Share

Awal Yang Salah

Nino tersenyum sekaligus bertanya-tanya, saat ia menemukan Bukunya yang hilang ternyata ia temukan di motornya sendiri. Nino melihat kesekeliling tempat itu, tidak ada satu anakpun yang terlihat mencurigakan.

Nino mengambil buku itu. Dia buka helai demi helai buku diarynya, tidak ada yang hilang ataupun hal yang aneh. Sampai akhirnya secarik kertas terjatuh dari buku itu, Nino mengambil kertas itu, kemudian membaca tulisan yang ada di dalamnya.

Hidup itu tidak akan bisa lepas dari bayang-bayang,

sampai kapanpun akan terus mengikuti.

Kita nggak akan bisa menghindar dari bayang-bayang itu.

Kecuali kalo kita hidup dalam kegelapan, mungkin kita bisa menghindar.

Terus hidup dalam kegelapan juga bukan solusi,

suatu saat kita juga perlu cahaya biar hidup kita berwarna.

Tapi resikonya kita akan selalu di ikuti oleh bayangan itu,

kita cuma butuh nerima, nerima kalo bayangan itu bagian

dari perjalanan hidup kita.

Sahabatmu

Angeli

Nino terkejut setelah membaca tulisan itu. Ia mencoba mengingat bentuk tulisan yang mungkin saja ia kenal, tapi percuma, Nino tidak mengenali tulisan itu.

********

'' Nino kamu baru pulang?'' tanya Lidya, Ibu tirinya Nino.

Nino cuek, ia tidak merespon pertanyaan dari Lidya. Bahkan menatapnya saja tidak.

" Nino, Mamamu nanya jawab yang sopan! " Seru Papanya Nino, sedang Nino yang awalnya cuek kemudian menghentikan langkahnya.

" Mama? Mama yang mana? Perempuan itu bukan mama saya, dan enggak akan pernah, " balas Nino ketus

"Nino, berbicara yang sopan? Kamu boleh menganggap Tante Lidya bukan mama kamu, tapi minimal kamu harus hormat kepada orang yang usianya lebih tua dari kamu,'' pinta Pak Arif dengan suara tinggi,'' Nino dengarkan Papa. Kamu sudah dewasa, sampai kapan kamu seperti itu?''

"Sudah mas sabar, kamu enggak boleh emosi kaya gitu," tutur Lidya yang berusaha menenangkan suaminya.

Nino masuk ke kamar dan membanting pintu sekeras mungkin.

'' HAAAH!!'' teriak Nino di kamarnya, ia berusaha mengendalikan emosi yang terus menguasai.

'' Tok,tok,tok,'' pintu kamar di ketuk oleh Pak Arif.'' Nino Papa mau bicara sama kamu, buka pintunya.''

Nino tidak merespon, ia tidak mau lagi membahas masalah hubungannya dengan Lidya. Nino menganggap Lidya sudah merebut Papanya, dan Lidya juga yang menyebabkan Papanya jarang ada di rumah.

" Nino rasa enggak ada yang perlu di bicarakan lagi, setelah mama tiada.''

" Kamu sudah taukan, penyebab mamamu meninggal itu karena apa?'' karena mamamu sakit, bukan karena papa.''

"Tapi sewaktu mama sehat, Papa kemana ajah? Papa enggak pedulikan sama kita. " tanya Nino dengan nada sedikit tinggi.

'' Kamu ....''

'' Pa.'' Lidya menggelengkan kepalanya.'' Sudah Pa, biarkan Nino sendiri.''

Pak Arif menarik napas dalam. Pak Arif tidak tau lagi harus berbuat apa, supaya Nino mau menerima dan tidak terus-terusan menyalahkannya. Sedang Nino terus berdiam diri di kamar, hidupnya seperti di neraka saat ia tinggal di rumah. Mungkin itu sebabnya Nino melampiaskan kekecewaannya dengan kenakalan-kenakalan yang sering ia timbulkan.

*******

Esok harinya Nino masih tetap sama, cuek, dan tidak mau berbicara dengan siapapun. Nino turun dari tangga, langkah kaki Nino terdengar menggema, hentakan kakinya mengalihkan perhatian Pak Arif, Cindy dan Lidya yang berada di meja makan.

''Nino, mau sarapan?'' tanya Lidya, Nino tidak merespon, wajah dinginnya terus ia perlihatkan. Nino tetap melangkah cuek keluar rumah tanpa mempedulikan wajah Lidya yang berubah muram.

'' Ka Nino,'' panggil Cindy, saat Nino sudah berada di atas motornya.'' Aku ikut sama Ka Nino yah?''

Nino mengangguk sambil tersenyum. Tanpa menunggu, Cindy naik ke motornya Nino dan duduk dengan santai di belakang kakanya.

"Ka, kenapa sih kaka sama papa nggak pernah akur?'' tanya Cindy '' jujur Cindy cape mendengar kalian bertengkar. Cindy ingin Ka Nino sama papa bisa akur.''

" Kamu enggak paham De, apa yang kaka rasakan!''

"Apa yang Cindy enggak paham?'' tanya cindy kembali. " Kalian cuma perlu saling minta maaf itu ajah.''

" Enggak semudah itu, " jawab Nino kemudian menghela napas. " Udah yah, kamu enggak usah memikirkan hubungan ka Nino sama papa, kamu fokus sajah sama sekolahmu.''

Motor Nino berhenti tepat di pintu sekolahnya Cindy. Cindy melepaskan pelukannya, kemudian turun dari motornya Nino.

" Seperti yang sudah kaka bilang tadi, kamu fokus sajah sama sekolahmu. Jangan pikirkan yang lain. " pinta Nino sembari tersenyum.

"Iya ka."

" Ya sudah masuk sanah, " kata Nino sambil mengucek rambut adik kesayangannya itu. Cindy masuk ke sekolah dan Nino melanjutkan perjalanannya.

Saat tiba di sekolah, kejailan Nino kembali muncul saat melihat Alya sedang berjalan sedirian di koridor. Nino mendekati Alya secara perlahan, sedang Alya tetap fokus dengan smartphone di tangannya.

'' Auuw!!"'

Alya teriak saat ia tersungkur karena kakinya di jegal oleh Nino. Nino rupanya bersembunyi di balik dinding sambil menunggu kedatangan Alya.

Mata Alya menatap tajam Nino, sedang Nino hanya tersenyum miring. Alya semakin geram saat handphone yang tadi ia pegang terlempar dan jatuh ke lantai.

'' Haaah!! Handphone gue.'' teriak Alya, sepersekian detik amarahnya terus memuncak sampai ke atas kepala. Mata Alya semakin tajam menatap Nino yang berdiri di hadapannya.

'' Nyokap lo enggak pernah yah, ngajarin lo sopan santun?'' tanya Alya ketus."Kayanya Nyokap lo enggak bisa ngedidik lo!''

Nino tersentak, wajahnya yang cueknya berubah jadi lebih serius saat Alya berkata seperti itu. Bagi Nino tidak boleh ada yang menghina Mamanya.

Nino semakin mendekat, sekarang jarak antara Nino hanya sekian centi saja. Wajah Nino semakin memerah akibat rasa marah yang sudah menguasai, sedang Alya nyalinya semakin ciut saat melihat tatapan tajam Nino yang menatapnya.

'' Lo tau apa tentang Nyokap gue? tanya Nino sedikit membentak.'' Lo enggak tau apa-apa. Jadi lo jangan berani-beraninya menghina nyokap gue.''

Alya terdiam, sekarang ia baru menyadari kalau ada yang salah dengan ucapannya. Sedang Nino, setelah meluapkan kemarahannya Nino berjalan cepat meninggalkan Alya.

Alya berjalan pelan kekelasnya, ada rasa bersalah yang menguasai Alya saat itu.

'' Al, lo bawa pulpen dua enggak?'' tanya Amel yang mencegatnya di depan pintu.

Alya malah cuek, ia tetap berjalan pelan kemudian duduk di kursi. Sementara Syiffa dan Rara yang duduk di samping dan belakang Alya terlihat heran dengan sikap Alya.

'' Al, lo kesambet di mana si? gue nanya enggak di jawab,'' tanya Amel yang langsung duduk di mejanya Alya.

'' Handphone gue rusak,'' sahut Alya sambil menaruh handphonenya di atas meja.

'' Alya, gue nanya pulpen bukan handphone lo.''

Ucapan dari Amel membuat Alya semakin geram. Alya menatap serius Amel yang duduk di depannya.

'' Handhopne gue lebih berharga daripada pulpen yang lo pinta,'' geram Alya sambil menatap tajam Amel, sementara Amel terdiam kemudian tersenyum pelan.

'' Emang handphone lo kenapa sampai rusak kaya gitu?'' Syiffa bertanya penasaran.

Alya menunduk, wajahnya yang tadi kesal berubah jadi sendu. Alya menarik napas kemudian menatap ketiga sahabatnya itu satu persatu, Alya sebenarnya tidak tahu apakah harus menyalahkan Nino, karena sudah membuatnya jengkel. Karena iapun sama, sudah membuat Nino marah.

Alya menyenderkan bahunya kekursi, kedua tangannya ia lipat di dada, sementara matanya menatap tajam kedepan.

'' Ini semua gara-gara Nino,'' bisik Alya,'' HAAAAH!!'' Alya bertriak sambil menggebrak meja dan menarik perhatian anak-anak yang lain.'' Tapi gue juga sudah menyinggung Nino soal nyokapnya.'' kata Alya pelan, kemudian bersandar kembali ke kursi.

'' Maksud lo?''

'' Kayanya Nino tersinggung saat gue membahas soal nyokapnya.''

'' Al ... nyokapnya Ninokan sudah enggak ada Al!'' sahut Rara yang membuat Alya kaget dan menatap Rara serius.

'' Serius lo, nyokapnya Nino sudah enggak ada?'' tanya Alya penasaran, sedang Rara hanya mengangguk.

'' Nyokapnya Nino sudah meninggal sejak Nino SMP Al,'' kata Syiffa menjelaskan.

Alya sekarang tahu kenapa Nino begitu marah saat ia menyinggung soal Mamanya. Alya menarik napas dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan, sementara otaknya terus memikirkan kesalahannya kepada Nino.

Di kelas Nino. Bu Indri sebagai guru sejarah sedang menjalankan tugasnya, Bu Indri sedang menjelaskan tentang peristiwa Bandung lautan api. Di saat anak-anak lain terfokus mendengarkan penjelasan dari Bu indri, tidak dengan Nino. Nino justru malah terus memikirkan apa yang Alya ucapkan.

"Ninoo!!" Panggil Bu Indri pelan, sedang Nino tetap terdiam dan tidak merespon.

'' Ninoo!!!'' panggil Bu Indri lagi, dengan menambah volume suaranya.

" Iya Bu? '' Nino terperanjat.

" Siapa yang membakar kota bandung saat peristiwa Bandung Lautan Api?" tanya Bu Indri cepat, sedang Nino terlihat bingung saat tiba-tiba di tanya seperti itu.

" Bukan saya bu, sumpah!!"

Nino menjawab sambil mengacungkan dua jarinya sementara anak-anak yang lain malah menertawakan.

'' Bu, sebandel-bandelnya saya, saya enggak mungkin membakar kota Bandung bu! " jawaban Nino justru membuat seisi kelas tertawa geli.

"Nino, kamu ngomong apa sih? tanya Bu Indri heran. " Kamu melamun yah? Jadi dari tadi kamu tidak memperhatikan ibu berbicara apa?'' tanya Bu Indri dengan meninggikan kembali suaranya. "Kamu ngelamunin apa sih?.''

" Ibu, " jawab Nino reflek. " ibu cantik hari ini,'' wajah Bu Indri mengernyit, saat mendengar jawaban konyol dari anak didiknya.

" Ninoo!! "

Wajah Bu Indri semakin berubah merah, amarahnya sudah tidak bisa di tahan lagi. Bu Indri berjalan mengambil penggaris besi yang ada di mejanya.

"Maju kamu!''

" Ngapain Bu ? Kan saya jujur ".

" Plaak!! " terdengar suara nyaring yang berasal dari penggaris yang di pukulkan keatas meja.

"Ikut Ibu!"

Nino berdiri mengikuti Bu Indri yang berjalan keluar kelas. Bu Indri membawa Nino ke halaman sekolah hendak menghukum Nino di sana.

" Kamu berdiri di sini! angkat satu kaki kamu. Terus kamu jewer kedua kuping kamu," perintah Bu Indri tegas.

" Bu kata bapak saya ...."

'' Saya nggak kenal bapak kamu," Bu Indri memotong Ucapan Nino. " Kalau kamu berbicara lagi, Ibu akan menambah hukuman kamu.''

'' Iya Bu,'' jawab Nino pasrah.

Tidak lama kemudian Nino berseru girang, saat ia mendengar bel istirahat berbunyi. Terlihat juga anak-anak yang lain sedang menonton apa yang terjadi sama Nino. Sebenarnya pemandangan seperti ini pemandangan yang biasa, karena ini bukan pertama kalinya Nino di hukum seperti itu.

" Bu udahan yah, reputasi saya sebagai cowok idola bisa hancur Bu, gara-gara saya di hukum seperti ini.''

"Memang siapa yang mengidolakan kamu?'' tanya Bu Indri sinis.

'' Ya banyak Bu, " jawab Nino singkat " Saya janji Bu, setiap pelajaran Ibu, saya akan menjadi orang yang paling rajin Bu".

" Ya sudah sanah, Ibu juga males ngurusin kamu terus, " perintah Bu Indri kemudian meninggalkan Nino.

Nino berjalan cepat naik ke tangga setelah hukumannya selesai, tapi kemudian langkahnya terhenti saat ia berhadapan dengan Alya di tangga itu.

Mereka saling menatap, tapi saling diam. Nino melepaskan tatapannya, ia berbalik arah turun lagi kebawah, sedang Alya masih manatap Nino serius.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status