Share

Bab 2 : Penemuan Racun Di Gudang

Adapun masing-masing dari pasangan tersebut tidak memiliki anak.

Nurah memiliki paras yang cantik namun Sasmita yang meski telah kepala empat pun termasuk menawan dan awet muda...

Malik berhenti membaca dan menggulir layar untuk mencari tahu apakah tertulis kronologi kejadian. Tapi tak ada tulisan rincian yang mendetail.

Polisi masih belum mengeluarkan pernyataan dan kenyataannya semua berita bersumber dari portal lokal.

Kejadiannya sudah lewat tiga hari dan kemungkinan banjir sudah mulai surut. Pemeriksaan polisi terhadap saksi baru dimulai kemarin. Mayatnya tidak diautopsi lantaran pemeriksaan terhadap sisa bandrek di dalam tumbler telah keluar.

Ada kandungan racun potasium sianida di dalamnya dengan jumlah hampir satu gram. Namun pihak berwajib belum mengeluarkan pengumuman apakah ini merupakan kasus pembunuhan.

Malik mencari-cari lagi nama-nama terkait di laman mesin pencari. Dua gambar korban semasa hidup ditampilkan pun juga gambar masing-masing istri mereka.

Hanya terdiri dari satu foto untuk masing-masing istri dan itu pun dengan sudut seolah si objek foto menolak untuk diambil gambarnya.

Deskripsi tentang penampilan fisik kedua perempuan itu kelihatannya benar. Yang akan dihadapi Malik dan Ilbi jika jadi merisik kasus ini adalah dua perempuan berpenampilan menarik.

Lewat jam sebelas malam Ilbi menelepon Malik.

“Besok jam 08.00 kita berangkat. Pak Hito menghubungiku lagi untuk memberi perlindungan terhadap Nurah, karena saat rumah Adil digeledah mereka menemukan racun potas di gudang belakang rumah. Aku akan ke rumahmu kurang dari jam itu.”

“Baiklah,” jawab Malik singkat lalu Ilbi menutup telepon.

Jam tujuh pas Ilbi tiba di rumah Malik. Ilbi memberi salam dan berbincang sedikit dengan ibunda Malik, Adah.

Sambil turun dari loteng samar-samar Malik mendengar Adah menanyakan apakah Ilbi punya kerabat perempuan untuk dikenalkan padanya.

Malik sendiri telah siap berangkat. Ia memakai jaket parasut dengan dalaman kemeja lengan pendek.

Ilbi telah duduk di ruang tamu dengan basa-basi Adah yang membujuk agar Ilbi mau dihidangkan teh meski Ilbi telah menekankan bahwa ia telah minum di rumah sebelum berangkat kemari.

Begitu menyadari putranya mendekat, Adah langsung berujar, dengan nada yang dilebih-lebihkan sambil menatap Ilbi.

“Aduh, enaknya kalau sudah punya istri, ada yang menyediakan dan menyeduh teh di pagi hari.”

Ilbi tersenyum simpul. “Sebenarnya saya lebih sering memasak sarapan, juga cukup sering membeli nasi lemak ataupun lontong sayur di depan rumah. Untuk menyeduh teh pun saya lebih sering melakukannya,” ujar Ilbi yakin tak yakin dengan alasan mengapa ia harus menjelaskan detail rutinitas paginya.

Adah nampak tak menyerah melontarkan sindiran halus. “Kau tentu melakukannya, karena istrimu harus banyak istirahat dalam periode menyusui.”

Ilbi yang masih dengan senyum tersungging menggeleng. “Tidak juga, istri saya memang bukan tipe yang rajin memasak.”

“Oh, begitu.” Adah jadi tak punya amunisi untuk betul-betul mengarahkan sindiran terarah pada Malik.

Mendengar jawaban Ilbi, memberi wejangan pada Malik untuk mencari istri agar bisa disiapkan sarapan menjadi tidak relevan untuk disampaikan.

Malik lekas mengalihkan pandangan dan berkata kepada Ilbi bahwa ia sudah siap berangkat. Namun Ilbi berujar ada hal yang ingin didiskusikannya dulu.

Adah pun berlalu ke belakang dan tak mendebat lagi tamunya mau dihidangkan teh atau apa pun.

“Mamakku mulai sering merepotkan kapan aku menikah,” ujarnya seraya duduk. "Apa lagi saat tahu kau sudah dikaruniai anak."

“Aku sudah bilang tak perlu kuatir karena anak lelakinya pria yang memesona dan berkarisma.” Mereka berdua tergelak.

“Ngomong- ngomong bagaimana urusan dengan Nurah, istri dari almarhum Adil? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Malik.

“Kesaksiannya masih didalami dan polisi tidak sampai menahannya. Pagi ini dia juga akan memberi keterangan berikut beberapa keterangan saksi lain yang berada di posko malam itu. Termasuk juga Sasmita.

"Sebelumnya kau harus tahu bahwa Pak Hito merupakan kuasa hukum dari Adil Pras. Adil Pras adalah klien di kantor notarisnya tempat surat wasiat milik Adil disimpan. Pria itu jadi lebih memperketat segala urusan mengenai hartanya sejak Sasmita mendapat harta gono-gini.

"Karena kejadian ini Pak Hito menunda pembacaan surat wasiat dari mendiang sebelum apa yang terjadi kepada kliennya benar-benar terang, apalagi ada indikasi perbuatan kriminal.”

Malik mengangguk paham. "Pantas saja kau langsung membahas kasus ini kemarin. Ku kira kau akan mengurusnya karena keinginanmu."

Ilbi hanya mengiyakan dengan singkat.

Malik lanjut bertanya, "Kau punya informasi mengenai kronologi kejadian saat itu?”

“Belum. Tapi satu petugas resepsionis Polsek yang merupakan sepupu jauhku memberi informasi bahwa tumbler milik Saba yang mengandung bandrek beracun tersebut terdapat tiga jenis sidik jari milik si korban sendiri yaitu Saba, Nurah, dan juga Sasmita.”

“Wah, menarik sekali. Aku ingin tahu, apakah Pak Hito yang menjadi penasihat hukum saat Adil menceraikan Sasmita?”

“Tidak. Orang lain. Baru setelah resmi bercerai dia bertemu Pak Hito. Oh iya, almarhum Adil juga langsung mengurus dan mencatatkan perkawinannya dengan Nurah setelah perceraiannya. Nurahlah yang rencananya kita dampingi melalui lembaga TIAM.”

Malik terdiam sejenak. Ia tak bertanya lebih jauh karena kronologi kejadian pun masih belum diketahui Ilbi. Alih-alih dia bertanya, “Seandainya Adil bukan klien Pak Hito apakah kita akan melibatkan diri dengan kasus ini?”

“Kemungkinan iya. Ini kasus serius yang terjadi di jangkauan kita. Sebagai tambahan, meski dikatakan akan memberi bantuan hukum memadai pada Nurah, namun bukan berarti langsung memutuskan melindungi dan memberi pembelaan baginya.

"Akan beda urusannga jika kuat indikasi dia menjadi tersangka. Jangan khawatir. Lembaga ini memang independen tapi dijamin negara asal dalam koridor yang tidak mengganggu kemaslahatan.

"Bahkan Komnas Ham pun mengakui kredibilitas lembaga lokal ini,” terang Ilbi dengan semangat.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status