Share

Money And The Power
Money And The Power
Author: Sabrina Angelitta

1. Tiada Toleransi

  Gadis cantik yang berumur 16 tahun itu sudah mengurung diri selama tujuh hari. Ia hanya minum tanpa menyentuh makanan. Mentalnya sangat tergoncang setelah  perundungan yang terjadi pada sahabatnya sampai menyebabkan kematian.

     Gadis itu bernama Kiana. Ia anak ketiga dari Delice Kaleid dan Naura Kanesha. Kiana, Renza dan Zavier, mereka merupakan keturunan NAGA HITAM. Kekuasaan dan uang sudah mereka miliki bahkan sebelum mereka dilahirkan tapi mereka memilih melatih diri di luar rumah. Mencoba menerjang kejamnya kehidupan di negara lain.

Tok... Tok... Tok...

“Kiana—“

       Naura belum berbicara tapi Kiana keluar dari kamarnya dengan memakai seragam. Ia tersenyum seperti bebannya telah hilang. “Ibu, ayo kita sarapan bersama,” ajak Kiana.

      Naura sebagai Ibunya merasakan sebuah kejanggalan tapi melihat Kiana yang semangat lagi menjalani kehidupannya, Naura menghilangkan kejanggalan itu. 

“Ayo! Semuanya sudah menunggumu!”

*** 

      Sebelum sampai di sekolah, Kiana membeli setangkai bunga mawar putih kesukaan Meysha, sahabat Kiana yang baru saja meninggal tujuh hari yang lalu. Tangan Kiana gemetar, air matanya menetes bagaikan salju. Semua teman sekelasnya, menatap Kiana yang meletakkan bunga itu di atas meja milik Meysha.

‘Meysha, aku minta maaf karena tidak menepati janjiku karena kali ini, aku akan melewati batasanku,’ batin Kiana.

Tap... Tap... Tap...

     Terdengar suara senda gurau dari arah pintu. Tiga orang siswa dan dua orang siswi tengah menikmati hari mereka dengan sangat baik. Aura dari Kiana langsung berubah. Tatapannya dipenuhi amarah. 

“Apa kalian semua bisa keluar?” teriak Kiana. “Kecuali lima orang bedebah sialan itu!” imbuhnya sembari menunjuk tajam ke arah siswa dan siswi itu. 

“Kau sedang menantangku, anak manis?”

“Suaramu itu, menyakiti telingaku Carl!” ucap Kiana.

      Serempak murid-murid itu keluar dari kelas. Tinggallah Kiana dengan lima murid yang tersisa. Kelopak bunga mawar segar itu, satu demi satu mulai gugur. Seakan menjadi pertanda buruk.

“Kau ingin membalaskan kematian sahabatmu?”

Buak!

        Tidak segan-segan, Kiana melemparkan kursi menggunakan satu tangannya. Kekuatannya berubah drastis. “Jangan sebut dia dengan mulut kotormu itu!” teriak Kiana.

       Para murid melihat perkelahian yang seru dari jendela yang bening. Kiana tidak peduli berapa orang yang menontonnya. Hanya dendam yang terus menyelimuti pikirannya. Kiana bahkan tidak peduli jika targetnya akan mati.

“Kenapa? Kau ingin juga dilempar dari atap?”

“Atap?” Kiana langsung tercengang.

Kretek!

       Tangan Kiana gemetar. Ia meremas ujung meja sampai hancur. Matanya yang merah menyala, berubah putih seperti mata ular. Dia bukan Kiana yang bisa dikendalikan.

       Kiana membuka kemeja seragamnya yang berlengan panjang. Menyisakan kaus tanpa lengan berwarna hitam. Lima murid yang ada di dalam bersamanya menggigil. Untuk pertama kalinya, mereka melihat tanda lahir yang seakan hidup dan semakin besar. Gambar naga dan memenuhi punggung Kiana bahkan lengan dan area dadanya.

“Di—dia bukan manusia...”

“Be—benar. Di—dia iblis.”

       Mereka mencoba kabur tapi Kiana menarik rambut dua orang yang sudah dekat dengan pintu. Tiga orang lainnya masih bertahan karena mereka hanya bisa mengulur waktu sampai guru datang.

“Tidak akan ada yang bisa menyelamatkan kalian! Kalaupun aku membunuh kalian di sini, aku hanyalah anak di bawah umur yang tidak akan mendapatkan hukuman berat,” ucap Kiana.

        Murid sebelah kiri yang Kiana cengkram rambutnya, diposisikan seperti bola. (Buak). Suara keras itu terdengar hampir merusak gendang telinga.

Brak!

        Kiana menendang kepala murid itu sampai ia terguling menabrak beberapa meja belajar. Tiba giliran orang yang ada dicengkram dengan tangannya yang lain. Kiana mencekik lehernya. Mengangkat tubuh pria itu dengan satu tangannya.

“Uhhhhhhh! Le—lepaskan!” rintihnya.

“Apa kalian menyiksa Meysha seperti ini?” tanya Kiana. “Jawab, sialan!” bentak Kiana.

 Brak! Buk! Buk!

       Kiana melemparnya ke dinding. Ia menendangnya berulang kali. Dendam itu benar-benar menjadikan Kiana hilang arah dan tujuan. Ia bahkan tidak peduli jika ia membunuh orang lain dengan cara yang paling keji.

“Sialan! Kau pikir kau sehebat itu sampai kau berani mencegahku keluar?” teriak Carl.

Grep!

Buak! Buak! Buak!

“Hebat atau tidak, ayo kita buktikan. Siapa yang mampu bertahan sampai akhir. Kau atau aku?!”

Buak!

Buak!

        Kiana tidak terima karena kematian Meysha hanya dianggap sebagai kecelakaan dan tidak diperpanjang. Jika keadilan itu tidak didapat, Kiana mencari keadilan untuk Meysha dengan cara memberikan hukuman yang sama.

*** 

“PEMBUNUHAN!”

“PEMBUNUHAN!”

        Beberapa murid yang melihat Kiana mengamuk seperti iblis, berlarian. Mereka takut akan menjadi sasaran selanjutnya karena kesadaran Kiana perlahan mulai sepenuhnya hilang dan dikuasai oleh dendam.

Drap... Drap... Drap...

       Lonceng untuk jam pertama sudah berbunyi. Guru keluar dari ruangan tapi mendengar keributan itu meski tidak ada yang melapor, para guru langsung bergegas. Guru matematika mencegat satu siswa yang berlarian dengan wajah panik dan pucat pasi.

“Apa yang terjadi?”

“Kiana dari dari 2 1-1, membunuh orang, Pak.”

“Apa?” pekiknya.

          Kerumunan semakin ramai. Anak-anak nakal berkumpul sedangkan yang penakut berlarian mencari aman. Para murid memberikan jalan. Salah satu guru membuka pintu kelas.

“Astaga!”

        Pemandangan yang sangat mengerikan.  Dua murid terbaring dilantai dengan meja yang mengubur tubuhnya. Dua murid lagi berdiri tanpa sadar dengan horden jendela yang menjerat leher mereka. Ditangan kiri Kiana sudah ada Carl yang ia cekik dengan wajah berlumuran darah bahkan beberapa giginya terlepas.

“Kiana, hentikan!” Salah satu guru berusaha mencegahnya.

      Kiana melirik tajam dengan matanya yang putih sempurna. “Jangan coba-coba untuk menghentikanku!” gertak Kiana.

       Jangankan guru, Zavier yang merupakan adik Kiana dan Renza yang juga kembaran Kiana tidak dapat menyadarkan Kiana bahkan mereka juga menjadi korban kejamnya pukulan Kiana. 

“Jangan mengganggunya kalau kalian tidak ingin mati,” gumam Zavier.

“Ap—apa mak—“

“Tunggu sampai Daddy datang!” seru Renza.

      Kiana memegang tongkat kecil yang ia sembunyikan. Tongkat adalah batasan Kiana. Tanpa ada tongkat itu, murid yang menjadi targetnya pasti sudah mati. Suara langkah kaki terdengar mendekat. Kiana mengarahkan tongkat itu ke mata Carl tapi...

“Kiana!” teriak Ken.

        Ken Andra adalah Ayah angkat Kiana. Hanya dia yang bisa mengendalikan jiwa iblis Kiana jika sudah terbangun. “Kiana, hentikan!” ucap Ken lirih sembari mengatur nafasnya.

“Berhenti?” Kiana tersenyum masam. “Seharusnya kalian juga menghentikan bedebah ini saat dia mencoba untuk membunuh Meysha!” teriak Kiana.

“Dengarkan, Daddy. Daddy yang akan mencari keadilan untuk Meysha.”

“Tidak! Kalau bedebah ini mati, keadilan itu baru terlihat.”

“Kiana—“

“Aku akan memberikan keadilan yang paling adil karena hukuman yang pantas adalah nyawa dibayar nyawa.”

Buak! Buak! Buk!

       Mungkin saja Carl mati, koma atau ia masih hidup setelah Kiana membabi buta memukulnya dengan tangannya sendiri sampai Kiana merasa lelah. Para guru hanya bisa menutup mata mereka melihat kekejaman itu.

“Kiana—“

       Kiana menoleh dan tersenyum. Perlahan, matanya berubah menjadi merah dan terpejam. Ken dengan sigap menangkap tubuh Kiana sedangkan Carl lemas tak berdaya tanpa kepastian dalam hidupnya.

“Meysha—“ gumam Kiana.

       Ken mengepalkan tangannya. Ia sangat marah karena Putri yang sangat ia cintai diperlakukan seperti itu tanpa keadilan. Ken menggendong Kiana dan menggertakkan giginya.

“Aku akan menuntut balas atas nama putriku!”

Comments (1)
goodnovel comment avatar
S Rohmah
Awal cerita aja udah sekeren ini....... Kianaaa lanjutkan,basmi semua kecoa2 yang mengganggu mu.. .........
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status