Share

5. Anak Mafia

      Naura berdiam diri di dalam kamar mewah yang selalu menjadi tempat istirahatnya setiap kali sekujur tubuhnya lelah. Ia ditemani oleh suaminya, Delice. Suasana hati Naura sedikit berkecamuk dengan permasalahan yang harus dihadapi akhir-akhir ini.

“Delice, apa kau sungguh akan melibatkan anak-anak dalam hal ini?” tanya Naura.

“Mereka harus mulai terbiasa dengan masalah sebesar apapun.”

“Bukankah mereka terlalu kecil untuk itu?”

        Bagaimanapun, hati seorang ibu tidak akan merasa tenang. Akan ada badai yang datang dan anak-anaknya harus menghalau. Naura takut kalau anak-anaknya terkekang dan tidak menikmati masa kecilnya dengan indah.

“Aku tahu kalau kau khawatir tapi percayalah, Naura. Aku akan tetap berada di belakang mereka.”

“Menghancurkan lima perusahaan, aliansi dan beberapa crew, bukankah itu sangat berat untuk dihadapi oleh usia mereka yang masih belasan?” tanya Naura.

       Delice mengusap lembut wajah istrinya. “Itu sudah menjadi tugas mereka karena terlahir dari rahimmu.”

*** 

      Kiana memperhatikan mereka, preman yang entah datang dari mana. Kiana tidak bertarung dengan buru-buru. Ia selalu menggunakan logikanya sebelum mengayunkan serangan dalam bentuk apapun. Baginya, jika tubuhnya terkena pukulan adalah kesalahan fatal.

Sret!

“Pegang tasku!” ucap seorang pria yang menggunakan seragam seperti dirinya.

“Siapa kau? Ini urusanku,” ucap Kiana. 

“Aku tidak akan tega membiarkan wanita melukai tangannya. Biarkan aku membantumu untuk mengambil cincin Ibumu.”

      Kiana diminta untuk memegang tasnya. Pria itu maju dengan sangat gagah. Meski wajahnya terbilang muda, Kiana bisa menilai kalau dia bukanlah berusia seperti anak SMA.

Bugh! Bugh! Bugh!

       Kiana mengernyitkan keningnya. Pukulan telak itu melumpuhkan para preman jalanan. Beberapa orang dewasa ditebas habis tanpa sisa. 

Tap... Tap... Tap...

       Pria itu berbalik dan kembali menghampiri Kiana. Entah kenapa, angin tiba-tiba menerpa. Mengibaskan rambut mereka seolah-olah pertemuan itu adalah takdir. Dengan tangannya yang berdarah, pria itu memberikan cincin yang berhasil ia dapatkan.

“Ini milik Ibumu. Benar, bukan?” 

“Benar. Terimakasih sudah membantuku mendapatkannya kembali. Apa aku boleh tahu, siapa namamu?”

“Panggil saja, Rai.”

      Kiana ingin tahu banyak tentangnya. Ia tiba-tiba memiliki ketertarikan lebih. “Apa kau mau berbincang denganku? Setidaknya, biarkan aku mengobati lukamu,” ucap Kiana.

“Sekarang aku tidak bisa. Mungkin lain kali kalau kita bertemu lagi.” Rai mengambil tasnya yang masih berada ditangan  Kiana.

“Kalau begitu...” Kiana sedikit ragu untuk bicara. “Kenapa kau membantuku? Bukankah kau sedang terburu-buru?” tanya Kiana.

       Rai mengusap ujung kepala Kiana dengan sebelah tangannya yang bersih. “Karena aku tidak ingin kau terluka.”

       Rai pergi dengan meninggalkan senyuman yang membekas di hati Kiana. Kiana membalas senyuman itu sembari berdoa. ‘Semoga akan ada takdir yang mempertemukan kita lagi, Rai,’ batin Kiana.

       Tanpa Kiana sadari, ada seseorang yang tengah bersembunyi dan menggerutu seorang diri. Ia memperhatikan Kiana di balik pohon besar yang menutupinya.

“Daddy!” teriak Kiana. “Kalau Daddy tidak menemuiku, aku akan blokir Daddy!” teriaknya lagi.

Srek... Srek... Srek...

       Ken keluar dari tempat persembunyiannya. Bibirnya manyun sampai bisa diikat oleh sebuah tali. Ia merasa cemburu, Kiana bisa berekspresi lain dengan pria asing.

“Ckk... Aku memang tidak bisa bersembunyi darimu,” ucap Ken.

“Lagi-lagi, Daddy menjebakku.”

“Siapa pria itu?” tanya Ken.

“Cih! Jangan mengalihkan pembicaraan,” ucap Kiana.

“Putriku sudah mengerti cinta, ya?”

“Daddy, aku tidak begitu.”

“Daddy cemburu, nih. Tuan Putriku direbut oleh pria yang lebih muda dariku.” Ken bertingkah layaknya ayah kandung yang belum rela kalau putrinya mencintai pria lain.

“Daddy!”

“Apa?” jawab Ken singkat.

“Daddy harus aku hukum. Bisa-bisanya menjebak anak sendiri untuk berkelahi.”

“Kau juga harus Daddy hukum. Bisa-bisanya tersenyum begitu dengan pria asing.” Ken tidak mau kalah sama sekali. 

“Gendong aku sampai ke rumah.”

      Ken langsung membelakangi Kiana. Ia membungkukkan punggungnya dan menggendong anak gadisnya. “Kau harus buatkan Daddy kue dan teh hangat, oke. Deal?”

“Deal!”

       Kiana merasa sangat nyaman setiap kali dalam perlindungan Ken. Ken adalah seorang ayah angkat yang selalu ada untuknya. 

“Daddy, sebenarnya tugas apa yang harus aku lakukan? Aku belum mengerti.”

“Begini... Ada satu orang jenius. Dia seumuran denganmu. Mendirikan lima perusahaan. Masing-masing dari perusahaan memiliki pemimpinnya tersendiri. Ada pemimpin lain di balik pemilik yang sebenarnya. Dia menggerakkan perusahaan itu dibidang  ilegal.”

“Hubungannya dengan kita apa?” tanya Kiana.

“Dia meminta bantuan untuk melenyapkan lima perusahaan.”

“Bukankah hanya perlu masuk dan menemukan seritifikat ilegal?” tanya Kiana.

          Jika prosesnya sesingkat dan semudah itu, orang yang Ken maksud tentu saja bisa menyelesaikannya sendiri tapi lima perusahaan itu sudah mencetak sebuah aliansi dan memiliki beberapa crew yang menyokong menjadi kaki yang kuat.

        Anak jenius yang Ken katakan, berhasil mengumpulkan anak seumurannya untuk menjadi pemimpin. Sayangnya, ada hal lain yang ia sembunyikan. Sampai-sampai, siapa dirinya juga hanya segelintir orang yang tahu.

“Sebelum menjatuhkan kepalanya, bukankah kita harus melumpuhkan kakinya?” tanya Ken.

“Jadi?” tanya Kiana.

        Mereka berdua membicarakan hal serius sembari berkeliling. Kiana masih tetap berada di punggung Ken. Berputar-putar cukup lama, Ken akhirnya menurunkan Kiana setelah sampai di mobil.

“Kita bicarakan di dalam mobil. Bahkan angin sekalipun, bisa memiliki telinga.”

       Kiana menghempaskan tubuhnya. Ia langsung bisa merasakan dingin merasuk melalui pori-pori kulitnya. Kiana menarik nafasnya dalam-dalam karena pembahasan selanjutnya akan memakan banyak tenaganya.

“Jadi, bagaimana?” tanya Kiana.

“Dari lima  perusahaan, ada satu aliansi yang membentuk suatu crew. Crew itu berada di sekolah yang kau tempati.”

“Apa nama crewnya?” tanya Kiana.

“Crew Dogmho dan Cranch. Jika tidak bisa menghancurkan crew itu, ajak mereka untuk bekerjasama.”

“Ah... Melelahkan,” keluh Kiana.

        Ken melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Rai. Mengusap ujung kepala Kiana dan menatapnya dengan lembut. “Apa kau menyesal karena terlahir sebagai anak dari seorang mafia?” tanya Ken.

“Daddy, aku terlahir istimewa. Aku tidak menyesal sama sekali. Posisi yang aku tempati saat ini, banyak anak lain yang menginginkannya.”

*** 

BRAK!

         Rael mendorong pintu menggunakan tongkat yang ia bawa. Di dalam gedung itu, ada beberapa orang yang menatap tajam ke arahnya. Rambut Rael tetap menutupi setengah dari wajahnya. Tidak ada siapapun yang tahu, seperti apa wajah Rael.

“Aku datang bukan untuk mengganggu,” ucap Rael.

     Dari tatapan semua orang, menunjukkan sebuah tanda tanya di mata mereka.

“Teo!” panggil Rael.

“Iya, Tuan Muda.”

“Kau masih tahu posisimu ternyata,” ucap Rael.

          Tidak ada orang yang berkutik di sana. Kedatangan Rael seolah-olah memberikan aura lain dalam ruangan yang sudah panas. Rael begitu misterius. Dia seperti orang yang berpengaruh tinggi di tempat yang ia pijaki.

“Teo, kau bertemu dengannya, bukan?”

“Murid baru?” tanya Teo.

“Iya. Apa kau sudah membuat masalah dengannya?” tanya Rael.

“Masih aku perhitungkan.”

“Kau atau kalian semua, boleh melawannya tapi jangan sampai kalian menggores kulitnya.”

Comments (2)
goodnovel comment avatar
Dita Alya
masih nyimak sampai sini..
goodnovel comment avatar
Rii
Penasaran bgt sm kelanjutannya. Wktu bca ngerasa kebawa nuansa yg di part 1. Buruan up lg ya thor. Semangattt ......️
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status