Share

Bab : 6 Pibu Di Sungai Panjang

Hari yang di tunggu oleh semua orang di perkumpulan sungai panjang, akhirnya tiba.

Rumah-rumah yang di hias, bendera serta umbul-umbul menghiasi sepanjang jalan yang menuju perkampungan sungai panjang untuk menyambut kedatangan tamu istimewa.

Satu kapal besar bersandar di dermaga sungai, beberapa orang tampak turun dari kapal tersebut.

Kin Tho bersama para tetua yang menyambut kedatangan Yu Lai di dermaga tersenyum ketika melihat seorang pria dengan rambut putih turun dari kapal.

Yu Lai jalan di dampingi oleh seorang pemuda tampan beserta dua orang lelaki, satu orang biksu dan seorang lagi pria tua yang tidak lain adalah Tay Hu, wakil dari Yu Lai.

“Selamat datang di perkumpulan sungai panjang, Taihiap! Kin Tho berkata sambil memberi hormat saat Yu Lai ada di hadapannya.

“Terima kasih sudah mengundang kami Pangcu, satu kehormatan buat lembah pedang bisa datang ke perkumpulan sungai panjang,” Yu Lai membalas perkataan serta penghormatan dari Kin Tho.

Kin Tho sangat senang dengan balasan Yu Lai yang menurutnya sopan dan merendah.

Setelah berbasa basi sebentar, mereka lalu menuju perkampungan Sungai Panjang.

Senyum tidak pernah lepas dari bibir Yu Lai saat menuju perkampungan, karena di sepanjang perjananan para penduduk mengelu-elukan nama Yu Lai serta lembah pedang.

Para tamu langsung menuju rumah Kin Tho, meja yang penuh makanan serta minuman terhampar untuk menjamu para tamu.

Setelah mereka duduk satu meja, Yu Lai mulai memperkenalkan orang yang datang bersamanya.

“Ini Yu Kang putraku dan ini biksu Tat Mo yang berjuluk Pat Jiu Sian ( Dewa tangan delapan ), sedangkan yang di satu lagi adalah Tay Hu, wakil ku di lembah pedang.

Raut wajah Kin Tho berubah ketika mendengar nama Pat Jiu Sian, seorang tokoh Shaolin yang namanya terkenal di dunia persilatan.

Kin Tho beserta para tetua berdiri dan memberi hormat kepada tamu yang baru saja di perkenalkan, tidak lama kemudian Kin Tho juga memperkenalkan orang-orang yang bersamanya dalam satu meja.

Mata Yu Kang terus menatap Kin Bwe, bibirnya sebentar sebentar tersenyum dan matanya berbinar ketika menatap putri dari Pangcu perkumpulan Sungai panjang.

“Maafkan kami, walau jarak antara sungai panjang dan lembah pedang tidak terlalu jauh, tetapi baru kali ini aku baru bisa berkunjung,” Yu Lai berkata setelah semua memperkenalkan diri.

“Kami yang harusnya minta maaf, karena Kokcu lembah pedang sampai datang ke tempat kami, bukannya kami yang datang berkunjung ke lembah pedang,” balas Kin Tho.

Sesudah berbasa basi sebentar, mereka lalu menyantap hidangan yang tersedia.

“Suheng! Coba kau lihat putra dari lembah pedang, matanya tidak pernah lepas dari suci,” Thian Sin bekata kepada A Gu yang duduk satu meja dengannya.

“Itu bagus! Kalau sampai Sumoi bisa menjadi istri pemuda itu, bukannya perkumpulan sungai panjang akan lebih maju,” balas A Gu.

“Yang Suheng katakan memang benar, tetapi harus di cari tahu dulu apa dia lelaki baik-baik?” Ucap Thian Sin.

“Tentu saja dia lelaki baik, tidak mungkin putra dari Yu Lai Taihiap tidak baik,” kakek Hay yang duduk satu meja ikut bicara.

“Tuan Kin! Tampaknya putraku sudah tidak sabar ingin bermain main dengan murid dari perkumpulan sinar panjang, siapa tahu nanti aku bisa memperbaiki atau menambah jurus jika Pangcu berkenan.

Mata Kin Tho langsung bersinar mendengar perkataan Yu Lai, karena memang perkataan ini yang sedang ia tunggu.

“Mari….mari kita ke Bu-koan ( tempat belajar silat ) ucap Kin Tho tanpa basa basi lagi.

A Gu langsung berdiri begitu melihat Kin Tho bersama yang lain pergi ke tempat latihan.

“Ayo kita melihat mereka Sute! Seru A Gu saat melihat Thian Sin masih duduk.

“Aku di sini saja, mataku suka pusing jika melihat mereka bergerak cepat,” balas Thian Sin.

A Gu langsung mengikuti rombongan, begitu mendengar perkataan Thian Sin.

“Kau benar tidak mau lihat? Tanya kakek Hay.

“Aku di sini saja, kek,” jawab Thian Sin.

Kakek Hay yang merasa penasaran akhirnya ikut bersama A Gu meninggalkan Thian Sin sendirian.

Setelah mereka semua pergi ke Bu koan.

Thian Sin melihat kiri kanan, setelah tidak ada orang yang memperhatikan dirinya Thian Sin ikut pergi ke arah lain.

Thian Sin langsung pergi ke gudang penyimpanan milik perkumpulan sungai panjang.

Matanya tajam menatap lembaran kulit hasil buruan yang berhasil di samak, tangannya lalu mengambil pisau kecil yang ada di gudang dan memotong lembaran kulit.

Bibir Thian Sin tersenyum sesudah kulit yang ia potong berbentuk topeng.

Topeng tersebut di masukan ke dalam saku baju, Thian Sin lalu melesat kembali langsung menuju Bu Koan.

~

Lapang luas yang ada di sisi rumah Kin Tho langsung penuh oleh mereka yang ingin melihat pertunjukan silat.

Yu Kang menatap sang ayah, bibirnya tersenyum setelah melihat ayahnya anggukan kepala, Yu Kang langsung melesat dan sudah berdiri di tengah Bu Koan dan berkata lantang.

“Yu Kang siap menerima pelajaran dari kawan Sungai panjang,” setelah berkata, Yu Kang memberi hormat kepada mereka yang hadir.

“Kin Taihiap! Kenapa tidak suruh putrimu untuk berlatih dengan Yu Kang, siapa tahu aku ada ilmu yang cocok untuk putrimu setelah melihat gerakan dan tingkat tenaga dalam putrimu,” Yu Lai berkata.

Kin Tho mendengar perkataan Yu Lai langsung angkat bicara.

“Kin Bwe! Kau dengar apa yang di katakan Yu Taihiap?”

Kin Bwe anggukan kepala, kemudian melesat dan sudah berhadapan dengan Yu Kang, suara tepuk tangan serta sorak sorai langsung terdengar dari orang yang berkumpul ketika Ki Bwe sudah berada di hadapan Yu Kang.

“Kongcu! Maaf kan Kin Bwe yang sudah lancang menerima pibu bersama Kongcu,” ucap Kin Bwe sambil memberi hormat.

Dari pandangan pertama Yu Kang sudah jatuh hati terhadap Kin Bwe, setelah berhadapan langsung kini hati Yu Kang semakin yakin untuk mendapatkan Kin Bwee.

“Kin Siocia tidak usah sungkan, Silahkan! Yu Kang berkata sambil tersenyum manis.

Kin Bwe pasang kuda-kuda, kemudian mencabut pedang dari punggung nya.

Sring!

Sesudah mencabut pedang, Kin Bwe melesat menyerang bahu kiri Yukang.

Yu kang juga membawa pedang di punggung, tetapi Yu Kang merasa belum perlu mengeluarkan pedang untuk menghadapi Kin Bwe.

Yu kang bergerak ke kiri sambil maju mendekat menghindari serangan Kin Bwe, kemudian membalas dengan tangan kanan, Yu Kang menampar pinggang kanan Kin Bwe.

Kin Bwe melihat lawan balik menyerang tubuhnya berputar di udara, kemudian kaki kanan melesat ke arah tangan Yu Kang.

Plak.

Kin Bwe salto ke belakang di bantu tenaga dorongan tangan Yu Kang dan berdiri satu tombak di depan lawan.

Yu Kang tersenyum dan anggukan kepala, sorak sorai langsung terdengar dari penonton karena merasa kagum terhadap Kin Bwe.

“Kongcu kenapa tidak mencabut pedang? Tanya Kin Bwe.

“Yu Kang tidak ingin menyakiti Siocia,” jawab Yu Kang.

Kin Bwe memutar pedang dan bersiap mengeluarkan jurus andalan ciptaan sang ayah jurus yang di beri nama, Cap-Ji-Kim-hing-kiam ( dua belas jurus sungai panjang )

Tubuh Kin Bwe melesat pedangnya menyambar menebas ke arah pinggang Yu Kang.

Yu kang mundur dua langkah menghindari tebasan Kin Bwe, kemudian tubuhnya melesat maju sambil berputar balas menyerang dengan jurus Bu-heng-Ki kiam ( pedang hawa tak berwujud ) tangan Yu Kang menebas ke arah pergelangan tangan Kin Bwe yang memegang pedang.

Whut!

Pergelangan tangan Kin Bwe berputar, pedang bergerak ke bawah dan menebas ke arah kaki Yu Kang.

Yu Kang tersenyum karna lawan terpancing tipuannya, tangan kiri bergerak menepak badan pedang Kin Bwe, lalu tangan kanan dengan jurus Coan-Jiu-ciong-kiam ( luruskan tangan sembunyikan pedang )

Whut!

Kin Bwe terkejut saat tangan yang memegang pedang terpental terkena tepakan tangan Yu Kang, kemudian Kin Bwe mundur dua langkah menghindari serangan tangan kanan, tetapi Yu Kang tidak berhenti di situ, tubuhnya melesat lompat ke arah Kin Bwe.

Kin Bwe memutar pedang ke atas ketika melihat Yu Kang melesat di atas kepalanya.

Shing….Shing!

Suara tepuk tangan langsung terdengar dari para penonton.

Raut wajah Kin Bwe merah, karena rambutnya ter urai saat pita rambut yang ia kenakan terlepas dan berada di tangan Yu Kang.

Yu Kang membungkuk sambil memberi hormat, tangannya menyodorkan pita rambut kepada Kin Bwe sambil berkata.

“Maafkan Yu Kang sudah lancang mengambil pita rambut Siocia.”

Belum sempat Kin Bwe menjawab, terdengar suara menggema.

“Baru mengalahkan perempuan saja sudah bangga.”

Suasana langsung hening, mereka yang hadir melihat ke kiri dan kanan, berusaha mencari tahu siapa yang tadi berkata.

Yu Lai mendengus ketika ada seorang mengeluarkan Thian san Thoan im ( mengirim suara dengan getaran gelombang )

“Siapa yang berani lancang!? Teriak Yu kang.

Suara kembali menggema membalas teriakan Yu Kang.

“Elmaut berwajah merah.”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status