Share

•02•

Bel istirahat berbunyi lima menit yang lalu, para siswa/siswi pun mulai keluar masuk ke dalam kelas, berbeda dengan Naya. Dia sangat kesal pada hari ini. Teman sebangku juga sahabat sejak SMPnya tidak hadir, dikarenakan izin keluar kota bersama keluarganya.

Gea Favella. Cewek cantik nan manis, kulit putih, rambut sebahunya terkesan makin imut. Sikap dia berbanding balik dengan Naya. Dia cerewet, Naya sebaliknya.

Alhasil dia sebangku dengan Gavin. Kan ngeselin.

Kevan mendekati meja yang diduduki Naya dan Gavin. "Kantin kuy lah, laper gue," ujarnya sembari mengelus perutnya bak orang hamil.

Mereka berempat berjalan beriringan menuju kantin. Dengan posisi Naya di apit oleh Gavin dan Kevan, sedangkan Darrel disamping Kevan.

Banyak pasang mata terarah kearah mereka. Jangan salah, ketiga cowok itu most wanted disini. Jadi, siapa yang tidak iri kepada Naya yang bisa berdekatan dengan pria tampan?

Setibanya di kantin dan mendudukkan diri dikursi yang kosong. Naya dan Kevan bersebelahan, sedangkan di depannya ada Gavin dan Darrel.

"Rel, pesenin," titah Naya.

"Anda siapa?" Darrel bertanya usil, kapan lagi bisa mengusili Naya si cuek ini? 

"Mau gue tonjok?"

"Tonjokkan lo mah nggak seberapa, nggak kerasa juga palingan."

"Ngeremehin?" Naya mengangkat tangannya yang sudah terkepal, mengayunkan ke depan wajah Darrel.

"Tenaga cewek sama cowok tuh beda, lebih strong cowok. Sini, sini tonjok gue." Darrel menantang namun tubuhnya malah mundur. 

Naya yang kesal menginjak kaki Darrel dibawah, tapi bukan kaki Darrel yang dia injak. Melainkan kaki Gavin.

"Aw." Gavin meringis sembari memegang kakinya.

Darrel dan Kevan tertawa ngakak melihat ekspresi Gavin yang kesakitan, dan Naya yang masih tampak datar tak merasa bersalah.

"Rel pesenin ih," titah Naya sekali lagi.

Darrel bangun dari duduknya. "Udah ini nanti kita baku hantam ya, Nay. Gue penasaran sama tonjokkan lo sekuat apa sih."

Sebelum pergi ke penjual, Darrel mendapatkan tatapan tajam dari Naya.

Naya berdecak. "Darrel."

"Iya sayang."

"Sinting!" umpat Naya yang langsung beranjak dari tempat duduk menuju penjual. Tanpa memperdulikan ocehan mereka bertiga.

"Hayoloh, dia marah, Rel." Kevan menakut-nakuti Darrel yang tampak cemas, tampangnya mungkin memang cemas, tapi jauh di lubuk hatinya ia ingin lebih mengerjai Naya.

"Jangan ngambil Naya anjir, dia inceran gue," kata Gavin yang sedari tadi hanya diam menyimak.

Namun Darrel hanya tertawa mendengar ucapan Gavin. "Heh, mana kuat gue ngadepin cewek kaya Naya? Udah cuek, mukanya datar mulu ih, tapi kalau senyum cantik."

Gavin menggeplak kepala Darrel, kesal terhadap jawaban yang ia dengar dari mulut temannya itu. "PUNYA GUE, JANGAN LO AMBIL!"

"Dih, main klaim punya gue aja, emang udah jadian?"

Terdiam, Gavin malah menatap Kevan dengan tatapan memelas. "Jangan gitu lah Kakak ipar, doain adik iparmu yang sedang memperjuangkan adikmu yang kelew—"

Ucapan Gavin terhenti kala Naya kembali dari penjual dengan membawa semangkuk Bakso, gadis itu mendudukkan dirinya disamping Kevan seperti posisi semula.

"Pesanan kita mana?" Pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Darrel.

Naya tak menggubris pertanyaan Darrel, ia malah sibuk dengan Baksonya.

"Nay, woy! Pesanan kita?" Pertanyaan yang sama keluar dari mulut Gavin kali ini.

Naya mendongak, menatap Gavin. "Pesen sendiri, lah."

"Gue juga, nih?" tanya Kevan.

Mengangguk sebagai jawaban, Naya kembali berujar. "Temen lo ngeselin semua."

Gavin yang tidak melakukan apapun melotot. "Gue? Ngapain? Gue diem aja, Nay anjir?"

"Soalnya lo temen Darrel."

***

Naya, Gavin, Kevan dan Darrel kini sedang berada di kelas. Dengan posisi duduk Naya dan Gavin dibelakang Kevan dan Darrel.

"Gue punya tebak-tebakkan," ujar Darrel dengan semangat sembari mengerling jahil.

"Ape?" sahut Kevan.

"Siapa penyanyi luar negri yang bikin seger?"

Kevan memainkan jari telunjukya didagu, berpikir.

Setelah beberapa menit berpikir, Kevan malah sewot. "Mana ada goblok!"

"Yeu, jawab dong!"

"Ariana Greentea, kan? Tau gue tau," ujar Gavin sedikit terkekeh.

"Nggak asik ah lo malah tau."

Darrel merenggut, membuat Gavin meraup wajahnya. "Makin jelek anjir kalau gitu."

"Tampan seperti pangeran gini dibilang jelek."

Gavin dan Kevan berpura-pura muntah, langsung ditabok oleh Darrel. Naya? Hanya diam saja melihat tingkah mereka.

"Gue punya nih. Kenapa mobil dan motor berhenti ketika lampu sedang berwarna merah?" Kevan menaik-turunkan alisnya, menggoda.

"Ya karna di diem'in sama yang punya lah, kan?" ujar Gavin sambil melirik ke arah Naya dan Darrel meminta pendapat. Keduanya mengangguk polos.

Kevan terbahak melihat ekspresi wajah Naya yang polos, menggemaskan.

"Muka lo, Nay. Hahaha." Kevan memegang perutnya yang sakit akibat tertawa.

Naya yang sadar langsung mengubah raut wajahnya menjadi datar lagi. "Buru jawab!" desaknya.

"Tenang, tenang. Jawabannya adalah ... Ya karna direm lah," jawab Kevan malah sewot.

Gavin tercengang, kenapa jadi Kevan yang sewot. Harusnya kan dirinya. "Kok lo yang sewot?" tanya Gavin yang ikutan sewot juga.

"Gue tuh gemes sama kalian, gitu aja gak tau!" Kevan membuang napasnya kasar.

"Udah woy! Nay, lu punya? Vin?" tanya Darrel menatap Naya dan Gavin bergantian.

Naya menggeleng, tapi Gavin berusaha mengingat. Ah, sepertinya ini waktu ia untuk menggombali crush-nya.

"Gue ada. Tapi buat lo Nay," ujar Gavin dengan senyum tengilnya.

Naya menunjuk dirinya. "Gue?"

Gavin mengangguk. "Ikan apa yang bikin seneng?" tanya Gavin dengan menaik nurunkan alisnya.

"Cupang," celetuk Darrel.

"Buat Naya, bego!"

"Ikan, paus aja yang gede," jawab Naya sambil mengedikkan bahu, acuh.

"Salah." Gavin menggelengkan kepalanya.

"Yaudah jawab."

"Ikan stop loving youuu," ujar Gavin sambil cengengesan.

Naya melotot mendengar jawaban Gavin, gombalannya pasaran sekali, pikirnya. Pasti sering digunakan untuk gadis-gadis diluar sana juga.

Cih, Naya tidak akan terpengaruh oleh gombalan itu.

"Lol."

Gavin hendak ingin berbicara, namun didepannya sudah ada guru. Bukannya freeclass?

"Assalamualaikum anak-anak."

"Walaikumsallam Bu!" jawabnya serempak.

"Ibu kesini cuma mau ngasih tugas atas perintah Pak Satya, kalian kerja kelompok, terus bikin makalah, judul sama kelompoknya kalian yang atur, minimal 4-5 orang. Mengerti?" jelas guru muda itu.

Darrel mengacungkan tangannya, ingin bertanya.

"Iya Darrel? Ada yang ingin ditanyakan?"

Darrel mengangguk. "Kerjainnya sekarang atau pulang sekolah, Bu?"

"Kalo mau lebih cepat, ya sekarang Darrel."

Kevan berbalik kebelakang, menghadap ke arah Naya. "Nay, lo ajak Gea aja. Kasian dia kalo nggak diajak." katanya.

"Emang mau."

"Oke bagus."

"Kerjainnya pas Gea udah balik aja, terus mau dirumah siapa ngerjainnya?" ujar Kevan sedikit memberi ruang untuk temannya memilih tempat yang nyaman.

"Gue."

Gavin menoleh ke arah Naya. "Yang jelas dong, jangan setengah-setengah gitu ngomongnya."

Naya mendelik ke arah Gavin, lalu menarik tas Kevan, lagi.

***

any feedback to appreciate me, thanks for reading this❤️

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status