Share

BAB 5

KUBUAT MEREKA KEPANASAN KARENA SUDAH MEREMEHKANKU

BAB 5

"Ranti, Ibu ke mana? Di dapur tidak ada, di kamarnya juga tidak ada." Aku bertanya saat adikku sedang memakai kaos kaki.

"Lah, Kakak lupa? Dari dulu Ibu memang tidak ada di rumah kalau pagi," jawab Ranti, sambil mengikat tali sepatunya dan bersiap berangkat sekolah untuk menimba ilmu.

"Duh, kok Ibu jualan lagi? Padahal, Kakak sudah melarang Ibu untuk jualan, apa uang yang Kakak kirim selama ini masih kurang?" ucapku sambil duduk di kursi teras.

"Ranti tidak tahu, Kak. Ranti berangkat sekolah dulu ya? Assalamualaikum."

"Wa'alaikumsallam, hati-hati di jalan, pulang sekolah nanti Kakak jemput, kita jalan-jalan cari cemilan, tunggu aja di gerbang, oke?"

"Oke, siap!" Ranti pun berlalu, jarak dari rumah ke sekolahnya tidak lah terlalu jauh. Hanya memakan waktu lima belas menit saja.

"Jelita! Mana suamimu yang katanya pengusaha itu? Suruh suamimu keluar biar bisa kenalan sama konglomerat! Ini suamiku namanya Sultan, dia baru pulang tadi malam. Dia ini orang yang super sibuk, dia harus terbang ke sana ke mari untuk melihat perusahaannya. Perusahaannya banyak dan nyata, tidak halu seperti suamimu." Zahra bergelayut manja di lengan laki-laki yang katanya suaminya itu. Suaminya tersenyum genit seraya mengedipkan sebelah matanya menatapku.

"Mana suaminya? Suruh keluar dan bilang kalau Sultan mau berkenalan dengannya." Laki-laki yang menyebutkan namanya itu berdiri tegak sambil membetulkan letak dasinya.

Aku menahan tawa melihatnya. Apa konglomerat gayanya seperti itu? Memakai dasi dan jas kantoran saat berada di rumah.

"Udah, tidak usah melihat suamiku seperti itu, aku tahu kamu terpesona 'kan, Jelita? Aku bilang juga apa, suamiku ini konglomerat, ingat! Konglomerat beda sama suami kamu yang pengusaha, pengusaha halu, ha-ha-ha!" Zahra tertawa keras, suaminya senyam senyum menatapku sambil mengedipkan sebelah matanya lagi.

Aku bergidik geli melihatnya, aku bangkit dari duduk dan berlalu masuk ke dalam rumah. Pagi-pagi sudah mau memancing emosiku saja.

________

"Apa uang kiriman dari kami masih kurang untuk Ibu? Kok Ibu jualan lagi di pasar, Ibu seharusnya istirahat saja, nikmati hari tua dengan duduk di rumah saja, bukan berjualan seperti ini." Mas Ridwan berbicara dan duduk di depan Ibu yang sedang mengeluarkan kue-kue sisa berjualan di pasar. Mas Ridwan terkejut tatkala aku menceritakan padanya, bahwa ibuku masih berjualan kue di pasar.

"Bukan begitu, Nak. Ibu sudah terbiasa bekerja, Nak. Jadi, Ibu merasa bosan kalau harus duduk di rumah saja tanpa bekerja," sahut Ibu sambil menatap kami bergantian.

"Baiklah, kalau begitu, buat warung kecil-kecilan di depan rumah, jadi Ibu tidak perlu repot-repot jalan kaki pergi ke pasar," kata Mas Ridwan memberikan usul.

"Tapi ...."

"Tidak ada tapi-tapi, Bu. Ibu adalah ibuku, ibuku adalah ibunya Jelita. Ridwan akan memperlakukan Ibu dengan baik, seperti Jelita memperlakukan ibuku dengan baik, ibuku pasti akan marah kalau tahu besannya bersusah-payah menjual kue seperti ini, Ibu mau kalau besan Ibu itu memarahiku?" ucap Mas Ridwan.

"Ha-ha-ha, baiklah, baiklah, Ibu nurut saja," sahut Ibu, setelah tertawa pasrah.

"Baiklah, Ibu minta tukang untuk datang dan minta buatkan warung di depan, ini upah untuk tukangnya, minta mereka kerjakan sampai selesai hari ini juga," ucap Mas Ridwan sambil menyerahkan uang kepada Ibu.

Biasanya tukang akan mencari kayu-kayu dan dua papan saja untuk tempat meletakkan kue-kue di atasnya. Seperti saat orang-orang berjualan saat bulan ramadhan.

"Ini banyak, dua ratus ribu saja cukup," kata Ibu, Ibu mengambil dua lembar dan menyerahkan sisanya pada Mas Ridwan kembali.

"Ambil saja untuk, Ibu. Buat tambahan modal untuk bikin kue-kue yang enak ini." Mas Ridwan menolak untuk menerima uangnya kembali.

Aku tersenyum melihatnya, urusan uang. Mas Ridwan tidak pernah pelit dan perhitungan. Mungkin, itu lah sebabnya rezeki Mas Ridwan selalu mengalir deras.

_______

Aku dan Mas Ridwan duduk di teras. Melihat tukang yang sedang membuat warung, sederhana saja. Atapnya hanya menggunakan terpal.

"Pengusaha lagi bikinin mertuanya warung, hidup mis kin pun sok-sokan bikinin mertua warung. Beli dulu sandal yang bagus, baru bikinin mertua warung!" Suara Tante Dira nyaring keras saat berbicara. Resiko rumah berdampingan dengan saudara julid ya begini. Apa-apa selalu dijulidkan.

"Tante iri, ya? Kenapa? Apa karena tidak mampu untuk membuat warung seperti ibuku?" ucapku sambil mengulas senyum, kubuat wajahku terlihat tenang saat bertatapan dengan Tante Dira. Sebenarnya, aku tidak bisa sabar terus menerus kalau berhadapan dengan Tante julidku ini.

"Iri kamu bilang? Ck! Jika Tante mau, sepuluh warung seperti itu pun bisa Sultan buatkan hari ini juga untuk mertuanya ini, tidak level sekali warung seperti itu!" sahut Tante Dira ketus.

"Memang susah ya? Kalau hati sudah penuh dengan rasa iri, setiap melihat orang bahagia dan kehidupannya maju pasti bawaannya iri dan kepanasan," ucap Mas Ridwan. Tentunya sambil berbisik.

"Begitulah, Mas. Sudah tidak diherankan lagi. Saudara ibuku memang seperti ini."

Mas Ridwan tersenyum kecut dan bangkit dari duduknya, lalu masuk ke dalam rumah.

Tin!

Klakson mobil berbunyi saat memasuki halaman rumah Tante Dira. Dari kaca mobil yang tembus pandang, dapat kulihat Zahra melihat ke arah tukang yang sedang fokus memalu paku dipapan.

"Zahra, Sultan, besok bikinin Ibu warung yang lebih besar dari itu, biar mereka tahu kalau menantu Ibu yang konglomerat ini bisa membuatkan warung untuk Ibu juga." Tante Dira berbicara dengan volume suara yang besar. Membuat ibuku yang ada di dapur langsung keluar rumah karena mendengarnya.

"Ada apa lagi?" tanya Ibu. Aku meresponnya dengan mengangkat kedua bahu.

"Tidak perlu lah, Bu. Jangan ikut-ikutan begitu, aku malu kalau punya mertua jualan di warung-warung kecil begitu, apa kata orang nantinya? Suami Zahra yang konglomerat ini, dengan teganya membiarkan mertuanya berjualan di warung kecil, bisa jadi berita buruk nantinya, Bu."

"Kamu dengar itu, Mbak Jeni? Ini baru menantu kaya, yang tidak mendukung kalau mertuanya jualan seperti Mbak Jeni, bukan seperti menantu Mbak Jeni yang ngaku pengusaha, tapi mertuanya dibiarin hidup susah! Pake dibikinin warung pula. Ha-ha-ha!"

"Menantuku tidak seperti yang kamu pikirkan, Dira. Menantuku-"

"Sudah lah, Mbak Jeni! Jangan meninggi-ninggikan masa depan menantumu yang gelap sama seperti anakmu itu, perlihatkan saja aslinya. Untuk apa malu ya, 'kan? Melihat orang punya menantu kaya, malah ingin punya juga menantu kaya. Alhasil malah malu-maluin, pulang kampung sewa mobil biar dipandang kaya, aslinya malah menyedihkan sekali!" ejek Tante Dira, Tante Dira berbicara tanpa memberikan celah sedikit pun untuk ibuku bicara.

"Lagian mana ada pengusaha kaya yang mau sama wanita tamatan SMA? Meng-halunya terlalu berlebihan, pengusaha dan wanita rendahan yang sampai menikah hanya ada di film ikan terbang, kumenangis membayangkan betapa suramnya hidupku ini, ha-ha-ha!" Zahra tertawa sambil bernyanyi mengejekku.

"Masuk lah, Jelita. Jangan dengarkan mereka," ucap Ibu.

"Iya, Bu, tidak ada gunanya kita mendengarkan ocehan mereka. Bisa ikutan tidak waras kalau meladeni mereka terus," sahutku dan membawa langkah masuk ke dalam rumah.

"Madesu baper, ha-ha-ha!" ejek Zahra. Suaranya masih terdengar meski pintu rumah sudah tertutup rapat.

"Rumah Ibu harus kita renovasi, bangun pagar menjulang tinggi biar tidak ada yang bisa melihat ke halaman rumah Ibu lagi," ucap Mas Ridwan. Ternyata, Mas Ridwan duduk di sofa ruang tamu, pasti Mas Ridwan mendengar semuanya.

"Tidak, Nak. Ibu sudah terbiasa dengan ucapan saudara Ibu itu, mereka memang seperti itu." Ibu pasti sungkan kalau rumah ini mau direnovasi.

"Tolong, Ibu jangan menolak keinginan Ridwan, ya?"

"Aku setuju, ini demi kenyamanan kita, Bu." Aku ikut menimpali, dan akhirnya ibuku mengangguk pasrah.

Aku ingin lihat, kira-kira apa reaksi mereka saat melihat rumah ibuku direnovasi?

Pastinya mereka akan semakin julid dan kepanasan saat melihatnya nanti. Pastinya, iya. Duh, aku jadi tidak sabar untuk melihatnya.

BERSAMBUNG...

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status