Share

Bab 2

Bayangkan, koordinator data control sebelumnya membutuhkan waktu hampir enam tahun untuk bisa menjadi pemimpin untuk para karyawan di bagian data, sementara Maman ditunjuk menjadi koordinator data control setelah dua tahun menjalani tugas sebagai pengambil data. Hal ini membuat banyak karyawan yang sebelumnya satu bagian bersama Maman terkejut, apalagi beberapa diantara mereka sudah menjadi data control selama empat tahun, tak ayal mereka merasa dilangkahi sehingga memunculkan rasa iri hati di hati mereka.

"Dasar penjilat...pasti dia main kotor!"

"Dia Khan dekat sama pak Sumardi...tidak mungkin pak Sumardi mau mengangkat anak bau kencur itu jadi koordinator tanpa ada imbalan"

"Jangan-jangan tuh anak ngasih sogokan!?"

Itulah sebagian kalimat-kalimat gunjingan yang bertebaran di obrolan para karyawan tentang Maman, tentu saja Maman tahu hal itu namun ia merasa tidak perlu untuk melakukan pembelaan, ia merasa hal itu hanya buang-buang waktu dan energi, lagipula jika ia membantah secara frontal yang ada malah sikap antipati terhadapnya semakin besar dan ia tak bisa membayangkan bagaimana ia harus bersikap jika hal itu terjadi. Maman memilih untuk menutup telinga.

Maman tetap fokus menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai data control, dia tidak bisa memungkiri jika beberapa anggotanya memandang remeh dan iri secara sembunyi sembunyi pada dirinya, namun itu konsekuensi yang sudah diprediksi saat ia diberikan tanggung jawab yang ia pikul sekarang.

Beberapa lama menjalankan tugas yang dibebankan kepadanya Maman mulai mengetahui siapa-siapa saja anggota tim data control yang terlihat tidak suka padanya, Maman pun sudah bisa memetakan potensi konflik yang bakalan timbul dan bisa mempengaruhi tugas-tugasnya.

Satu-satunya anggota tim data control yang ia bisa percayai sepenuhnya hanyalah Simon, terlepas dari Simon merupakan sahabat karibnya namun ia melihat Simon selalu menunjukkan kinerja yang bagus, karena itu ia punya rencana untuk Simon.

"Simon...bagaimana pekerjaanmu hari ini?" Maman menepuk punggung Simon dari belakang, Simon yang terkejut tak mampu lagi mengontrol refleksnya.

"Upss...hmm...aduh...!"

Simon berusaha merangkai kalimat sekaligus mendapatkan kembali kontrol terhadap dirinya setelah dikagetkan oleh Maman, sahabat yang sekarang jadi pimpinannya.

"Aduh Man...beneran kaget aku!"

Maman tersenyum melihat kelakuan Simon, ia memaklumi jika sampai sekarang sahabatnya itu belum bisa membedakan panggilan formal dan panggilan informal, Simon masih saja memanggil Maman seperti saat mereka masih bersama-sama menjadi anggota tim data control, untung saja Maman bukanlah orang yang suka menuntut penghormatan berlebihan, karena itulah Maman mengacuhkan cara Simon memanggil dirinya.

"Kagetnya jangan kelamaan, aku butuh beberapa info hari ini"

Simon segera paham apa yang diinginkan Maman, ia lalu menyodorkan Maman beberapa lembar kertas.

"Itu rekapan data sejak tiga tahun lalu, seperti yang kamu bilang memang ada beberapa tempat yang datanya mencurigakan, terlihat di atas kertas baik-baik saja namun saat menyusuri hal tersebut dari dekat maka akan terlihat jelas kenyataan yang sebenarnya".

Maman membaca dengan seksama lembaran kertas yang diberikan Simon, keningnya berkerut dan ada rasa tidak puas di setiap desahan nafasnya.

"Bagaimana bisa koordinator yang lama melewatkan hal seperti ini?"

"Atau jangan-jangan dia tahu tapi tidak mau ambil pusing!?" Sambung Simon penuh kecurigaan.

Maman mengangguk perlahan, dia juga punya pemikiran yang sama dengan Simon. Memang dia tahu koordinator tim data sebelumnya tidak mau banyak pusing dan tidak mau repot untuk mengurusi keakuratan data yang diberikan anggota timnya, namun dia tidak menyangka kalau sikap koordinator sebelumnya itu meninggalkan banyak lobang permasalahan yang berpotensi membuat perusahaan mengambil keputusan yang salah.

Sudah saatnya Maman mengambil keputusan untuk memperbaiki kesalahan selama ini yang terjadi bertahun-tahun hal pertama yang harus ia lakukan adalah menempatkan seseorang yang ia percayai untuk menjadi orang pertama yang memeriksa keakuratan data sebelum sampai ke mejanya.

"Aku punya tugas baru untukmu, dan kamu tidak perlu lagi menjadi petugas data" kata Maman sambil menepuk bahu Simon.

"Tugas apa itu?" Tanya Simon, ia tahu pasti sahabat sekaligus koordinatornya ini akan melakukan segala hal untuk memperbaiki kesalahan yang ada.

"Semua data yang masuk kau harus verifikasi, tidak boleh ada data yang sampai ke saya tanpa harus melalui verifikasi dari kamu...kamu orang pertama yang melihat jika ada kesalahan data"

"Jika ada kesalahan, apa yang harus saya lakukan?"

"Laporkan ke saya lalu kita mencari cara menyelesaikannya sekaligus mencari pelakunya!"

Simon mengangguk tanda paham apa yang harus ia lakukan.

"Mulai besok kamu sudah mulai bertugas, posisi barumu akan saya umumkan pas meeting sore nanti...ingat kali ini jika masih banyak data yang tidak akurat kamu orang pertama yang saya mintai jawaban".

Perubahan besar memang harus dimulai dari hal terkecil dan salah satu hal kecil yang harus Maman lakukan adalah meminimalisir ketidak akuratan data, setelah ini ia harus memikirkan hal lain lagi untuk membuat tim data yang dipimpinnya bisa memberikan data riil ke perusahaan saat diperlukan.

Pengumuman pengangkatan Simon sebagai verifikator data membuat tim data kembali gempar, apalagi belum pernah ada posisi seperti yang dijabat Simon sekarang. Jabatan Simon menempatkan dirinya sebagai orang berpengaruh kedua di tim itu setelah koordinator tim data, beragam suara tidak puas dan kritikan mulai bermunculan sejak pengangkatan Simon diumumkan padahal Simon belum lagi menjalankan tugasnya. Hal ini didengar oleh pak Burhan yang sejak lama tidak suka dengan pengangkatan Maman sebagai koordinator tim data, sekarang dia punya bahan untuk membuat Maman menghadap dirinya untuk dimintai pertanggungjawaban dan jika bisa ia akan memaksa Maman untuk mundur dari posisinya itu.

"Kamu ke ruangan saya sekarang!" Perintah pak Burhan ke Maman melalui telpon dan tidak menunggu Maman merespon dengan jawaban ia langsung menutup telponnya.

Maman yang mendapatkan perintah untuk menghadap melalui telpon sudah hendak berkata "Siap pak..." Namun sebelum kedua kata itu keluar dari mulutnya orang yang menelponnya sudah memutuskan sambungan telpon. Ia sudah hapal dan tau maksud dari pak Burhan menyuruhnya menghadap, ia justru tak menyangka jika respon pak Burhan secepat ini bahkan Simon belum menjalankan tugas barunya. Ia lalu menghubungi nomor Simon dan tak lama kemudian suara Simon terdengar di ujung telpon.

"Halo Man..."

"Simon kamu siap-siap kita ketemu pak Burhan sekarang...bawa data kesalahan data yang sudah kamu rekap, kita buktikan kalau perlu banyak perubahan di tim ini".

"Siap...kita ketemu dimana?"

"Langsung temui saya di depan ruangan pak Burhan, saya tidak akan masuk ke ruangan pak Burhan tanpa data dari kamu"

"Baik!"

Simon tau yang harus ia lakukan, kali ini dia semakin yakin Maman sahabatnya sudah bukan lagi karyawan biasa yang selalu diremehkan orang di masa lampau, ia tahu sahabatnya itu punya banyak hal mengejutkan yang bisa setiap saat meledak mengejutkan banyak orang. Dia semakin yakin untuk selalu ada di samping Maman untuk membantunya kapanpun sahabatnya itu membutuhkan dirinya.

Lima menit kemudian Simon menyusul Maman ke depan ruangan Pak Burhan, melihat kedatangan Simon tanpa menunggu lama Maman langsung menuju pintu ruangan pak Burhan.

"Kali ini kita tunjukkan apa yang terjadi sebenarnya".


Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status