Share

Bab 4

Alena sedang menikmati secangkir teh ditaman belakang rumah Arion, ia sudah berhenti bekerja, setelah resmi menjadi istri Arion. Jadi pagi ini ia memutuskan untuk bersantai sambil menikmati pemandangan taman bunga dihadapannya. Hal yang jarang sekali bisa ia rasakan. Karena selama ini ibunya selalu menuntut Alena untuk berkerja dan menghasilkan banyak uang.

Setelah kepergian ibunya, dihari yang sama dengan kedatangan Bu Dina waktu itu. Alena merasa hidupnya terasa lebih ringan. Ia tahu itu adalah hal yang salah, tapi selama ini juga ibunya tidak pernah menyayangi nya dan juga menghargai semua yang telah diusahakan Alena.

Suara ponsel nya yang berdering, mengalihkan perhatian Alena pada benda berwarna hitam tersebut. Tertulis nama Arion sebagai nama pemanggil disana.

"Ada apa Arion?".

"Alena, aku ingin kau bersiap. Nanti malam aku akan mengajakmu bertemu dengan ibuku."

"Kita akan pergi nanti malam. Tapi kau meminta ku bersiap sejak sekarang?" Tanya Alena, yang merasa sikap suaminya sedikit berlebihan.

"Astaga, maksudku, kau pergilah bersama Ivan, beli beberapa baju yang pantas untuk kau kenakan nanti malam. Jangan repot memikirkan harganya. Beli saja semua yang menurut mu bagus."

"Beli baju??"

"Iya, astaga, Alena, kenapa kau selalu mengulangi ucapan ku? Apa kau mengalami masalah pendengaran, Alena? Aku sudah meletakkan kartu kredit di laci pertama yang ada di kiri tempat tidur. Pakailah kartu itu untuk membeli keperluan mu."

"Terima ...." belum selesai Alena bicara, sambungan telpon itu sudah dimatikan oleh Arion. Dasar Arion!

Alena pun bergegas ke kamar untuk berganti pakaian dan juga mencari kartu kredit yang tadi dikatakan Arion.

Tak sampai setengah jam Alena sudah siap dan sekarang ia sedang menunggu Ivan yang sedang memanaskan mesin kendaraan.

Mobil yang ditumpangi Alena saat ini tengah melaju dengan kecepatan sedang, membelah kepadatan jalanan ibu kota.

Rencananya hari ini ia akan berbelanja disalah satu pusat perbelanjaan besar yang sangat terkenal di kota tempat tinggalnya. Selama ini ia hanya bisa bermimpi untuk masuk dan sekedar melihat-lihat tapi sekarang siapa sangka ia bahkan bisa memborong apa pun yang ia mau.

Alena mensyukuri perubahan baru dalam hidup nya. Semua ini berkat suaminya Arion, walaupun pernikahan mereka hanya berdasarkan kontrak, tapi Arion sangat memperhatikan segala keperluan wanita itu.

Alena masuk ke salah satu butik yang menjual pakaian bermerek dengan harga yang fantastis. Dua orang pelayan yang berdiri didekat pintu masuk, menyambut kedatangan nya dengan hormat. Padahal biasanya Alena lah yang membungkuk dengan hormat, menyambut tamu-tamu yang datang ke cafe tempatnya bekerja dulu.

Alena, langsung jatuh cinta pada sebuah dress sepanjang lutut, berwarna coklat muda yang lembut, terbuat dari bahan sutra yang berkilau. Lengan nya yang dibuat transparan menggunakan sentuhan dari kain chiffon lembut, menambah kesan romantis pada dress tersebut. Tak ketinggalan bagian pinggang dan juga ujung bawah dress tersebut diberikan aksen renda yang semakin mempermanis tampilan nya.

Dress itu memiliki potongan A-line, dengan bagian atas yang dibuat menyesuaikan dengan bentuk tubuh pemakainya, sedangkan bagian bawahnya dibiarkan jatuh terurai. Dress itu sederhana tapi juga terlihat cantik.

Alena tak sabar, dan segera mencoba dress nya di ruang ganti yang sudah disediakan di butik tersebut. Ketika ia keluar semua orang tampak terpana dengan pesonanya. Baju itu benar-benar pas sekali dengan lekuk tubuh Alena.

Sebelum membayar Alena juga mencoba beberapa baju lain, namun pilihan nya jatuh pada dress coklat itu dan juga sebuah dress dengan motif floral yang terbuat dari kombinasi dari bahan chiffon dan organza.

Alena juga mampir ke toko tas dan sepatu untuk membeli sebuah tas dan sepatu dengan hak yang tidak terlalu tinggi, tapi tetap terlihat anggun di kaki nya.

Puas berbelanja, Alena mampir ke sebuah toko roti. Dan membeli beberapa roti untuk para pekerja dirumah.

***

Arion yang sedang menjalankan meeting dengan para karyawan nya, beberapa kali menengok ke arah ponselnya yang sejak tadi sudah berdenting. Menandakan ada pesan masuk disana.

Dengan rasa penasaran, ia meraih ponselnya dan mengecek notifikasi yang muncul dilayar ponselnya. Beberapa pemberitahuan dari transaksi kartu kredit yang dipakai Alena, muncul dilayar benda pipih tersebut.

"Sedikit sekali," pikir nya. Alena ini, apa yang dia beli dengan uang segitu? Wanita ini sepertinya tidak tahu cara menghamburkan uang, seperti kebanyakan wanita diluar sana.

Arion tiba-tiba saja membandingkan Alena dan Aretha. Sekali belanja Aretha bisa menghabiskan uang sampai ratusan juta. Tapi, Alena, 20 juta pun tak sampai.

Ketika meeting itu, akhirnya selesai. Arion kembali mengambil ponselnya dan menelepon kembali nomer Alena yang berada di daftar teratas panggilan nya.

"Kau dimana, Alena?"

"Aku sedang dalam perjalanan pulang, ada apa?"

Sebenarnya, Arion juga tidak tahu apa yang ingin ia katakan, hingga membuat nya menelepon wanita tersebut. "Tidak ada, hanya ingin memastikan. Kau tidak pulang terlalu sore!" Tut! Panggilan sudah berakhir. Alena hanya bisa menggelengkan kepala nya sambil menatap layar ponselnya.

***

Aretha tengah duduk di dalam mobil nya, sejak siang tadi ia sudah mengintai rumah Arion. Tingkah nya saat ini benar-benar seperti seorang detektif yang sedang mengintai targetnya. Aretha tahu ini salah. Namun, rasa penasaran membuat nya nekat melakukan hal gila seperti ini.

Ia mengetuk-ngetuk kan jari lentiknya diatas kemudi, matanya tajam memperhatikan rumah 2 lantai yang terlihat mewah dengan gerbang yang menjulang diseberang mobilnya.

Ia sudah hampir menyerah, mungkin dia akan kembali besok pagi saja. Siapa tahu besok ia bisa melihat istri Arion, yang menurut Nino, sangat cantik. Sebenarnya, Aretha bisa saja datang langsung dan menemui istri Arion. Namun, ia takut, jika istrinya itu mengadu kepada Arion dan kalau pria itu sampai tahu. Dia pasti akan semakin tidak suka dengan nya.

Baru saja dia hendak menyalakan mesin mobil nya, ketika ia melihat, sebuah mobil memasuki rumah Arion. Perlahan ia menurunkan kaca mobilnya. Dan tak lupa memakai kacamata hitam untuk menutupi wajahnya.

Mulutnya berdecak kesal manakala melihat seorang pria keluar dari dalam mobil mewah tersebut. Aretha bisa menebak, pria itu pasti adalah sopir yang bekerja untuk Arion.

Sopir itu membukakan pintu untuk seorang wanita muda yang turun dari kursi penumpang. Aretha tak dapat melihat dengan jelas wajah wanita itu. Tapi dari siluet dan model rambut nya seperti tak asing dimata nya.

Jadi, benar, Arion telah menikah?? Tapi dengan siapa?? Gumam Aretha pada dirinya sendiri.

***

Sore itu, Arion pulang lebih awal dari biasanya. Pria itu telah mengabari ibunya, bahwa malam ini ia akan datang bersama istrinya. Maria, ibunya sepertinya terkejut dan tidak percaya dengan ucapan putranya.

"Mama, tunggu saja ya." Ucap pria itu sebelum mengakhiri panggilan nya. Arion memang sangat menyayangi ibunya, setelah kematian ayahnya. Hanya ibunya lah sosok orangtua yang ia miliki. Karena, itu juga dia selalu khawatir mengenai masalah kesehatan ibunya, belakangan ini. Yang sepertinya selalu memburuk setiap harinya.

Tujuan Arion menikah kontrak pun tak lain, ingin menyenangkan hati, Maria. Ibu nya itu sudah beberapa kali meminta Arion untuk segera menikah. Namun, Arion yang belum bisa membuka hatinya untuk wanita lain, setelah kepergian Sandra, cinta pertama nya. Merasa enggan untuk menerima perjodohan yang ingin dilakukan ibunya.

Maka, dia pun mencari jalan pintas lain untuk memenuhi keinginan ibunya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status