Share

Kehamilan Cindy

Di hari ulang tahunnya, Cindy harus memendam dua kesedihan sekaligius. Pertama, harapan Cindy untuk melihat kaka dan papanya bisa akur sekarang pupus sudah. karena Nino menolak untuk berdamai.

Dan masalah yang paling berat yang Cindy alami adalah masalah kedua. Masalah ini sangat sulit untuk Cindy ceritakan ke siapapun.

Malam itu Cindy menangis di kamar, anak itu memiliki masalah yang sulit untuk dia selesaikan. Bahkan yang biasanya dia selalu menceritakan semua masalahnya ke Pak Arif dan Nino, untuk masalah ini Cindy tidak berani. Bahkan merasakan ketakutan yang teramat sangat.

Beruntungnya di rumah itu masih ada sosok lidya. Walau bukan ibu kandungnya, tapi nalurinya sebagai perempuan membimbingnya untuk peka terhadap masalah yang sedang di hadapi oleh anak tirinya. Perempuan itu merasakan ada sesuatu yang aneh dari prilaku Cindy beberapa hari terakhir ini.

Cindy memang beberapa terakhir ini tidak seperti biasa, dia terlihat lebih murung & sering menyendiri di kamarnya.

Seperti yang terjadi malam ini. Cindy terduduk di lantai dengan wajah yang sedikit sembab, karena air mata yang terjatuh kepipinya. Dari mulutnya terdengar rintihan tangis yang sulit dia hentikan, anak itu berusaha meredam suara tangisnya. karena dia tidak mau ada orang lain yang mengetahui tentang kesedihan yang sedang ia alami..

Tapi tidak dengan lidya, sebagai ibu sambung Cindy, Lidya punya kewajiban untuk mengetahui apa yang sedang terjadi sama anak tirinya itu.

"Tok..tok..tok"

''Sayang, kamu sudah tiduryah? Kalau belum, tante boleh masuk enggak?" tanya Lidya lembut.

" Ada apa Tante? '' jawab Cindy lirih dengan suara sedikit bergetar.

" Sayang, ada yang Tante ingin bicarakan sama kamu? tante boleh masuk yah?''

Cindy berdiri, ia segera membereskan foto laki-laki yang sudah memberi luka dalm hidupnya. Foto-foto sudah tidak utuh, karena Cindy sudah merobeknya menjadi beberapa bagian kecil. Cindy memasukan Foto-foto itu ke sebuah kantong plastik dan di taruhnya di bawah tempat tidur.

Cidy menarik napas dalam kemudian berjalan pelan untuk membuka pintu, Tapi sebelum itu, ia menyeka air mata di pipinya yang sudah mengering, seolah ingin menghapus jejak kesedihan yang sedang ia alami.

" Iya Tante ada apa? tanya Cindy setelah membuka pintu, sedang Lidya tetap tenang dengan senyum di wajah.

'' Tante boleh masuk? Kita bicaranya di dalam.''

Cindy terdiam, keningnya mengkerut.'' Ada apa ya, Tante?''

Sekali lagi Lidya tersenyum.'' Tante cuma mau ngobrol saja sama kamu.''

''Tante boleh masuk?'' tanya Lidya lagi saat melihat Cindy malah terdiam beberapa saat, Kemudian Cindy mengangguk pelan.

'' Boleh Tante, Silahkan.''

Lidya tersenyum, kemudian mengikuti Cindy yang berjalan di hadapannya. Lidya menarik napas saat melihat kamar Cindy terlihat agak berantakan, Lidya tau pasti sudah terjadi sesuatu pada Cindy walau Lidya belum tau apa yang terjadi.

Cindy dan Lidya duduk berdampingan di tempat tidur di kamar Cindy. Lidya beberapa saat memperhatikan wajah Cindy yang terlihat sendu tidak seperti biasanya.

''Cindy,'' panggil Lidya pelan saat Cindy terlihat melamun. " Kalau kamu punya masalah? Kamu boleh cerita sama Tante. Tante siap mendengarkan dan Tante janji nggak akan cerita sama siapapun, termasuk sama papa dan kakamu. "

Mendengar ucapan dari Lidya, wajah Cindy kembali sayu, air matanya kembali mengalir keluar, dengan reflek Cindy memeluk erat Lidya.

" Tante...,'' Suara lirih di sertai isak tangis keluar dari mulut Cindy, ia semakin erat memeluk Lidya.

" Sayang, kamu maukan cerita sama Tante, siapa tau Tante bisa bantu? '' bujuk Lidya, yang kembali menghapus air mata yang mulai membasahi pipi Cindy .

"Aku takut Tante.''

Lidya menatap serius Cindy setelah Cindy berkata seperti itu. Nalurinya sebegai seorang perempuan mengatakan, sudah terjadi sesuatu dengan Cindy.

" Kamu nggak perlu takut ada Tante.Tante janji Tante akan membatu masalah kamu, " balas Lidya kemudian menggenggam kedua tangan Cindy.

Cindy masih belum mau berbicara, Lidya selalu tau tentang Cindy walau Cindy tidak bercerita. Entah kenapa, Lidya merasa anak tirinya itu sedang berada dalam situasi yang sulit dan Cindy memlih diam untuk saat ini.

Cindy membutuhkan kepercayaan untuk bercerita, dan Lidya siap memberikan itu. Meski Lidya tidak menjamin bisa menyelesaikan masalah yang sedang di hadapi oleh Cindy.

'' Cindy, kamu percaya sama Tantekan?''

Dengan tatapan sendunya, Cindy memberanikan menatap Lidya, ada kehangatan yang ia rasakan saat melihat wajah Ibu tirinya itu.

" Aku hamil tante."

Lidya tersentak, perempuan itu berusaha mengendalikan pikirannya. Lidya memejamkan mata, kemudian dia menghela napas berulang kali.

'' Kamu hamil?'' tanya Lidya pelan, sedang Cindy malah tangisnya semakin terdengar. Cindy mengambil tespek yang ia sembunyikan di bawah bantal, 'positif ' mata lidya semakin melebar setelah membaca hasil tespek itu.

"Siapa yang sudah menghamili kamu, Nak?''

" Dewa, Tante! " Cindy kembali terisak saat menyebut nama lelaki itu.

Lidya berdiri, kedua tangannya berusaha menutupi wajahnya. Perempuan itu berusaha menghilangkan sesak yang ada di dada. Lidya kembali duduk di samping Cindy, perempuan itu kemudian mencium kening dan kedua tangan gadis itu, tidak lupa perempuan itu juga memeluk tubuh imut gadis itu.

" Sayang, kamu harus cerita sama papa," Ucap perempuan itu .Cindy menggelengkan kepala tanda tidak menyetujui usulan dari ibu tirinya itu. ''Sayang, kamu nggak bisa menyembunyikan masalah ini, cepat atau lambat papa sama kakamu pasti akan tau.''

" Cindy takut, Tante!''

Cindy benar-benar dalam di lema saat ini. Ia tidak tahu apakah harus bercerita atau tidak tentang masalah yang sedang di hadapinya.

" Sayang, kamu tenang sajah ada Tante, biar tante yang berbicara sama Papamu ," jelas Lidya, sambil mengusap rambut Cindy. " Percaya sama Tante, kamu pasti baik-baik sajah.Tante percaya, Papa kamu pasti mau menerima keadaan kamu," Cindy mengangguk mempercayai ucapan ibu tirinya.

"Ya sudah sekarang kamu tidur, kamu istirahat yah.''

Lidya berhasil menenangkan Cindy, Lidya juga berhasil membujuk Cindy supaya mau bercerita ke Papanya. Ada rasa sayang yang di tunjukan oleh Lidya kepada Cindy, dan itu yang membuat Cindy percaya kepada Lidya.

Lidya membelai rambut Cindy dengan penuh kasih sayang, ia rapikan selimut yang menutupi tubuh Cindy. Lidya berdiri, kemudian berjalan perlahan keluar kamar dengan membawa perasaan yang tidak menentu. Lidya berfikir, apa yang akan terjadi esok hari, saat ia menceritakan semunya pada suaminya.

Lidya tidak bisa membayangkan perasaan suaminya, pasti akan hancur saat mendengar kabar tentang anak gadisnya. Anak perempuan kesayangannya, anak peninggalan dari mendiang istrinya, apalagi anak itu usianya masih 15 tahun.

********************

Esok harinya.

Lidya berusaha mengumpulkan semua anggota keluarga yang tinggal di rumah itu, termasuk Nino yang biasanya tidak mau mendengar perintah dari ibu tirinya. Tapi karena ini menyangkut adiknya, Nino mau nggak mau harus mendengarkan.

Pagi hari yang cerah pagi itu, mungkin akan berubah menjadi kesedihan. Jika Papa dan kakanya tau masalah yang sedang menimpa salah satu keluarganya.

Lidya berusaha mengumpulkan sisa keberanian yang ia punya, beberapa kali lidya memejamkan mata dan menarik napas. Sedangkan Cindy masih tetap di kamar, anak itu terduduk di atas tempat tidur berusaha untuk tegar . Dia berusaha untuk menutupi telinganya, Cindy tidak sanggup mendengar kemarahan Pak Arif kepadanya.

"Ada apa si Mam, ko Mama minta kita berkumpul? tanya Pak Arif yang terlihat heran.

Lidya terdiam sejenak, perempuan itu terlihat menghela napas sebelum berbicara.

'' Ini soal Cindy, Pa, '' sahut lidya sambil melirik suami dan Nino, sementara Nino dan Pak Arif terperanjat penuh pertanyaan.

" Ada apa dengan Cindy?'' tanya Pak Arif yang seketika rasa penasarannya semakin meningkat.

" Cindy...." Lidya menjeda,'' Cindy hamil, Pa.''

Pak Arif dan Nino saling tatap, ada rasa tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Lidya.

'' Hahaha! Mama bercanda, manamungkin Cindy hamil, Mam,'' Pak arif tertawa, sekaligus berharap Lidya hanya bercanda.

'' Mama enggak bercanda,'' Lidya menyela,'' Cindy hamil, Pa.''

Pak Arif seketika terdiam saat Lidya terlihat serius kali ini. Apalagi setelah Lidya menunjukan hasil tesepek ke Pak Arif.

Tangan Pak Arif terlihat bergetar saat memegang tespek itu, ada rasa tidak percaya saat matanya menatap garis postif di tespek itu. Tapi Pak Arif tidak bisa melawan kenyataan yang ada di depannya.

'' Ya Tuhan! Ini bohongkan, Ma?''

'' Itu benar Pa, Cindy hamil!''

" Tante jangan fitnah Cindy yah, Cindy nggak mungkin kaya gitu," bentak Nino, kemudian berjalan cepat naik ke atas kekamar Cindy.

Nino duduk di sampingnya Cindy, yang duduk di tempat tidurnya ketakutan.

" De,apa yang di katakan Tante Lidya nggak benarkan ? '' tanya Nino tegas, " jawab kaka de, nggak benarkan? '' Cindy tidak menjawab pertanyaan Nino, justru malah tangisnya semakin pecah.

Cindy memeluk Nino, tangisnya semakin terdengar, anak itu semakin erat memeluk Nino.

"Apa benar kamu hamil, De? '' Nino kembali bertanya, suaranya semakin terdengar bergetar. Cindy hanya menjawab dengan anggukan sambil terisak, apa yang di tanyakan oleh kakanya.

Nino berdiri, dia kepalkan tangannya berusaha menahan amarah, sampai akhirnya amarahnya tidak bisa di bendung lagi. Nino beberapa kali memukulkan tangannya ke dinding kamar Cindy.

''Cindy!" geram Nino,'' siapa yang telah menghamilimu, Cindy?"

"Nino sudah cukup, apa yang kamu lakukan tidak akan merubah apapun!" teriak Pak Arif, kemudian menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Melihat kakanya seperti itu, tangis Cindy semakin kencang dia semakin merasa bersalah terhadap papa dan kakanya.

" Jawab kaka De! Siapa laki-laki bajingan yang sudah melakukan itu sama kamu?" tanya Nino dengan nada tinggi, suaranya bergetar, kedua matanya mulai memerah menahan kesedihan.

"Jawab kaka, De?'' Nino kembali bertanya sekali lagi, tapi cindy masih terdiam, anak itu takut kakanya berbuat nekat nantinya. Nino tidak sengaja menendang sesuatu di bawah tempat tidur Cindy, di situ Nino menemukan beberapa foto yang sudah di sobek, foto pria yang sudah menyakiti Cindy.

" Inikan, ini laki-laki yang sudah menghamili kamu? '' tanya Nino sambil menunjukan beberapa lembar foto di tangannya. " Jawab kaka, De? ''Nino kembali bertanya, kali ini suaranya semakin nyaring terdengar.

Tangis Cindy kembali pecah, suara tangisannya semakin terdengar. Disitulah Lidya sebagai perempuan dewasa satu-satunya yang ada disitu, berusaha untuk menenangkan Cindy. Perempuan itu memeluknya, membelai rambutnya, berusaha untuk melindungi anak itu.

"Sayang, kenapa kamu lakuin ini, kenapa kamu mengecewakan Papa, Nak?'' ucap Pak Arif dengan mata yang sudah berkaca-kaca. " Terus apa dia tau kalo kamu hamil ? '' tanya Pak Arif kembali.

Cindy menganggukan kepalanya. " Dia mengelak pah, justru malah menuduh Cindy hamil sama laki-laki lain."

"Brengsek!" teriak Nino, " ini semua salah Papa, kalau Mama masih ada, kejadian ini nggak mungkin terjadi, " geram Nino, sambil mengungkit kembali Mamanya. Nino kemudian pergi dari kamar Cindy, Nino pergi keluar rumah.

Kali ini Pak Arif tidak merasa tersinggung saat Nino menyalahkannya. Karena memang ada benarnya, bukan hanya Nino yang merasa tidak becus menjaga Cindy ,Pak Arif juga merasa begitu.

Di perjalanan Nino terus menyalahkan dirinya sendiri, dia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Adiknya itu. Nino mengunjungi makam mamanya, di depan makam mamanya Nino langsung bersimpuh tangisnya pecah seketika itu.

"Mam, maafin Nino. Nino nggak bisa jagain Cindy, " Ucap Nino sambil memegang nisan ibunya " Cindy hamil mam, ini salah Nino, Nino nggak bisa menjaga Cindy, " Nino kembali tidak bisa menahan tangisnya.

Nino berniat mencari laki-laki yang telah menghamili Cindy. Nino pernah mendapat kabar dari salah satu sahabatnya Cindy, kalau Cindy pacaran dengan salah satu anak STM 86 yang bernama Dewa .

Nino sebenarnya belum mengetahui sosok Dewa itu seperti apa. Hanya berbekal Foto yang ia bawa dari kamarnya Cindy, Nino berusaha mencari Dewa dengan cara mendatangi sekolahnya.

Nino perhatikan wajah setiap anak yang keluar dari sekolah, sampai akhirnya Nino melihat anak yang mirip dengan Dewa. Tapi saat Nino berniat untuk menghampirinya, Ada seseorang yang memanggilnya dari dalam mobil, dan anak itupun masuk kedalam mobil.

Nino memutuskan untuk mengikuti mobilnya dewa, Nino ingin memastikan bawa Dewa yang ada di Foto yang di simpan oleh Cindy adalah Dewa yang sama.

Sampai akhirnya mobil yang membawa Dewa terlihat memasuki sebuah rumah yang sangat mewah. Nino berhenti di depan rumahnya Dewa, Nino memperhatikan rumah Dewa dengan seksama.

Di rumah.

"Pa maafin Cindy, Cindy sudah mengecewakan Papa," tutur Cindy, suaranya lirih sambil memeluk papanya.

" Papa yang salah Nak, papa yang salah. Papa terlalu sibuk sama pekerjaan Papa, Papa nggak bisa menjaga kamu. "

Pak Arif berusaha menerima apa yang sudah terjadi pada anaknya. Walau dalam hati, pria itu merasakan sakit yang teramat sangat.

Hati orang tua yang mana yang tidak hancur, melihat anak gadisnya melakukan kesalahan fatal yang bisa menghancurkan masa depannya. Apalagi Cindy masih berusia 15 tahun.

Tapi semunya sudah terlanjur, waktu tidak akan bisa di ulang lagi, semuanya sudah terjadi . Yang harus di lakukan sekarang adalah menerima, supaya Cindy tidak semakin terpuruk.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status