Share

4. Perkara Sup Iga

"Kamu sakit, Neng?" Mbak Novi menatapku remeh. Ia meraih piring kosong kotor dari atas meja makan. 

"Wajar dong saya tanya gitu, Mbak. Memangnya Bang Rizal mau belikan apa?" tanyaku lagi masih dengan suara tidak terima. 

"Neng, kamu ini aneh sekali. Saya tuh gak sengaja senggol HP Mbak Novi, terus pecah. Jadi saya harus ganti dan Mbak Novi maunya HP yang sama kayak punya dia. Ya saya belum ada duit. Kemarin saya baru setor buat pampers mama kan." Bang Rizal menjelaskan dengan ekspresi wajah meyakinkanku. Masuk di akal juga karena memang sejak kemarin aku tidak melihat update status Mbak Novi. Biasanya, apapun dan kapanpun itu, wanita berumur tiga puluh delapan tahun itu selalu posting. 

"Tuh, dengerin. Malah nuduh selingkuh, dosa kamu sama Mbak dan suami kamu!" Mbak Novi berjalan begitu saja melewatiku. Kakinya melangkah menuju kamar ibu mertua. Aku pun akhirnya berjalan ke dapur,  hendak mengambil nasi dan juga sop iga. Namun, aku tidak menemukan apapun di dapur selain nasi yang masih ada di magic com. 

"Makanya jangan suka suudzon sama suami. Saya berangkat ya, Neng. Nanti kamu naik angkot aja pulangnya. Kalau naik ojek online ongkosnya mahal."

"Bang, bukanya Abang bilang Mbak Novi masak sop iga, tapi kenapa di dapur gak ada apa-apa. Mana sop iganya?" 

"Udah habis, Neng. Mbak Novi mah dua kali masak. Pagi dan sore. Ada semangkuk lagi untuk mama. Kan kamu dadakan ke sininya, jadi Mbak Novi gak bikin lebih. Ya sudah, Abang berangkat ya." Aku tertegun tanpa bisa berkata-kata lagi. Bayangan menikmati semangkuk sup iga hangat dengan nasi putih yang sama hangatnya, mampu membuat air liurku keluar dari sudut bibir. Namun, kini keinginan itu harus aku hempaskan ke dasar jurang karena makanan itu sudah habis. 

Haruskah aku percaya? Rasanya tidak mungkin makanan enak seperti itu cepat sekali habisnya. Tentu aku tidak mau percaya begitu saja. Semua laci lemari kitchen set mama, aku buka satu per satu. Memperhatikannya dengan seksama, siapa tahu Mbak Novi menyembunyikan makanan itu dariku. 

Sayang sekali, sepertinya aku terlalu mencurigai sepupu suamiku itu karena memang tidak ada makanan apapun di dalam lemari. Hanya ada bahan makanan seperti mi instan, gula, teh, dan kerupuk mentah, dan beberapa bumbu dapur. 

"Ada apa? Kamu cari apa?" tiba-tiba Mbak Novi menegurku saat pintu kulkas baru saja kututup. Tentu saja aku menoleh kaget, khawatir Mbak Novi mencurigaiku.

"Saya ke sini ingin mencicipi sup iga buatan Mbak, tapi kata Bang Rizal sudah habis. Saya kirain, saya bisa membuat makanan yang lain, tetapi telur gak ada," jawabku sedikit berbohong. Sengaja kuusap perut membuncit ini agar Mbak Novi mengerti keinginanku yang tengah hamil ini. 

"Sudah habis. Kenapa gak beli di warung sayuran matang aja, seperti di warteg gitu? Oh, iya, kamu mau yang gratis ya. Gak belanja, gak masak, tahu-tahu makan." 

"Saya lagi ingin makan masakan Mbak Novi. Mungkin bawaan bayi, tapi kalau sudah habis, ya gak papa. Saya mau pulang aja." Aku mengulurkan tangan untuk berjabat. Mbak Novi menyambut uluran tanganku dengan setengah hati. Kenapa aku bilang setengah hati? Karena wajahnya terus saja cemberut. Apa aku harus emosi menanggapi ujaran Mbak Novi yang jelas sekali menyindirku? Tidak, perut ini sudah kelaparan sehingga aku tidak punya tenaga untuk membuat keributan. 

"Lain kali saja kalau pas saya masak, nanti saya suruh Rizal mampir ke sini untuk ambil." Mbak Novi keluar dari pintu samping. 

"Makasih Mbak, saya pulang dulu ya. Saya mau pamit mama dulu!" Setuju dengan suara sedikit keras. 

"Gak usah pamit, mama tidur. Kamu malah ganggu mama nanti." Ucapan menyakitkan lagi-lagi Aku terima jika aku berkunjung ke rumah mertuaku ini. 

Aku  keluar dari rumah dalam keadaan perut lapar dan juga tidak memegang uang. Ponsel untuk memesan ojek online-pun tidak ada paket internetnya. Dompet tertinggal di rumah, sehingga aku gak punya uang sepeser pun. Ingin kembali ke rumah mertuaku, meminjam uang pada Mbak Novi, rasanya gak mungkin dan pasti tidak akan mereka berikan. 

Lima belas menit berlalu dan aku masih melangkah pulang dengan tubuh penuh keringat. Jarak rumahku mungkin masih sekitar dua kilometer lagi dari tempat aku berjalan saat ini. Perut pun rasanya sudah kencang dan sedikit sakit. 

"Loh, Mbak Neneng," tegur pria yang sedang memanggul karung cukup besar di pundaknya. Pria itu adalah Kang Jaya, pedagang daster keliling. 

"Mau ke mana? Habis lari ya? Mukanya pucet sama keringetan gitu?" Kang Jaya menatapku dengan heran. 

"Ini, saya...." napasku mendadak sesak karena kelelahan berjalan. Setelah itu aku pun tidak sadarkan diri. 

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nama Yeniii
bagus sekali
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status