Share

Chapter 02 : [Sang Juara]

 

"Siap, satu, dua, TIGA."

Bola basket yang dilambungkan Liora cukup tinggi, Alden dan Liora bersiap untuk melompat, dan...

Haaaaapppp!!! Bola itu berpihak pada Liora, ia mulai men-dribble bola basket yang ada digenggamannya, sementara Alden berfikir bagaimana caranya bola itu bisa berpindah padanya.

"Gue emang pendek, tapi soal loncat gue bisa setinggi langit," lirih Liora penuh penekanan.

Alden hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Liora.

"Bola boleh lo yang dapat, tapi gue yang akan tetap menang," ujar Alden dengan nada yang mengejek.

"Hehe!! Lihat aja nanti," balas Liora tertawa, lebih tepatnya mengejek.

"Oke," ucap Alden

Dughkk..

Dugkk..

Dugkk..

Bola basket itu terus berada di kekuasaan Liora, Alden sama sekali 'tak mampu merebut bola basket itu padahal ini sudah setengah permainan tapi sedari tadi Alden belum juga merebut bola itu, ini semua karena gerak tubuh Liora yang lincah dan gesit.

Kini posisi Venia tepat berhadapan dengan Alden, sembari terus memantulkan bola ke lantai, Liora manatap remeh Alden.

Dugkk..

Dughkk..

Dughkk..

"Kalau gue mau, gue bisa cetak point dari 15 menit yang lalu tapi karena gue masih memandang kalau lo sahabat Riga, gue urungin niat gue," ucap Liora sembari memutar bola matanya jengah. 

Waktu semakin menipis tapi belum ada satu point pun yang diraih oleh keduanya.

Sedari tadi matanya tak berhenti menatap gerakan mereka berdua, ada rasa kesal di dadanya karena sudah setengah perjalanan Alden belum juga bisa merebut bola sialan itu dari tangan Liora.

"Sumpah demi dunia bikini bottom, Al. Kalau lo sampe kalah gue jadiin lo rendang nasi padang!!" runtuk Riga dalam hati.

IYA DAN MASUKK....

Matanya melotot mendapati Liora yang mencetak point ke dalam ring, hatiku semakin 'tak karuan, sementara si borokokok itu hanya menghela nafas panjang.

"ALDEN DONGO!!" umpat Riga dalam hati.

"Mampus!! Mamam tuh, Ga. Jadi lo nanti kencan sama Liora selama seminggu!!" ucap Devian membuat darah Riga naik keubun-ubun dan pletakkk, Riga mendaratkan sebuah jitakan manis dikepalanya.

"Awss!!" ringis Devian

Masih ada waktu 5 menit lagi, dan ku berharap Alden bisa mengejar point, setidaknya menyamai kedudukan.

"Semangat Liora, sisa lima menit lagi lo pasti menang," teriak Amanda menyemangatiku, aku sungguh beruntung memilikinya dan Dhita mereka akan selalu mensuport apapun yang aku lakukan.

"PASTI," teriakku.

"GUE TAU LO TIDAK AKAN TERKALAHKAN," imbu Dhita.

Senyumku semakin mengembang dipipi chubbyku.

Waktu hampir habis namun Alden belum juga bisa mencetak point hanya karena dirinya terus dihalangi oleh Liora. 

"Sialan!! Masa gue kalah sama cabe bantet kaya dia sih mau ditaro dimana muka gue?" batin Alden.

Liora tersenyum tipis melihat wajah Alden yang mulai memerah, ia tahu betul apa yang ada di otak Alden, terlebih lagi Alden menganggap enteng dirinya.

"Tinggal hitungan detik gue akan buktiin kalu gue itu emang jago, gak jago omong doang!!!" lirih Liora tepat di hadapan Alden, membuat Alden semakin panas dan emosi.

"Gue pasti bisa!!!" geram Alden.

"I can see," ejek Liora

TIGA...

DUA...

SATU...

Permainan selesai!!!

"Yeahhhhhhh I'M WINNE!!!" teriak Liora senang sekali, selain karena kemenangannya ia juga senang karena bisa berdekatan dengan Riga selama seminggu!.

Amanda dan Dhita berhamburan memeluk Venia. 

"Gue tau lo pasti menang," ujar Amanda mengacak kasar rambut Liora. 

"Emang sang juara!! Pejuang cinta!!" sambung Dhita.

"Arghhh gue bahagia!!" teriak Venia.

"KALAH!!!" teriak Riga tepat dihadapan Alden.

"Sorry," lirih Alden sambil menunduk.

"O'on lo emang! Gue bilang juga apa? Jangan bawa-bawa gue sekarang kalau udah begini mau gimana? Gue juga 'kan yang kena imbasnya," ucap Riga, wajahnya nampak sangat kesal.

"Yaudah sih rezeki itu namanya, masih untung gue nantangin si Venia coba kalau Pak Asep," jawab Alden dengan wajah tanpa dosanya.

"Udah mati goblokkk," toyor Devian.

"Awssss!! Sakit bego," ringis Alden.

"Nih gue tambahin," ujar Riga menoyor kepala Alden.

"Awsss!!" ringis Alden untuk yang kedua kalinya.

"Gue harap lo tepatin janji lo!" seru Liora yang entah kapan sudah ada di belakang Alden.

"Iya gue tepatin!! Ga, mulai besok dan seminggu ke  depan lo harus temenin Liora kemana aja!" ucap Alden se-enaknya dan tanpa dosa.

"Enak banget lo nyuruh nyuruh gue tanpa dosa! Kalau gue gak mau gimana?" ucap Riga 'tak terima.

"ya gak bisa dong honey itu kan udah taruhan, dan perjanjiannya," ucap Liora tersenyum manis.

"Honey! Honey! Jangan panggil gue pacar!!" ketus Riga.

"Terus apa? Sayang?" ucap Liora dengan gaya tengilnya.

"Haa????" mata Riga membulat sempurna kala mendengar Liora memanggilnya dengan sebutan sayang.

"Biasa aja dong matanya kagan," ucap

Amanda menyingkat kata kakak ganteng menjadi 'KAGAN'.

"Apaan sih, sayang, sayang, kagak danta

lo," ucap Riga kembali ketus, nampak sekali bahwa sebenarnya ia salting.

"Bodo!!, gue gak mau tahu besok pulang sekolah lo harus temenin gue ke suatu tempat oke honey!" ujar Liora tanpa koma, apalagi titik.

"Tapi--"

"Udahlah Ga, lo nurut aja jangan bikin gue malu," ucap Alden memotong kalimat Riga.

"Lo yg bikin gue malu somvlak," kesal Riga.

"Sabar Ga," ucap Devian.

"Sabar!! Sabar!! Pantat lo lebar,"  kesal Riga dan berlalu begitu saja meninggalkan sahabatnya, dan geng Liora.

"Yeahh ngambek!!, Riga tunggu!!" teriak Alden  lalu mengejar Riga dan di ikuti oleh Devian.

Sementara Liora, Amanda, dan Dhita cekikikan menatap tingkah laku

kakak kelasnya.

~ooOoo~

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat

hingga bel tanda istirahat kedua

berbunyi, murid-murid yang berada

di dalam kelas berhamburan keluar

menyerbu kantin hanya untuk

meredakan cacing yang sudah berdemo di dalam perut mereka.

Disini, dimeja kantin urutan yang kedua dari belakang, Amanda, dan Dhita nampak tengah asik mengadu sendok, dan garpu dengan semangkuk mie ayam yang mereka pesan, sangking terbuainya mereka baru menyadari bahwa Liora tidak bersama mereka.

"Lah iya gue baru sadar si Liora kemana?" tanya Dhita sambari memasukan mie ke dalam mulutnya.

"Wailah iya ampe lupa, argh udahlah

paling juga dia lagi nyari oksigen di UKS karena besok mau kencan sama kak Riga," ucap Amanda.

"lya kali," ucap Dhita sambil angguk-angguk kepala. Hal yang sama juga terjadi pada meja kantin urutan 4 dari depan, di sana ada Alden juga Devian tapi di mana Riga?.

"Si Riga ngambek beneran?" tanya Alden.

"Lo juga ngapain jadiin dia bahan

taruhan, udah tahu dia ilfil sama Liora

gara-gara si Liora bad girl's masih aja lo

lanjutin," ucap Devian

"Ya gue gak tahu kalau ternyata Liora

sehebat itu," ngeles Alden.

"Ngeles aja lo udah kaya bemo!!" umpat Devian.

"makanya jangan nilai orang dari

covernya, giliran ditantangin lo nya yang K.O," lanjut Devian.

Sementara jauh dari kantin, rupanya

di sini Riga tengah duduk di taman

belakang sekolah sambil menikmati

indahnya danau yang memang ada

di belakang sekolahnya.

la duduk dengan wajahnya yang tertekuk kusut seperti kemeja katun yang belum digosok.

"Dasar Riga sial!!, mimpi apa coba lo

semalam ha?, kenapa juga hari ini lo bisa jadi bahan taruan?, emang muka lo mirip apa sama gopean logam?, dan apa?, gue harus temenin si cewe onar itu selama seminggu?, apa gue tahan?, apa gue bisa?, apa gue gak mati mendadak?, ini semua gara-gara si sontoloyo bin seleketep bin nyebelin bin, bin, bin, bin menyebalkan!!!!!" oceh Riga dalam hati. Ocehannya itu persis sekali seperti ibu-ibu arisan yang baru dapat arisan.

Jreng..

Jreng..

Jreng..

Tiba-tiba saja Riga mendengar petikan

gitar, ia menoleh ke kanan, dan kiri namun 'tak ada satupun orang yang memainkan gitar, dan lebih parahnya lagi ia baru menyadari bahwa ia hanya sendiri!.

SENDIRI!

Bulu kuduk Riga mulai bangun, fikiran-fikiran negatif mulai mengintai Riga.

"Masa sih setan?, kalau setan canggih

banget bisa main gitar?, apa tuh setan

mati gara-gara kejepit senar gitar?" batin Riga.

"arghhh ada-ada aja sih gue mana

ada orang mati kejepit senar gitar

coba," batinnya lagi.

Riga mencoba menahan rasa takutnya,

tapi petikan gitar itu tambah jelas

terdengar, sungguh Riga tak sanggup lagi!, ingin rasanya lari terbirit-birit tapi mengapa kaki Riga jadi seperti tak bertulang yang ada hanya getaran saja, ya dia gemetar, gemetar karena TAKUT!.

JRENG...

JRENG...

JRENG...

suara gitar itu semakin keras, dan kali ini Riga memantapkan hatinya untuk lari dari tempat itu, namun langkahnya terhenti kala ia mendengar seseorang mulai bernyanyi.

🎶Dalam sepi...

🎶Engkau datang...

🎶Beriku kekuatan....

🎶Untuk bertahan....

🎶Dihidupku...

🎶Yang tak sempurna..

🎶Kau percaya aku ada...

🎶Kau yang aku ingkan...

🎶Selamanya...

Riga menelaah dimana sumber suara

tersebut, ia berjalan menuju pohon yang ada di samping bangku taman, dan kini Riga tepat berada dibawah pohon itu, suara itupun semakin jelas terdengar, munculah sebuat tanda tanya besar di benak Riga.

"Apakah pohon zaman now bisa nyanyi, dan main gitar?" batin Riga sambari mengkerutkan keningnya.

Riga kembali mendengarkan suara itu

dengan baik-baik sepertinya ia mengenal siapa pemilik suara itu, tapi apa mungkin?.

Bukhsss, tiba-tiba saja sebuah benda

terjatuh di kepala Riga, lalu ia mengambil benda itu, dan ternyata adalah kuciran rambut.

Riga semakin yakin bahwa diatas sana ada orang, tapi bagaimana kalau bukan orang?.

"Aduhh gue dongak kagak yah?, kalau

gue dongak di atas orang sih mending,

tapi kalau setan gimana?" batin Riga.

"Argh tapi mana mungkin Kuntikanak kucir rambut, yang ada kalau dikucir kagak serem, yang ada bukan takut malah terpesona siapa tahu kunti cantik, aishhh Riga ngaco!" batin Riga.

🎶Seperti tukku mencintamu...

🎶Sampai mati....

🎶Ho....o...ho...o...o

Akhirnya Riga mendongakkan kepalanya, matanya membulat sempurna mendapati siapa yang ada di atas, bukan setan atau pun kuntilanak, tetapi Liora, ha?, apa?, LIORA?.

"Ha Liora?, ngapain tuh anak di atas

pohon udah kayak wa aung aja, emang

sarap tuh anak!" batin Riga.

To Be Continued

 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status