. Dengan begitu tugasku selesai.

"Aaa..."

Aku terpenjat, hampir saja aku terjengkal mendapati wajah seseorang berada tepat di di sampingku, menatapku dengan senyuman khasnya.

Dia adalah Bisma.

"Hehehe.. serius banget sih kamu habisnya." tawa Bisma berhasil menambah kadar kekesalanku.

"Iya maaf. Tugas apaan sih? Sampe segitunya?" tanya Bisma.

"Analisis jurnal. Susah banget, dari tadi nggak ngerti-ngerti." keluhku.

Bisma tersenyum.

"Mau aku bantu?" tawar Bisma.

Kapan lagi seorang Bisma membantuku mengerjakan tugas kuliah? Tapi..ah aku tidak mau terlihat bodoh di depannya. Aku menggeleng. Membuat Bisma menyerit kebingungan.

"Aku bisa kok." Ujarku sedikit berbohong.

"Katanya susah?" Bisma.

"Iya tapi aku bisa." Geramku.

Bisma mengangguk mengerti kemudian mengambil posisi duduk di single sofa pojok kamarku. Aku kembali fokus pada tulisan-tulisan di hadapanku. Ah..sama saja. Susah sekali.

Aku meletakkan wajahku dengan kasar di atas meja. Memejamkan mata sebentar, meredakan rasa perih di mataku karena terlalu lama membaca.

"Ih....kesel banget kan jadinya sama Pak Cahyo." kesalku.

Terdengar suara kekehan, dan aku yakin itu adalah suara Bisma. Aku enggan menyahutinya.

Aku kembali membolak-balik halaman kertas di hadapanku. Menatapnya dengan serius, nyaris tak berkedip. Sesekali aku mendongakkan kepala ku, menatap entah kemana untuk memikirkan bagian-bagian dari jurnal di depanku. Sedikit-sedikit aku mulai paham. Kemudian aku mulai menuliskan bagian yang telah aku pahami.

'Krrruukkkk'

Perutku terasa lapar. Aku melirik ke arah jam dinding dan ternyata sekarang sudah pukul 12.57. Aku merenggangkan tubuhku dan mengambil gelas di ujung meja, tapi ternyata gelas itu sudah kosong. Aku menoleh ke belakang, ke arah single sofa di pojok kamarku. Tapi ternyata Bisma sudah tidak ada disana.

Hh... aku kembali meletakkannya dan kembali beralih pada jurnal di depanku. Kini aku sudah mengerti isi dari jurnal itu. Tinggal menulis laporan saja.

'Cklek

Mungkin itu Bisma. Aku menoleh padanya, lalu tersenyum.

"Gimana? Udah selesai?" Bisma.

Aku menggeleng.

"Tinggal nulis laporan aja sih." Balasku.

Bisma berjalan ke arahku kemudian membereskan kertas-kertas di atas meja belajarku. Aku menyetitkan alisku bingung.

"Ayo kita makan! Bawa saja tugasmu! Biar nanti aku bantu mengerjakannya di rumahku." Bisma.

"Rumahmu?" tanyaku.

Bisma mengangguk kemudian menatapku.

"Jam dua nanti ada client yang mau berkunjung sebentar ke rumahku. Jadi setelah makan siang aku harus pulang. Tapi aku juga ingin membantumu agar tugasmu cepat selesai. Ayo!" ajaknya sembari menarik tanganku agar segera berdiri.

"Oh..aku ganti baju dulu. Kamu tunggu saja di bawah!" tolakku.

Bisma mengangguk. Setelah memasukkan kertas-kertas tugasku ke dalam salah satu tas kuliah yang biasa ku pakai, ia keluar dari kamarku.

*

Aku dan Bisma berada di sebuah restoran indoor di tengah kota. Pesanan kami baru saja datang beberapa menit lalu. Membuat pembicaraan antara kami terhenti untuk beberapa saat. Sesekali aku mencuri pandang ke arah Bisma. Namun...sial, aku tertangkap basah olehnya.

"Kenapa sih ngeliatin gitu? Suka?" Bisma.

Aku berdecak kesal mendengar pertanyaannya. Percaya diri sekali dia.  Padahal..aku hanya....ah entahlah. Aku sendiri tidak tau kenapa aku sangat suka melihatnya. Bisma terkekeh melihatku yang mungkin menurutnya 'lucu'.

"Kamu kalau makan lama banget sih?" Bisma.

"Kan aku makan pakai di kunyah. Emang kamu, asal telan aja." balasku.

"Enak aja..aku juga di kunyah dulu kalau makan. Tapi nggak lama kayak kamu." Bisma.

Bisma mencubit pipiku yang penuh dengan makanan. Sepertinya ia senang sekali menggangguku. Mungkin menggangguku adalah hobi barunya.

"Kamu buru-buru ya?" tanyaku.

Ya siapa tau saja, dia lagi buru-buru, tapi nggak enak bilang sama aku.

Bisma menggeleng.

"Udah.. habisin aja makanannya! Nggak boleh disisain." Bisma.

❤❤❤

Bersambung ....

Aku mengangguk kemudian kembali menyantap makananku.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status