Share

Bab 7

"Amran! Kamu itu suami, kepala ruang tangga, harusnya kamu tegas sama istri mandulmu itu. Jangan menjadi budak cinta. Apapun yang Zilva inginkan selalu kamu turuti. Wajar kalau dia jadi ngelunjak dan manja!" Mama mulai mengomel lagi dan lagi. Seperti biasa, tiap kali aku menuruti permintaan Zilva, selalu aku yang menjadi sasaran amukannya. 

Padahal, bukankah hal wajar jika seorang suami menuruti permintaan istrinya? Apalagi dia tengah berduka dan sudah berkorban banyak hal untuk pernikahan keduaku ini. Wajar jika aku ingin memberikan sedikit hadiah untuknya bukan? 

 

"Siapa yang mandul, Ma? Zilva nggak mandul. Dia hanya ingin liburan, Ma. Sedikit refreshing supaya tak terus memikirkan masalah ini. Lagipula, sebelum jatah waktuku bersama Lala habis, dia juga sudah pulang. Zilva tahu tanggungjawabnya sebagai istri kok. Mama tak perlu risau. Berempatilah sedikit padanya, karena dia sudah rela dimadu demi menyenangkan hati mama. Tolong, kali ini jangan terus menyudutkan apalagi menyakiti hatinya." Aku kembali membela Zilva, karena dia memang layak dibela. 

 

Hanya cara ini yang bisa kulakukan tiap kali Mama menyudutkan ataupun meremehkan karena statusnya yang belum diizinkan memiliki keturunan. Aku akan terus memujinya di depan mama dan keluarga besar hingga mereka kehabisan kata-kata untuk menyudutkan Zilva.

 

Aku rasa Mama sering kali berlebihan menyudutkan dan meremehkannya. Sudah terlalu lama dan terlalu banyak luka yang Zilva rasakan karena ulah mama. Namun, dia tak pernah mengeluh apalagi menyakiti mama balik. Yang dilakukannya selama ini hanya menyimpan lukanya dalam diam. 

 

Kata-kata pedas yang sering kali terucap dari bibir mama untuknya cukup membuat hatinya teriris perih selama dua tahun belakangan. Aku tak mampu membuat mama terdiam, jadi beginilah caraku membela harga diri istriku di depan mertuanya. 

 

"Liburan nggak harus mahal kan, Ran? Kenapa harus minta saku sepuluh juta segala? Dia pikir sepuluh juta uang kecil gitu? Mentang-mentang tinggal nodong suami bisa seenaknya minta ini itu." Mama kembali menyudutkan menantunya seolah tak ada sisi baik Zilva sedikitpun di mata mama. Semua yang ada padanya hanyalah keburukan dan rentetan cela yang tiada akhirnya. 

 

Zilva memang minta ditransfer yang sepuluh juta. Dia bilang mau liburan bersama Arumi, sahabatnya. Kurasa tak masalah jika aku memberinya uang saku segitu. Kasihan juga dia di rumah sendirian sementara aku di sini bersama Lala dan keluarga besar. Di saat aku tak bisa mendampinginya dan membiarkannya dalam kesakitan, mungkin dengan uang tak seberapa itu bisa membuatnya lebih tenang dan nyaman di tempat liburan. 

 

Zilva hanya butuh menenangkan hati dan menjernihkan pikiran. Dia tak ingin merasakan sesak itu di dalam kamar sendirian. Lagipula, selama hidup bersamaku, Zilva nyaris tak pernah pergi sendiri tanpaku. Dia lebih nyaman di rumah dengan segala aktivitas rutinnya untuk membuatku betah daripada harus menyibukkan diri di luar rumah. 

 

Wajar jika sekarang dia butuh menghirup udara segar di luar di tengah himpitan masalah yang membuat dadanya sesak. Sepuluh juta bukan uang yang besar. Itu bahkan terlalu kecil menurutku jika dibandingkan dengan keputusan besarnya yang mengizinkanku menikah lagi. Keputusan yang pasti teramat melukai batinnya saat ini. 

 

Jika ditanya mengapa Zilva minta uang saku padaku, jawabannya jelas karena dia masih sah menjadi istriku. Aku wajib memberinya nafkah, lagipula dia tak memiliki uang sendiri karena selama ini tak pernah berkerja dan hanya di rumah saja sejak lulus kuliah lalu menikah denganku.

 

Aku yang melarangnya bekerja di luar rumah. Beruntung Zilva bukan perempuan yang gila karir. Dia begitu penurut dan mau mengikuti semua perintahku karena menganggapku sebagai imam yang wajib dituruti perintahnya. Zilva tahu bagaimana cara berbakti dan menyenangkan hati suami. 

 

Aku memang cukup protective padanya. Lagi-lagi karena aku terlalu takut ada lelaki lain yang berusaha merampasnya dariku. Tak bisa kubayangkan bagaimana hidupku tanpa Zilva di sisi. Jadi, apapun yang diinginkannya saat ini aku akan berusaha memenuhi agar dia bahagia dan tak merasa terdzalimi karena pernikahan keduaku ini. 

 

"Sepuluh juta nggak mahal jika dibandingkan dengan tabunganku saat ini sekaligus keikhlasan hatinya yang mengizinkanku menikah lagi." Mama menoleh, kembali meradang tiap kali aku membela Zilva. 

 

"Gimana dia nggak semakin besar kepala jika kamu terus membelanya. Mama nggak mau tahu, pokoknya mulai sekarang kamu harus lebih mencintai Lala dibandingkan dia supaya Lala lekas hamil!" sentak mama lagi.

 

"Mama pengin anak mama masuk neraka karena ketidakadilannya pada kedua istrinya? Ingat, Ma. Seorang suami memang boleh memiliki istri lagi bahkan sampai empat istri asalkan bisa adil. Seadil-adilnya suami, tetap saja ada hal yang membuatnya condong ke salah satu istri. Apalagi mama terang-terangan memintaku untuk memberikan porsi lebih pada Lala, apa itu bisa dikatakan adil, Ma?" Mama hanya melirikku lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang keluarga. 

 

Pasca pernikahanku dengan Lala siang tadi, aku memang memboyongnya ke rumah mama. Rumah ini terlalu besar jika hanya dihuni oleh mama saja. Kakakku, Selly juga sudah menikah dan memiliki anak. Dia tinggal bersama suaminya di sebuah perumahan elit tak terlalu jauh dari sini, sementara Prilly adikku juga tinggal bersama suami dan anaknya di kecamatan sebelah. 

 

Biarlah Lala tinggal bersama mama di sini. Lagipula, istri keduaku itu adalah menantu idaman dan kesayangan mama. Jadi, cocok jika mereka tinggal bersama. Awalnya Lala menolak dan menginginkanku mengajaknya ke rumah. Mana bisa? Rumah itu dibangun dari nol saat pernikahanku dengan Zilva, aku nggak mungkin mengajak orang luar tinggal di sana apalagi Lala. 

 

Meski uang pembangunan rumah itu dari hasil keringatku sendiri karena Zilva memang tak bekerja, tapi tetap saja itu gono giniku bersama Zilva. Mana bisa Lala ikut tinggal di sana apalagi saat ini rumah itu sudah sah milik Zilva dan atas namanya. Anggap saja hadiah kecil atas kerelaan dan kesabarannya mendapatkan madu di tengah hubungan pernikahan kami yang sedang romantis-romantisnya. 

 

"Mama juga nggak mau kalau kamu lebih condong ke Zilva dibandingkan ke Lala, Amran. Mama nggak mau tahu, pokoknya untuk sementara kamu harus memiliki waktu lebih bersama Lala. Setidaknya supaya dia hamil lebih dulu." 

 

"Nggak bisa, Ma. Aku sudah menyusun jadwal untuk Zilva dan Lala dengan porsi yang sama. Jangan selalu menuntutku untuk menuruti semua permintaan mama. Aku sudah terlalu menyakiti Zilva dengan pernikahan ini. Jadi, jangan menuntut lebih, Ma. Kita tak selamanya hidup di dunia, ada akhirat tempat kembali. Jika mama menyayangiku, tentu mama tak ingin aku mendapatkan adzab karena ketidakadilan ini." 

 

Kutinggalkan mama di ruang keluarga sendirian dengan kekesalannya yang tak masuk akal. Sampai kamar, kulihat Lala baru saja keluar kamar mandi dengan baju tidurnya yang minim. Aku tercekat di depan pintu saat melihatnya duduk di tepi ranjang dengan sedikit menggoda. 

 

*** 

 

Komen (3)
goodnovel comment avatar
Lusi A-Nang
seadil -adilny poligami masih ada hati yang tersakiti
goodnovel comment avatar
Bocah Ingusan
judulnya kusita harta suami, tapi POV nya pihak suami, sedangsi perempuan hanya peran pembantu.. ga salah thor?
goodnovel comment avatar
berislamm
koinnya magal
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status