Share

2. Siapa Bilang Aku Tidak Berani

Percuma saja aku sok kuat seperti tokoh wanita di novel online yang aku baca, karena kenyataannya tubuh ini tidak mempunyai tenaga untuk menolak keinginan suami dan tidak bisa juga memaksakan keinginan kita pada suami. Entah bagaimana aku melewati masa kehamilan yang tinggal tiga bulan nanti. Jika untuk persalinan dan perawatan ada BPJS pabrik, tetapi untuk baju bayi dan segala pernak-pernik melahirkan, sama sekali aku tidak punya uang. 

"Mandi gih! Udah mau magrib nih." Bang Rizal masuk ke kamar dengan wajah segar setelah mendapatkan apa yang dia inginkan. Aku pun memakai kembali atasan daster, lalu berjalan lemas keluar kamar. 

"Jangan gak semangat gitu dong, Sayang. Abang beneran lagi cape banget, tapi pengen. Jadinya gak maksimal deh." Bang Rizal tertawa. Ia mencolek bokongku dengan isengnya. 

"Cape sih boleh, tapi gak lima detik juga kali," kataku dengan suara menahan emosi. Sudahlah uang bonus tak dibagi barang sedikit pun. Giliran minta jatah, benar-benar baru merem sekali, malah udahan. Suara tawa Bang Rizal yang masih menggema, untung saja tertutup dengan suara azan magrib. Aku mengambil handuk untuk menutupi paha ini. Lalu aku memanaskan sayur untuk makan malam kami, sambil menunggu selesai azan, barulah aku mandi. 

Selesai mandi dan solat, aku menyiapkan makan malam. Bang Rizal keluar, katanya ingin beli rokok. Telur dadar, sambal, dan juga sayur bening wortel, kentang,  dan juga soun. 

"Bang, makan dulu yuk!" Ajakku begitu Bang Rizal pulang. 

"Eh, iya, saya udah makan di rumah mama tadi. Mbak Novi masak gulai ayam, goreng bakwan, dan juga sambal. Pas banget saya lapar, ya udah, saya makan aja. Kamu makan sendiri aja, Neng. Habisin semua lauknya biar gak mubazir." Jawaban Bang Rizal membuatku benar-benar sedih. 

Di rumah, selama beberapa hari ini sengaja aku menghemat uang belanja karena sudah semakin sedikit, sedangkan tanggal gajian masih delapan hari lagi. Aku memasak seadanya, padahal aku ingin sekali memasak menu enak yang sering aku lihat di i*******m, tapi apalah daya, aku harus berhemat masak seadanya.

Sisa dua ratus ribu untuk delapan hari, belum dipotong susu hamil satu kotak. Undangan Pak RT yang menikahkan anaknya dan entah pengeluaran lainnya yang tidak terduga. 

"Neng, Abang pinjam seratus dulu, besok ada urusan dengan teman. Bekal Abang tinggal lima puluh ribu." Bang Rizal duduk di kursi makan sambil menatapku. 

"Gak ada," jawabku singkat tanpa mau menatap wajahnya. 

"Loh, kenapa gak ada? Ke mana uangnya? Kan masih banyak. Kalau makan cuma begini doang, paling sepuluh ribu sehari. Masa uangnya udah gak ada?" Aku menelan ludah. Nasi yang ada dalam mulut ini begitu susah untuk kutelan karena ucapan suamiku yang begitu membuatku terkesan berlaku curang dalam urusan perut. 

"Bang, saya bukan petani yang bisa memanen padi, kemudian diolah menjadi beras, lalu dimasak menjadi nasi. Saya juga bukan ayam, yang sekali ngeden keluar telur. Saya juga  bukan petani sawit, sehingga bisa mengolahnya jadi minyak. Semua butuh uang, Bang, uang yang Abang kasih juga untuk periksa kandungan. Susu hamil, kondangan, mesin aer mati, pake uang ini juga. Arisan Abang di RT seratus ribu sebulan juga pakai uang ini. Ya Allah, Abang gak boleh gitu sama istri. Nih, Abang medit sama istri, maka.... "

"Udahlah, banyak sekali alasan kamu! Kalau gak ada, ya udah!" Bang Rizal masuk ke kamar dengan wajah marah. Aku menggelengkan kepala, sambil mengusap perut ini yang bergerak tidak lincah seperti biasanya. 

"Sabar ya, Nak, nanti kita cari selingkuhan CEO biar bisa makan enak," gumam Neneng sambil mencebik menatap pintu kamar. 

Malam ini kami lewati dengan tidur saling memunggungi. Jika Bang Rizal sudah mendengkur dengan keras, maka tidak denganku yang masih terjaga. Entah jam berapa aku baru bisa lelap, karena rasanya baru sebentar terpejam, azan subuh pun berkumandang. 

"Bang, bangun, sudah subuh," kataku membangunkan Bang Rizal. Suamiku masih tertidur pulas. 

"Bang, bangun, solat dulu!" Kataku lagi sambil mengguncang tubuhnya. Bang Rizal berbalik, lalu menoleh ke arahku dengan mata memicing. 

"Bangun, udah setengah lima." 

"Nanti saja," jawabnya dengan suara begitu serak. 

"Abang tuh harus solat, sebelum disolatkan." Aku segera turun dari ranjang agar tidak mendapat pelototan dari suamiku. Aku pun berwudhu dan melaksanakan solat subuh di kamar, dengan suami yang masih saja mendengkur.

Selesai solat, aku kembali membangunkannya, tetapi percuma saja, Bang Rizal masih sangat pulas. 

Kuputuskan untuk memasak nasi goreng saja sebagai menu sarapan hari ini. Bang Rizal bangun saat aku sedang mengaduk nasi di penggorengan. 

"Nasi goreng lagi ya?" tanyanya saat melewatiku. 

"Iya, sayang nasinya dibuang," jawabku tanpa mau menatapnya. 

"Lama-lama aku bisa bau bawang karena makan nasi goreng setiap hari. Neng, Neng, kreatif gitu kalau masak, jadinya suami senang makan di rumah." Protes dari Bang Rizal tidak kujawab. Masih pagi dan aku malas berdebat. Nasi goreng matang, teh pun sudah tersedia di atas meja. Aku menunggu Bang Rizal tanpa semangat. 

Aku pun ingin sarapan roti dengan mentega dan coklat mesis. Aku ingin sarapan nasi uduk dengan bakwan goreng, pengen makan ketoprak telur, tetapi aku sadar, bahwa aku harus berhemat.

"Saya sarapan di rumah mama aja deh. Barusan saya nanya Mbak Novi, katanya dia masak sop iga." Bang Rizal menyambar teh di atas meja. 

"Coba kalau uang bonus saya dibagi sedikit, saya juga bisa masakin sop iga," ujarku dengan menahan pedih di hati. 

"Ck, masih masalah itu saja yang kamu bahas. Pergi aja ke sana, minta sendiri kalau kamu berani!" 

"Siapa bilang saya gak berani? Oke, saya ikut ke rumah mama sekarang, saya juga mau sarapan sop iga, karena Mbak Novi masak pakai uang suami saya. Ayo, saya ikut kamu, Bang." Aku pun sudah berdiri tegak, sembari menatap suamiku dengan tatapan menantang. 

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
si istri bertahan dg jatah 1 juta sebulan. klu istri tolol kayak gini g respek. nyampah dan g berguna banget
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status