Share

5. Terlalu Sibuk

“Boneka kuda poni aku mana, Pi? Papi beliin aku kuda poni, ‘kan?”

Seketika Archer terdiam. Tatapan polos dan penuh harap dari bola mata jernih Kimberly membuat lidahnya mendadak terasa kelu.

“Pi, kok nggak jawab?”

Feli tersenyum ironi. Ia sudah bisa menebak bahwa pria itu pasti melupakan janjinya lagi. Ini untuk ketiga kalinya di tahun ini Archer melupakan janjinya kepada Kimberly.

Belvina.

Jemari Feli terkepal ketika nama itu melintas di pikirannya, hingga wortel dalam genggamannya terlihat bergetar.

Semua ini karena Archer terlalu mengurusi hidup wanita itu, sampai-sampai dia melupakan permintaan putrinya sendiri.

“Sayang.” Suara Archer terdengar serak. Dielusnya kepala Kimberly dengan lembut. “Papi... nggak nemu boneka kuda poninya di Singapura,” dustanya dengan tenggorokan tercekat. “Maaf. Siang ini Papi baru akan beli di—”

Kalimat Archer seketika terhenti saat Kimberly tiba-tiba turun dari kursi dengan bibir cemberut. Bola matanya berkaca-kaca. Dia lari meninggalkan ruangan makan dan menaiki tangga ke lantai dua.

Kimberly kecewa padanya. Archer tahu itu. Dadanya mendadak terasa sesak, apalagi ketika ia melihat wortel dan pisau mainan tergeletak begitu saja di meja makan. Padahal beberapa saat yang lalu Kimberly semangat sekali ingin membuatkan sarapan untuknya.

“Puas?” Feli menghampiri Archer dengan tatapan dingin.

Archer menatapnya sesaat. Bibirnya terkatup rapat.

“Mau berapa kali lagi kamu mengecewakan dia, Archer?”

“Aku terlalu sibuk di Singapura.”

Feli mengeluarkan suara seperti setengah mendengus dan setengah tertawa. “Ya. Aku percaya. Kamu terlalu sibuk ngurusin satu orang wanita!” desisnya, “lain kali nggak perlu pulang ke rumah. Urusi saja wanita pesakitan itu dan nggak usah memedulikan anakmu sendiri!”

Feli kembali ke dapur dan berusaha mengatur napasnya yang terasa memburu akibat emosi yang tak tertahankan.

Archer mengepalkan tangannya hingga urat-uratnya terlihat menonjol. Rahangnya mengetat. Ia menghampiri Feli dan menatap punggungnya dengan tatapan dingin.

“Jaga mulutmu.” Archer berkata penuh penekanan. “Apa kamu lupa, dia jadi pesakitan karena siapa?”

Feli terdiam. Ia sudah bisa menebak ujung dari pertikaian ini akan bermuara ke mana.

“Karena kamu!” tuduh Archer tanpa perasaan. “Kalau saja saat itu kamu nggak menabrak Belvina, dia nggak akan jadi perempuan cacat dan pesakitan! Dia akan jadi vialinist terkenal. Dan dia nggak harus menderita seperti ini akibat keegoisanmu! Dia—”

“Cukup!” Feli memotongnya seraya berbalik, menatap Archer dengan tatapan sengit. “Apa belum puas kamu terus-menerus menyalahkanku selama empat tahun ini, Archer? Kamu membenciku, bukan? Lalu kenapa kamu tidak menceraikanku saja?!”

Archer terdiam. Sorot matanya terlihat semakin suram.

“Nggak semudah yang kamu kira, Feli,” timpal Archer dengan suaranya yang mampu membekukan apapun yang ada di dekatnya. “Seumur hidupnya, Belvina harus menanggung derita karena keegoisanmu. Lalu kamu pikir, aku akan melepaskanmu begitu saja?”

Archer menggeleng seraya tersenyum miring. “Kamu harus ada dalam ‘genggamanku’. Karena kamu nggak boleh lebih bahagia dari Belvina.”

Setelah mengatakan kalimat tersebut, Archer langsung berbalik dan pergi dari hadapan Feli.

Feli tercenung.

Sudut hatinya terasa nyeri sekalipun Feli sudah berusaha untuk tidak sakit hati. Tidak ada kata ‘baik-baik saja’ setiap kali mereka bertemu. Archer seolah punya seribu cara untuk meninggalkan luka di hatinya. Lagi dan lagi. Entah akan sampai kapan Archer merasa puas lalu berhenti menyakiti istrinya sendiri.

Feli menghela napas berat untuk melonggarkan dadanya yang sesak. Bahkan setiap tarikan napasnya terasa menyakitkan.

Sejujurnya, ada satu hal yang Feli tidak mengerti hingga saat ini. Archer selalu bilang, bahwa Feli menabrak Belvina karena unsur sengaja akibat keegoisan Feli sendiri.

Keegoisan apa maksudnya? Feli bertanya-tanya dalam hati.

Apa ada sesuatu yang tidak Feli ketahui? Atau… ada hal lain yang Belvina ceritakan kepada Archer, yang membuat Archer marah dan berakhir membenci Feli?

Entahlah.

Feli menghela napas lelah. Apapun itu, Feli tak ingin membahasnya atau bertanya kepada Archer. Pria itu tidak akan pernah mempercayai apapun yang keluar dari mulutnya.

***

Blossom Boutique tak hanya butik biasa. Itu merupakan butik terkenal yang pelanggannya kebanyakan dari kalangan artis atau para konglomerat. Feli merintis usaha butiknya dari nol. Meski berasal dari keluarga kaya raya, Feli tak pernah mengandalkan nama belakang keluarga ‘Ferlando’ untuk mengembangkan butiknya. Ini pure hasil usahanya sendiri.

Hasil goresan tangannya tak pernah gagal. Pakaian apapun yang Feli desain, selalu berhasil memuaskan para pelanggan. Setidaknya, mereka yang pernah memesan pakaian di Blossom Boutique akan kembali datang untuk kedua kalinya.

Lalu siang ini, Feli menghabiskan waktu makan siangnya bersama Binar—sahabatnya semasa sekolah, di café yang ada di Blossom Boutique.

“Anak lo kenapa?”

Menanggapi pertanyaan Binar, Feli pun menoleh ke arah meja di sebelah mereka. Kimberly terlihat sedang menggoreskan crayon ke buku gambar dengan ekspresi sendu.

Sejak kejadian tadi pagi, anak itu menjadi tidak bersemangat. Usianya memang masih tiga tahun, tetapi Kimberly tumbuh menjadi anak yang peka dan hatinya sensitif sekali. Apalagi jika itu sesuatu yang berhubungan dengan ayahnya. Seperti boneka kuda poni itu contohnya.

Feli sudah berusaha membujuknya, lalu membawa dia bersamanya ke butik dengan harapan kekecewaan Kimberly teralihkan. Namun, sampai siang ini mood anak itu tidak ada perubahan.

“Biasa. Ada sedikit masalah sama bapaknya.”

“Ooh. I see.”

Binar mengangguk dan tak bertanya lebih jauh. Ia tak mau terkesan ikut campur urusan rumah tangga sahabatnya.

“Nar, dugaan lo benar. Dia pergi ke Singapur buat nemuin cewek itu.”

Binar nyaris tersedak oleh matcha latte yang baru ia sesap. “Dia… maksud gue Archer, jujur sama lo?”

Feli mengangguk.

“Terus? Lo diem aja di saat suami lo sebulan pergi buat—”

“Rendahin suara lo.” Feli memotong karena khawatir Kimberly mendengar percakapan mereka.

“Oops! Sorry.” Binar lantas memelankan suara dan mencondongkan badannya ke depan Feli. “Fel, lo nggak berbuat apa-apa di saat suami lo pergi nemuin cewek itu selama sebulan? Sebulan, Fel. Satu bulan.”

Binar jadi gemas sendiri karena selama ini Feli selalu berusaha sabar menghadapi suami gilanya.

“Memangnya apa yang bisa aku lakukan?” Feli tersenyum pahit. “Bahkan, sekalipun aku mencegah atau marah, ujung-ujungnya Archer bakal nyalahin aku.”

“Tapi seenggaknya Archer harus tahu kalau cewek seperti Belvina itu nggak sebaik yang dia kira. Belvina tipe orang yang manipulatif, Fel.”

“Aku tahu.”

Feli menghela napas panjang. Ya, Belvina memang tipe manipulatif. Feli tahu itu.

Dulu, saat Feli kuliah di Paris bersama Archer, Belvina sempat menghalalkan segala cara untuk mendapat perhatian Archer.

Hingga akhirnya pertemanan Feli dan Archer perlahan-lahan rusak dan menjauh satu sama lain. Archer yang semula selalu ada waktu untuk Feli, semenjak berpacaran dengan Belvina dia semakin menjauh. Seolah-olah Belvina adalah prioritas utamanya. Archer selalu memperlakukan Belvina layaknya barang antik yang sangat berharga.

“Tapi nggak ada gunanya gue kasih tahu Archer sekarang.” Lagi-lagi Feli tersenyum miris. “Itu hanya akan membuat dia makin benci sama gue.”

Kalau sudah begini Binar tak bisa berkata-kata lagi. Ia salut pada Feli yang mampu bertahan selama empat tahun ini. Jika itu wanita lain, Binar tak yakin akan bertahan dalam rumah tangganya yang tak pernah benar-benar ada.

“Anak gue mana?” Feli terkejut saat tak menemukan Kimberly di seluruh sudut café. Hanya ada crayon dan buku gambarnya saja, tergeletak di meja. “Tunggu sebentar. Gue cari Kimmy dulu.”

Feli beranjak dari kursinya, lalu keluar untuk mencari Kimberly. Ia selalu khawatir jika membiarkan anak itu keluar sendirian. Apalagi kasus pelecehan terhadap anak di bawah umur kini semakin marak terjadi.

“Mami…!”

Seruan ceria dari arah parkiran membuat Feli bisa menghela napas lega.

“Mami! Aku punya boneka kuda poni!” seru Kimberly lagi dengan riang.

Feli terkejut. Ia segera menyongsong putrinya yang tengah memeluk boneka kuda poni. “Cantik banget bonekanya. Ini… dari papi? Papi datang, ya?”

***

Comments (6)
goodnovel comment avatar
Susi
sabar sekali istrinya
goodnovel comment avatar
Merlinmatondang Idawati matondang
cinta rafi terpendam
goodnovel comment avatar
Nikmah Ezaweny
papinya gak sempat beli karna ngurusi cewe pesakitan
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status