Share

Bab 8: F43.1

Aku tak berani membuka mata, semua terasa berputar. Seperti sakit Vertigo dan aku merasa mual sehingga beberapa kali masih muntah. Rasa nyeri yang hebat di kepala membuatku merintih kesakitan.

Sambil memegang kepalaku dan memejamkan mata aku berkata,"aduh sakit sekali kepalaku Mah! Semua seakan terlihat berputar dan menambah rasa mual ku. Kepalaku nyeri dan pusing sekali. Tolong aku Mamah Neni!"

"Yang sabar ya sayang! Dokter Victor sedang mencarikanmu obat untuk meredakan rasa pusing dan sakit kepalamu. Tenang dulu ya! Mama tahu kamu kesakitan dan menderita. Mama ganti dulu pakaianmu ya?"

"Iya Mah," kataku.

Di ruangan perawat tepatnya tempat penyimpanan obat dokter Victor mencoba mencari obat injeksi pereda nyeri dan untuk pusing, mual dan muntah. Dengan cepat membuka rak berisi obat, botol infus dan suntikan. Obat injeksi sudah ketemu juga alat suntikan segera dia masukkan ke saku jas dokternya.

"Dokter Victor," seorang perawat memegang punggungku dari belakang dan membuat tersentak kaget.

Dokter Victor segera berbalik,"hah, aku kaget! Ada apa memegang punggungku?"

"Dokter Victor sedang mencari apa?" Tanya perawat.

Dokter Victor menjawab,"Aku sedang mencari obat injeksi pereda rasa nyeri,mual,pusing juga muntah. Ini sudah ketemu."

"Untuk pasien ruang vvip Bougenville yang bernama Anna?" Tanya perawat itu kembali.

"Iya, benar sekali." Kata dokter Victor.

"Mungkin asam lambungnya naik dok karena pasien Anna jarang sekali memakan jatah makanannya, sehingga sakit kepala, pusing, mual dan muntah," tebak perawat itu.

"Masa? Tadi habis kok makanannya saat aku suapin." Kata dokter Victor.

"Iya, jika tidak ada yang menunggu maka pasien Anna akan bersikap aneh. Seperti tidak makan sama sekali, sering berteriak ketakutan dan mungkin karena bermimpi buruk, sulit tidur jika tidak memakai obat tidur. Ini hasil observasi medis pasien Anna dalam beberapa hari terakhir dok," perawat menyerahkan buku observasi medis kepada dokter Victor. 

Dokter Victor dengan seksama membaca hasil observasi medis Anna,"Apakah mungkin Anna mengalami Gangguan Stres Pasca Trauma? Ini harus segera ditangani oleh Spesialis Psikiatri yakni dokter Vio."

"Betul itu dokter Victor, saya akan mengatur janji pemeriksaan dokter Vio dengan pasien Anna," kata perawat.

"Tidak perlu! Biarkan saya sendiri yang berbicara dengan dokter Vio," sanggah dokter Victor. 

"Saya pergi ke ruangan VVIP Bougenville dahulu," imbuh dokter Victor.

Dengan tubuh atletis karena begitu rajin nge-gym, jas dokter berwarna putih dan menerobos terpaan angin dokter Victor setengah berlari. Obat injeksi beliau simpan di dalam saku jas dokter putihnya.

Di depan pintu VVIP Bougenville dokter Victor bertemu Alex,"kamu Alex sumber penderitaan bagi Anna! Setiap kali Anna bertemu denganmu dan selalu berakhir seperti ini."

"Ingat dokter Victor bahwa aku tidak akan terprovokasi oleh kata-katamu dan aku menghormati profesimu sebagai seorang dokter. Jaga martabatmu dengan tidak mengajakku berdebat. Aku kesini hanya ingin menyampaikan tugas dari wali kelas Anna. Lebih baik cepat obati Anna!" Kata Alex 

Dokter Victor masuk keruangan Anna di ikuti oleh Alex. Sekujur tubuh Anna yang penuh muntahan sudah dibersihkan oleh Mama Neni. Anna juga telah menggunakan pakaian pasien yang baru berwarna putih dengan bintik biru model piyama. Anna terbaring di ranjang Dekubitus sambil memegangi kepala dan menutup mata.

Dokter Victor segera menghampiriku, mengeluarkan beberapa obat injeksi dan memegang tanganku dan memasukkan cairan injeksi ke nadiku lewat infus di tangan.

"Tunggu beberapa menit ya sayang dan keluhanmu akan berkurang!" Dokter Victor mencoba meyakinkan ku.

"Terimakasih dokter Victor,"kataku.

Selang beberapa menit aku malah merasa nyaman dan mengantuk dan aku tertidur. Aku melihat mimpiku yang akhir-akhir ini sering terulang kembali dengan kedua mimpi yang sama. Kecelakaan yang ku alami saat aku berusaha melindungi Lusi, adik Alex. Mimpi beralih saat aku berada di sebuah mobil. Aku bersama sopir, seorang wanita di sisi kiriku dan seorang pria duduk di depan sebelah kiri di samping sopir yang mengemudi. Tiba-tiba sopir berbelok tajam ke kiri dan menabrak sesuatu. 

"Tidak!" Mataku terbelalak terbangun dengan kaget. Jantungku berdetak kencang dan keringat dingin bercucuran dari dahi ku. 

 Mama Neni duduk sambil tertidur di sampingku pun terbangun kaget.

"Ada apa Anakku Anna? Mama Neni kaget karena kamu teriak."

Alex yang duduk di ruang tunggu VVIP Bougenville pun terperanjat dan menghampiriku.

"Kenapa teriak Anna? Apa ada yang kamu keluhkan? Dokter Victor sedang kunjungan pasien," ucap Alex dengan panik.

"Ti-tidak! Aku tidak apa-apa karena aku hanya mimpi buruk. Mama Neni tolong ambilkan aku air mineral untukku minum dan Alex tolong bantu aku berbaring dengan posisi setengah terduduk di ranjang Dekubitus. Kamu pencet beberapa tombol di ranjang!" Perintahku kepada Mama Neni dan Alex.

"Alex, kamu saja yang lap keringat dingin di dahi Anna dan memberi Anna minum! Anna sangat pucat dan belakangan bermimpi hal yang sama. Aku akan keluar dan menelpon dokter Victor untuk meminta bantuan." Ujar Mama Neni.

Mama Neni menelpon di luar,"Halo! Dokter Victor ini gawat! Bagaimana jika ingatan Anna pulih?"

"Iya, halo Mama Neni! Memangnya Anna sudah terbangun? Apa yang terjadi?" 

"Anna sering memimpikan kecelakaan yang pernah dia alami dan kecelakaan bersama orang tuanya," dengan nada panik Mama Neni memberi tahu dokter Victor.

"Jangan panik dahulu! Anna kan masih belum ingat apapun. Saya akan berkonsultasi dengan dokter Vio sekaligus spesialis psikiatri mengenai kondisi Anna. Mama Neni tenang ya!" Ungkap dokter Victor.

"Bagaimana mau tenang jika kita ketahuan dan aku tidak dapat ahli waris untuk mengelola Yayasan Panti Asuhan Cempaka Putih?" Dengan gelisah mama Neni mengutarakan kekhawatiran hatinya.

"Jangan khawatir! Mama Neni tunggu di luar ruangan kamar VVIP Bougenville dan kita akan masuk bersama dokter Vio untuk melihat perkembangan Anna! Biarkan saja Alex menemani Anna dahulu!" Dokter Victor menenangkan mama Neni.

"Yasudah kalau begitu! Aku tutup telepin dan cepat datang sekarang!" Balas Mama Neni.

Dokter Victor selanjutnya masih memeriksa pasien rawat inap dan setelah itu menelpon dokter Vio,"Hallo dokter Vio! Bisakah menyempatkan waktu untuk memeriksa Anna, pasien rawat inap di kamar VVIP Bougenville? Saya tunggu di sana!" Desak dokter Victor kepada dokter Vio spesialis psikiatri.

"Bisa! Saya akan datang!" Tutur dokter Vio sambil menutup panggilan ponselnya dan menuju ruang VVIP Bougenville.

Dokter Victor tiba terlebih dahulu dan bertanya kepada mama Neni,"apa yang terjadi dengan Anna?"

"Anna sering bermimpi kejadian kecelakaan baik sewaktu menyelamatkan Lusi, adik Alex tetapi gawatnya sering memimpikan kecelakaan bersama orang tuanya. Bagaimana jika ingatannya pulih?" Papar mama Neni kepada dokter Victor.

"Tapi ingatannya sudah pulih belum?" Tanya dokter Victor.

"Belum. Cuma semasa Anna kecil telah didiagnosa mengidap (PTSD) Post Traumatic Stress Disorder atau Gangguan Stress Pasca Trauma akibat kecelakaan mobil dan merenggut nyawa kedua orang tuanya dan hanya Anna dan sang sopir yang selamat. Bibi dan Neneknya membuang Anna ke Yayasan Panti Asuhan Cempaka Putih karena menganggap Anna sebagai pembawa sial."

"Lalu apa yang terjadi pada Anna?" Dengan antusias dokter Victor mengorek masa lalu Anna.

"Aku hentikan terapy dan pengobatan Anna karena tak membuahkan hasil. Anna phobia dan tidak berani naik mobil dan bus. Dia sering melukai diri dan jadi bulan-bulanan pembullyan. Hanya Bella yang mampu menjadi sahabat Anna tapi Bella sudah ku singkirkan. Bagaimana ini?"

 Sambil berpangku dagu dan mengangguk dokter Victor mencoba memahami inti permasalahannya," itu dia, spesialis psikiatri yakni dokter Vio sudah datang!"

"Cepat masuk dok dan periksa Anna!" Pinta mama Neni.

Mama Neni masuk dengan membawa dokter Victor dan dokter perempuan dengan high heels berdejit yang rupanya adalah psikiatri.

"Hallo Anna! Perkenalkan saya dokter Vio dari spesialis Psikiatri yang akan memeriksa kamu. Apa yang kamu rasakan Anna?"

"Saya sering bermimpi buruk dokter Vio."

 "Coba sekarang tolong ceritakan secaraendetail tentang mimpi yang kamu alami Anna!"

 "Aku bemimpi tentang dua tragedi kecelakaan mobil yang amat mengerikan dan itu berulang sehingga membuat saya takut untuk naik mobil dan mendengar kata mobil saja saya takut. Bahkan saya takut tidur karena trauma jika mimpi itu terulang kembali. Memikirkannya saja membuat nafsu makan saya hilang. Tolong saya dokter Vio!" Keluhku.

Dokter Vio mencatat semua keluhanku di buku rekam medis pasien dan menunjukkannya padaku. 

"Coba kamu baca kode diagnosis awalnya Anna!" Perintah dokter Vio.

"Diagnosis terdapat kode dengan tulisan F43.1 . Ini maksudnya saya sakit apa dokter Vio?" Tanyaku memuaskan hasrat ingin tahu.

"F43.1 adalah kode kamu menderita (PTSD) Post Traumatic Stress Disorder atau Gangguan Stres Pasca Trauma. Ini sebagai akibat kamu trauma kecelakaan mobil. Kamu mau pulih kembali?" Tanya dokter Vio.

"Mau dok,"kataku.

 "Kamu harus dengarkan dan ikuti apa yang saya perintahkan untuk minum obat dan terapi medis," perintah dokter Vio.

"Baik dok!" Jawabku.

      

     

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status