Share

6. GARA-GARA ROK MINI

Kehadiran Rindu di kantor cabang baru itu mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak yang kebanyakan berasal dari kubu kaum adam.

Kecantikan Rindu seolah mengguncang seluruh divisi bagian di dalam kantor untuk mencari tahu siapa karyawati baru yang beruntung karena bisa menempati posisi paling diminati berbagai pihak yakni sebagai sekretaris dari Direktur utama mereka, yang konon katanya kini beralih tangan kepada anak si pemilik perusahaan.

Seorang lelaki tampan bergelar sarjana Master lulusan salah satu Universitas terkemuka di USA.

"Wah, kalau sekretarisnya model begitu sih, udah pasti jadi simpenannya Pak Hendrawan," celetuk salah satu karyawati di divisi perencanaan. Sesekali dia melirik Rindu yang sibuk di kubikel kerjanya.

"Sayangnya punya Pak Hendrawan udah meletoy kali nggak bisa lurus dan tegak lagi," sahut karyawati lain yang disambut dengan cekikikan geli.

"Heh, kerja-kerja! Ngerumpi mulu!" sentak seorang lelaki yang tiba-tiba saja datang.

Beberapa karyawati yang sedang asik berghibah itupun bubar dan langsung duduk manis di kubikel kerja masing-masing karena tak ingin terkena semprot sang manager.

Sultan, adalah manager di kantor cabang baru tersebut. Dia yang telah menempatkan Rindu pada posisi sekretaris saat pertama kali dia bersitatap dengan Rindu beberapa minggu yang lalu ketika proses interview berlangsung.

Sultan yakin, pilihannya kali ini tepat.

Pasti, anak Pak Hendrawan akan memujinya karena dia pintar mencari sekretaris yang pastinya sesuai dengan selera kebanyakan bos-bos besar yang suka dengan barang bagus.

Rindu ini tambang emas bagi Sultan supaya posisinya bisa aman di kantor cabang baru ini mengingat persaingan kerja di sini sangatlah ketat. Kalau tidak pintar-pintar cari muka, bisa-bisa jabatannya turun level.

"Rindu, apa ada kesulitan sejauh ini?" tanya Sultan pada Rindu yang sedang sibuk bekerja. Lelaki itu berdiri di sisi kubikel meja kerja Rindu yang berada tepat di depan pintu ruangan Sang CEO.

"Oh, tidak Pak. Alhamdulillah semuanya bisa saya kerjakan dengan baik. Cuma perlu tanda tangan Pak Hendrawan saja," jawab Rindu dengan senyumnya yang membuat hati Sultan berkedut.

"Oh ya, saya lupa kasih tau kamu kalau Pak Hendrawan sudah mengalihkan kepengurusan dan kepemimpinan kantor cabang baru ini pada anaknya. Namanya Pak Fahri. Kemungkinan, beliau mulai masuk kantor lusa nanti karena sekarang dia masih di Swiss, bulan madu. Maklum pengantin baru," jelas Sultan.

Rindu hanya manggut-manggut.

"Nanti kalau Pak Fahri masuk, tolong penampilan kamu sedikit diubah ya? Jangan memakai kemeja longgar begini, roknya lebih pendek sedikit juga tidak apa-apa. Sebelumnya semua sekretaris Pak Hendrawan selalu rapi dalam berpenampilan. Daripada nanti Pak Fahri yang tegor kamu langsung, mendingan saya yang menjelaskan. Kamu bisa contoh penampilan karyawati lain di sini, nah seperti itu kurang lebihnya, mengerti Rindu?"

Rindu kembali menganggukkan kepala meski ragu.

Insiden tadi pagi cukup membuat dirinya dan sang suami hampir bertengkar hebat.

Dan semua itu karena masalah penampilan Rindu.

Albani tidak suka jika Rindu memakai pakaian terlalu ketat apalagi pendek. Itulah sebabnya Rindu kini memakai pakaian seadanya yang tidak terlalu memperlihatkan lekuk demi lekuk bentuk tubuhnya yang ramping dan tinggi semampai itu.

"Baiklah kalau begitu, saya akan kembali ke ruangan kerja saya. Kalau ada apa-apa, panggil saya saja ya? Jangan sungkan-sungkan," Sultan menepuk bahu Rindu sebelum lelaki itu pergi.

Sepeninggal Sultan, beberapa karyawati lain langsung berbisik-bisik tetangga.

"Kayaknya Pak Sultan ada apa-apa deh sama sekretaris barunya si Bos. Dasar perjaka tua ganjen," bisik Loli pada rekan samping kubikelnya.

Sudah menjadi rahasia umum jika sang manager memiliki reputasi buruk di kalangan karyawannya karena sering bersikap tak senonoh pada karyawati magang maupun baru. Hanya saja karena jabatannya yang lebih tinggi itu Sultan mampu menyumpal mulut para bawahannya dengan ancaman pemecatan jika sampai ada yang berani macam-macam. Itulah sebabnya sampai detik ini posisi Sultan tetap aman karena memang tak ada yang berani padanya terlebih saat Pak Hendrawan masih menjabat di sini, Sultan merupakan tangan kanan Pak Hendrawan hingga akhirnya, semakin menjadi-jadilah polah Sultan yang bejat itu di kantor.

"Btw, anaknya Pak Hendrawan yang mau gantiin posisinya Pak Hendrawan itu katanya orangnya ganteng? Beneran emang?" sahut Dina dari belakang.

"Ih, kudet banget sih lo, Din! Lo tahu nggak model cantik yang namanya Adelia Kartika Wibowo? Itukan istrinya Pak Fahri, mereka baru aja nikah beberapa minggu yang lalu. Lo bayangin aja, cewek cantik macam Adelia masa mau sama cowok jelek? Nggak usah jauh-jauh deh, Pak Hendrawan yang udah tua aja kharismanya masih kayak anak muda, apalagi anaknya yang masih fresh," timpal Loli dengan antusiasme yang tinggi.

"Sayang banget ya kalau gitu, coba kemarin gue yang gantiin posisi Feby, pasti sejahtera banget hidup gue bisa kerja bareng satu ruangan sama bos ganteng," kali ini Susi yang menyahut.

Loli langsung menoyor kepala Susi. "Mimpi lo ketinggian! Makanya lo sumpelin dulu tuh durian montong punya lo ke mulutnya Pak Sultan, hahaha..."

"Enak aja! Punya gue khusus buat my honey bunny sweety baby gue ya di rumah, no obral!"

Seketika, ruangan Divisi perencanaan yang berada di luar ruangan Direktur utama pun kembali ramai.

*****

Malam itu, Albani pulang dengan tampang kusut dan wajah lebam membiru setelah dia terlibat dalam aksi sebuah pencopetan di pasar.

Naas, Albani yang kebetulan saat itu hendak menangkap si pencopet justru malah menjadi tertuduh dan terlibat dalam aksi pencopetan itu.

Jadilah dia bulan-bulanan warga sekitar. Untungnya pihak berwajib cepat turun tangan hingga Albani berhasil diselamatkan.

Karena kejadian tersebut, KTP dan beberapa surat berharga miliknya yang dia butuhkan untuk melamar kerja di sita oleh petugas kepolisian sampai Albani benar-benar terbukti bukan salah satu komplotan si pencopet.

Jika diibaratkan pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Jangankan mendapat pekerjaan, kini Albani justru tak bisa melanjutkan usahanya mencari pekerjaan.

"Loh, Mas? Muka kamu kenapa? Baju kamu juga, kok pada kotor begini? Kamu habis berantem?" tanya Rindu kebingungan mendapati keadaan sang suami malam itu.

Tanpa menunggu perintah, Rindu cekatan mengambil obat merah dan kapas serta air hangat di baskom kecil untuk mengobati luka-luka di wajah suaminya.

Albani menceritakan secara singkat kronologi kejadian yang dia alami hari itu.

Rindu merasa begitu prihatin akan nasib suaminya. Hingga dia pun kembali memberikan semangat agar Albani tidak bersedih lagi.

"Nanti kalau aku udah gajian, aku akan langsung tebus KTP dan surat-surat berharga kamu supaya kamu bisa cari kerja lagi, untuk sementara kamu istirahat aja dulu di rumah Mas," kata Rindu saat itu.

Albani tidak menjawab.

Selesai mandi dan berganti pakaian, lelaki itu langsung merebahkan diri di kamar. Bahkan dia tak menyahut ketika Rindu menawarinya makan.

Rindu hanya bisa termangu di ambang pintu kamar menatap punggung Albani yang terlelap.

Sepertinya, Albani memang benar-benar lelah.

Rindu tak ingin banyak bertanya lagi.

Malam itu, mereka tidur saling memunggungi.

Tanpa ada percakapan apapun.

*****

Pagi harinya, Rindu sudah siap dengan pakaian kantornya yang baru.

Pakaian yang lebih modis dari pakaian yang sebelumnya dia kenakan.

Kemeja pink ketat yang Rindu padu padankan dengan rok sepan pendek berwarna hitam.

Hari ini adalah hari penyambutan kedatangan sang Direktur baru, itulah sebabnya Rindu di tuntut untuk tampil sempurna oleh Pak Sultan hari ini.

"Mas, aku berangkat dulu ya?" pamit Rindu pada suaminya yang baru saja terbangun dari tidur.

Seperti biasa, Rindu pamit dengan sungkeman terlebih dahulu pads sang suami.

"Sarapannya udah aku siapin di dapur. Makan yang banyak, kayaknya kamu capek banget semalem. Lagian biar luka-luka kamu cepet sembuh juga," ujar Rindu saat itu.

Albani tidak bereaksi.

Perhatian lelaki itu tersita dengan penampilan Rindu yang tampak berbeda dari biasanya.

"Roknya nggak kependekan tuh?" sindir Albani saat Rindu sudah berjalan hendak keluar kamar.

Mendengar nada bicara Albani yang keras dan tajam, sontak Rindu menghentikan langkahnya di ambang pintu kamar.

Dia berbalik menatap Albani yang masih terduduk di kasur lantai.

"Hari ini direktur baru di tempatku bekerja datang, Mas. Ini permintaan managerku karena dia bilang, Pak Fahri nggak suka melihat pegawainya memakai pakaian longgar," jelas Rindu berusaha untuk tetap sabar.

Albani tersenyum kecut. "Modus banget sih bos kamu itu!" cibirnya dengan wajah setengah kesal. Albani berdiri dihadapan Rindu, masih dengan tatapannya yang penuh ketidaksukaan.

"Ganti pakaian kamu," perintahnya datar dan sinis.

"Tapi Mas," Rindu mengesah. Dia jadi serba salah.

Albani tidak menanggapi tapi malah ngeluyur pergi.

"Aku udah telat, aku mohon kali ini aja ya, izinin aku pakai pakaian ini ke kantor, inikan nggak terlalu pendek Mas, cuma di atas lutut sedikit..."

"RINDU! AKU INI SUAMI KAMU! AKU BILANG GANTI YA GANTI! KAMU ITU MAU KERJA, BUKAN MAU NGEJABLAY!"

Sayangnya, Rindu salah perkiraan.

Hardikkan Albani disertai ucapan kasarnya membuat Rindu tersinggung.

Perlahan tapi pasti, kelopak mata Rindu kian berkaca-kaca.

Sementara mood Albani yang memang sejak kemarin sedang dalam keadaan buruk justru membuatnya lepas kontrol hingga setelahnya, dia menyesali perkataannya sendiri.

Albani hendak meraih Rindu ke dalam pelukannya untuk meminta maaf tapi Rindu sudah lebih dulu mengelak.

Rindu berjalan ke arah lemari pakaian dan mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa.

"Ndu, aku minta maaf!" Albani berjalan mengekor Rindu ke dapur.

Rindu yang langsung menyibukkan diri mencuci piring.

"Kamu nggak ke kantor?" ucap Albani lagi setelah permintaan maafnya tak juga mendapat sambutan dari Rindu.

"Ndu..." panggil Albani saat Rindu terus diam.

"Ini udah jam berapa? Nanti kamu telat ke kantor," Albani mencoba meraih tangan Rindu dan kali ini Rindu tidak mengelak.

Pipi wanita itu sudah banjir oleh air matanya sendiri.

"Aku berhenti kerja saja, Mas," ucap Rindu singkat.

Albani menarik napas dalam-dalam. "Yasudah kalau itu memang keputusan kamu,"

Saat itu, ke duanya kembali terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

Hingga saatnya, kedatangan sang pemilik kontrakan membuat lamunan keduanya buyar.

"Maaf, Mba Rindu dan Mas Albani, ini sudah lewat satu minggu jatuh tempo pembayaran kontrakan bulan ini, saya mau kalian membayarnya sekarang," ucap Ibu Mirna si pemilik kontrakan.

Albani berdiri dan mengajak Bu Mirna bicara tapi saat itu Rindu menyusul keluar dengan memberikan uang yang diminta Bu Mirna sebagai pelunas uang sewa kontrakan bulan ini.

"Itu uang siapa Ndu?" tanya Albani sepeninggal Bu Mirna.

"Aku pinjem sama temen kantorku. Janjinya sih gajian nanti aku ganti," sahut Rindu datar.

Albani meraih tangan Rindu dan menggenggamnya erat.

"Aku minta maaf, sekarang aku antar kamu ke kantor ya? Nanti aku pinjam motornya Bu Risma, kamu siap-siap ya?"

"Aku nggak mau di sama-samain kayak jablay lagi!" balas Rindu yang masih sakit hati dengan ucapan nyelekit Albani tadi.

"Akukan udah minta maaf... Sana gih siap-siap,"

Rindu menatap jam dinding cukup lama.

Waktu masuk kantornya tinggal tersisa lima belas menit lagi.

Alasan apa yang harus Rindu katakan nanti di depan Direktur Utamanya kalau dia sampai ketahuan datang terlambat?

Semuanya gara-gara Mas Bani!

Keluh Rindu dalam hati.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status