Share

Bab 3

Pukul sepuluh malam aku mendengar deru mobil memasuki halaman rumah, dengan gerak cepat tangan menutupi diri dengan selimut sambil memejamkan mata. Mas Agung punya kunci cadangan, jadi tidak perlu repot membukakan pintu untuknya.

"Dek, mas pulang!" serunya, tetapi tetap diam tanpa sahutan.

Mas Agung mengelus pucuk kepalaku, berakhir dengan hadiah kecupan pada kening. Ingin muntah dengan tingkahnya, tetapi misi harus tetap dijalankan. Sengaja aku mengeluarkan suara dengkuran halus untuk mengelabui.

"Sepertinya kamu lelah mengurus rumah, Dek. Maafkan mas yang selalu pulang telat."

'Buaya!' omelku dalam hati.

Aku pikir Mas Agung akan langsung tidur, ternyata langkahnya terdengar menjauh. Pelan-pelan aku membuka mata, memindai sekeliling karena lampu utama masih menyala, dia tidak ada.

Dengan gerak sangat pelan, aku mencoba turun dari tempat tidur melangkah ke luar kamar setelah menyambar ponsel yang ada di bawah bantal.

Dari arah dapur ada suara lelaki, itu milik suamiku. Kaki mengendap-endap bagai maling yang takut ketahuan pemilik rumah.

Posisi Mas Agung membelakang, dia berdiri di depan kulkas. Tangan kirinya menempelkan benda pipih itu pada telinga. Aku yakin, dia sedang menelepon selingkuhannya.

"Ningsih sudah tidur, bahkan mendengkur. Jadi, mas bisa telepon kamu sebelum tidur."

Hening beberapa saat.

"Iya, mas juga kangen banget sama kamu. Andai saja bisa, mas mau tidur sambil meluk kamu lagi."

'Lagi?' batinku mengerutkan dahi.

"Mas kan sudah bilang, kamu selalu jadi pemilik hati ini satu-satunya. Dari dulu juga begitu, bahkan setelah aku menikah dengan Ningsih."

Kedua mataku membulat sempurna, mulut sedikit terbuka karena tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Jika sejak dulu cinta Mas Agung untuk perempuan itu, apakah berarti dia perempuan masa lalunya?

Biasanya cinta pertama suami hadir untuk merusak rumah tangga. Sebut saja pelakor dan aku paling anti dengan mereka. Besok pagi, semua harus jelas dengan bukti-bukti.

Satu foto berhasil aku simpan dalam galeri. Nanti akan ada banyak bukti yang  menyudutkan Mas Agung. Tidak peduli apakah kelak kami berakhir di pengadilan atau tetap melanjutkan pernikahan konyol ini.

"Kamu suka sama kalungnya?" tanya Mas Agung lagi. Aku yang tidak tahan mendengar kemesraan mereka melangkah mundur sampai depan pintu kamar.

Setelah dirasa cukup aman, aku kembali melangkah pelan menuju dapur sambil memanggil nama Mas Agung. Tidak ada sahutan, melainkan sosoknya yang muncul dengan wajah pucat. Ponsel di tangan segera disembunyikan dalam kantong celana.

"Kamu bangun, Dek?"

"Iya, Mas. Aku haus banget. Sengaja manggil nama kamu karena pintu kamar terbuka, juga seperti mendengar suara. Khawatir itu maling, ternyata benaran kamu, Mas." Bibir mengulum senyum.

Mas Agung bergerak cepat mengambil gelas dan mengisinya dengan air hingga penuh. Dia semakin salah tingkah ketika aku pindai tubuhnya dari bawah ke atas.

"Kamu belum ganti baju, Mas? Terus ngapain di dapur malam-malam begini bukan langsung tidur?"

"Mas tadi mau tidur, cuma lapar. Pas nyampe dapur, laparnya hilang ... anu tadi tiba-tiba ditelepon bos, katanya besok pagi jam tujuh ada meeting dadakan."

Suara yang terdengar gugup itu berhasil membuatku tersenyum miring. Kasihan sekali Mas Agung, dia pasti mengira dirinya selamat karena aku tidak bertanya lebih jauh.

Aku bukan perempuan bodoh yang dengan mudahnya kamu tipu, Mas! cibirku dalam hati.

***

Mentari pagi menyapa begitu hangat, aku tidak ke dapur membuat sarapan karena Mas Agung bilang memilih sarapan di kantor kali ini. Aku hanya mengangguk, lalu menyiapkan baju kerjanya.

Begitu Mas Agung masuk kamar mandi, apalagi katanya kebelet buang air besar, aku langsung mengambil kesempatan. Ponsel yang sedang di-charger padahal penuh itu kusambar dengan hati senang.

"Enam angka?" gumamku ketika hendak memasukkan kata sandi.

Sekitar lima menit aku mencoba memasukkan banyak kata sandi termasuk tanggal lahir, tanggal pernikahan, tanggal lamaran semuanya gagal. Namun, ketika aku masukkan enam digit pertama nomor ponselnya, berhasil!

Sesuai perintah Melinda, aku langsung masuk ke setelah mencari layar kunci dan kata sandi. Butuh waktu beberapa menit untuk memasang sidik jari kedua.

Setelah berhasil, aku langsung membuka aplikasi hijau itu dan membukanya dengan sidik jari. Beruntung tidak ada verifikasi dua langkah.

Dengan tangan gemetar aku melihat pesan yang diarsipkan, ada nama seorang perempuan di sana. 'Ainun Sayangku'. Jantung berdegup tidak normal, ingin sekali aku membanting ponsel itu hingga hancur, tetapi berusaha kutahan demi mendapat bukti.

"Percakapam yang begitu romantis," gumamku sambil memotret isi chat mereka.

Air mata menggenang, bibir sedikit gemetar sampai aku harus menggigitnya sedikit keras. Mereka berselingkuh padahal masing-masing sudah memiliki pasangan halal. Aku tahu karena Mas Agung sempat menanyakan apakah suami Ainun itu curiga atau tidak.

Tidak tahan membaca pesan mereka, aku beralih pada label status. Mas Agung pasang snap What$app pagi ini, 'Selamat  pagi, Ainunku!' lalu diiringi tiga ikon love.

"Romantis banget kamu, Mas. Aku aja tidak pernah kamu pasangin snap begini!" gerutuku.

Setelah menghapus jejak pada pipi, aku meletakkan kembali ponsel itu sebelum ketahuan. Pengkhianatan ini akan aku ingat selalu. Demi perempuan lain, Mas Agung tidak pernah mau mengantarku periksa ke dokter kandungan.

Semua bukti aku kirim pada Melinda jangan sampai nanti ponsel ini rusak. Kita tidak tahu kemungkinan apa saja yang bisa terjadi sehingga mencadangkan gambar tentu lebih baik.

[Bagus, Ning. Kirim lebih banyak lagi, aku selalu berdiri di sampingmu!] tulis Melinda via pesan aksara.

[Makasih banyak, Lin. Karena kamu aku jadi tahu cara membuka What$pp yang terkunci dengan sidik jari.]

[Jangan lupa dihapus sidik jarimu biar tidak ketahuan!]

"Astagfirullah," gumamku pelan.

Ponsel Mas Agung kembali aku raih dan masuk ke setelan. Sidik jari dua sudah terhapus juga menutup aplikasi yang sempat dibuka tadi.

Andai Melinda tidak mengingatkan, mungkin aku sudah ketahuan karena meninggalkan jejak. Hati sedikit tenang, kemudian kaki melangkah ke luar kamar ketika mendengar suara percikan air berhenti.

Tentu saja aku harus melakukan aktivitas seperti biasa sekalipun hati gundah-gulana. Bukan hanya Mas Agung, sudah banyak lelaki di luar sana yang tetap bermain api dengan perempuan gatal.

Mereka tidak memikirkan perasaan istrinya di rumah, hanya mengedepankan ego dan nafsu belaka. Bahkan aku pernah membaca status seorang perempuan yang katanya mendapat madu di malam pertama pernikahan.

"Dek, dasi mas kenapa gak ada?"

Aku berhenti menggerakkan sapu. "Ada kok, Mas."

"Mana?"

Dengan kesal aku menyandarkan sapu pada tembok, lalu membuka lemari pakaian. "Dasimu ada di lemari."

Mas Agung terkekeh pelan sambil geleng-geleng, mungkin mengira aku sedang bercanda. Handuk basah itu diberi padaku untuk menjemur di depan.

Dengan sangat terpaksa aku melangkah keluar sambil terus menggerutu. Begitu selesai menjemur, Ainun lewat dengan senyum manisnya.

Tiba-tiba aku teringat kontak di ponsel Mas Agung. Apakah dia?

Comments (2)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
bukti kayak apalagi yg mau kau cari. yskin kau wanita yg pintar???
goodnovel comment avatar
Bunda Wina
tuh kan benar mas agung selingkuh sama Ainun Ayuk balas dong
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status