Share

2

Jam istirahat kedua sudah habis dari lima belas menit yang lalu. Tapi, guru belum juga masuk ke kelas. Alhasil, suasana kelas tidak terkondisikan.

Semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Kegiatannya seperti ghibahin orang, nonton K-pop sambil teriak-teriak, nonton XXX dipojokan, gitaran sambil nyanyi-nyanyi tidak jelas dan sebagainya.

Sama halnya dengan cowok yang duduk diatas meja dengan menyandarkan punggunya ditembok. Dia asyik dengan handphonenya. Entah apa yang dia mainkan.

"Lang!"

"Anter gue, yuk!" ajak Roney menyadarkan Elang dari kesibukan memainkan ponselnya.

"Kemana, Ron?" tanya Elang dengan mata fokus ke ponselnya.

"Gue mau ketemu orang" jawab Roney pelan.

Elang mengerutkan dahinya "Siapa?"

"Ayolah, anterin gue dulu" jawab Roney sekenanya.

Elang memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. Tanpa basa-basi menuju ke parkiran. Roney tersenyum senang dan membuntuti Elang dari belakang.

"Anterin gue ke jalan Cassablanca" ucap Roney menyuruh Elang.

"Hum?" Elang menghidupkan

mobilnya.

"Bukannya itu..." Elang tidak melanjutkan ucapannya.

Jalan itu terdengar familiar di telinganya. Tapi, Elang tidak tahu itu tempat apa dan dimana letaknya.

"Iya. Buruan ah" titah Roney setelah memakai seatbeltnya.

"Emang itu dimana si?" tanya Elang.

Roney menepuk jidatnya.

"Gue kira lo tau"

Elang menggelengkan kepalanya.

                               ***

Ting!

Maya membuka pesan yang masuk ke ponselnya.

Gue lagi otewe

"Okay!" ucap Maya tanpa membalas pesan tersebut.

Maya kini sedang di Cambria Club. Tepatnya, berada didepan clubnya. Maya ingin masuk. Tapi, dia sedang sakit. Dua jam lagi club itu baru buka. Bisa saja sih, Maya masuk. Karena Maya juga memegang kunci cadangan. Tapi, lagi-lagi Maya sedang tidak mood dan perutnya sedang bermasalah.

Tidak lama kemudian, mobil sport hitam terpakir tidak jauh dari tempat Maya berdiri.

"kayanya itu deh" batin Maya.

Seorang lelaki keluar dari mobil itu. Tapi, bukan dari bagian pengemudi.

"Ngegrab kah dia?" batin Maya menebak.

"Hai...  " sapa Roney dengan senyuman.

"Manis" batin Maya memuji.

"Hai, juga" balas Maya. Maya dan Roney saling berjabat tangan.

"Maya Imelda,ya?" tanya Roney ramah.

"Iya. Anda?" tanya balik Maya.

"Roney Satria"

"Masih SMA?"

"Iya. Kelas tiga"

"Ohh.."

Roney terdiam bingung harus mengeluarkan kalimat apa lagi.

"Sebentar ya" pamit Roney.

Kemudian Roney berlari menuju parkiran menghampiri Elang.

Tok .. tok .. tok.

Roney mengetuk kaca mobil.

"Kenapa?" tanya Elang.

"Elo cabut duluan aja" jawab Roney.

"Terus elo balik sama siapa?" tanya Elang yang membuat Roney berfikir.

Roney menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Hee.. gatau" jawab Roney dengan cengiran polosnya.

"Gue tungguin disini"

"Pulang aja, Lang. Takutnya gue lama. Gue gapapa" bujuk Roney.

Elang terdiam untuk berfikir. Jika itu maunya Roney. Yasudah.

"Yaudah. Gue duluan ya"

Roney mengacungkan jempolnya.

"Makasih, Lang" ucap Roney tulus.

Elang mengangguk.

"Selamat bersenang-senang!"

"Haha.. bisa ae lu"

Mobil Elang keluar dari parkiran. Roney bergegas menemui Maya lagi.

"Siapa? Grab?" tanya Maya penasaran.

"Haha. Bukan. Itu temen gue" jujur Roney.

"Oh.. elo gak punya mobil?"

"Nggak..." jawab Roney pelan. Kepala Roney menunduk malu.

"Aishh.. salah sasaran gue" batin Maya.

"Oh.." Maya menanggapi sewajarnya.

"Gue pengen ketemu elo, bukan buat make elo kok" jelas Roney.

Hati Maya mencelos mendengar salah satu kata yang diucapkan Roney. Maya teringat sesuatu.

"Elo dapet nomer gue dari siapa?" tanya Maya nyolot.

"Dari Rere"

"Rere?"

"Iya. Rere partner lo kan?"

"Kampret lu,Re" umpat Maya pelan. Namun, terdengar oleh Roney.

"Gue kira dapet dari apps. Kalo dari apps kan cowoknya gak main-main. Pasti berduit semua" batin Maya.

"Lucu banget lo May. Haha"

Maya mendelik menatap Roney yang sedang menertawakannya.

"Lucu, lucu. Kucing lo tuh lucu!" ucap Maya sebal.

"Haha. Yaudah, gemes aja deh"

Maya menatap tajam Roney tanpa membalas ucapannya.

"Hehe" Roney nyengir memamerkan giginya yang rapi.

Maya terdiam.

"Kok cakep?"

Roney menjadi salah tingkah dengan diamnya Maya. Maya diam dengan mata tidak berkedip memandangi Roney.

"Ikut gue, yuk" Roney tidak sadar menarik lengannya Maya.

Maya memandangi tangannya Roney yang kini sedang menggenggam lengannya.

"Ayo! Kok diem?"

"Seriusan mau jalan kaki?"

"Iya. Terus?"

Maya melepaskan lengannya dari genggaman Roney dan memanyunkan bibirnya.

Roney mengerti.

"Deket sini kok. Ngga nyampe 15 menit"

Maya teringat sesuatu.

Kalau bukan untuk mempertahankan hidupnya agar tidak menjadi gelandangan. Maya tidak akan repot-repot berjalan bersama Roney dibawah panasnya matahari. Ditambah perutnya yang sedang tidak baik-baik saja.

"Yaudah. Ayo!" ajak Maya semangat.

Gantian, kini Maya yang menarik tangan Roney.

"Gue masih pengen tidur dikasur"

Roney tersenyum dengan tingkahnya Maya yang menurutnya sangat lucu. Apalagi kini tangan Roney melekat dengan pas di genggaman tangan Maya.

Lagi-lagi Roney tersenyum memandangi Maya yang kini berjalan didepannya. Tangan mereka tidak lepas. Entah Maya sadar atau tidak. Roney tidak peduli.

"Salah.  Belok kanan" pandu Roney.

Maya berhenti sejenak.

"Salah ya" gumam Maya tanpa menoleh.

Kemudian Maya berbelok kearah kanan.

                          

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status