Share

6. Aku Akan Merebut Mazaya Kembali

“Kamu baik-baik saja, Za? Kenapa ada Arga di sini?”

Gea tidak bisa tidak bertanya. Sejak tadi ia mematung, menunggu sang sahabat masuk ke dalam rumahnya sambil memperhatikan pertikaian yang terjadi antara Zaya dengan dua orang pria yang pernah hadir dalam hidup sahabatnya tersebut.

Wanita berparas cantik itu menatap sendu pada sahabatnya. Sedetik kemudian, air mata Zaya tumpah. Ia tak mampu menahan kesedihannya lagi. Batinnya terasa kacau. Kenapa semuanya terasa sulit baginya? Di saat ia benar-benar ingin melepaskan diri dari laki-laki yang sudah menghancurkan perasaannya, ia malah dipertemukan dengan mantan yang menjadi CEO-nya sendiri di tempatnya bekerja hingga berujung dua orang itu bertengkar di luar sana karena dirinya.

Zaya sama sekali tidak ingin jadi rebutan, terlebih oleh kakak-beradik tersebut yang memiliki perangai serupa.

Apa ia harus pergi dari kota ini, menata luka hati, juga menyembuhkan kepedihan di hatinya tanpa perlu melihat wajah mereka berdua lagi?

Gea mendekap sang sahabat, membiarkannya menangis dalam pelukannya sampai akhirnya Zaya mulai sedikit tenang. Ia pun memberanikan diri untuk bertanya tentang apa yang terjadi sebenarnya.

“Apa kamu sudah baik-baik saja?”

Zaya mengangguk pelan. “Aku baik-baik saja, Gea.”

Gea lalu mengajak sang sahabat duduk di sofa ruang tamu, kemudian mulai menginterogasinya. Seingatnya tadi pagi ketika ia mengantar sang sahabat untuk melamar pekerjaan di Hotel Diamond, sahabatnya tersebut tidak sekacau ini.

“Ceritakan pelan-pelan apa yang terjadi, Za!”

Zaya menyeka air matanya kemudian menceritakan kebetulan yang kembali mempertemukannya dengan Arga.

“Terus masalahnya di mana? Toh, kamu juga akan bercerai dari laki-laki sialan itu.” Gea tak mengerti kenapa sahabatnya harus tertekan saat bertemu dengan Arga

“Masalahnya aku tidak mau memperkeruh keadaan, Gea. Aku memang berniat bercerai dari pria brengsek itu, tapi aku juga tidak mau menghancurkan hidupnya.”

“Karena kamu masih mencintainya?” todong Gea.

“Sulit untuk mengatakan tidak. Kamu sudah tahu sendiri alasanku menikah dengannya, kan?" Zaya menatap sendu ke arah Gea, sahabat yang jadi saksi betapa hidupnya bak ditempa sejak dulu. "Lepas dari dia, aku rasa hal yang cukup. Perihal balasan yang mungkin pantas dia sandang ... biarlah Tuhan yang tunjukkan."

Alis Gea berkerut, tak habis pikir dengan pemikiran sahabatnya. Padahal, sebagai menantu kesayangan, Zaya bisa saja dengan mudah mengadukan semua perbuatan Evan pada mama mertuanya. Biarkan mama mertuanya yang menghukum pria itu. Namun, cinta di hati Zaya agaknya menginginkan hal yang cukup sederhana.

Baginya, bisa lepas dari belenggu pernikahan yang menyajikan kebahagiaan semu sudah cukup.

"Aku masih bingung, kenapa kamu nggak mau lapor sama mama mertuamu. Padahal, seorang peselingkuh, sangat berhak untuk dapat karma!" Gantian, Gea yang turut berapi-api.

“Aku tidak menginginkan itu terjadi." Zaya menggeleng tak setuju dengan ide Gea. Toh, barusan ... tanpa ia yang harus membuka mulut pada mama mertuanya, Evan lah yang justru membongkar kelakuannya sendiri pada Arga. Bukan tidak mungkin Arga akan mengadukannya pada mama mertua Zaya hingga membahayakan kedudukan pria itu. "Arga sudah tahu. Jadi, entahlah ... bagaimana nasib Evan selanjutnya."

“Biarkan saja, Za! Jangan terlalu pusing memikirkan urusan itu! Fokus saja pada dirimu!”

Zaya merasa dilema. Ia tak mau Evan menuduhnya macam-macam dan juga tak mau melihat Arga memusuhi adik tirinya sendiri.

“Aku harus bagaimana, Gea? Apakah aku harus berhenti dari Hotel Diamond?”

“Kenapa kamu harus berhenti?" Gea menatap Zaya dengan pandangan tegasnya. Tak setuju sama sekali dengan keputusan sang sahabat. "Tetaplah bekerja di sana dan buktikan kalau kamu bisa meraih karir kamu kembali yang pernah hancur karena pria sialan itu!”

***

“Kamu benar-benar brengsek, Van.”

Arga menatap sengit adik tirinya, menahan diri untuk tidak memukulnya walaupun ia sangat ingin. Tepat setelah Zaya masuk ke dalam rumah sahabatnya, pria yang memiliki masa lalu indah bersama Zaya itu langsung menarik kerah baju adik dirinya menjauh dari kediaman Gea, sahabat Zaya.

Arga tidak ingin terlihat menganiaya laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami wanita yang sangat ia cintai itu. Ia harus benar-benar menjaga kewibawaannya agar bisa memikat hati Zaya kembali.

“Harusnya aku yang bicara begitu padamu.”

Evan menepis keras tangan Arga lalu mendorongnya hingga pria itu mundur beberapa langkah. Ia membenahi pakaiannya sambil menatap kesal pada kakak tirinya tersebut.

“Aku sudah mendengar semuanya. Perceraian kalian artinya kamu membuat kesalahan besar." Arga menantang adik tirinya. Tangannya mengepal, terlihat marah. "Kamu tidak ingat ucapanku beberapa tahun lalu? Apa kamu siap kalau aku kembali merebut Mazaya darimu?"

Evan mendengus. “Tidak akan ada perceraian!" ujarnya tegas. "Ini hanya kesalahpahaman. Dan sebaiknya, menjauhlah dari istriku!” Giliran Evan menarik kerah baju kakak tirinya, balas memperingatkan agar Arga tidak ikut campur urusan rumah tangganya.

“Kamu benar-benar tidak tahu malu!" Arga berdecih. "Jika aku jadi kamu yang sudah ketahuan selingkuh, aku akan melepasnya dan membiarkan dia memilih kebahagiaannya sendiri."

“Sayangnya, aku bukan kamu!" Evan menggertakkan giginya sambil terus menarik kerah baju Arga kuat-kuat. "Berhenti ikut campur urusanku!”

Kedua pria itu tak ada yang mau mengalah. Keduanya saling menatap, seolah siap saling membunuh demi Mazaya yang sama-sama mereka inginkan. Evan yang ingin mempertahankan sang istri yang dicintainya, dan Arga yang ingin mencoba mendapatkan wanita yang pernah ia lepaskan untuk adiknya dulu.

“Akan menjadi urusanku kalau kamu menyakiti wanita yang sangat aku cintai.”

Mendengar kata-kata cinta dari Arga untuk istrinya, Evan kembali naik pitam. Pria itu kembali mendekat, siap untuk menyerang kakaknya lagi. “Dia itu adik iparmu, Sialan!”

Bibir Arga naik lalu tersenyum miring. Tatapannya menguarkan aura permusuhan. Ia mengarahkan tangannya ke depan, berusaha mencegah agar sang adik tidak menyerangnya lalu dengan lantang. Pria itu mengutarakan niatnya.

“Adik ipar? Sebentar lagi status itu akan berubah. Mazaya akan menjadi wanita lajang dan aku akan mengejarnya kembali sampai dapat dengan caraku sendiri."

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status