Share

Bab 3: Romantisme di ruang ICU ( Intensive Unit Care )

Sudah 24 jam berlalu tetapi Anna masih belum sadarkan diri di ruangan ICU. Ruang ICU atau Intensive Care Unit adalah ruangan yang disediakan oleh pihak rumah sakit untuk merawat pasien dengan keadaan yang membutuhkan pengawasan ketat. Ruangan ICU dilengkapi peralatan khusus sebagai penunjang kehidupan untuk proses pemulihan pasien. Dokter spesialis dan perawat profesional berjaga dan merawat pasien di ruangan ICU. Suara decitan berisik dari monitor kehidupan memenuhi seisi ruangan yang bersuhu menusuk tulang. 

Dr.Victor saat itu berniat untuk pulang karena tidak tahu kapan Anna akan sadar seharusnya  Anna sudah tersadar 5 atau 6 jam pasca operasi tapi kesadaran penuh baru akan terjadi seminggu pasca operasi akibat dari pengaruh obat bius sebelum operasi.

Dr. Victor berjalan mendekati tempat Anna yang terbaring. Perlahan dia membuka kelambu berwarna hijau untuk melihat Anna yang terbaring di balik kelambu. Tangan kanan dr. Victor menyingkap tirai kelambu. Seribu gerak langkah membisu Dr.Victor mendekati kepala Anna seraya melirik sekitar berjaga supaya tidak ada yang melihat. 

Dr. Victor menggenggam jemari mungil Anna sambil berbisik lembut ke telinga Anna,"Anna aku harap kamu lekas sadar dan pulih! Aku akan pulang dan esok aku akan jaga kembali di ruangan ICU bersamamu."

 Dengan lembut Dr. Victor membelai rambut di dahi kepala Anna dan mencium kening Anna. Saat hendak pergi dan melepaskan jemari Anna, Anna tersadar dan menggenggam jemari Dr. Victor. Dr. Victor sedikit terkejut dan menggenggam jemari Anna saraya menoleh kebelakang kembali melihat wajah Anna.  

"Kamu sudah sadar dan mendengar apa yang aku katakan Anna?" 

Anna nampak membuka mata perlahan, "Saya di mana? Siapa Anda? Saya haus." Setelah Anna berucap pelan dan lemah, genggaman tangannya dengan Dr. Victor terlepas dan kembali Anna tak sadarkan diri.

Dr. Victor mencium lembut kening Anna sambil berucap lirih," syukurlah Anna sudah sadar." Raut wajah dr.Victor terpancar bahagia seolah ada harapan untuk Anna. 

Dr. Victor memanggil perawat yang bertugas dan menyuruh," tolong jaga dan rawat dengan baik pasien bernama Anna ya! Selama saya tidak berjaga di ICU, pantau terus perkembangan Anna. Sampaikan pesan saya ke dokter jaga dan perawat yang lain ya!"

"Baik dokter, jawab salah satu perawatan," sambil melirik ke arah Anna terbaring.

Dr.Victor segera meninggalkan ruangan ICU dengan suara decitan langkah kaki penuh semangat tak sabar menunggu hari esok untuk mengunjungi Anna kembali. Raut muka yang lelah karena telah melakukan operasi dan berjaga di ruangan ICU telah terbayarkan karena Anna sudah sadar.

Salah satu perawat wanita melihat Dr.Victor dengan sinis dan berbisik ke telinga Dr. Vio, "kenapa itu dokter Victor?"

"Entahlah!" Jawaban Dr.Vio ketus.

"Dr. Victor tidak seperti biasanya," sahut perawat laki-laki lain.

"Betul," Dr. Vio membenarkan dengan anggukan kepala.

"Apa mungkin dokter Victor menaruh minat pribadi kepada pasien Anna?" Timpal perawat wanita tadi.

 "Nggak bisa seperti itu! Harus profesional  sesuai kode etik kedokteran!" Dengan sangat kesal Dr. Vio menjawab ocehan perawat laki-laki dan perempuan itu.

"Loh kok! Kenapa Dr. Vio yang jadi ketus ke kami? Cemburu ya? Cie...cie…," goda perawat laki-laki sbil melirik dan senyuman menggoda kepada dokter Vio.

 Dokter Vio tak habis pikir dengan mereka dengan tatapan sinis dan berupaya mengakhiri per cakapan,"udah deh! Mending kalian Bekerja dengan benar dan mengurus pasien kalian daripada kepo urusan orang lain! Ingat kalian itu perawat bukan pembawa acara reality gosip!" Ceramah dokter Vio sambil melototi dan menunjuk kedua perawat tersebut dan dokter  Vio meninggalkan kedua perawat itu.

"Ih! Kenapa juga Dr.Vio marah?" Tanya perawat wanita itu keheranan.

"Iya, aneh sekali Dr.Victor dan Dr.Vio," timpal perawat laki-laki tersebut.

"Sudahlah percuma mengurus mereka yang tidak menggaji kita! Buang-buang waktu saja! Benar kata Dr.Vio, lebih baik bekerja daripada kepo urusan orang lain!" Sanggah perawat lain dari belakang perawat laki-laki dan perawat wanita tadi yang sontak membuat mereka kaget dan mengelus dada sambil menghela nafas.

Dokter Vio melangkah maju ke arah Anna masih terbaring. Suara high heels Dr.Vio perlahan terdengar selangkah demi selangkah. Seraya meletakkan tangan ke depan dan dengan angkuh mengangkat kepala Dr.Vio melirik Anna yang lemah tak berdaya terbaring tak sadarkan diri.

 "Apa keistimewaan mu Anna? Kenapa Dr.Victor terlihat lebih tertarik kepada mu daripada kepadaku? Melihat kamu sekarang terbaring lemah tak berdaya. Bandingkan saja dengan diriku wanita karier, pintar, cantik, menawan dan bekerja sebagai doktor. Lebih menjanjikan diriku untuk dijadikan pasangan daripada dirimu Anna." 

Dr.Vio tersenyum sinis sambil melirik Anna seraya meninggalkan Anna.

Beberapa saat kemudian Anna terkadang tersadar sebentar lalu tak sadarkan diri kembali berulang kali seperti itu. Anna masih belum mendapatkan kesadaran sepenuhnya. 

Beberapa hari kemudian Anna masih berada di ruang ICU berteman dengan bunyi monitor Ventilator dan monitor Cardiorespiratory. Tubuh Anna masih digerayangi oleh Kateter, Infus Pump, NGT, Gips, Cervical Collar, Ventilator dan Cardiorespiratory. Masih berada di ruangan ICU di atas tempat tidur Dekubitus.

Sesekali Dr. Victor tak jemu untuk menengok Anna, memeriksa layar monitor dan infus pump dan melakukan GCS ( Glasgow Coma Scale ). Mengobrol dengan Anna walau tak banyak yang Dr.Victor bicarakan. Jika waktu pemberian makan, maka Dr.Victor akan menyalurkan makanan cair ke selang NGT Anna. Bagi Dr.Victor, kesadaran, pemulihan dan kesembuhan Anna adalah prioritas.

Pada jam besuk tertentu nyonya Neni, Bella, orang tua dari anak yang Anna selamatkan secara bergantian menjenguk Anna dan mendoakan kesembuhannya.

Udara dingin menusuk tulang, cahaya lampu ruang ICU menyilaukan mata, suara monitor dan para dokter spesialis dan perawat jaga beserta bunyi langkah kaki mereka mengusik telinga Anna. Anna tersadar dan membuka mata pelan.

Salah satu perawat yang kebetulan mengganti cairan infus Anna melihat dengan antusias seraya membungkukkan badan ke depan ke arah wajah Anna sambil berkata pelan,"Anda sudah bangun ?"

"Iya," jawab Anna singkat dan lirih.

"Dokter Victor, pasien Anna sudah bangun dan sadar. Cepat kesini dokter!" Panggil perawat tersebut.

Mendengar itu, dari meja dokter segera Dr.Victor berlari pelan ke arah tempat tidur Anna dan perawat itu pun menepi dan pergi. 

Dr. Victor membelai lembut kepala Anna dan berkata,"Anna sudah sadar ? Apakah Anna haus dan ingin minum air putih ?"

Melihat Dr.Victor dan sekelilingnya Anna heran. "Siapa Anna yang anda sebutkan ? Siapa Anda ? Kenapa saya berada di sini ?" Tanya Anna kepada Dr. Victor.

 Dr. Victor tersentak tak heran karena memang Anna belum mengenal Dr. Victor namun Dr. Victor kaget dan memeluk Anna walau Anna tengah terbaring di atas Dekubitus. Air mata Dr.Victor tampak menetes karena perasaan bersalah telah melakukan operasi secara maksimal tapi tampaknya Anna kehilangan ingatan. 

"Maafkan aku Anna!" Tangis Dr. Victor.

"Anda tidak salah, saya tahu dari pakaian anda bahwa anda adalah dokter. Pasti anda sudah bekerja keras menyelamatkan saya, terimakasih dokter," kata Anna dengan mata berbinar.

"Saya bukan hanya dokter yang bertugas merawat dan menyelamatkan mu, tapi saya juga kekasihmu dan namamu adalah Anna," Dr. Victor membohongi Anna bahwa ia kekasihnya.

Anna tampak kaget karena tak mengenal apapun tentang dirinya. "Benarkah saya pacar seorang dokter ?" Anna tidak percaya.

"Sudah, jangan berupaya mengingat terlalu keras nanti kamu bisa sakit. Kamu ditemani perawat dulu ya dan aku akan menghubungi walimu untuk segera datang."

Dr.Victor segera menyuruh perawat menemani dan merawat Anna dan akan memindahkan ke ruangan perawatan Bougenville karena kondisi Anna sudah berangsur membaik.

 Dr.Victor berupaya menghubungi Nyonya Neni dan memberitahukan kondisi Anna.

"Bio, Bip, Bip!"

Suara handphone Nyonya Neni berdering, "Halo," jawab Nyonya Neni.

"Iya, halo," sahut Dr.Victor.

"Dengan siapa ini ?" Tanya Nyonya Neni.

"Saya Dr. Victor, apakah benar ini Nyonya Neni selaku wali asuh Anna ?" 

"Iya Benar, dengan saya sendiri dok. Bagaimana kondisi Anna Dok?" Tanya nyonya Neni dengan penuh harap.

"Saya ingin memberitahukan bahwa Anna sudah dipindahkan ke ruangan perawatan Bougenville dikarenakan kondisi sudah berangsur membaik. Nyonya Neni bisa ke ruangan saya sebelum menjenguk Anna!" Syarat dari Dr. Victor kepada Nyonya Neni.

"Baik dok, saya akan segera ke RSK. Martadinata dan menuju ruangan Dr. Victor terlebih dahulu." Nyonya Neni menutup telepon dan melangkah cepat ke arah mobil namun lupa untuk memberitahu dan mengajak Bella, sahabat Anna.

      

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status