Share

Bab 9. Memasak

Becca memasuki kawasan perumahan elit. Matanya takjub melihat rumah-rumah besar nan mewah dengan halaman luas yang tertata apik. Becca membatin dalam hati, pasti setiap rumah dilengkapi kolam renang untuk memanjakan para penghuninya.

Becca kembali memeriksa alamat yang Pak Yandi diberikan padanya. Rumah nomor 7 yang bercat putih. Rumah Tuan Arga. Becca pelan-pelan memacu motornya dan akhirnya ia melihat sebuah rumah indah bercat putih. Rumah dengan desain klasik nan mewah.

Menghentikan motornya di depan gerbang, Becca dihampiri petugas keamanan.

"Selamat sore, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Satpam dengan wajah ramah.

"Selamat sore, Pak. Maaf saya mau bertanya, benarkah ini rumah Tuan Arga?" tanya Becca balas tersenyum.

"Benar. Apakah Nona ini Nona Becca?" tanyanya lagi.

"Benar, Pak." Becca agak bingung mengapa satpam tahu namanya.

"Nona Becca, silahkan masuk. Motornya diparkir di dalam saja. Tadi Pak Yandi sudah pesan pada saya agar jika Nona datang, langsung disuruh masuk saja," jelas Pak Satpam dengan wajahnya yang ramah.

"Terima kasih sekali, Pak."

Becca pun masuk ke dalam kawasan rumah Tuan Arga yang luas. Taman yang terawat dengan aneka tanaman yang menghiasi. Becca takjub, apalagi melihat rumah yang terlihat megah bercat dominan warna putih.

Becca pun diantarkan masuk ke dalam rumah. Ia disambut oleh seorang wanita paruh baya yang sepertinya asisten rumah tangga senior di rumah ini.

"Inikah yang namanya Becca?" tanya Ibu itu dengan ramah.

"Benar, Bu." Becca menjawab sopan.

"Bu Isti, saya kembali ke pos dulu ya," pamit Pak Satpam lalu berlalu pergi.

"Terima kasih, Pak Budi," ucap Bu Isti.

"Becca, panggil saya Bu Isti ya. Saya sudah diberitahu Pak Yandi kalau kamu akan bekerja di sini setiap sore. Betul kan begitu?" tanya Bu Isti memastikan.

"Iya, Bu Isti."

"Ya sudah, ayo kita langsung menuju ruang kerja kita, dapur .... " Bu Isti tersenyum ceria sambil menggandeng tangan Becca.

Becca sangat senang, ternyata bekerja di rumah Tuan Arga tidak semengerikan yang ia bayangkan. Sepertinya malah akan menyenangkan.

"Wow ... dapurnya bersih, rapi dan moderen," ucap Becca tak sadar saat melihat dapur yang luas, moderen, bersih dan rapi. Ia memang belum pernah melihat secara langsung dapur yang demikian.

"Becca, kamu akan memasak apa malam ini untuk Tuan Muda kita?" tanya Bu Isti tanpa basa-basi.

"Bu Isti, memangnya di sini nggak ada kokinya?" Becca malah bertanya tanpa menjawab pertanyaan Bu Isti.

"Kokinya baru Minggu lalu resign karena akan menikah di kampungnya," jelas Bu Isti.

"Lalu kenapa di sini sepi sekali, nggak ada penghuni lainnya selain Tuan Arga dan Bu Isti?" tanya Becca celingukan melihat segala arah mencari keberadaan orang yang ada.

"Nggak ada. Tuan Muda nggak suka jika rumahnya banyak berseliweran orang. Kalau pagi datang 2 orang asisten rumah tangga yang membantu membersihkan rumah dan selesai itu mereka langsung pulang. Hanya saya saja yang tinggal  di sini," jelas Bu Isti tersenyum ramah.

"Oh begitu." Becca manggut-manggut tanda mengerti tapi tidak menyangka jika rumah sebesar ini hanya ditinggali Tuan Arga dan seorang asisten rumah tangga.

"Becca, ayo kita mulai masak. Kamu ada rencana mau masak apa?" tanya Bu Isti lagi sambil mengarahkan Becca ke kulkas besar yang ada di dapur itu.

Mata Becca membelalak ketika kulkas dibuka. Berbagai sayur, buah dan tertata rapi disana. Juga ada daging yang banyak tersimpan di freezer.

"Bu Isti, makanan favorit Tuan Arga apa sih?" tanya Becca.

"Tuan Muda orang yang sederhana sebenarnya. Dia paling suka ayam goreng kremes dengan sambal bawang, lalapannya selada dan mentimun. Udah itu aja," kata Bu Isti tersenyum. Memang Tuan Mudanya sangat menyukai makanan itu tapi entah kenapa Tuan Muda tidak suka akan masakannya. Pernah ia bilang kalau masakan Bu Isti bercitarasa aneh di lidahnya. Jadi Bu Isti tidak pernah memasak lagi untuk Tuan Arga.

"Ya udah yuk kita masak itu aja," kata Becca bersemangat.

Becca pun menyiapkan bahan dan bumbu untuk membuat ayam goreng kremes. Tangannya sigap bekerja, ia memang terbiasa mengerjakan apa saja karena tinggal di panti asuhan harus bisa semuanya.

Sementara Bu Isti hanya menjadi asisten Becca, ia hanya membantu sesuai apa yang Becca perintahkan.

"Bu Isti, kan Tuan Arga itu kaya banget ya, kenapa dia malah suka makan di rumah?" tanya Becca penasaran.

"Kan sudah aku bilang, Tuan Arga itu pada dasarnya sederhana. Ia lebih nyaman makan di rumah. Kalau tidak terpaksa, Tuan lebih memilih makan di rumah daripada makan di resto. Padahal jika dipikir, makanan dari resto sudah pasti enak ya," kata Bu Isti sambil membayangkan makanan enak yang bisa dipilih di resto-resto terkenal.

"Oh gitu ternyata."

Becca tidak menyangka jika ternyata Tuan Arga lebih suka makanan rumahan biasa.

Hampir satu jam Becca dan Bu Isti berkutat di dapur menyelesaikan masakannya. Jam sudah menunjukkan pukul 18.30 saat makanan sudah siap dan Becca sedang menatanya di meja makan.

Tuan Arga masuk ke ruang makan dan mengambil tempat duduk. Ia hanya melirik keberadaan Becca yang terlihat sibuk menata makanan di atas meja.

"Selamat malam, Tuan Arga. Selamat makan, semoga Tuan suka," ucap Becca kaku, ia bingung bagaimana harus menghadapi Tuan Arga yang wajahnya terlihat tidak ramah.

"Masak apa ini?" tanya Tuan Arga sambil mengamati makanan yang terhidang. Sebenarnya ia sudah tahu tapi hanya ingin membuat Becca bertambah kikuk saja. Ia geli melihat Becca yang ketakutan berada di dekatnya.

"Ini ada ayam goreng kremes dan sambal bawang, Tuan," ucap Becca sambil menunduk.

"Sepertinya enak. Terima kasih ya. Ehm ... kamu sudah makan?" tanya Tuan Arga lagi.

"Belum, Tuan. Maaf saya akan ke dapur dulu saja. Silahkan menikmati," ucap Becca yang buru-buru hendak kabur dari sana. Ia sudah membalikkan badannya dan berjalan.

"Eh tunggu dulu! Mau ke mana kamu? Sini temani saya makan!" perintah Tuan Arga.

Becca yang mendengarnya segera menghentikan langkahnya. Ia bingung kenapa Tuan Arga ingin dia menemani makan malam ini.

"Tapi, Tuan .... " Becca bingung akan mengatakan apa.

"Tapi apa?! Sudah jangan banyak bicara, aku sudah lapar. Cepat duduk dan makan, temani saya!" perintah Tuan Arga tanpa bisa dibantah.

Dengan terpaksa, Becca pun mengambil tempat duduk agak jauh dari tempat duduk Tuan Arga. Ia memang merasa lapar, tapi jika makan semeja dengan Tuan Arga seperti ini membuat selera makannya tiba-tiba menghilang. Makanan yang terasa enak pun jadi terasa tidak enak di lidahnya.

Sementara Tuan Arga hanya memandangi wajah Becca yang terlihat tidak nyaman. Entah mengapa melihat Becca tersiksa membuat kesenangan tersendiri untuknya. Senyum tipis tersungging di sudut bibir Tuan Arga, ia tidak akan melepaskan Becca dengan mudah malam ini.

-

-

-

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status