Share

Hutang Dua Milyar Menjadikanku Tawanan Pria Asing
Hutang Dua Milyar Menjadikanku Tawanan Pria Asing
Author: Rilla

Satu : sebuah Kabar

"Mama? Papa? Apa-apaan ini?"

Alin Kamelia Putri atau yang biasa disapa Alin itu syok bukan main saat ia melihat kedua orangtuanya yang sedang berlutut pada seorang pria.

Ia langsung berlari menuju orang tuanya dan meminta keduanya untuk berdiri. Wajah mamanya sudah kacau balau. Mata bengkak seperti habis menangis. Begitupun wajah papanya yang terlihat panik.

"Alin. Alin untung kamu datang nak. Bantu kami." isak mamanya sambil merangkul Alin.

"Kenapa? Kalian kenapa? Dan siapa orang ini? Kenapa mama sama papa sampai sujud-sujud seperti itu." tanya Alin kesal.

"Apa kau yang bernama Alin?" tanya Tian basa basi. Padahal sebenarnya ia sudah melihat foto Alin sebelumnya dari anak buah yang ia suruh.

Alin menatap pria tersebut. "Iya.  Kau siapa? Kau apakan kedua orang tua ku? Jangan macam-macam, aku bisa melaporkanmu ke polisi." ancam Alin yang justru membuat Tian tertawa.

"Melaporkanku ke polisi?  Apa tak salah? Kau yakin?" tanya Tian sambil menatap kedua orang tua Alin.

Alin menatap mama dan papanya yang menunduk takut setelah Tian menatapnya.

Alin bertanya untuk dirinya sendiri. Ada hubungan apa orang tuanya dengan pria di hadapannya ini. Kenapa orang tuanya setakut itu.

Alin menatap Tian sebentar lalu kembali menatap papanya.

"Dia siapa pa?" tanya Alin yang tak mau berbasa basi lagi.

Pria paruh baya itu langsung berdiri. Ia menghampiri Alin dan membawa anaknya itu untuk duduk di sofa.

"Alin. Begini nak. Mama sama papa mau minta bantuan kamu. Kami tak ingin dipenjara."

"Penjara? Apa maksudnya? Siapa yang mau menjarain papa?"

Pria itu menatap Tian. Alin memejamkan matanya kesal. Ia lalu menatap Tian nyalang, "Anda sebenarnya siapa? Ada hubungan apa Anda dengan keluarga saya?" berang Alin pada Tian. Bahkan gadis itu sampai berdiri.

Tian bertepuk tangan lalu berdiri dari duduknya. Ia lalu memanggil seseorang. Tak lama setelahnya, seseorang muncul di samping Alin membuat Alin terkejut.

Orang baru lagi. Ia tak melihat ada pria ini tadi di luar.

Pria itu menyerahkan selembar kertas pada Tian lalu Tian menyerahkan kertas tersebut pada Alin.

"Silahkan baca terlebih dahulu." ucap Tian. Pria itu kembali duduk. Sedangkan Alin tetap berdiri. Alin melirik kertas tersebut dan mulai membacanya satu persatu.

"Hutang? Dua milyar? Hu--hutang apa ini ma? Kenapa sebanyak ini?" Alin memijit keningnya yang mendadak sakit. Ia terus menbaca sampai ke bawah. Hal itu berhasil membuat tubuhnya lemah tak berdaya. Ia merosot turun ke lantai. "Menjadikan Alin sebagai jaminan?" ucapnya lirih.

Ia menatap kedua orang tuanya. Sedangkan yang ditatap hanya bisa menunduk.

"Apa ini ma? Apa maksud surat ini?" tanya Alin dengan nada yang mulai meninggi. "Hutang dua milyar? Penjara atau Alin jadi jaminan? Apa maksudnya?" dadanya terasa sesak. Alin bahkan sampai kehabisan kata. 

Sesakit inikah hidupnya? Semalang inikah takdir yang Tuhan gariskan untuknya?.

Alin menatap Tian dengan tatapan ingin membunuh. Ia meremas kertas tersebut sampai tak berbentuk lalu melemparkannya kuat pada Tian tepat mengenai wajah Tian. Kelakuan Alin membuat pria yang ada di sebelah Alin langsung menahan tubuh Alin agar tak bisa bergerak lagi.

"Lepasin! Kalian brengsek! Kalian pasti menjebak orang tua saya!" teriak Alin menggema di dalam rumah.

"Kau bisa bertanya pada orang tuamu. Apa aku menjebak mereka?" tantang Tian.

Alin menatap lirih mama dan papanya. Dari tatapan Alin, seolah gadis itu meminta penjelasan tentang yang terjadi saat ini.

Wanita paruh baya itu masih menunduk. Sedangkan papa Alin sudah menatap sang anak.

"Papa, papa kalah tender saham nak." ucap pria itu yang langsung membuat tubuh Alin kembali lemas. Ia bahkan nyaris pingsan jika tak ditahan oleh pria di sampingnya itu.

"Jadi apa sekarang? Papa sama mama jebak Alin? Kenapa harus Alin?" tatapan penuh kekecewaan Alin perlihatkan pada kedua orang tuanya.

"Papa juga tak menyangka nak. Papa nggak tahu sama sekali jika akan terjadi hal yang seperti ini."

"Lalu? Apa selanjutnya? Alin dijual?"

"Alin, kami--"

"JAWAB SAJA! JANGAN BERTELE-TELE. ALIN BUTUH KEJELASAN."

Ck!

Decakan terdengar keras dari Tian. Alin langsung menatap pria tersebut, "Dramanya terlalu lama." ucap Tian. "Kalian sanggup melunasi atau tidak?"

"Alin--"

Alin memejamkan matanya saat ia mendengar suara bergetar mamanya memanggilnya.

"Beri saya waktu, saya akan cari uangnya." ucap Alin mencoba meyakinkan dirinya. Namun permintaan Alin justru membuat Tian tertawa keras.

"Kau jangan bercanda. Dua milyar bukan uang yang sedikit. Butuh bertahun-tahun bahkan puluhan tahun untuk mencarinya." Tian melangkah mendekati Alin, "Kecuali kau jadi seorang pelacur berkelas." lanjutnya sambil berbisik.

Alin menatap Tian penuh amarah. Ia seperti sedang direndahkan. Ucapan Tian sangat menyakitkan terdengar di telinganya.

"Bajingan kau!" umpat Alin.

"Orang tuamu yang membuatku menjadi bajingan. Coba mereka melunasinya, tak akan ada kejadian seperti ini." ucap Tian, "Jadi bagaimana? Orang tuamu dipenjara seumur hidup, atau kau jadi pelayanku seumur hidupmu."

Dada Alin mendadak sesak. Ia kesulitan berkata-kata. Apalagi saat ia melihat tatapan kedua orang tuanya padanya. Ia tak sanggup membayangkan tubuh yang akan ringkih itu menua bahkan perlahan berangsur tak bernyawa di balik jeruji besi.

Takdirnya sejak kecil memang tak baik. Tapi apa sekarang juga harus tak baik. Kenapa Tuhan memperlakukan hidupnya sejahat ini. Apa tak ada secelahpun kebahagiaan untuknya? Apa salahnya? Apa dosa yang sudah ia perbuat, sampai-sampai Tuhan menghukumnya sejahat ini.

Alin menegarkan dirinya. Ia mencoba dengan pilihan terakhirnya. Ia harap akan ada jalan keluar.

"Beri aku waktu untuk melunasinya." pinta Alin sambil menatap Tian dengan penuh yakin.

Menatap keseriusan Alin, Tianpun tersenyum namun banyak makna dari senyuman tersebut.

"Baik. Kau akan kuberi waktu sampai minggu depan."

"WHAT? Kau gila!  Siapa yang bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam satu minggu.! Kau pikir--"

"Aku hanya memberimu waktu satu minggu. Jika tak setuju, tak apa. Orang tuamu akan--"

"Oke! Oke! Baiklah. Satu minggu. Aku akan kembalikan semua uang itu dalam satu minggu ini." suasana hening seketika. Kedua orang tua Alin menatap sang anak tak percaya. Di mana Alin akan mendapatkan uang sebanyak itu dalam seminggu?.

"Alin, kamu--"

"Saya akan kembalikan uang anda dalam seminggu."

"Baiklah. Aku kembali satu minggu lagi. Tentu saja dengan uang yang sudah kau sediakan. Jika tidak, jangan harap kalian bertiga bisa lepas." Tian tersenyum sekilas lalu berjalan keluar meninggalkan kediaman Alin.

Sepeninggalan Tian dan anak buahnya, Alin langsung merosot turun dan meraung sejadi-jadinya. Hatinya memberontak. Ia kesal dan marah. Bahkan ia tak mau didekati oleh orang tuanya.

"Dimana aku bisa dapatkan uang itu? Kalian jahat! Kalian bukan orang tua Alin. KALIAN JAHAT!" teriak Alin kesetanan. Ia tak peduli. Ia lebih memikirkan masa depannya yang terancam satu minggu kedepan.

*****

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status