Share

Bagian 5

Raina sampai di rumahnya lima menit sebelum pukul enam.

"Ra, makasih ya udah mau jalan-jalan sama aku." 

"Iya, sama-sama kak. Makasih juga udah ngajak aku." 

"Yaudah aku pulang dulu ya, kamu masuk gih, bersih-bersih terus istirahat." Nio tersenyum.

"Iya, hati-hati ya kak nyetirnya." Raina juga tersenyum.

Nio melajukan motor nya, dan Raina pun segera masuk ke dalam rumahnya, ia membuka pintu perlahan, lalu berjalan melewati ruang tamu, disana tidak ada siapa pun. Ia memasuki ruang keluarga, terlihat adiknya yang sedang menonton televisi, Aruma. 

"Rum, yang lain dimana?" Raina bertanya pada adiknya, tapi tidak ada jawaban dari gadis itu, ia tetap asik dengan televisinya, seolah-olah tidak ada yang mengajak nya berbicara. 

"Aruma, jawab dong, kamu denger nggak sih." Raina terlihat sedikit jengkel, ia akhirnya menaiki anak tangga dan pergi ke kamarnya. 

Raina sudah selesai mandi, ia merebahkan badan sebentar di atas tempat tidurnya, sambil mengingat hal yang terjadi di sore hari tadi. Ia merasa senang. 

"Hira, ayo makan." Arvian mengetuk pintu kamar Raina. 

"Iya, sebentar mas." Raina beranjak dari tempat tidur, dan segera membuka pintu kamarnya. 

"Kamu pulang jam berapa?" Arvian dan Raina berjalan beriringan. 

"Jam enam mas, kenapa?" 

"Kok tumben kamu pulangnya nggak bareng Aruma, terus nggak ngabarin lagi." 

"Aku jemput dia kok, cuman tadi aku ada urusan, jadi aku suruh dia pulang duluan." Raina berbicara dengan suara yang terdengar serius dan kesal.

"Iya nggak apa-apa, mas kan tanya aja sama kamu." Arvian merangkul bahu Raina.

Di meja makan mereka semua sudah berkumpul, kecuali Rifki, ia masih berada di kantor. 

"Mama tadi kemana, kok pas aku pulang nggak ada." Raina duduk di sebelah Arvian.

"Mama beli makan malem sebentar, terus selebihnya di rumah aja." Raina membulatkan bibirnya. 

Mereka mulai melahap makan malam, sambil berbincang, tetapi Aruma dan Raina tidak saling berbincang satu sama lain. Jika yang lain sedang berbicara dengan Raina atau membahas tentangnya, Aruma tidak bergabung dengan pembicaraan, begitupun sebaliknya. 

"Hira sama Ruma kok diem-dieman aja dari tadi, kalian berantem ya?" Mama yang menyadari hal itu, bertanya kepada mereka. 

"Nggak kok ma, ya kan Rum." Raina mengatakan hal yang menurutnya benar, karena ia memang tidak merasa sedang bertengkar dengan Aruma, mungkin hanya Aruma yang sedang kesal padanya.

"Iya, nggak kok ma." Aruma dan Raina saling berhadapan dan tersenyum, tetapi senyuman itu terlihat dibuat-buat.

Setelah selesai makan, mama dan papa duduk di sofa ruang keluarga, menonton berita yang tersedia malam hari. Arvian dan Aruma pergi ke balkon lantai dua rumah, dan Raina membaca buku di sofa yang ada di lantai dua.

Setelah selesai membaca buku, Raina menghampiri Arvian dan Aruma yang masih berada di balkon, mereka sepertinya sedang berbincang. Raina duduk di kursi yang terpisah dengan Arvian dan Aruma, tetapi madih bersebelahan. 

"Rum, kamu kenapa?" Raina memulai pembicaraan. Aruma tidak menjawab.

"Ngomong dek, jangan diam saja kalau ditanya." Arvian berbicara tanpa melihat kearah Aruma. 

"Iya, karena kakak tadi ninggalin aku sama kak Tian." Aruma berbicara dengan nada sedikit ketus.

"Ninggalin apa sih, kan tadi aku udah pamit."

"Tapi kan, aku ngelarang kakak tadi. Bahkan sebelum aku larang, kakak mau langsung bilang 'iya' ke cowok itu, tanpa bilang apa-apa sama aku."

"Nggak masalah dong, aku juga nggak harus minta persetujuan kamu buat pergi, ya kan?" Raina berbicara dengan nada yang tinggi, lalu ia bangun dari kursi yang ia duduki. 

"Emang nggak perlu persetujuan aku, tapi kan kakak tadi lagi sama aku perginya." Nada bicara Aruma tidak kalah tinggi dengan Raina, ia pun ikut bangun dari kursinya.

"Kalian bicaranya santai aja, jangan marah-marah, selesaiin masalahnya pake kepala dingin." Arvian menenangkan dan menasehati mereka berdua. 

"Iya mas." Raina dan Aruma membalas secara bersamaan. 

"Sekarang Aruma yang jelasin kenapa kamu kesel dan ngerasa Hira ninggalin kamu, nanti baru gantian Hira yang ngomong. Ayo duduk dulu kalian." Mereka berdua pun duduk, dan Aruma mulai berbicara.

"Karena kak Hira tiba-tiba pergi, padahal es krim nya juga belum habis, aku kan jadi nggak enak sama kak Tian."

"Jadi kamu marah cuman gara-gara aku nggak habisin es krim?"

"Bukan masalah es krim nya aja, tapi kakak nggak menghargai kak Tian." 

"Tian pasti ngerti kok, dia kan temen kakak dari lama."

“Tapi kan kita nggak pernah tahu isi hati orang sebenarnya kak. Barangkali kak Tian kecewa, tadi aja wajahnya kelihatan langsung berubah jadi agak bête.” Aruma berbicara dengan nada sedikit sedih.

Raina terdiam mendengar kata-kata yang Aruma ucapkan, ia memang tidak menyadari raut wajah Tian di toko es krim tadi, karena ia langsung pergi. Muncul pertanyaan di benaknya, apa Tian benar-benar marah padanya? Setelah berpikir sejenak, Raina akhirnya menyadari bahwa ia memang melakukan kesalahan tadi, ia tidak  bertanya dahulu ke Tian saat ingin pergi.

Sekarang Aruma dan Raina sudah berbaikan, dan mereka sudah kembali ke kamar masing-masing, begitupun dengan Arvian. Raina merebahkan.tubuh di kasurnya sambil memegang telepon genggamnya. Ia ingin mengirim pesan kepada Tian, pesan berisi permintaan maaf. Setelah menunggu hampir tiga puluh menit, Raina belum juga mendapat balasan pesan dari Tian, padahal ia yakin sekali bahwa pria itu belum tidur saat ia mengirim pesan tadi. Karena Tian tidak kunjung membalas pesannya, Raina pun akhirnya memilih untuk meletakkan teleponnya di meja, dan berusaha untuk segera tertidur walaupun sulit.

                                                                 …

Raina sudah siap untuk berangkat ke sekolah, hari ini ia berangkat lebih pagi karena ingin ke rumah Tian terlebih dahulu untuk meminta maaf padanya. Pagi ini Raina berangkat dari rumah tidak bersama Aruma, adiknya itu akan pergi ke sekolah siang nanti bersama Arvian dikarenakan ada rapat guru di sekolahnya.

Raina sampai di pintu gerbang rumah Tian, saat ia membuka pintu ada seseorang lain di seberang nya yang juga sedang membuka pintu, orang itu adalah Tian. Tian sudah rapih menggunakan seragam kotak-kotak perpaduan warna abu dan putih, dengan tas selempang yang ia gantungkan di pundaknya. Tian memandang Raina dengan tatapan datar andalannya.

“Lo ngapain kesini?” Tian berjalan ke sepeda motornya.

“Ian, gue minta maaf ya sama lo soal kejadian kemarin.” Raina membuntuti Tian.

“Emang lo ngelakuin kesalahan apa?” Tian menaiki motornya dan mengenakan helm.

“Tian lo dengerin gue, jangan berangkat ke sekolah dulu.” Raina menahan tangan Tian yang sudah bersiap menyalakan mesin motornya.

“Gue kemarin kan main pergi aja sama kak Nio, nggak izin dulu sama lo, padahal disitu posisinya gue lagi pergi sama lo juga. Gue tau lo pasti marah banget, sampe-sampe nggak bales chat gue.” Raina menatap wajah Tian.

“Gue emang kesel sama lo, tapi kalau soal chat semalem gue belum bales karena ketiduran Ra.” Tian berbicara lebih tenang dari sebelumnya.

“Tuh kan, lo beneran kesel. Gue minta maaf ya Ian.” Raina menundukkan kepalanya.

“Iya, yaudah gue berangkat ya.”

“Makasih Ian. Tungguin gue, jangan berangkat dulu, biar bareng hehe.” Raina berlari ke motornya, dan menaiki nya. Tian tersenyum tipis melihat tingkah Raina.

Mereka berdua pun berangkat bersama.

Kelas dimulai dengan mata pelajaran seni, dan materi yang diberikan hari ini tentang lukisan. Murid-murid diberikan tugas untuk melukis tentang suasana hati mereka saat ini. Tian masih berpikir apa yang harus ia lukiskan, sedangkan Raina sudah mulai memilih warna dan bahkan telah memberikan satu-dua sentuhan kuas di kanvas nya. 

“Ra, lo cepet banget udah mulai ngelukis aja.” Tian melihat ke arah kanvas gadis itu.

“Karena gue mood nya lagi bagus banget, jadi gampang buat tahu apa yang gue mau lukis Ian.”

“Ooh, emangnya gara-gara apa mood lo bagus banget?” Kali ini ia melihat ke arah Raina.

“Ya, karena lo udah nggak marah lagi, terus gue seneng kalo kita baik-baik aja. Nah, kalo lagi seneng kan otomatis mood gue bagus.” Raina tersenyum manis sampai matanya hanya terlihat segaris.

Tian hanya mengangguk-agguk, ia berhenti melihat gadis itu, dan mengalihkan pandangan ke kanvas miliknya. Tian tidak sanggup melihat wajah Raina, karena baginya itu terlalu manis, ia juga merasa wajahnya sudah memerah sekarang, dan bahkan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasa nya. Setelah berpikir lama, Tian mulai melukis, ia memberi warna hitam pada dasar lukisannya, dan warna putih untuk guratan-guratan di atasnya. Tian mengartikan lukisan itu sebagai ‘kebingungan’, ia merasa bingung dengan suasana hatinya sekarang. Di satu sisi ia merasa senang dengan adanya Raina sebagai sahabat dan orang yang ia sukai, tetapi di sisi lain orang yang ia sukai menyukai orang lain, dan ia menjadi bingung dengan itu.

Jam pelajaran sudah habis, Bu guru meminta murid-murid untuk menyelesaikan lukisan di rumah dan membawanya kembali saat pertemuan pelajaran seni selanjutnya.

“Tian, lukisan lo sedih amat.” Raina melihat sekilas lukisan Tian sambil merapihkan cat miliknya. Tian tidak membalas perkataan Raina.

Setelah berganti pelajaran, sekarang waktu nya jam istirahat, Raina pergi ke kantin bersama Lila, sedangkan Tian masih berada di kelas. ‘Plak’ seseorang menepuk punggung Tian cukup keras, lalu ia mengangkat kepalanya yang tadi ia rebahkan di meja, dan melihat dua orang laki-laki di hadapannya.

“Lo ngapain ky, sakit nih punggung gue.” Tian melihat tangan Rizky yang masih ada di punggungnya, jadi ia dapat mengetahui orang yang menepuk nya tadi.

“Lebay lo, segitu dibilang sakit. Lo lagi kenapa sih?” Rizky merasa sahabatnya itu sedang tidak bersemangat, seperti ada suatu hal yang sedang dipikirkan.

“Iya tumben, lo kalo ada apa-apa cerita aja sama kita.” Leo duduk di atas meja Tian.

“Lo begini pasti karena Raina lagi kan?” Daniel seakan tahu apa yang sedang dipikirkan Tian.

“Raina? Jangan-jangan lo naksir sama dia ya?” Leo terkejut.

“Kok gue nggak tahu Tian, tapi tanpa dikasih tahu lo emang keliatan naksir si Raina sih.” Rizky.

Tian menatap tajam Daniel, lelaki itu memang suka keceplosan saat berbicara. Daniel adalah satu-satu nya orang yang tahu dari Tian sendiri bahwa ia menyukai Raina, sebenarnya mereka berempat sangat dekat, tetapi hanya Daniel yang tahu tentang itu. Alasan yang pertama yaitu, karena Daniel dan Tian sudah akrab dan berada di sekolah yang sama sejak mereka duduk di bangku Sekolah Dasar, kedua karena sudah lama kenal, Tian lebih nyaman bercerita tentang hal itu kepada Daniel. 

"Lo semua nggak ke kantin?" Tian mengalihkan pembicaraan.

"Jangan ngalihin pembicaraan woy, lo beneran naksir sama Raina?" Leo masih penasaran.

"Iya gue suka sama dia." Tian berbicara jujur. 

"Bisa-bisanya gue nggak tahu, gue kira kalian sahabatan doang." Leo.

"Lo aja nggak peka, padahal keliatan banget kalo dia naksir sama Raina." Rizky tidak terkejut dengan perkataan jujur dari Tian.

"Iya mana gue sadar, lagian kenapa lo nggak cerita ke kita?" Leo terlihat penasaran. 

"Gue tadinya cuma mau cerita ke Daniel aja, karena dia kan kenal lama sama gue, terus dia tau banyak tentang Raina juga. Eh nih anak malah keceplosan." Tian melirik kearah Daniel. 

"Iya maaf, namanya juga keceplosan." Bibir Daniel membentuk garis lurus. 

"Bagus juga kebiasaan lo Niel, gue jadi tau." Leo mengacungkan jempol. 

"Nah udah kan. Ayo ke kantin, gue laper." Tian bangun dari kursinya bersamaan dengan bel tanda istirahat sudah selesai. 

"Lah udah bel aja." Rizky memegangi perutnya.

"Lo sih banyak tanya dari tadi." Ucapan Tian merujuk pada Leo. 

"Biarin, yang penting gue udah ngga penasaran lagi, eh tapikan gue juga nanya dikit doang." Leo tidak terima disalahkan, karena ia merasa hanya bertanya sedikit. 

"Udah udah, ayo balik ke kelas." Rizky merangkul pundak Leo dan Daniel. 

"Balik dulu ya." Daniel menaikkan kedua alisnya, Tian membalas dengan menaikkan kedua alisnya juga. 

Raina masuk ke kelas bersama Lila, mereka duduk di tempat masing-masing, tempat duduk Lila berada persis di belakang Raina. 

"Nih makan, mumpung gurunya belum dateng." Raina menaruh sebungkus batagor di meja.

"Makasih Ra, Kok lo tau gue belum makan." Tian langsung melahap batagor itu.

"Lo nggak ada di kantin tadi, temen-temen lo juga." Tian hanya menganguk-anggukkan kepala saat mendengar jawaban Raina. 

Bel berbunyi, sudah waktunya jam pulang sekolah. Hari ini Raina tidak pulang bersama dengan Tian, karena Tian akan mengikuti ekskul futsal begitu jam pelajaran sudah selesai. 

                                                               ...

Tian berganti seragam dengan pakaian untuk futsal. Setelah selesai, ia menghampiri kelas Leo untuk mengajaknya ke lapangan, karena mereka berdua satu ekskul. 

"Le, ayo ke lapangan." Tian masuk ke kelas Leo

"Dih siapa lo, tadi nyalahin gue."

"Iya maaf, tadi kan emosi gue, mana lagi laper banget." 

"Gue penasaran kan juga karena lo nggak cerita-cerita." 

"Iya maaf Le, udah ayo ke lapangan." 

"Tunggu, gue mau minum dulu." Leo berbicara dengan nada yang masih kesal. 

Kondisi lapangan futsal sangat ramai oleh murid-murid, baik murid laki-laki yang mengikuti ekskul, maupun murid perempuan yang hanya menonton dari kursi pinggir lapangan saja. Seorang laki-laki menghampiri Tian dan Leo. 

"Lho lo Tian kan, yang kemarin bareng sama Raina di toko es krim?" laki-laki itu Nio, ia mengenakan seragam basket.

"Iya, gue Tian." Tian berusaha menjawab dengan ramah.

"Lo keliatannya deket banget ya sama Raina, kenal dari kapan kalo boleh tahu?" 

"Dari kecil." Tian menjawab singkat.

"Oh gitu, terus lo tinggal di mana?" 

"Perumahan Elips raya."

"Wah, lo satu perumahan sama Raina juga dong." Tian hanya mengangguk 

"Kapan-kapan berarti bisa ya kalo gue mau tanya-tanya tentang Raina ke lo." Nio berbicara seakan-akan ia dekat dengan Tian. 

"Oke deh, gue duluan ya mau latihan basket." Nio menunjuk bola basket yang sedari tadi ia bawa di tangannnya. 

"Iya." Tian menjawab singkat. 

Setelah Nio pergi, Leo terlihat ingin mengajukan banyak pertanyaan, ia juga menyikut lengan Tian beberapa kali, namun pelatih futsal sudah datang, jadi Leo tidak sempat bertanya. Di sisi lain sekolah, tepatnya berada di  lapangan basket berada juga sudah terdengar teriakan murid-murid perempuan, memanggil-manggil nama pemain basket, tanda latihan basket juga sudah dimulai. 

Ekskul futsal dan basket selesai bersamaan, setelah dilakukan latihan selama sembilan puluh menit. Leo dan Nio berada di ke kelas Leo, setelah mengambil tas milik Tian di kelasnya.

"Tian, kok lo bisa kenal sama Nio itu sih?" Leo mulai mengajukan pertanyaan.

"Iya bisa aja lah." Tian menjawab santai. 

"Tapi lo kan jarang ngobrol sama kakak kelas gitu, kecuali se ekskul atau ada keperluan penting." Leo terlihat heran dengan sahabatnya itu. 

"Serius amat muka lo Leo, ada apaan?" Rizky datang bersama Daniel. 

"Si Tian masa kenal sama Nio, kakak kelas yang hits itu." Nio memang hits disekolah, dari kelas sepuluh sampai dua belas, bahkan guru-guru, pasti hampir semua dari mereka mengenal nya. Selain karena wajahnya yang tampan, Nio juga termasuk siswa berprestasi, dan sering mewakilkan sekolah dalam ajang perlombaan. 

"Lah, mereka kan sama-sama sering ikut lomba, nggak aneh lah kalo saling kenal." Rizky.

"Niel, Ky, menurut kalian Nio orangnya gimana?" Sekarang Tian yang bertanya. 

"Kenapa lo nanya kita?" Daniel duduk di salah satu kursi yang kosong. 

"Kalian kan se ekskul sama dia, jadi pasti seenggaknya lebih tahu diia daripada gue."

"Menurut penglihatan gue sih, dia ramah, baik, nggak sok paling jago, padahal kenyataannya mah dia jago banget basket." Rizky berkata jujur sesuai apa yang ia lihat selama ini.   

"Dia juga nggak nunjukkin senioritas gitu, bergaul sama siapa aja." Daniel menambahkan. Tian menyimak jawaban mereka. 

"Lah malah jadi bahas si Nio, balik yo, gue udah selesai rapihin tas nih." Leo mengangkat tasnya. 

Tian sampai di rumahnya, seperti biasa. ia melakukan rutinitasnya, mandi dan mengganti pakaian, bermain dengan Sunny dan Choco, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, merapihkan buku yang akan ia bawa ke sekolah besok. Sehabis melakukan rutinitasnya, Tian mengambil sebuh novel dan duduk di balkon lantai dua rumahnya, ia ingin membaca buku sambil bersantai sampai waktu makan malam tiba. Di tengah-tengah membaca, terlintas di pikirannya pendapat sahabat-sahabatnya tentang Nio. Berbagai pertanyaan pun muncul di pikirannya. Apa Nio benar-benar orang yang baik? Apa ia harus berhenti menyukai Hira? Apa yang harus ia lakukan? 

Tian menghela napas. Pertanyaan-pertanyaan di pikirannya lagi-lagi hal yang berkaitan dengan Raina. 

happyegg

Halo teman-teman, jangan lupa untuk memberikan komentar tentang novel ini ya, supaya saya bisa memberikan cerita yang lebih baik lagi. Terima kasih, selamat membaca :)

| Like

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status