Share

Bab 6

"Kok segitu marahnya? Gak mau disuruh ambil sampo lagi?"

"Dah, sana!" teriakku lagi seraya menutup paksa pintu kamar mandi.

Hati sangat perih mengingat status Facebo0k itu juga tingkah Mas Agung ketika bertemu dengan Ainun. Hebat sekali mereka mempermainkan aku yang tidak punya dosa padanya.

Padahal teringat satu tahun lalu ketika kami baru pedekate istilahnya. Aku selalu menilai bahwa Mas Agung adalah lelaki baik, sopan dan taat kepada agama bahkan mengira dialah kado terindah yang dikirim Tuhan untukku.

Waktu itu di sebuah warung makan dekat kantorku bekerja, kami bertemu juga dengan Melinda karena Mas Agung mengingatkan tidak ingin berduaan sebelum halal takutnya setan sebagai orang ketiga.

"Kamu mau menikah sama aku?"

Suprise! Pertanyaan Mas Agung membuatku terkejut. Sungguh, aku tidak akan menyangka dilamar secepat itu padahal perkenalan kami masih terbilang singkat.

Aku melirik pada Melinda dengan hati berbunga-bunga, tetapi dia malah memasang tampang tidak suka. Kedua kening mengerut melihat pemandangan itu, tetapi kesempatan ini tidak boleh disia-siakan.

"Ningsih?" panggil Mas Agung.

Tiba-tiba ada sesuatu yang berdesir dalam dada. Aku tersenyum malu bahkan mungkin pipi telah merona karena pertanyaan itu. Selama ini aku tidak pernah pacaran jadi sedikit gugup padahal bukan anak remaja lagi.

"Mas serius?" Aku menatap matanya mencari kebenaran di sana, tetapi dia langsung menunduk.

Ah, mungkin menundukkan pandangan. Aku tahu Mas Agung tidak ingin melakukan kontak mata karena khawatir zina. Hati semakin berbunga-bunga, aku seolah melayang ke angkasa.

Aku yakin, Mas Agung adalah jawaban dari setiap bait doa yang aku gaungkan dalam sujudku. Dia lelaki baik dan pantas sekali menjadi pemimpin rumah tangga.

"Tidak mungkin aku mempermainkan perempuan sebaik dan secantik kamu, Ning," lirihnya.

"Baiklah, kamu datang aja ke rumah, Mas. Bagaimana pun aku harus bilang ke orangtua dulu."

Mas Agung kembali mengangkat wajah dengan senyum semringah. "Baiklah, besok aku datang ke rumahmu!"

"Tapi kamu masih perjaka, kan?" Pertanyaan Melinda membuatku bingung.

"Tentu saja, Lin. Aku ini bujang," jawab Mas Agung dengan suara pelan.

Aku memegang tangan Melinda untuk menenangkannya. Dia memang tidak percaya pada siapa pun apalagi menyangkut soal hati. Tidak heran jika sekarang juga masih hidup sendiri.

Sikap judes Melinda ketika bertemu Mas Agung bisa aku maklumi, lagi pun lelaki di hadapan kami sudah tahu bagaimana sikap sahabat aku itu. Dia bilang tidak apa-apa karena itu manusiawi.

Pesanan kami sudah datang, hanya makan bakso masing-masing seporsi dengan Es Teh. Aku langsung menyantap karena memang kesukaan, begitu juga dengan Melinda.

Sampai kami selesai makan pun Mas Agung tidak pernah memegang ponselnya. Aku jadi semakin yakin kalau dia bujang yang tidak punya istri. Saat keluar warung, dia membayar semuanya.

"Kalau bujang, masa iya ngajakin makan di warung. Cafe kek, restaurant kek!" ketus Melinda begitu mobil Mas Agung benar-benar menghilang dari pandangan.

Aku mengembus napas pelan mencoba memberi pengertian. "Mas Agung itu orangnya tawadhu, dia tidak memandang tempat makan. Di warung kan relatif murah daripada restoran. Aku malah bangga sama dia, Lin karena bisa membedakan mana keinginan mana kebutuhan."

"Kamu kenapa, sih bisa suka sama dia? Kena pelet?" Melinda masih saja memasang wajah tidak suka.

"Ini memang sudah menjadi takdir, Mel. Kamu harusnya mendukung aku."

Melinda kesal, dia bahkan berlalu tanpa kata. Ada satu kemungkinan, ya karena kami sama-sama jomlo. Melinda pasti tidak ingin ditinggal nikah apalagi hanya aku lah sahabatnya.

***

Hari sabtu siang, Mas Agung benar-benar sudah tiba di rumah. Dia seorang diri dulu sebelum membawa kedua orangtuanya. Satu alasan saja, dia ingin kepastian sebelum melibatkan keluarga besar.

Aku memaklumi untuk ke sekian kalinya. Mas Agung juga benar karena kalau papa sama mama menolak, bisa saja memutus silaturahmi.

"Betul kamu masih lajang dan perjaka?"

Itu pertanyaan pertama yang papa lontarkan ketika bertemu dengan Mas Agung. Aku heran dengan semua orang, kenapa malah menanyakan itu padahal jelas-jelas di KTP statusnya belum kawin bukan cerai.

"Betul, Pak." Mas Agung menjawab pelan, tetapi terdengar tegas.

"Sebagai orangtua Ningsih, aku tidak ingin menanyakan apa pekerjaan dan berapa gajimu setiap bulannya." Papa menjeda kalimat dengan menghela napas. "Tetapi, apa kamu bisa menjamin kebahagiaan untuk Ningsih?"

"Insya Allah, Pak. Aku akan memenuhi haknya sebagai seorang istri dan menjadikan Ningsih satu-satunya."

"Kamu salat lima waktu?"

"Iya, Pak. Aku salat lima waktu karena alhamdulillah mengerti bahwa ibadah itu adalah kewajiban yang tidak boleh kita tinggalkan. Jika direstui, lalu menikah, aku janji akan menjadi imam dan kepala rumah tangga yang baik untuk putri Bapak."

Sekali lagi aku mengulum senyum, tetapi dengan kepala menunduk. Jawaban Mas Agung terdengar begitu meyakinkan. Aku semakin percaya bahwa inilah yang terbaik.

"Kalau suatu hari kamu tidak mencintai Ningsih lagi, kembalikan dia pada kami dengan cara terbaik dan jangan beritahu alasan padanya. Kami tidak rela kalau Ningsih menangis karena cinta," tutur mama kemudian.

Aku mengangkat wajah menatap Mas Agung menunggu jawaban apa yang diberikan. Lelaki itu terdiam cukup lama, mungkin terharu mendengarnya.

Lalu, beberapa menit kemudian Mas Agung tersenyum. "Insya Allah, aku tidak akan melakukan itu, Bu. Istri harus dicintai sepenuh hati tanpa ingin tahu kekurangan apa yang dia miliki."

"Kamu serius dengan ucapanmu itu, Nak Agung?"

"Insya Allah, Bu. Allah tahu bagaimana seriusnya hati ini untuk menjadi imam bagi Ningsih."

"Baiklah, kamu bisa bawa orangtuamu dan kita berbincang lagi. Pernikahan itu menyatukan dua keluarga, jangan sampai Ningsih dibenci mertua nanti." Papa mengakhiri pembicaraan ini dengan senyum.

Hati sedikit lega melihatnya karena keraguan yang sejak tadi ditampilkan berangsur hilang.

"Besok, aku akan bawa keluarga, Pak."

"Silakan diminum dulu tehnya!" perintah ibu ketika papa mengangguk mengiyakan.

Sementara itu aku langsung pamit ke kamar dengan hati gembira. Rasanya esok terlalu lama untuk ditunggu. Tidak lupa pula aku menelepon Melinda untuk memberi kabar.

Panggilan ke tiga baru terhubung, mungkin asik rebahan sambil ngemil. Semua perkara tadi aku ceritakan dengan sangat antusias.

"Aku turut bahagia, Ning. Semoga saja memang benar kalau Mas Agung adalah jodoh yang dikirim Tuhan untukmu. Semoga lancar sampai hari H."

"Lin, kok kayak gak semangat gitu jawabnya? Kamu gak bahagia aku dilamar?"

Terdengar embusan napas berat di seberang telepon. "Bukan begitu, tetapi aku khawatir mengingat kalian belum kenal lebih jauh jangan sampai dia itu penipu, terus sudah punya istri!"

"Gak mungkin, Lin. Mas Agung itu orangnya baik!" sangkalku tidak terima ada yang menjelek-jelekkan Mas Agung.

Comments (2)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
klu orang g laku dilamar memang kayak si ningsih itu. pasti langsung terima aja fg seribu alasan pembenaran.
goodnovel comment avatar
Bunda Wina
itulah Ningsih knp qm percaya bgt sama agung
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status